Terakhir diperbarui: 21 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 21 January). Goodwill: Konsep, Pengakuan, dan Perlakuan Akuntansi. SumberAjar. Retrieved 22 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/goodwill-konsep-pengakuan-dan-perlakuan-akuntansi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Goodwill: Konsep, Pengakuan, dan Perlakuan Akuntansi - SumberAjar.com

Goodwill: Konsep, Pengakuan, dan Perlakuan Akuntansi

Pendahuluan

Goodwill adalah salah satu konsep penting dalam akuntansi modern yang sering muncul ketika sebuah perusahaan melakukan akuisisi atau penggabungan usaha. Dalam praktiknya, nilai suatu perusahaan kerap kali melebihi nilai aset berwujudnya karena faktor-faktor intangible seperti reputasi pasar, loyalitas pelanggan, merek terkenal, dan keunggulan kompetitif lainnya. Nilai lebih ini yang tidak dapat diidentifikasi secara terpisah itulah yang disebut goodwill dalam akuntansi. Goodwill mencerminkan harapan manfaat ekonomi masa depan yang tidak mudah diukur secara objektif, tetapi tetap memberikan nilai strategis signifikan bagi perusahaan pembeli maupun pemangku kepentingan lainnya. Konsep inilah yang akan menjadi fokus utama pembahasan dalam artikel ini, mencakup definisi, sumber terbentuknya, pengakuan, pengukuran, perlakuan akuntansi, hingga implikasinya terhadap laporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])


Definisi Goodwill

Definisi Goodwill Secara Umum

Goodwill secara umum merupakan aset tidak berwujud yang muncul ketika harga pembelian suatu perusahaan melebihi nilai wajar aset bersih yang diambil alih. Artinya, ketika sebuah perusahaan diakuisisi dengan harga lebih tinggi dari jumlah nilai aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi, selisih lebih ini dicatat sebagai goodwill. Goodwill mencerminkan nilai yang tidak terukur secara fisik namun memberikan manfaat ekonomi karena reputasi, loyalitas pelanggan, kemampuan manajerial, dan keunggulan operasi lainnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Definisi Goodwill dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah goodwill sendiri tidak selalu dicantumkan secara tersendiri, tetapi maknanya dapat ditafsirkan sebagai “niat baik atau reputasi baik” dalam konteks bisnis yang menjadi nilai tambah perusahaan. Di sini goodwill lebih ditekankan pada aspek reputasi yang berdampak pada keputusan ekonomi pihak lain terhadap perusahaan yang bersangkutan. Sumber KBBI dapat dilihat di web KBBI, namun akses langsung kandungan terminologi khusus goodwill dapat ditemukan di kamus istilah bisnis umum. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

Definisi Goodwill Menurut Para Ahli

Beberapa ahli akuntansi dan riset akademik menjelaskan goodwill sebagai berikut:

  1. Hughes & Bloom (dalam literatur akuntansi internasional) menyatakan bahwa goodwill adalah intangible asset yang mencerminkan premi yang dibayar pembeli di atas nilai aset bersih suatu perusahaan yang diakuisisi. Goodwill ini hanya diakui ketika terjadi transaksi penggabungan usaha. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  2. Araceli Amorós Martínez dkk. dalam kajian literature accounting goodwill menyatakan bahwa goodwill adalah selisih antara harga pembelian bisnis dengan jumlah nilai wajar aset identifiabel dikurangi kewajiban, mencerminkan manfaat ekonomis masa depan yang tidak dapat diidentifikasi secara terpisah. ([Lihat sumber Disini - growingscience.com])

  3. Journal of Accounting Literature menyatakan bahwa goodwill mewakili manfaat masa depan yang diharapkan dari aset tidak berwujud yang tidak dapat diidentifikasi dan diukur secara terpisah dari keseluruhan entitas. ([Lihat sumber Disini - grantthornton.global])

  4. Penelitian akademik lain juga menekankan bahwa goodwill dapat mencerminkan keunggulan kompetitif, posisi pasar, dan kemungkinan perolehan laba di atas normal yang tidak terlihat pada aset berwujud. ([Lihat sumber Disini - brixx.com])


Sumber Terbentuknya Goodwill

Goodwill terbentuk terutama dalam konteks kombinasi bisnis atau akuisisi perusahaan. Ketika suatu entitas mengakuisisi entitas lain, sering kali pembelian dilakukan pada harga yang lebih tinggi daripada nilai aset bersih yang diidentifikasi. Selisih lebih inilah yang kemudian dianggap sebagai goodwill. Faktor utama yang membentuk goodwill antara lain:

  1. Reputasi Perusahaan
    Goodwill sering kali terbentuk dari reputasi baik di mata pasar dan pelanggan, yang menciptakan kepercayaan dan potensi pendapatan di masa depan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

  2. Basis Pelanggan Loyal
    Loyalitas pelanggan yang tinggi tidak dapat dihitung sebagai aset berwujud tetapi menciptakan nilai lebih saat akuisisi sehingga membentuk goodwill. ([Lihat sumber Disini - brixx.com])

  3. Brand dan Merek Dagang
    Merek yang kuat dan dikenal luas oleh konsumen menjadi alasan pembeli membayar lebih dari nilai wajar aset bersih. ([Lihat sumber Disini - jurnal.id])

  4. Karyawan dan Manajemen Unggul
    Kapasitas tenaga kerja dan manajemen profesional sering kali menjadi bagian dari nilai keseluruhan perusahaan yang sulit diukur, tetapi meningkatkan nilai transaksi akuisisi. ([Lihat sumber Disini - brixx.com])

  5. Sinergi Operasional dan Strategi
    Sinergi antara perusahaan yang diakuisisi dan pembeli juga memainkan peran penting dalam pembentukan goodwill karena potensi peningkatan efisiensi dan pendapatan di masa depan. ([Lihat sumber Disini - grantthornton.global])

Sumber-sumber ini mencerminkan alasan ekonomis dan strategis pembentukan goodwill, bukan sekadar angka dalam laporan keuangan semata. Goodwill ini hanya muncul ketika transaksi terjadi, dan tidak dapat dihasilkan sendiri oleh perusahaan tanpa akuisisi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Pengakuan Goodwill dalam Akuntansi

Pengakuan goodwill dalam akuntansi diatur oleh standar akuntansi internasional seperti IFRS 3 dan juga standar lokal seperti PSAK di Indonesia. Goodwill hanya diakui ketika terjadi kegiatan kombinasi bisnis, di mana pembeli memperoleh kendali atas entitas yang diakuisisi dan harga pembelian melebihi jumlah nilai aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Standar IFRS 3 menyatakan bahwa goodwill diukur sebagai selisih antara imbalan yang dialihkan oleh pembeli dengan nilai wajar aset yang diperoleh dan kewajiban yang diambil alih pada tanggal akuisisi. Pengakuan ini dilakukan hanya pada saat akuisisi dan harus menunjukkan bukti bahwa transaksi kombinasi usaha telah terjadi, bukan sekadar nilai subjektif internal perusahaan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Selain itu, aturan internasional menggarisbawahi bahwa goodwill tidak boleh dibentuk secara internal tanpa adanya transaksi yang spesifik, sehingga tidak boleh diakui hanya karena perusahaan memiliki reputasi kuat atau pertumbuhan laba yang tinggi. Hal ini penting untuk menjaga konsistensi dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Pengukuran dan Penilaian Goodwill

Pengukuran goodwill pada saat pengakuan awal dilakukan dengan menghitung:

  1. Harga Pembelian (Consideration Transferred)
    Total biaya yang dibayar oleh pihak pembeli dalam transaksi akuisisi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  2. Nilai Wajar Aset dan Liabilitas Teridentifikasi
    Semua aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi diukur pada nilai wajar pada tanggal akuisisi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  3. Selisih antara Harga Pembelian dan Nilai Wajar Aset Bersih
    Selisih ini merupakan goodwill yang diakui dalam laporan posisi keuangan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Goodwill tidak dapat diukur secara langsung karena ia tidak memiliki substansi fisik. Oleh karena itu, pengukuran ini dilakukan berdasarkan konsep residual accounting di mana goodwill adalah residu setelah jumlah harga pembelian dan penilaian aset dan liabilitas yang dapat diidentifikasi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Sesudah pengakuan awal, goodwill diukur secara berkala dengan melakukan uji penurunan nilai (impairment test) setiap tahun atau jika terdapat indikasi penurunan nilai secara signifikan. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apakah nilai terpulihkan dari goodwill masih mencerminkan nilai tercatatnya. Jika nilai terpulihkan lebih rendah, maka selisihnya diakui sebagai kerugian penurunan nilai dalam laporan laba rugi. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Perlakuan Akuntansi terhadap Goodwill

Perlakuan akuntansi untuk goodwill berbeda dengan aset berwujud maupun aset tak berwujud lainnya yang memiliki masa manfaat terbatas. Perlakuannya mencakup:

  1. Tidak Diamortisasi
    Berdasarkan standar IFRS 3 dan PSAK terkait, goodwill tidak diamortisasi secara sistematis karena dianggap memiliki masa manfaat yang tidak terbatas. Sebagai gantinya, dilakukan uji penurunan nilai secara berkala. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  2. Impairment Test Tahunan
    Goodwill harus diuji penurunan nilai setiap tahunnya dan setiap kali terdapat indikasi penurunan nilai. Jika nilai terpulihkan di bawah nilai tercatat, maka selisihnya dicatat sebagai rugi penurunan nilai. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

  3. Alokasi ke Unit Penghasil Kas (CGU)
    Goodwill harus dialokasikan ke unit penghasil kas tertentu yang diharapkan akan menerima manfaat dari akuisisi tersebut. Pengujian penurunan nilai dilakukan pada tingkat unit penghasil kas tersebut. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  4. Pengungkapan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
    Perusahaan wajib mengungkapkan informasi mengenai goodwill, termasuk asal, alokasi CGU, metode penilaian, dan hasil uji penurunan nilai, agar laporan keuangan informatif dan transparan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Implikasi Goodwill terhadap Laporan Keuangan

Goodwill memiliki sejumlah implikasi penting terhadap laporan keuangan perusahaan:

  1. Pengaruh pada Struktur Neraca
    Goodwill akan meningkatkan aset tidak berwujud dalam neraca, sehingga mempengaruhi total aset dan struktur modal suatu entitas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  2. Penurunan Nilai (Impairment) yang Signifikan
    Jika uji penurunan nilai menunjukkan kerugian, hal ini akan langsung mempengaruhi laba rugi periode berjalan dan dapat mengurangi laba bersih perusahaan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

  3. Persepsi Investor
    Tingginya goodwill dapat mencerminkan kepercayaan investor terhadap potensi manfaat ekonomi di masa depan, tetapi juga meningkatkan risiko karena nilai tersebut tidak berwujud dan subjektif. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])

  4. Pengaruh pada Rasio Keuangan
    Goodwill mempengaruhi rasio-rasio keuangan seperti Return on Assets (ROA) dan rasio leverage karena meningkatkan nilai aset tanpa menambah arus kas langsung. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])


Kesimpulan

Goodwill merupakan aset tidak berwujud yang diakui ketika suatu perusahaan diakuisisi dengan harga lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih yang diambil alih. Konsep ini mencerminkan manfaat ekonomi masa depan yang tidak dapat diidentifikasi secara terpisah, seperti reputasi, loyalitas pelanggan, serta keunggulan kompetitif lainnya. Pengakuan dan pengukurannya diatur dalam standar akuntansi seperti IFRS 3 dan PSAK, yang menekankan bahwa goodwill hanya diakui saat kombinasi bisnis terjadi dan tidak boleh dihasilkan secara internal. Perlakuan akuntansi terhadap goodwill lebih fokus pada pengujian penurunan nilai (impairment) daripada amortisasi sistematis. Implikasi goodwill terhadap laporan keuangan signifikan dan dapat memengaruhi persepsi investor serta kinerja keuangan entitas. Secara keseluruhan, pemahaman yang tepat mengenai goodwill membantu memastikan laporan keuangan yang akurat, transparan, dan relevan bagi pemangku kepentingan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Goodwill dalam akuntansi adalah aset tidak berwujud yang muncul ketika suatu perusahaan diakuisisi dengan harga yang lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih yang dapat diidentifikasi. Goodwill mencerminkan reputasi, loyalitas pelanggan, dan manfaat ekonomi masa depan yang tidak dapat diukur secara terpisah.

Goodwill terbentuk melalui proses kombinasi bisnis atau akuisisi, ketika nilai pembelian perusahaan melebihi nilai wajar aset dan kewajiban yang diambil alih. Faktor pembentuk goodwill meliputi reputasi perusahaan, kekuatan merek, basis pelanggan, kualitas manajemen, dan sinergi operasional.

Goodwill diakui pada saat terjadinya kombinasi bisnis, yaitu ketika perusahaan pembeli memperoleh kendali atas perusahaan yang diakuisisi dan terdapat selisih lebih antara harga perolehan dengan nilai wajar aset bersih teridentifikasi.

Berdasarkan standar akuntansi seperti IFRS dan PSAK, goodwill tidak diamortisasi. Sebagai gantinya, goodwill wajib diuji penurunan nilai (impairment test) secara berkala untuk memastikan nilai tercatatnya masih mencerminkan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh.

Goodwill memengaruhi struktur laporan keuangan dengan meningkatkan nilai aset tidak berwujud. Selain itu, jika terjadi penurunan nilai goodwill, perusahaan harus mengakui kerugian yang berdampak langsung pada laba rugi dan kinerja keuangan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengakuan Pendapatan: Konsep, Prinsip Akuntansi, dan Pelaporan Pengakuan Pendapatan: Konsep, Prinsip Akuntansi, dan Pelaporan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi: Konsep dan Pengambilan Keputusan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi: Konsep dan Pengambilan Keputusan Sistem Informasi Akuntansi: Konsep, Komponen, dan Peran Sistem Sistem Informasi Akuntansi: Konsep, Komponen, dan Peran Sistem Pengertian Kontrol dan Kelompok Eksperimen Pengertian Kontrol dan Kelompok Eksperimen One Group Pretest Posttest Design dalam Eksperimen One Group Pretest Posttest Design dalam Eksperimen Posttest Only Design: Pengertian dan Contoh Posttest Only Design: Pengertian dan Contoh SPK Pemilihan Software Akuntansi SPK Pemilihan Software Akuntansi Randomized Control Group Design: Pengertian dan Langkah Randomized Control Group Design: Pengertian dan Langkah Jenis-Jenis Eksperimen dalam Penelitian Jenis-Jenis Eksperimen dalam Penelitian Eksperimen Adalah: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Perbedaannya dengan Observasi Eksperimen Adalah: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Perbedaannya dengan Observasi Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Eksperimen Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Eksperimen Ciri-Ciri Penelitian Eksperimen yang Perlu Kamu Ketahui Ciri-Ciri Penelitian Eksperimen yang Perlu Kamu Ketahui Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian True Experimental Design: Pengertian dan Contoh True Experimental Design: Pengertian dan Contoh Prinsip Replikasi dalam Eksperimen Prinsip Replikasi dalam Eksperimen Uji Friedman: Definisi dan Fungsi Uji Friedman: Definisi dan Fungsi Pre Experimental Design: Ciri dan Kelemahannya Pre Experimental Design: Ciri dan Kelemahannya Earnings Management: Konsep, Bentuk Praktik, dan Implikasi Etis Earnings Management: Konsep, Bentuk Praktik, dan Implikasi Etis Quasi Experimental Design: Konsep dan Contoh Kasus Quasi Experimental Design: Konsep dan Contoh Kasus Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…