
Postpartum Depression: Faktor dan Deteksi
Pendahuluan
Kehamilan dan kelahiran bayi sering dianggap sebagai momen penuh kebahagiaan. Namun bagi sejumlah ibu baru, periode setelah melahirkan bisa membawa tantangan kesehatan mental yang serius, yaitu Postpartum Depression (PPD) atau depresi pascamelahirkan. Kondisi ini bukan sekadar “lelah setelah melahirkan”, melainkan gangguan suasana hati yang bisa berdampak pada kesejahteraan ibu, kualitas pengasuhan, dan tumbuh-kembang bayi. Oleh sebab itu, penting untuk memahami definisi, faktor penyebab, gejala, serta metode deteksi PPD, agar bisa dikenali sejak dini dan ditangani dengan tepat.
Definisi Postpartum Depression
Definisi Postpartum Depression Secara Umum
Postpartum Depression adalah gangguan suasana hati (mood disorder) yang dialami ibu setelah melahirkan, ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, cemas, kelelahan ekstrim, serta gangguan aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Berbeda dengan “baby blues” yang sifatnya sementara dan ringan, PPD lebih berat, berlangsung lebih lama, dan seringkali mengganggu fungsi ibu sebagai orangtua. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
Definisi Postpartum Depression dalam KBBI
Menurut dokumen-kamus standar (meskipun istilah “postpartum depression” mungkin tidak tercantum persis dalam KBBI), definisi “depresi pasca melahirkan” mengacu pada kondisi gangguan suasana hati/mental yang muncul setelah ibu melahirkan, dengan gejala seperti kelelahan, sedih, sulit tidur, gangguan nafsu makan, perubahan mood, dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. (Untuk definisi baku, sumber umum menggambarkan hal tersebut sebagaimana di atas.)
Definisi Postpartum Depression Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur/penelitian ilmiah:
-
Menurut tinjauan oleh Dimcea dkk. (2024), PPD adalah kondisi psikiatrik disabilitas yang prevalensinya meningkat, dan merupakan salah satu komplikasi penting kesehatan ibu setelah melahirkan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam artikel model biopsikososial oleh Žutić dkk. (2023), PPD dipahami sebagai gangguan heterogen yang melibatkan interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial. [Lihat sumber Disini - journals.copmadrid.org]
-
Sebagai penggolongan diagnostik, menurut referensi psikiatri, PPD termasuk ke dalam spektrum Perinatal Depression, yakni depresi yang muncul selama kehamilan atau dalam satu tahun setelah persalinan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sedangkan dalam kajian epidemiologi global 2025, disebutkan bahwa PPD mempengaruhi sekitar 10, 20% wanita pascamelahirkan, dengan gejala seperti kesedihan persisten, kecemasan, kelelahan, dan kesulitan berfungsi di kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor Psikologis dan Sosial Penyebab Depresi
Faktor psikologis dan sosial sering menjadi penentu utama munculnya PPD. Berikut beberapa di antaranya:
-
Kurangnya dukungan sosial dan dukungan pasangan (suami/keluarga). Dalam penelitian di Indonesia, misalnya di RSUD Malingping, ditemukan hubungan signifikan antara kurangnya dukungan suami dan meningkatnya risiko depresi postpartum. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Status ekonomi rendah, serta faktor demografis seperti usia, pekerjaan, dan pendidikan. Studi di wilayah kerja Puskesmas Samata (2023) menunjukkan bahwa aspek-aspek seperti pendapatan, pekerjaan, dan self-efficacy ibu memengaruhi kemungkinan terjadinya depresi postpartum. [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]
-
Stres psikososial, termasuk tekanan peran sebagai ibu, perubahan gaya hidup, dan stres pada masa nifas. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suska.ac.id]
-
Kehamilan yang tidak diinginkan (unplanned/unwanted pregnancy), serta kejadian stres kehidupan (life stress) atau peristiwa traumatis selama kehamilan atau pascapersalinan, yang juga terbukti signifikan dalam penelitian pada ibu di Jakarta selama pandemi COVID-19. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
-
Riwayat gangguan mental sebelumnya atau keluarga dengan riwayat depresi/mental illness. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Faktor Biologis dan Perubahan Hormon
Selain faktor psikososial, aspek biologis juga memainkan peran dalam PPD. Mekanisme ini sering dijelaskan melalui model biopsikososial. [Lihat sumber Disini - journals.copmadrid.org]
Beberapa faktor biologis meliputi:
-
Perubahan hormon drastis setelah melahirkan, termasuk penurunan drastis hormon estrogen dan progesteron, yang dapat mempengaruhi suasana hati dan keseimbangan kimia otak. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Predisposisi genetik atau riwayat keluarga dengan gangguan mood atau mental, ibu dengan latar belakang tersebut memiliki risiko lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Komplikasi obstetrik atau masalah kesehatan fisik selama kehamilan/persalinan, misalnya metode persalinan, trauma persalinan, atau kondisi medis ibu, yang dapat meningkatkan beban stres biologis dan psikologis sehingga memicu PPD. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor gaya hidup dan kondisi fisik, seperti kurang tidur, kelelahan tubuh, kurang nutrisi, yang bisa memperburuk perubahan hormonal dan membuat tubuh serta pikiran rentan terhadap depresi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Tanda dan Gejala Dini Depresi Postpartum
Kenali gejala awal PPD agar bisa dilakukan deteksi dan intervensi cepat. Beberapa tanda umum antara lain:
-
Perasaan sangat lelah, kehilangan energi, merasa tidak bertenaga meskipun sudah istirahat. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Perubahan suasana hati secara drastis, mudah menangis, mudah marah, sering gelisah tanpa sebab jelas. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Perubahan pola tidur dan nafsu makan: sulit tidur atau tidur terlalu lama, kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Kesulitan berkonsentrasi, mengambil keputusan, merasa bingung, serta hilangnya minat pada aktivitas yang dulu disukai. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Menarik diri dari interaksi sosial, menghindari teman/keluarga, kurang ingin berinteraksi, bahkan merasa putus asa atau memiliki pikiran negatif, termasuk pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Kesulitan menjalankan peran sebagai ibu, misalnya sulit menjaga bayi, tidak punya energi untuk menyusui atau merawat bayi, merasa tak mampu. [Lihat sumber Disini - wjgnet.com]
Metode Deteksi dan Skrining
Deteksi dini sangat penting agar PPD bisa segera ditangani. Berikut metode yang umum digunakan:
-
Penggunaan instrumen skrining: Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS), kuesioner 10-item yang banyak dipakai untuk mengidentifikasi kemungkinan PPD. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Wawancara klinis dan asesmen psikologis oleh tenaga kesehatan, untuk mendalami keluhan, suasana hati, pola tidur, kemampuan fungsional, dan kondisi mental ibu. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Monitoring secara berulang selama periode nifas, karena PPD bisa muncul dalam beberapa minggu sampai bulan setelah melahirkan; deteksi awal lebih efektif bila dilakukan dalam 4, 6 minggu setelah persalinan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Intervensi preventif dan edukasi selama kehamilan dan nifas, baik melalui konsultasi psikososial, edukasi kesehatan mental, serta dukungan keluarga/lingkungan sosial. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Peran Keluarga dan Tenaga Kesehatan
Peran keluarga, terutama pasangan, serta tenaga kesehatan sangat krusial dalam mencegah dan menangani PPD, antara lain:
-
Keluarga dan pasangan perlu memberikan dukungan emosional, membantu ibu beradaptasi dengan peran baru, membantu merawat bayi, serta menciptakan lingkungan yang suportif, karena kurangnya dukungan sosial terbukti meningkatkan risiko PPD. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Tenaga kesehatan (bidan, dokter, perawat) perlu melakukan skrining rutin untuk PPD, mengenali gejala, memberikan konseling psikologis, serta merujuk ke layanan kesehatan mental jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - emedicine.medscape.com]
-
Pendidikan kesehatan mental kepada ibu, selama kehamilan dan nifas, agar ibu dan keluarga memahami bahwa perubahan emosi dan mood bisa terjadi, sehingga stigma bisa ditekan dan ibu merasa aman untuk meminta bantuan. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suska.ac.id]
-
Intervensi psikososial dan komunitas pendukung, misalnya kelompok ibu, konseling kelompok, peer-support, atau edukasi parenting, terbukti membantu mengurangi risiko dan dampak PPD. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suska.ac.id]
Dampak Depresi terhadap Ibu dan Bayi
Depresi pascamelahirkan tidak hanya berdampak pada ibu secara psikologis, tetapi juga bisa mempengaruhi bayi dan dinamika keluarga. Beberapa dampak antara lain:
-
Ibu bisa sulit menjalankan fungsi pengasuhan, misalnya malas atau sulit menyusui, kurang enerjik untuk merawat bayi, sehingga kualitas perawatan bayi menurun. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Bayi bisa mengalami gangguan perkembangan, mulai dari berat badan lahir rendah, pertumbuhan terhambat, hingga gangguan emosional atau kognitif jika PPD berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Hubungan ibu-anak dan bonding bisa terganggu, hal ini berpotensi merusak ikatan emosional awal yang penting untuk perkembangan bayi. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Ibu berisiko mengalami depresi jangka panjang, jika tidak mendapat penanganan, PPD bisa berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, memengaruhi kualitas hidup, hubungan sosial, dan kesejahteraan keluarga. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Kesimpulan
Postpartum Depression adalah kondisi serius yang bisa dialami oleh ibu setelah melahirkan, melampaui sekadar “baby blues”. Penyebabnya kompleks, melibatkan faktor psikologis, sosial, biologis, dan kondisi sekitar ibu. Gejala bisa sangat beragam, mulai dari kelelahan, perubahan mood, gangguan tidur/nafsu makan, hingga penurunan fungsi dalam peran sebagai ibu. Oleh karena itu, deteksi dini melalui skrining (seperti EPDS), wawancara klinis, serta dukungan keluarga dan tenaga kesehatan sangat penting. Jika diabaikan, dampaknya tidak hanya pada ibu, tapi juga bisa mengganggu perkembangan bayi dan kesejahteraan keluarga. Dengan pemahaman yang baik, dukungan sosial, dan intervensi tepat waktu, risiko serta dampak PPD bisa ditekan.