
Faktor yang Berhubungan dengan Perdarahan Postpartum
Pendahuluan
Perdarahan Postpartum (PPH) merupakan salah satu komplikasi obstetri yang paling serius dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu di dunia, termasuk di Indonesia. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com] Fenomena ini menjadi perhatian besar karena kehilangan darah secara signifikan setelah persalinan dapat menyebabkan syok, anemia berat, dan kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. [Lihat sumber Disini - aafp.org]
Karena itu, penting untuk memahami berbagai faktor yang berkaitan dengan perdarahan postpartum, mulai dari kondisi ibu selama kehamilan, proses persalinan, hingga aspek pelayanan kesehatan, agar upaya pencegahan, deteksi dini, dan intervensi dapat dioptimalkan. Artikel ini membahas berbagai faktor tersebut berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Definisi Perdarahan Postpartum
Definisi Perdarahan Postpartum Secara Umum
Perdarahan postpartum biasanya didefinisikan sebagai kehilangan darah setelah persalinan: lebih dari 500 ml darah jika persalinan pervaginam, atau lebih dari 1000 ml darah jika melalui operasi caesar (seksio) dalam 24 jam pertama pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Jenis perdarahan postpartum dapat dibagi secara klinis menjadi:
-
PPH primer (awal), terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan, mayoritas dalam 2 jam pertama. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
-
PPH sekunder (akhir), terjadi antara 24 jam sampai 6 minggu pascapersalinan (meskipun fokus utama sebagian besar penelitian adalah pada PPH primer). [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
Definisi Perdarahan Postpartum dalam KBBI
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “postpartum” menunjuk pada masa setelah kelahiran. Meskipun KBBI tidak selalu memberikan batas kuantitatif seperti literatur medis, “perdarahan pascapersalinan” umumnya diartikan sebagai keluarnya darah secara berlebihan setelah ibu melahirkan, sesuai dengan makna umum perdarahan dan fase postpartum.
Definisi Perdarahan Postpartum Menurut Para Ahli
Menurut World Health Organization (WHO) dan literatur kebidanan modern, PPH didefinisikan sebagai kehilangan darah ≥ 500 ml pada persalinan pervaginam atau ≥ 1000 ml pada operasi seksio sesarea dalam 24 jam pertama. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dalam penelitian nasional di Indonesia, misalnya RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2019, ditemukan bahwa umur ibu, paritas, dan anemia selama kehamilan secara signifikan berhubungan dengan kejadian PPH primer. [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesjambi.ac.id]
Dengan demikian, dari perspektif ilmiah dan kebijakan kesehatan, PPH diakui sebagai kondisi kehilangan darah signifikan pascapersalinan yang memerlukan perhatian serius dalam pelayanan maternal.
Jenis dan Penyebab Perdarahan Postpartum
Penyebab perdarahan postpartum beragam, banyak penelitian menyebut penyebab utama sebagai kegagalan kontraksi uterus (atonia uteri), trauma jalan lahir, retensi plasenta, serta kelainan koagulasi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Atonia uteri, paling sering, bertanggung jawab terhadap 50, 60% kasus PPH. [Lihat sumber Disini - journal.lpkd.or.id]
-
Trauma jalan lahir, robekan perineum, serviks, atau vagina akibat persalinan sulit atau intervensi persalinan, dapat menyebabkan perdarahan signifikan. [Lihat sumber Disini - ojs.ukb.ac.id]
-
Retensi plasenta (plasenta tertinggal atau pelepasan plasenta tidak sempurna), dapat menyebabkan perdarahan postpartum primer maupun sekunder. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Abortus koagulasi / gangguan pembekuan darah, meskipun lebih jarang, kondisi seperti trombositopenia atau gangguan koagulasi bisa meningkatkan risiko perdarahan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Penyebab spesifik dapat berbeda-beda pada tiap kasus, dan seringkali beberapa faktor berperan bersama, misalnya atonia uteri dipicu oleh anemia dan diperburuk oleh retensi plasenta atau trauma jalan lahir. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
Faktor Risiko Ibu Selama Kehamilan
Penelitian di berbagai RS di Indonesia menunjukkan sejumlah faktor pada periode kehamilan yang meningkatkan risiko PPH:
-
Anemia selama kehamilan, banyak studi menunjukkan bahwa anemia berkaitan erat dengan kejadian PPH. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
-
Paritas dan jarak kehamilan, paritas tinggi (multiparitas) atau jarak kehamilan terlalu dekat dapat meningkatkan risiko PPH. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Usia ibu, baik usia sangat muda maupun lanjut (tergantung definisi) dapat menjadi faktor risiko. [Lihat sumber Disini - repository.uki.ac.id]
-
Komplikasi kehamilan, misalnya kehamilan kembar, bayi besar (makrosomia), atau kehamilan dengan plasenta abnormal, meningkatkan tekanan pada rahim dan kemungkinan komplikasi saat persalinan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Faktor-faktor ini perlu dievaluasi sejak masa antenatal supaya risiko bisa diantisipasi dengan perencanaan persalinan dan manajemen tepat.
Pengaruh Proses Persalinan terhadap Perdarahan
Proses persalinan, baik persalinan pervaginam maupun dengan intervensi, memberikan kontribusi besar terhadap risiko PPH:
-
Persalinan lama atau kala II persalinan yang memanjang meningkatkan risiko atonia uteri dan robekan jalan lahir. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Persalinan dengan intervensi atau operasi (misalnya operasi caesar) berisiko lebih tinggi terhadap perdarahan dibandingkan persalinan normal. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Prosedur intervensi jalan lahir (episiotomi, forsep/vacuum, jahitan) dapat menyebabkan trauma sehingga memicu perdarahan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Perhatian dan manajemen baik selama persalinan penting untuk meminimalisir risiko, termasuk pemantauan persalinan, persiapan untuk intervensi, dan kesiagaan untuk penanganan perdarahan jika terjadi.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Deteksi Dini
Tenaga kesehatan, bidan, dokter obstetri, perawat, memiliki peran krusial dalam mendeteksi faktor risiko, memantau persalinan, dan mengambil tindakan cepat jika ada perdarahan. Faktor-faktor seperti retensi plasenta, atonia uterus, trauma jalan lahir, semuanya memerlukan pengamatan cermat dan respons cepat. Banyak penelitian menekankan pentingnya pelatihan, protokol, dan kesiapan fasilitas. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Implementasi protokol seperti Manajemen Aktif Kala III Persalinan (Active Management of Third Stage of Labour, AMTSL) terbukti mengurangi risiko PPH. [Lihat sumber Disini - ajog.org]
Dengan demikian, kualitas asuhan persalinan dan kewaspadaan tenaga kesehatan menjadi aspek penting dalam pencegahan dan penanganan PPH.
Teknik Penanganan Awal Perdarahan Postpartum
Saat terjadi perdarahan postpartum, langkah awal antara lain: kontraksi uterus melalui uterotonik, pemeriksaan jalan lahir untuk trauma, evaluasi kelengkapan plasenta, dan jika perlu intervensi, jahitan atau prosedur lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - aafp.org]
Dalam kasus atonia uterus berat, metode bedah seperti B-Lynch suture dapat dipertimbangkan untuk mengendalikan perdarahan sambil mempertahankan rahim. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Namun, pencegahan melalui manajemen aktif kala III, termasuk pemberian uterotonik segera setelah persalinan, kontrol plasenta, dan pemantauan, tetap menjadi strategi utama. [Lihat sumber Disini - ajog.org]
Hubungan Anemia dengan Risiko Perdarahan
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan hubungan kuat antara anemia selama kehamilan dengan kejadian PPH. Misalnya, studi di RSUD Putri Hijau Medan (2022) menemukan bahwa ibu dengan anemia memiliki risiko lebih tinggi mengalami perdarahan postpartum primer. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
Penelitian lain di Lamongan tahun 2021 juga menunjukkan p-value signifikan (p = 0, 015), menunjukkan bahwa anemia berkorelasi dengan peningkatan kejadian perdarahan postpartum. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
Mekanisme yang diduga: anemia mengurangi suplai oksigen ke otot rahim, melemahkan kemampuan kontraksi uterus (preluding atonia uteri), sehingga uterus gagal berkontraksi dengan efektif pascapersalinan, memicu perdarahan. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
Karena itu, deteksi dan penanganan anemia sejak masa kehamilan penting sebagai bagian dari strategi pencegahan PPH.
Pengaruh Paritas dan Persalinan Operatif
Paritas, jumlah kehamilan/kelahiran sebelumnya, sering dikaitkan dengan risiko PPH. Studi di RSUD Raden Mattaher (2019) menunjukkan paritas memiliki hubungan bermakna dengan PPH (OR tinggi). [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesjambi.ac.id]
Namun, tidak semua penelitian konsisten: misalnya di RSUD Mataram pada 2021, tidak ditemukan hubungan signifikan antara paritas dan perdarahan postpartum. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Persalinan operatif (seperti caesar) atau intervensi obstetrik also meningkatkan risiko, baik karena kehilangan darah lebih besar ataupun trauma jaringan. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Jadi, paritas dan jenis persalinan harus diperhitungkan dalam perencanaan dan manajemen kehamilan/persalinan.
Pencegahan Perdarahan melalui Manajemen Aktif Kala III
Manajemen aktif kala III persalinan, yaitu pemberian uterotonik segera setelah bayi lahir, penanganan plasenta, kontraksi uterus, dan monitoring, terbukti mengurangi insiden PPH. [Lihat sumber Disini - ajog.org]
Dalam review terbaru, strategi ini direkomendasikan sebagai standar perawatan persalinan untuk menurunkan risiko kehilangan darah berlebihan pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - ajog.org]
Implementasi konsisten dari AMTSL di fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas, penting untuk pencegahan PPH dan penurunan kematian maternal.
Konsekuensi Perdarahan terhadap Kesehatan Ibu
Perdarahan postpartum dapat menyebabkan: syok hipovolemik, penurunan kesadaran, anemia berat, kebutuhan transfusi darah, komplikasi jangka panjang, bahkan kematian. [Lihat sumber Disini - ojs.ukb.ac.id]
Selain itu, PPH dapat memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan beban perawatan, serta berdampak negatif pada pemulihan ibu dan bonding dengan bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
Pencegahan, deteksi dini, dan penanganan cepat sangat penting untuk meminimalkan konsekuensi buruk tersebut.
Faktor Lingkungan dan Fasilitas Pelayanan Persalinan
Selain faktor ibu dan proses persalinan, aspek lingkungan pelayanan maternal memegang peranan: ketersediaan fasilitas dengan tenaga terlatih, uterotonik, peralatan untuk penanganan komplikasi, serta protokol manajemen persalinan dan post-partum. Beberapa studi menekankan bahwa kurangnya pelayanan ANC, pemantauan persalinan, atau AMTSL berkorelasi dengan peningkatan risiko PPH. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Fasilitas yang tidak memadai, terutama di daerah terpencil atau dengan sumber daya terbatas, memperburuk risiko maternal, memperbesar kemungkinan komplikasi serius pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
Oleh karena itu, perbaikan sistem pelayanan maternal, dari ANC, persalinan, hingga postpartum, adalah kunci untuk menurunkan angka kejadian PPH dan kematian ibu.
Kesimpulan
Perdarahan postpartum (PPH) adalah kondisi darurat obstetri dengan definisi klinis yang cukup jelas (≥ 500 ml darah pasca persalinan pervaginam, ≥ 1000 ml jika seksio). Banyak faktor, dari kondisi ibu (anemia, paritas, usia), kondisi kehamilan (komplikasi, plasenta, makrosomia), proses persalinan (lama, intervensi), hingga kualitas pelayanan kesehatan, yang bersama-sama memengaruhi risiko.
Pencegahan paling efektif dilakukan melalui: deteksi dini dan penanganan anemia saat kehamilan, perencanaan persalinan sesuai faktor risiko, pelaksanaan manajemen aktif kala III, serta kesiadaan fasilitas dan tenaga kesehatan.
Dengan perhatian menyeluruh pada semua aspek, dari kehamilan sampai postpartum, diharapkan insiden perdarahan postpartum dan komplikasinya dapat diminimalkan, sehingga meningkatkan keselamatan ibu setelah melahirkan.