
Hubungan Dukungan Suami dengan Kesehatan Ibu
Pendahuluan
Kehamilan merupakan momen penting dan sensitif dalam kehidupan seorang perempuan, secara fisik, emosional, dan psikologis ibu mengalami berbagai perubahan signifikan. Dalam masa ini, dukungan dari suami menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas kesehatan ibu dan janin, serta kesiapan persalinan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif suami, baik dalam bentuk dukungan emosional, fisik, maupun informatif, berkontribusi besar terhadap kepatuhan ibu terhadap pemeriksaan kehamilan, stabilitas mental, dan hasil kehamilan yang lebih baik. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam berbagai aspek dukungan suami: jenis, faktor yang memengaruhi, serta dampaknya terhadap kesehatan ibu dan janin.
Definisi “Dukungan Suami”
Definisi secara umum
Dukungan suami (spousal support) adalah segala bentuk bantuan, perhatian, dan keterlibatan suami terhadap istri, terutama dalam konteks kehamilan, yang bisa meliputi aspek emosional, fisik, informatif, maupun material. Hal ini mencakup pendampingan, motivasi, bantuan dalam menjalani perawatan kehamilan, serta berbagi tanggung jawab yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.
Definisi menurut KBBI
Menurut KBBI, definisi kata “dukungan” adalah bantuan, sokongan, atau pertolongan. Jika dikombinasikan dengan “suami, ” maka “dukungan suami” bisa diartikan sebagai bantuan atau sokongan yang diberikan oleh suami kepada istrinya. (Catatan: di KBBI tidak ada definisi khusus untuk “dukungan suami kehamilan, ” sehingga makna “dukungan + suami” mengacu pada definisi dasar “dukungan.”)
Definisi menurut para ahli
-
E Pebryatie (2022) mendeskripsikan bahwa dukungan suami dalam pelayanan kesehatan maternal tidak hanya sebagai pendamping, tetapi sebagai faktor yang memengaruhi perilaku kesehatan ibu, termasuk kunjungan antenatal dan kesehatan mental postpartum. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
F Fitriani (2025) menunjukkan bahwa dukungan suami yang aktif menurunkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada ibu hamil, sehingga berdampak pada kesejahteraan psikologis ibu selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
-
Ni Luh Putu Maenra Ratna Sari dkk. (2023) menyatakan bahwa dukungan suami terhadap ibu hamil berhubungan signifikan dengan tingkat kecemasan pada trimester III kehamilan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Hikmah Fitria dkk. (2025) dalam penelitian mereka menemukan hubungan signifikan antara dukungan suami dan perubahan psikologis (kecemasan, depresi, suasana hati) pada ibu hamil trimester pertama. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dari definisi ahli di atas, maka “dukungan suami” bisa dipahami sebagai keterlibatan aktif suami dalam aspek fisik, emosional, informatif, dan praktis selama masa kehamilan, yang berpengaruh pada kesehatan ibu hamil secara holistik.
Jenis Dukungan Suami dalam Kehamilan
Suami bisa memberikan berbagai bentuk dukungan selama kehamilan, antara lain:
-
Dukungan emosional, memberikan rasa aman, perhatian, empati, pengertian terhadap perubahan mood dan ketakutan ibu hamil.
-
Dukungan fisik/praktis, membantu aktivitas sehari-hari, memfasilitasi kebutuhan ibu hamil, membantu transport ke fasilitas kesehatan, mendampingi kunjungan antenatal.
-
Dukungan informatif/edukatif, memberi informasi terkait kehamilan, persalinan, persiapan persalinan, menemani istrinya belajar atau berdiskusi tentang kehamilan.
-
Dukungan instrumental/material, mencakup bantuan finansial, menyediakan kebutuhan gizi, suplemen, atau kebutuhan lainnya selama kehamilan.
-
Dukungan motivasional/pendampingan layanan kesehatan, memastikan istri rutin melakukan pemeriksaan antenatal (ANC), mematuhi saran tenaga kesehatan, suplemen, persiapan persalinan.
Penelitian menunjukkan bahwa semua jenis dukungan ini saling melengkapi, ibu yang mendapat dukungan baik cenderung lebih konsisten menjalani pemeriksaan kehamilan serta mengalami tingkat stres atau kecemasan lebih rendah. [Lihat sumber Disini - pbijournal.org]
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Dukungan Suami
Beberapa faktor dapat menentukan seberapa besar keterlibatan dan dukungan suami terhadap istrinya selama kehamilan, antara lain:
-
Pengetahuan dan sikap suami terhadap kehamilan dan perawatan maternal, Suami dengan pengetahuan baik tentang kehamilan dan persalinan cenderung lebih mendukung. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Status ekonomi dan kondisi sosial keluarga, Faktor ekonomi mempengaruhi kemampuan suami dalam memberikan dukungan material, akses layanan kesehatan, serta waktu untuk mendampingi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesmamuju.ac.id]
-
Norma budaya dan peran gender dalam keluarga, Di beberapa komunitas, masih ada anggapan bahwa peran suami dalam kehamilan/persalinan kurang penting, sehingga keterlibatan suami menjadi rendah. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Ketersediaan informasi dan edukasi tentang peran suami di masa kehamilan, Suami yang mendapatkan edukasi maternal/parenting lebih cenderung terlibat aktif. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Ketersediaan waktu dan dukungan tenaga kerja kesehatan/lingkungan, Jika suami sibuk, tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, atau tidak mendapatkan dukungan sistem kesehatan, keterlibatan bisa berkurang. [Lihat sumber Disini - ejurnal.akbidsteli.ac.id]
Dampak Dukungan Emosional terhadap Kesehatan Ibu
Dukungan emosional dari suami memiliki efek signifikan terhadap kesehatan mental dan psikologis ibu selama kehamilan.
Beberapa hasil penelitian:
-
Penelitian oleh Fitriani (2025) menunjukkan bahwa ibu hamil yang mendapat dukungan suami secara emosional menunjukkan tingkat depresi, kecemasan, serta stres yang lebih rendah dibanding yang kurang mendapat dukungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
-
Ni Luh Putu Maenra Ratna Sari dkk. (2023) menemukan bahwa dukungan suami berkorelasi signifikan dengan lebih rendahnya tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Dalam penelitian di Bekasi oleh Hikmah Fitria dkk. (2025), ditemukan bahwa kurangnya dukungan informasi dan emosional dari suami terkait dengan meningkatnya perubahan psikologis, seperti kecemasan, depresi, dan keraguan diri, pada trimester pertama kehamilan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Dukungan emosional dan fisik dari suami dan keluarga terkait dengan persiapan persalinan yang lebih siap dan pengalaman melahirkan yang lebih baik bagi ibu. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Dengan demikian, dukungan emosional suami dapat berperan sebagai buffer terhadap tekanan psikologis kehamilan, membantu ibu merasa aman, dipercaya, dan lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi. Ini tak hanya penting bagi kesehatan ibu, tetapi juga berdampak positif terhadap janin dan hasil persalinan.
Dukungan Suami dalam Perawatan Fisik dan Psikologis
Dukungan suami dalam konteks fisik dan psikologis mencakup banyak hal, dari pendampingan ke kunjungan antenatal sampai membantu aktivitas sehari-hari. Penelitian menunjukkan beberapa hal penting:
-
Ibu hamil yang mendapat dukungan suami cenderung lebih patuh terhadap pemeriksaan antenatal (ANC), yang penting untuk deteksi dini komplikasi kehamilan, anemia, hipertensi, dan kebutuhan nutrisi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unar.ac.id]
-
Suami yang aktif mendampingi istri saat ANC membantu meningkatkan kepatuhan, karena suami juga memahami pentingnya layanan kesehatan maternal. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Bentuk dukungan fisik, membantu pekerjaan rumah, memberi waktu istirahat, membantu pemenuhan kebutuhan gizi, membuat ibu hamil lebih mampu menjaga kesehatannya dan janin. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Dukungan psikologis membantu ibu mengatasi kecemasan, stres, dan perasaan tidak nyaman selama kehamilan, terutama menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
Dengan dukungan ini, ibu lebih mampu menjaga kesehatan fisik dan mental secara seimbang, sangat membantu kualitas kehamilan dan persalinan.
Pengaruh Dukungan terhadap Kesiapan Persalinan
Dukungan suami selama kehamilan berperan signifikan dalam mempersiapkan persalinan yang lebih aman dan mengurangi kecemasan ibu.
-
Dalam penelitian oleh Ni Luh Putu Maenra Ratna Sari dkk. (2023), ada hubungan antara dukungan suami dan tingkat kecemasan ibu menjelang persalinan. Semakin besar dukungan, semakin rendah kecemasan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Studi oleh Wulandari dkk. (2025) menunjukkan bahwa dukungan fisik dan psikologis dari suami terkait dengan menurunnya gangguan psikologis dan kecemasan pada ibu hamil trimester III. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesmus.ac.id]
-
Dukungan suami dan keluarga dalam persiapan persalinan membantu ibu merasa lebih percaya diri dan siap, serta mengurangi ketidakpastian, ketakutan, atau stres menjelang persalinan. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Persiapan persalinan yang baik, didukung suami, bukan hanya bermanfaat secara psikologis, tetapi juga dapat mempengaruhi keputusan-keputusan penting seperti memilih fasilitas bersalin, mempersiapkan kebutuhan kelahiran, pendampingan persalinan, dan hal-hal terkait keselamatan ibu dan janin.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Mengedukasi Suami
Tenaga kesehatan (bidan, dokter, puskesmas) memiliki peran penting dalam melibatkan suami sebagai bagian dari perawatan maternal, melalui edukasi, konseling, dan melibatkan pasangan dalam layanan ANC.
-
Beberapa studi menunjukkan bahwa edukasi kepada suami dapat meningkatkan partisipasinya dalam perawatan kehamilan, termasuk kepatuhan terhadap pemeriksaan ANC dan perawatan prenatal secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Model perawatan yang berpusat pada keluarga (family-centered maternity care) dapat meningkatkan keterlibatan suami, dan ini terbukti menurunkan komplikasi seperti preeklampsia serta meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Dengan melibatkan suami dalam edukasi persalinan, kunjungan ANC, dan persiapan pascapersalinan, tenaga kesehatan membantu membangun kesadaran bahwa peran suami sangat penting, tidak hanya sebagai penopang finansial, tetapi sebagai pendamping aktif istri.
Oleh karena itu, kebijakan dan praktik pelayanan maternal idealnya mengakomodasi suami sebagai bagian dari tim perawatan, bukan hanya ibu saja.
Hubungan Dukungan Suami dengan Kesejahteraan Janin
Dukungan suami terhadap ibu hamil juga berdampak pada kesejahteraan janin, baik secara fisik maupun psikologis, melalui dua mekanisme utama: kesehatan ibu dan lingkungan kehamilan yang sehat.
-
Dengan dukungan suami, ibu lebih patuh pada pemeriksaan antenatal (ANC), suplemen, gizi, serta istirahat yang cukup, ini membantu mencegah komplikasi seperti anemia atau hipertensi, yang berdampak langsung pada pertumbuhan janin. [Lihat sumber Disini - jurnal.unar.ac.id]
-
Dukungan emosional dan psikologis membantu mengurangi stres dan kecemasan ibu, stres maternal selama kehamilan diketahui bisa berdampak negatif pada perkembangan janin, misalnya melalui hormon stres atau kebiasaan kesehatan yang buruk. Penelitian menunjukkan korelasi antara dukungan suami dan kondisi psikologis ibu serta perkembangan maternal-fetal yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - jdk.ulm.ac.id]
-
Kesiapan persalinan yang lebih baik dan lingkungan persalinan yang suportif (termasuk dukungan suami) dapat meningkatkan peluang persalinan aman dan mengurangi risiko komplikasi lahir, yang langsung memengaruhi kesehatan dan keselamatan bayi. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Dengan demikian, dukungan suami bukan hanya penting untuk ibu, tetapi juga merupakan faktor kunci dalam mendukung tumbuh-kembang dan keselamatan janin.
Kesimpulan
Dukungan suami selama kehamilan, dalam bentuk emosional, fisik, informatif, dan praktis, terbukti memiliki peran krusial terhadap kesehatan ibu dan janin. Berbagai penelitian dari Indonesia (2023, 2025) menunjukkan bahwa keterlibatan suami berkorelasi dengan tingkat kecemasan ibu yang lebih rendah, kepatuhan terhadap pemeriksaan antenatal, kesiapan persalinan, serta kemungkinan hasil kehamilan yang lebih baik. Faktor seperti pengetahuan suami, sikap, kondisi ekonomi, norma budaya, serta peran tenaga kesehatan menentukan seberapa besar dukungan yang diberikan. Oleh karena itu, penting untuk mendorong model perawatan maternal yang melibatkan suami sejak dini, serta meningkatkan edukasi dan kesadaran bahwa kehamilan dan persalinan bukan hanya urusan ibu saja, melainkan tanggung jawab bersama suami-istri. Dukungan suami yang optimal dapat menjadi fondasi bagi kehamilan sehat, persalinan aman, dan generasi masa depan yang sehat pula.