
Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh
Pendahuluan
Dalam era keilmuan yang semakin berkembang, penting bagi peneliti maupun pembaca untuk memahami sejauh mana suatu gagasan, data, atau teori mempunyai keterkaitan yang bermakna dengan konteks penelitian ataupun aplikasi praktisnya. Istilah relevansi ilmiah sering muncul dalam diskusi akademik, baik dalam kajian teori, metode penelitian, hingga publikasi hasil penelitian. Memahami konsep ini secara mendalam sangat berguna agar penelitian tidak hanya berjalan sebagai kegiatan “prosedural”, tetapi benar-benar memberikan kontribusi yang bermakna terhadap ilmu pengetahuan atau praktik profesional. Lewat artikel ini akan dibahas secara komprehensif definisi relevansi ilmiah,termasuk definisi umum, definisi dalam KBBI, dan pandangan dari para ahli,lalu dilanjutkan dengan fungsi-fungsi relevansi ilmiah dalam penelitian dan praktik, disertai dengan contoh konkret untuk memperjelas pemahaman. Akhirnya, artikel ditutup dengan kesimpulan yang merangkum poin-utama pembahasan.
Definisi Relevansi Ilmiah
Definisi Relevansi Ilmiah secara Umum
Secara umum, istilah relevansi dapat dipahami sebagai hubungan atau kaitan yang ada antara dua atau lebih unsur, di mana unsur pertama memiliki makna atau dampak bagi unsur lainnya. Sebuah informasi, teori, atau data dikatakan “relevan” jika ia memiliki keterkaitan yang nyata dengan konteks permasalahan, tujuan, atau penerapannya sehingga tidak hanya menjadi “hiasan” yang tak berdampak. Misalnya, dalam penelitian sosial, data tentang perilaku generasi muda akan disebut relevan jika memang dikaitkan dengan perubahan sosial yang sedang berlangsung, bukan data yang secara kontekstual tidak memiliki hubungan. Sebagaimana disebut dalam sebuah artikel definisi: “Dalam dunia akademis … relevansi sering digunakan untuk menilai apakah suatu informasi atau argumen mendukung topik yang sedang dibahas.” [Lihat sumber Disini - anjirmuara.baritokualakab.go.id]
Dengan demikian, relevansi ilmiah merujuk pada sejauh mana suatu elemen (teori, data, konsep) berkaitan secara signifikan dengan proses ilmiah,penelitian, aplikasi keilmuan, atau pengembangan teori,serta mampu menghasilkan nilai tambah bagi ilmu pengetahuan atau praktik profesional.
Definisi Relevansi Ilmiah dalam KBBI
Untuk melihat definisi formal yang sering digunakan sebagai dasar, kita lihat arti-kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
- Definisi kata “relevansi”: “hubungan; kaitan: setiap mata pelajaran harus ada --nya dengan keseluruhan tujuan pendidikan.” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
- Definisi kata “ilmiah”: “bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan.” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Dari dua definisi tersebut, dengan menggabungkan makna “relevansi” + “ilmiah”, maka secara literal relevansi ilmiah dapat diartikan sebagai kaitan atau hubungan yang sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan,yakni suatu elemen dalam penelitian yang tidak hanya “ada”, tetapi harus memenuhi karakteristik keilmuan (terukur, sistematis, dapat diuji, koheren) dan memiliki kaitan yang jelas dengan objek atau konteks penelitian.
Dengan kata lain, bukan sekadar “ada hubungan”, tetapi “hubungan yang bermakna secara ilmiah”.
Definisi Relevansi Ilmiah menurut Para Ahli
Berikut beberapa pandangan ahli mengenai relevansi dalam konteks ilmiah atau penelitian:
- Nana Sukmadinata – Menurut Sukmadinata, relevansi dapat dilihat dari dua dimensi yakni relevansi internal (konsistensi antara komponen-komponen dalam suatu sistem) dan relevansi eksternal (kesesuaian dengan tuntutan/kebutuhan masyarakat). [Lihat sumber Disini - detik.com]
- Riahi‑Belkaoui – Dalam ranah akuntansi, Riahi-Belkaoui menyebut bahwa “relevansi nilai informasi akuntansi” adalah kemampuan informasi tersebut untuk mempengaruhi keputusan pengguna, terutama investor. [Lihat sumber Disini - ejournal.stiesia.ac.id]
- Imam Ghozali (melalui penelitian-penelitian empiris di Indonesia) – Mengemukakan bahwa relevansi nilai informasi akuntansi tercermin dalam hubungan signifikan antara variabel-variabel akuntansi (mis. nilai buku, laba per saham) dengan harga saham. [Lihat sumber Disini - repository.unimus.ac.id]
- H. Wahyono – Dalam makalahnya ia menjelaskan bahwa istilah ilmiah merujuk pada “memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan” sehingga relevansi ilmiah juga memerlukan pemenuhan kaidah metodologis, sistematis, dan objektif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Anapratama Heesameilita – Dalam penelitian Indonesia, menemukan bahwa relevansi nilai informasi akuntansi meningkat setelah penerapan standar keuangan berbasis nilai wajar (IFRS) karena makin selaras dengan kebutuhan investor akan informasi yang “bermakna” dan terkini. [Lihat sumber Disini - jman-upiyptk.org]
Ringkasnya, menurut para ahli: relevansi ilmiah adalah karakteristik suatu informasi, teori, atau data dalam penelitian yang berguna, terkait langsung dengan tujuan penelitian atau pengguna, serta memenuhi kaidah keilmuan (metodologis, sistematis, objektif).
Fungsi Relevansi Ilmiah
Setelah memahami definisi, selanjutnya adalah memahami mengapa relevansi ilmiah penting,apa fungsi atau perannya dalam penelitian dan praktik ilmiah.
1. Menjamin Kegunaan Penelitian
Relevansi ilmiah membantu memastikan bahwa penelitian tidak hanya sekadar “ada” tetapi memiliki kegunaan nyata. Ketika suatu penelitian memiliki relevansi ilmiah, maka hasilnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, pengembangan teori, atau penerapan praktik. Sebagai contoh, penelitian yang relevan secara ilmiah akan memberikan masukan bagi kebijakan, manajemen organisasi, atau pengembangan teknologi.
2. Memperkuat Kredibilitas Ilmiah
Informasi atau penelitian yang relevan secara ilmiah menunjukkan bahwa peneliti telah melakukan kajian yang “berhubungan langsung” dengan konteks atau permasalahan yang ada, bukan hanya mengulang tanpa kontribusi baru. Dengan demikian, relevansi ilmiah memperkuat kredibilitas hasil penelitian dalam komunitas akademik atau profesional.
3. Menunjang Keputusan Praktis atau Kebijakan
Dalam ranah profesional seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, keilmuan, relevansi ilmiah memungkinkan hasil penelitian dipakai sebagai dasar pengambilan kebijakan atau intervensi. Misalnya, hasil penelitian yang relevan di bidang kesehatan dapat diaplikasikan dalam praktik klinik atau kebijakan publik.
4. Mendorong Efisiensi Sumber Daya Penelitian
Penelitian yang relevan secara ilmiah cenderung menghindari pemborosan waktu, biaya, atau tenaga pada aspek yang tidak berkaitan atau tidak bermanfaat. Dengan demikian, relevansi ilmiah juga berfungsi sebagai “filter” agar fokus penelitian terarah dan efisien.
5. Mengetahui Keterkaitan Antara Variabel Penelitian
Dalam penelitian empiris, relevansi ilmiah memungkinkan peneliti untuk mengevaluasi apakah variabel-variabel yang diangkat benar-benar memiliki hubungan yang bermakna. Dalam ranah akuntansi misalnya, relevansi nilai (value relevance) informasi akuntansi menunjukkan hubungan empiris antara variabel akuntansi dan nilai pasar perusahaan. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]
6. Meningkatkan Dampak Akademik
Penelitian yang relevan secara ilmiah lebih mungkin dikutip, digunakan, atau diimplementasikan lebih luas. Karena relevansi ilmiah berarti penelitian memiliki kaitan nyata dengan perkembangan pengetahuan atau praktik, maka dampaknya cenderung lebih besar.
Contoh Penerapan Relevansi Ilmiah
Berikut beberapa contoh konkret bagaimana konsep relevansi ilmiah diterapkan dalam penelitian atau publikasi akademik.
Contoh 1: Relevansi Nilai Informasi Akuntansi
Penelitian berjudul “Relevansi Nilai Informasi Akuntansi Pada Perusahaan Sektor Manufaktur Yang Terdaftar Dalam Bursa Efek Indonesia (tahun 2018–2019)” menunjukkan bahwa variabel nilai buku dan laba per saham memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham, sehingga menghasilkan bukti empiris bahwa informasi akuntansi tersebut relevan secara nilai bagi investor. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Ini adalah contoh spesifik di mana relevansi ilmiah membantu menghubungkan data akuntansi dengan keputusan investasi di dunia nyata.
Contoh 2: Perbedaan Relevansi Sebelum dan Sesudah Konvergensi IFRS
Penelitian “Analisis Perbedaan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi Sebelum Dan Sesudah PSAK Konvergensi IFRS (2018)” menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan tingkat relevansi nilai informasi akuntansi perusahaan perbankan di Indonesia ketika standar keuangan diubah menuju IFRS. Hal ini menunjukkan bahwa relevansi ilmiah juga dapat berubah sesuai konteks regulasi atau standar keilmuan. [Lihat sumber Disini - jman-upiyptk.org]
Contoh ini menunjukkan bahwa relevansi ilmiah tidak statis,ia dapat dipengaruhi oleh perubahan metode, standar, regulasi, atau konteks lingkungan penelitian.
Contoh 3: Informasi Penelitian dalam Studi Pendidikan atau Sosial
Dalam kajian “Keterpakaian dan Relevansi Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan sebagai Rujukan Karya Tulis Peneliti” ditemukan bahwa jurnal-tertentu dinilai “relevan” jika artikelnya masih memiliki kaitan dengan kebutuhan penelitian terkini dan dapat diakses sebagai rujukan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Ini menunjukkan bahwa relevansi ilmiah bukan hanya soal variabel atau data penelitian, tetapi juga soal publikasi yang dapat digunakan oleh peneliti selanjutnya.
Contoh 4: Relevansi Ilmiah dalam Penulisan Karya Ilmiah
Dalam panduan “Dasar-Dasar Penulisan Karya Ilmiah” dinyatakan bahwa karya ilmiah harus menyajikan gagasan atau pemecahan masalah secara sistematis, objektif, dan jujur, sehingga relevansi ilmiah pada karya tersebut muncul ketika tulisan tersebut benar-benar terkait dengan persoalan ilmiah yang diangkat, bukan sekadar deskriptif tanpa analisis. [Lihat sumber Disini - jurnal.uinsyahada.ac.id]
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat ditarik beberapa poin penting:
- Relevansi ilmiah adalah konsep yang menggabungkan dua aspek utama: keterkaitan (relevansi) dan keilmuan (ilmiah). Dengan kata lain, suatu informasi, konsep, atau data dikatakan relevan ilmiah jika ia memiliki hubungan langsung, bermakna dengan konteks penelitian atau praktik keilmuan serta memenuhi kaidah keilmuan (metodologis, sistematis, dan objektif).
- Definisi formal dari KBBI memberikan pijakan bahwa “relevansi” berarti hubungan/kaitan, dan “ilmiah” berarti bersifat ilmu atau sesuai kaidah ilmu pengetahuan. Penggabungan keduanya menghasilkan kerangka pemaknaan yang lebih spesifik.
- Menurut para ahli, relevansi ilmiah bukan hanya soal memiliki hubungan, tetapi soal memiliki manfaat bagi pengguna (misalnya investor), konsistensi internal dan eksternal dalam sistem penelitian, dan kemampuan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan atau pengembangan teori.
- Fungsi relevansi ilmiah sangat beragam: mulai dari menjamin kegunaan penelitian, memperkuat kredibilitas penelitian, mendukung keputusan kebijakan atau praktik, hingga mendorong efisiensi sumber daya penelitian dan meningkatkan dampak akademik.
- Contoh nyata menunjukkan bahwa relevansi ilmiah dapat diukur atau diuji empiris (seperti dalam penelitian akuntansi), berubah sesuai konteks (seperti perubahan standar keuangan), dan juga berlaku dalam penerbitan atau rujukan jurnal.
- Dengan demikian, bagi peneliti maupun praktisi, memahami dan menerapkan relevansi ilmiah menjadi langkah penting agar karya ilmiah tidak hanya “ada” tetapi benar-benar bermanfaat, terkait langsung dengan konteks, dan memenuhi standar keilmuan.