Terakhir diperbarui: 10 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 10 December). Dukungan Sosial dalam Mencegah Depresi Pascapersalinan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/dukungan-sosial-dalam-mencegah-depresi-pascapersalinan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Dukungan Sosial dalam Mencegah Depresi Pascapersalinan - SumberAjar.com

Dukungan Sosial dalam Mencegah Depresi Pascapersalinan

Pendahuluan

Transisi menjadi ibu baru adalah fase hidup yang penuh dengan kebahagiaan, harapan, tetapi juga tantangan signifikan, baik dari segi fisik, emosional maupun psikologis. Setelah melahirkan, banyak ibu menghadapi tekanan baru: perubahan hormon, tanggung jawab merawat bayi, kurang tidur, tuntutan sosial dan harapan lingkungan. Tekanan ini dapat memicu stres, kecemasan, dan dalam banyak kasus berkembang menjadi depresi pascapersalinan (postpartum depression / PPD). Untuk itu, keberadaan dukungan sosial, dari suami/pasangan, keluarga, teman, lingkungan sekitar, bahkan tenaga kesehatan, menjadi sangat krusial sebagai pelindung terhadap risiko gangguan mental pada masa nifas dan pascanatal.

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai definisi dukungan sosial, bagaimana bentuk dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta bagaimana dukungan sosial berperan dalam mencegah depresi pascapersalinan dan mendukung bonding ibu-bayi.


Definisi Dukungan Sosial

Definisi secara umum

Dukungan sosial dapat dipahami sebagai bentuk bantuan, baik fisik, emosional, informatif, maupun instrumental, yang diberikan individu atau kelompok terhadap seseorang dalam menghadapi stres, tekanan, atau perubahan penting dalam hidup. Bantuan ini dapat berupa perhatian, nasihat, rasa dihargai, bantuan praktis, serta kehadiran dan empati. Dalam konteks ibu pascapersalinan, dukungan sosial menjadi sumber daya penting yang membantu ibu beradaptasi secara psikologis terhadap peran baru sebagai ibu.

Definisi menurut KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “dukungan” dapat diartikan sebagai bantuan, sokongan, atau pertolongan. Maka “dukungan sosial” secara bahasa adalah sokongan atau pertolongan yang datang dari lingkungan sosial, keluarga, pasangan, teman, masyarakat, untuk membantu seseorang menghadapi kondisi atau situasi tertentu.

Definisi menurut Para Ahli

Beberapa definisi dari literatur ilmiah:

  • Menurut Catherine P. Corrigan dkk., dukungan sosial mencakup bantuan profesional maupun sosial yang diberikan kepada ibu pascapersalinan untuk membantu mereka mengatasi depresi, baik melalui dukungan emosional, nasihat, maupun layanan praktis terkait perawatan bayi dan adaptasi menjadi ibu. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Cucu Eka Pertiwi dan Ni Ketut Alit Armini menyatakan bahwa “family support” (dukungan keluarga) dan persepsi terhadap diri sendiri (self-efficacy) secara signifikan berhubungan negatif dengan kejadian depresi pascapersalinan, artinya semakin besar dukungan keluarga dan keyakinan diri sang ibu, semakin kecil kemungkinan terjadinya PPD. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Dalam konteks lokal Indonesia, penelitian oleh Nurmaulid, Erfina dan Ismail Marlian Nur menyimpulkan bahwa ada korelasi signifikan antara tingkat dukungan sosial yang dirasakan ibu dan kejadian depresi pascapersalinan pada ibu yang tinggal dalam keluarga besar (extended family). [Lihat sumber Disini - scholar.unhas.ac.id]


Jenis-jenis Dukungan Sosial untuk Ibu Baru

Dalam literatur dan praktik, dukungan sosial bagi ibu pascapersalinan biasanya terbagi ke dalam beberapa bentuk:

  • Dukungan emosional: empati, perhatian, kasih sayang, mendengarkan keluh-kesah, memberi semangat.

  • Dukungan instrumental: bantuan praktis seperti membantu pekerjaan rumah, merawat bayi, membantu dalam persiapan makanan, membersihkan rumah, dsb.

  • Dukungan informatif: memberi informasi, nasihat, panduan tentang perawatan bayi, kesehatan ibu, manajemen stres, menyusui, dan lainnya.

  • Dukungan penghargaan (esteem support): memberikan apresiasi, validasi perasaan ibu, menghargai usaha serta perannya sebagai ibu, membuat ibu merasa dihargai dan mampu.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kombinasi bentuk-bentuk dukungan ini sangat penting dalam menurunkan risiko depresi pascapersalinan. Misalnya, studi dalam jurnal tahun 2023 mengenai dukungan suami menunjukkan bahwa perempuan dengan suami yang memberi dukungan emosional, instrumental, informatif, dan penghargaan memiliki tingkat PPD yang jauh lebih rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Dukungan Sosial

Tingkat dan kualitas dukungan sosial terhadap ibu setelah melahirkan tidak terjadi secara otomatis, beberapa faktor dapat memengaruhi seberapa besar dukungan yang diterima:

  • Struktur keluarga dan tempat tinggal: Ibu yang tinggal dalam keluarga besar atau extended family bisa lebih mudah mendapatkan bantuan dari anggota keluarga (orang tua, mertua, saudara) dibandingkan ibu yang tinggal sendiri atau jauh dari keluarga inti. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa di antara ibu yang tinggal dalam extended family, tingkat dukungan sosial berperan signifikan terhadap kejadian PPD. [Lihat sumber Disini - scholar.unhas.ac.id]

  • Hubungan suami-istri / kemapanan pasangan: Kualitas hubungan perkawinan dan keterlibatan suami (emocional, instrumental, informatif) memengaruhi seberapa besar dukungan yang dirasakan ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Kemampuan dan keyakinan diri ibu (self-efficacy): Ibu yang percaya pada kemampuannya merawat bayi dan menjalani peran sebagai ibu lebih mampu mengelola stres, terutama jika juga mendapat dukungan sosial. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Keterlibatan tenaga kesehatan / profesional layanan kesehatan: Ibu yang mendapatkan edukasi, bimbingan, serta akses layanan kesehatan (konsultasi, check-up, konseling) lebih berpeluang mendapatkan dukungan informatif dan praktis. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkesjakarta3.ac.id]

  • Kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan: Faktor pekerjaan, status ekonomi, akses ke layanan, jarak dengan keluarga, juga memengaruhi ketersediaan dukungan. Studi yang menyertakan faktor ekonomi dan sosial menunjukkan bahwa di masa sulit (misalnya pandemi, isolasi) rendahnya dukungan sosial berkorelasi dengan peningkatan gangguan psikososial. [Lihat sumber Disini - journals.stikim.ac.id]


Pengaruh Dukungan Emosional terhadap Kesehatan Mental

Dukungan emosional, berupa empati, perhatian, kehadiran dan pemahaman, terbukti memiliki dampak besar dalam menjaga stabilitas mental ibu pascapersalinan. Rasa didengar, dihargai, dan disayangi membantu ibu merasa lebih aman, mengurangi perasaan kesepian, kecemasan, dan stres yang bisa memicu depresi.

Misalnya, dalam penelitian terbaru tahun 2025, ditemukan bahwa tingginya dukungan sosial, bersama dengan kecerdasan emosional, berpengaruh signifikan menurunkan kecenderungan depresi pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - jurnalp4i.com]

Selain itu, dukungan emosional juga seringkali mendahului bentuk dukungan lain, ketika ibu merasa diperhatikan secara emosional, ia lebih terbuka menerima bantuan instrumental, informatif, dan penghargaan. Kombinasi ini memperkuat ketahanan psikologis ibu di masa sulit pascamelahirkan.


Peran Suami dalam Pencegahan Depresi Postpartum

Suami (pasangan) memainkan peran sangat sentral dalam memberikan dukungan sosial bagi ibu setelah melahirkan.

  • Studi di Indonesia (2023) menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang kuat antara dukungan suami dan depresi pascapersalinan: semakin besar dukungan suami, semakin rendah kemungkinan PPD. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Bentuk dukungan dari suami tidak hanya emosional (empati, perhatian), tetapi juga instrumental (membantu pekerjaan rumah, merawat bayi), informatif (nasihat, panduan), serta penghargaan terhadap usaha ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Penelitian campuran (kuantitatif + kualitatif) menunjukkan bahwa suami yang “terlibat penuh”, mendengarkan, memahami pengalaman ibu, memberi validasi emosional, membantu tanggung jawab rumah dan bayi, sangat membantu menjaga kesehatan mental ibu pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - psychologia.pelnus.ac.id]

Karena itu, melibatkan suami dalam proses kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan, termasuk sosialisasi peran, pendidikan, konseling pasangan, sangat penting sebagai strategi pencegahan PPD.


Peran Lingkungan Keluarga Terhadap Stabilitas Emosi Ibu

Keluarga besar, orang tua, mertua, saudara, teman dekat, bisa menjadi sumber dukungan sosial penting.

  • Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ibu yang menerima dukungan dari keluarga memiliki self-efficacy lebih tinggi dan tingkat depresi pascapersalinan yang lebih rendah. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Fungsi keluarga yang baik, saling bantu, harmonis, peduli, membantu ibu merasa tidak sendirian dalam tanggung jawab merawat bayi, pekerjaan rumah, serta adaptasi pascamelahirkan. [Lihat sumber Disini - journal.walisongo.ac.id]

  • Dukungan dari teman atau komunitas (peer-support) juga bisa membantu, terutama bagi ibu yang tidak memiliki keluarga dekat atau tinggal jauh dari keluarga inti. Literatur internasional menunjukkan bahwa “social support network” luas, keluarga, teman, komunitas, profesional, berkorelasi dengan penurunan risiko depresi pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Lingkungan keluarga yang suportif juga membantu ibu merasa dihargai dan aman, sehingga beban psikologis berkurang dan emosi lebih stabil.


Peran Tenaga Kesehatan dalam Deteksi Dini Depresi

Tenaga kesehatan, bidan, dokter, perawat, konselor, memiliki peran penting dalam mendeteksi dini gejala depresi pascapersalinan dan menyediakan dukungan informatif maupun rujukan.

  • Suatu penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dari tenaga medis sangat mempengaruhi kondisi psikososial ibu pascapersalinan, terutama dalam situasi khusus seperti isolasi (misalnya masa pandemi), di mana ibu rentan stres, trauma, dan kesepian. [Lihat sumber Disini - journals.stikim.ac.id]

  • Review literatur terbaru (2025) menegaskan bahwa dukungan dari keluarga serta profesional kesehatan secara signifikan menurunkan risiko depresinya. [Lihat sumber Disini - conference.trunojoyo.ac.id]

  • Tenaga kesehatan juga dapat berperan dalam edukasi prenatal dan pascanatal: memberikan informasi, panduan mengasuh bayi, manajemen stres, cara mendeteksi gejala awal depresi, serta memberikan dukungan psikososial, semua ini membantu ibu lebih siap menghadapi fase postpartum.

Dengan demikian, integrasi layanan kesehatan maternal dengan dukungan sosial menjadi strategi penting dalam pencegahan PPD.


Hambatan Ibu dalam Mengakses Dukungan Sosial

Meskipun dukungan sosial penting, banyak ibu menghadapi hambatan dalam mendapatkannya:

  • Jarak geografis / tinggal sendiri, ibu yang tinggal jauh dari keluarga atau suami/keluarga tidak mendampingi akan sulit mendapat dukungan praktis maupun emosional.

  • Kurangnya pemahaman dari lingkungan, keluarga atau pasangan mungkin kurang tahu bagaimana memberikan dukungan yang tepat, atau meremehkan pentingnya dukungan pascamelahirkan.

  • Stigma seputar kesehatan mental, di beberapa lingkungan budaya, berbicara soal depresi atau stres pascamelahirkan bisa dianggap tabu, membuat ibu enggan meminta bantuan.

  • Keterbatasan akses layanan kesehatan, ibu yang berada di daerah terpencil atau dengan akses rendah ke fasilitas kesehatan bisa kesulitan mendapat rujukan psikolog/psikiater atau layanan konseling.

  • Keterbatasan sumber daya: waktu, tenaga, ekonomi, suami atau anggota keluarga mungkin sibuk bekerja, tidak punya waktu, atau ibu sendiri kesulitan meminta bantuan karena ingin “mandiri”.

Hambatan-hambatan ini bisa mengurangi efektivitas dukungan sosial, sehingga ibu menjadi rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi.


Hubungan Minimnya Dukungan dengan Risiko Depresi

Banyak bukti empiris bahwa minimnya dukungan sosial berkorelasi dengan peningkatan depresi pascapersalinan. Contoh:

Dengan demikian, minimnya dukungan sosial bukan hanya meningkatkan beban, tapi bisa menjadi faktor pemicu utama depresi pascapersalinan.


Dampak Dukungan Sosial terhadap Bonding Ibu-Bayi

Dukungan sosial tidak hanya berpengaruh pada kesehatan mental ibu, tetapi juga pada kualitas bonding (ikatan emosional) antara ibu dan bayi. Ibu yang merasa didukung, secara emosional maupun praktis, cenderung lebih tenang, percaya diri, dan sabar dalam merawat bayi. Hal ini memfasilitasi interaksi positif, responsif, dan konsisten terhadap kebutuhan bayi (menyusui, kontak fisik, stimulasi), yang penting untuk perkembangan emosional dan fisik bayi.

Penelitian terbaru (2024) menunjukkan bahwa fungsi keluarga, kualitas dukungan sosial, dan kesehatan bayi bersama-sama berpengaruh terhadap risiko depresi pascanatal, yang berarti bahwa dengan dukungan dan keluarga yang sehat, ibu lebih mampu menjaga kesehatan mental dan membangun bonding yang sehat dengan bayi sejak dini. [Lihat sumber Disini - journal.walisongo.ac.id]


Strategi Peningkatan Dukungan untuk Pencegahan Depresi

Berdasarkan temuan dari berbagai penelitian, berikut strategi yang direkomendasikan untuk meningkatkan dukungan sosial bagi ibu pascapersalinan:

  • Edukasi pasangan (suami) dan keluarga inti: sosialisasikan pentingnya dukungan emosional, instrumental, informatif setelah melahirkan, melalui konseling prenatal, kelas persiapan persalinan, atau penyuluhan di puskesmas.

  • Penguatan peran layanan kesehatan maternal: tenaga kesehatan (bidan, dokter, perawat) perlu dilatih untuk mendeteksi gejala awal stres / depresi, memberi konseling, dan merujuk ke layanan psikolog/psikiater bila perlu; serta memberikan edukasi merawat bayi dan manajemen stres.

  • Membangun jaringan dukungan sosial, komunitas ibu, kelompok orang tua, peer support: ibu bisa saling berbagi pengalaman, saling membantu, belajar bersama soal menyusui, perawatan bayi, dan kesehatan mental.

  • Meningkatkan self-efficacy ibu: memberi pelatihan atau informasi yang memberdayakan ibu, misalnya cara perawatan bayi, manajemen stres, teknik relaksasi, agar ibu merasa mampu dan lebih percaya diri dalam menghadapi peran barunya.

  • Kebijakan dan program berbasis keluarga & komunitas: misalnya program home visit oleh tenaga kesehatan, layanan konseling pascanatal gratis / terjangkau, kampanye kesadaran kesehatan mental ibu, serta dukungan sosial dari pemerintah dan masyarakat.


Kesimpulan

Dukungan sosial, baik dari suami, keluarga, teman, maupun tenaga kesehatan, memainkan peran krusial dalam mencegah depresi pascapersalinan dan menjaga kesehatan mental ibu. Bentuk dukungan yang beragam (emosional, instrumental, informatif, penghargaan) dapat membantu ibu menghadapi beban fisik dan psikologis pascamelahirkan, meningkatkan self-efficacy, serta membangun bonding sehat antara ibu dan bayi. Sebaliknya, minimnya dukungan sosial menjadi faktor risiko signifikan terhadap munculnya depresi pascapersalinan. Oleh karena itu, strategi yang sistematis dan komprehensif, melibatkan keluarga, pasangan, komunitas, serta layanan kesehatan, sangat diperlukan untuk memastikan setiap ibu mendapatkan dukungan yang memadai pada masa transisi menjadi ibu baru.

Semoga artikel ini bermanfaat sebagai referensi ilmiah dan panduan untuk memperkuat dukungan sosial bagi ibu pascapersalinan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Dukungan sosial adalah bantuan emosional, instrumental, informatif, atau penghargaan yang diberikan keluarga, suami, teman, dan tenaga kesehatan untuk membantu ibu baru mengatasi stres dan menurunkan risiko depresi setelah melahirkan.

Suami memiliki peran besar dalam memberikan dukungan emosional dan praktis. Keterlibatan suami membantu menurunkan tekanan mental ibu dan secara signifikan terbukti menurunkan risiko depresi pascapersalinan.

Bentuk dukungan sosial meliputi dukungan emosional, bantuan praktis (instrumental), pemberian informasi, serta penghargaan terhadap peran ibu. Semua bentuk dukungan ini membantu menjaga kestabilan mental ibu.

Ibu yang tidak mendapatkan dukungan dari pasangan, keluarga, atau lingkungan lebih rentan mengalami stres, kecemasan, dan tekanan emosional, yang dapat memicu depresi pascapersalinan.

Dukungan sosial membantu ibu menjadi lebih tenang dan percaya diri, sehingga meningkatkan kualitas interaksi dan kedekatan dengan bayi. Ini berdampak positif pada perkembangan emosional bayi.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Depresi Pascapersalinan: Konsep, Faktor Risiko, dan Deteksi Dini Depresi Pascapersalinan: Konsep, Faktor Risiko, dan Deteksi Dini Pengetahuan Ibu tentang Kontrasepsi Pascapersalinan Pengetahuan Ibu tentang Kontrasepsi Pascapersalinan Pengetahuan KB Pascapersalinan: Konsep, Perencanaan, dan Keberlanjutan Pengetahuan KB Pascapersalinan: Konsep, Perencanaan, dan Keberlanjutan Manajemen Nyeri Pascapersalinan: Konsep, Pendekatan Kebidanan, dan Pemulihan Manajemen Nyeri Pascapersalinan: Konsep, Pendekatan Kebidanan, dan Pemulihan Tingkat Depresi Pasien: Faktor Psikologis dan Dampak Klinis Tingkat Depresi Pasien: Faktor Psikologis dan Dampak Klinis Tingkat Depresi Pasien: Pengertian dan Faktor Tingkat Depresi Pasien: Pengertian dan Faktor Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui Kebersihan Masa Nifas: Konsep, Pencegahan Infeksi, dan Praktik Aman Kebersihan Masa Nifas: Konsep, Pencegahan Infeksi, dan Praktik Aman Perilaku Ibu dalam Pencegahan Infeksi Masa Nifas Perilaku Ibu dalam Pencegahan Infeksi Masa Nifas Adaptasi Fisiologis Ibu pada Masa Nifas Adaptasi Fisiologis Ibu pada Masa Nifas Perawatan Masa Nifas: Konsep, Praktik Ibu, dan Pencegahan Komplikasi Perawatan Masa Nifas: Konsep, Praktik Ibu, dan Pencegahan Komplikasi Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui Pengetahuan Ibu tentang Senam Kegel Pengetahuan Ibu tentang Senam Kegel Perilaku Ibu dalam Perawatan Masa Nifas Perilaku Ibu dalam Perawatan Masa Nifas Faktor yang Berhubungan dengan Perdarahan Postpartum Faktor yang Berhubungan dengan Perdarahan Postpartum Pengetahuan Ibu tentang Manfaat Rooming-In Pengetahuan Ibu tentang Manfaat Rooming-In Dukungan Sosial dan Kesehatan Dukungan Sosial dan Kesehatan Pola Aktivitas Masa Nifas: Konsep, Pemulihan, dan Kesehatan Ibu Pola Aktivitas Masa Nifas: Konsep, Pemulihan, dan Kesehatan Ibu Postpartum Depression: Faktor dan Deteksi Postpartum Depression: Faktor dan Deteksi Hubungan Dukungan Suami dengan Kesehatan Ibu Hubungan Dukungan Suami dengan Kesehatan Ibu
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…