Terakhir diperbarui: 11 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 11 January). Otoritas Sosial: Konsep dan Penerimaan Masyarakat. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/otoritas-sosial-konsep-dan-penerimaan-masyarakat 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Otoritas Sosial: Konsep dan Penerimaan Masyarakat - SumberAjar.com

Otoritas Sosial: Konsep dan Penerimaan Masyarakat

Pendahuluan

Dalam konteks sosial, otoritas menjadi unsur penting yang memungkinkan terjadinya keteraturan dalam interaksi sosial. Fenomena otoritas sosial merefleksikan bagaimana suatu kekuasaan dianggap sah, diakui, dan diikuti oleh anggota masyarakat. Tanpa adanya otoritas yang diakui, kehidupan bermasyarakat cenderung mengalami ketidakteraturan, konflik, dan kesulitan dalam koordinasi tindakan kolektif. Otoritas sosial bukan hanya soal kekuasaan formal, tetapi bagaimana masyarakat memberikan legitimasi terhadap figur atau institusi yang memiliki hak untuk membuat keputusan dan mengatur kehidupan sosial. Studi-studi sosiologis membahas otoritas sosial sebagai hubungan sosial yang tertanam dalam struktur sosial, budaya, dan nilai masyarakat yang terus berevolusi seiring perkembangan zaman dan dinamika budaya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Definisi Otoritas Sosial

Definisi Otoritas Sosial Secara Umum

Otoritas sosial pada dasarnya merujuk pada bentuk kekuasaan yang diterima sebagai sah oleh masyarakat sehingga mereka merasa wajib untuk patuh dan mengikuti perintah, aturan, atau keputusan yang dibuat oleh pihak yang berotoritas. Secara umum, otoritas bukan sekadar kekuatan atau paksaan, melainkan suatu bentuk legitimasi yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang individu atau lembaga untuk mengatur, mengarahkan, atau mempengaruhi perilaku sosial. Dalam realitas sosial, otoritas berperan penting dalam menciptakan stabilitas sosial, memperkuat norma, dan mengarahkan tindakan kolektif masyarakat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Otoritas Sosial dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), otoritas memiliki arti kekuasaan atau wewenang yang dianggap sah yang dimiliki oleh seseorang atau suatu lembaga untuk mengatur, memimpin, atau mengeluarkan keputusan bagi orang lain yang berada di bawahnya. Otoritas dalam KBBI menekankan aspek legitimasi dan hak yang dibenarkan secara sosial terhadap kewenangan pembuatan keputusan atau pengambilan tindakan. Definisi ini menggarisbawahi bahwa otoritas bukan sekadar kemampuan atau kekuatan, tetapi juga hak yang diakui secara sosial untuk mempengaruhi perilaku orang lain. (Catatan: langsung ambil dari KBBI. Gunakan link resmi KBBI untuk referensi langsung jika tersedia.)

Definisi Otoritas Sosial Menurut Para Ahli

  1. Max Weber, Weber mendefinisikan otoritas sebagai bentuk dominasi yang sah atau legitimated domination, di mana pengikut atau bawahan menganggap keputusan ataupun perintah dari figur otoritatif tersebut sebagai sesuatu yang wajib diikuti karena dianggap sah menurut norma sosial yang berlaku. Otoritas ini muncul bukan karena paksaan semata tetapi karena ada legitimasi sosial yang mendasari kepercayaan terhadap figur atau struktur tersebut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Chester Barnard, Barnard mengembangkan teori tentang penerimaan otoritas yang menekankan bahwa seorang pemimpin atau atolitas hanya benar-benar memiliki kewenangan jika otoritas tersebut diterima dan diakui oleh mereka yang dipimpin. Di sini, aspek pengakuan dari anggota organisasi atau kelompok menjadi kunci efektifitas otoritas. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

  3. Anthony Giddens, Giddens menjelaskan otoritas sebagai hak legitimated untuk membuat keputusan dan memastikan kepatuhan, yang berbeda dari sekadar kekuatan fisik atau pemaksaan; otoritas mencerminkan suatu struktur yang diakui secara social untuk mengatur tindakan dan perilaku individu dalam suatu masyarakat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  4. Chester Barnard (lagi), Selain teori penerimaan, Barnard menunjukkan bahwa otoritas menjadi efektif ketika ada hubungan saling percaya dan penghargaan, serta diterima oleh anggota organisasi sebagai sesuatu yang memberi arah dalam mencapai tujuan bersama. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]


Perbedaan Otoritas dan Kekuasaan

Otoritas dan kekuasaan sering kali dianggap mirip, namun keduanya memiliki perbedaan penting yang signifikan dalam sosiologi. Kekuasaan mencakup kemampuan individu atau kelompok untuk memaksakan kehendak mereka atas orang lain, baik melalui paksaan, ancaman, maupun kontrol sumber daya. Kekuasaan bisa bersifat formal maupun informal, tetapi tidak selalu disertai dengan legitimasi sosial yang diberikan secara sukarela oleh masyarakat. Sebaliknya, otoritas merupakan bentuk kekuasaan yang telah memperoleh legitimasi sosial, yakni pengakuan dan persetujuan dari masyarakat bahwa figur atau struktur tersebut berhak untuk mempengaruhi tindakan mereka. Dalam hal ini, otoritas tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga diterima sebagai sumber keputusan yang sah dan patut dihormati. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Perbedaan ini menjadi penting dalam kajian sosial karena otoritas yang diakui secara luas cenderung menciptakan keteraturan dan kepatuhan secara sukarela. Sementara kekuasaan yang tidak memiliki legitimasi bisa memunculkan resistensi, konflik, dan penolakan masyarakat terhadap arahan atau perintah yang diberikan. Dengan demikian, otoritas sosial berperan sebagai jembatan antara kekuasaan dan penerimaan sosial yang menciptakan sistem sosial yang stabil dan teratur. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Jenis-Jenis Otoritas Sosial

Salah satu klasifikasi yang paling dikenal dalam kajian sosiologi adalah pembagian otoritas menurut Max Weber, yang membagi otoritas menjadi tiga jenis utama berdasarkan sumber legitimasi dan basis penerimaannya dalam masyarakat:

  1. Otoritas Tradisional

Otoritas tradisional adalah bentuk otoritas yang diperoleh berdasarkan keyakinan masyarakat terhadap adat, tradisi, dan kebiasaan panjang suatu kelompok atau komunitas. Legitimasi otoritas ini muncul karena norma dan kebiasaan sosial yang telah berlangsung lama dianggap sebagai kewajaran atau kebenaran tersendiri dalam struktur sosial. Pada tipe ini, legitimasi tidak bergantung pada pencapaian personal individu tetapi diwariskan secara turun-temurun atau diakui melalui ritual sosial. Contoh klasiknya adalah struktur kepemimpinan dalam komunitas adat atau monarki tradisional, di mana otoritas dianggap sah karena telah menjadi bagian dari sejarah sosial kelompok tersebut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  1. Otoritas Karismatik

Otoritas karismatik muncul ketika masyarakat memberikan legitimasi kepada seorang pemimpin berdasarkan daya tarik pribadi yang kuat, kemampuan inspiratif, atau kualitas unik yang dimilikinya. Pemimpin yang otoritasnya berasal dari karisma pribadi sering kali mampu menarik pengikut secara emosional dan menciptakan kedekatan personal yang kuat. Otoritas ini sering muncul pada situasi krisis atau perubahan sosial, ketika masyarakat mencari figur yang mampu memberikan harapan atau solusi baru. Karisma semacam ini dapat ditemukan pada pemimpin sosial, agama, maupun politik yang dipandang luar biasa oleh masyarakatnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Otoritas rasional-legal adalah bentuk otoritas yang didasarkan pada aturan, hukum, dan prosedur formal yang diakui secara sosial. Dalam bentuk ini, legitimasi otoritas tidak terletak pada pribadi individu melainkan pada posisi atau jabatan yang dipegangnya menurut kerangka hukum yang berlaku. Sistem pemerintahan modern biasanya menggunakan otoritas rasional-legal, di mana pejabat publik memiliki kewenangan yang diatur dalam konstitusi serta aturan formal yang jelas. Legitimasi sosial dalam otoritas ini muncul dari kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum dan prosedur formal tersebut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Setiap jenis otoritas ini mencerminkan cara yang berbeda bagaimana masyarakat mengakui dan menerima figur atau struktur otoritatif dalam hidup mereka. Dalam realitas sosial, ketiga bentuk ini sering kali berinteraksi dan saling membentuk dalam dinamika kehidupan komunitas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Proses Penerimaan Otoritas oleh Masyarakat

Penerimaan otoritas oleh masyarakat bukanlah proses otomatis; ia melibatkan dinamika sosial yang kompleks antara lembaga, norma sosial, nilai budaya, serta persepsi individu terhadap legitimasi figur otoritas. Secara sosiologis, penerimaan otoritas dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci:

  1. Legitimasi Sosial, Masyarakat cenderung menerima otoritas ketika mereka percaya bahwa otoritas tersebut mempunyai legitimasi yang benar dan adil menurut kaidah sosial yang berlaku. Hal ini berarti otoritas dianggap sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial yang dipegang kolektif. Misalnya, otoritas yang berdasarkan hukum formal akan sulit diterima jika hukum tersebut dianggap tidak adil oleh publik. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  2. Kepercayaan Masyarakat, Kepercayaan terhadap figur atau lembaga otoritatif merupakan faktor penting dalam penerimaan otoritas. Apabila masyarakat percaya bahwa figur otoritas bertindak demi kepentingan umum, mereka lebih mungkin untuk patuh terhadap aturan dan keputusan yang diambil. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Kesesuaian dengan Nilai Budaya, Penerimaan otoritas juga bergantung pada nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Otoritas dianggap sah jika sesuai dengan struktur nilai dan norma budaya setempat. Sebaliknya, otoritas yang bertentangan dengan nilai budaya sering menghadapi resistensi atau penolakan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  4. Komunikasi dan Interaksi Sosial, Proses komunikasi antara figur otoritatif dan publik memiliki peran dalam membentuk pemahaman tentang hak dan kewajiban sosial. Interaksi yang efektif dapat memperkuat legitimasi otoritas dalam pandangan masyarakat luas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  5. Pendidikan dan Kesadaran Sosial, Tingkat pendidikan dan kesadaran sosial masyarakat turut memengaruhi sejauh mana otoritas dapat diterima. Masyarakat yang memiliki kesadaran kritis terhadap otoritas cenderung menilai kewenangan tersebut berdasarkan alasan rasional dan bukti sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Secara keseluruhan, proses penerimaan otoritas merupakan kombinasi dari legitimasi sosial, kepercayaan publik, budaya setempat, serta cara otoritas tersebut dijalankan dalam kehidupan nyata. Penerimaan ini bukan statis; ia berubah seiring dengan dinamika sosial, perubahan budaya, dan perkembangan zaman. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Otoritas Sosial dan Kepatuhan Sosial

Otoritas sosial berkaitan erat dengan konsep kepatuhan sosial. Kepatuhan dalam konteks ini berarti tindakan individu atau kelompok yang mengikuti aturan, perintah, atau norma yang ditetapkan oleh figur atau lembaga otoritatif. Kepatuhan sosial bukan hanya sekadar penurutan tanpa pemahaman, tetapi merupakan hasil dari proses internalisasi norma dan nilai yang diyakini sah oleh masyarakat.

Dalam kajian sosiologi, kepatuhan sosial sering dipahami sebagai reaksi masyarakat terhadap otoritas yang dianggap legitim. Ketika anggota masyarakat melihat otoritas sebagai representasi nilai bersama dan kepentingan kolektif, mereka lebih cenderung menunjukkan kepatuhan yang sukarela. Kepatuhan ini tidak datang semata karena ancaman atau paksaan, tetapi karena kepercayaan bahwa tindakan tersebut sejalan dengan norma sosial dan moral yang berlaku dalam komunitas.

Di sisi lain, otoritas tanpa legitimasi sosial dapat menghasilkan kepatuhan semu atau kepatuhan karena paksaan, yang sering kali memicu resistensi, konflik, atau tindakan subversif. Dengan demikian, hubungan antara otoritas sosial dan kepatuhan sosial mencerminkan dinamika antara kekuasaan yang diakui dan penerimaan masyarakat terhadap struktur sosial tersebut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Otoritas Sosial dalam Kehidupan Modern

Dalam kehidupan modern, otoritas sosial mengalami transformasi yang signifikan karena perubahan sosial, teknologi informasi, dan dinamika budaya. Di era digital, bentuk otoritas tradisional tidak lagi bersifat statis karena masyarakat semakin mudah mengakses informasi dari berbagai sumber, termasuk sumber alternatif yang tidak selalu melekat pada struktur otoritas formal. Studi kontemporer menunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah cara masyarakat melihat figur otoritatif, sehingga otoritas yang dulunya terpusat kini menjadi lebih terfragmentasi dan dipengaruhi oleh fenomena digital. [Lihat sumber Disini - jurnal-muqaddimah.or.id]

Transformasi ini mengindikasikan bahwa otoritas sosial tidak hanya bergantung pada struktur tradisional atau birokratis, tetapi juga muncul dari cara individu berinteraksi dalam ruang publik digital. Misalnya, tokoh publik atau influencer dapat memperoleh otoritas sosial melalui keterlibatan dan pengaruhnya dalam komunitas digital, meskipun mereka mungkin tidak memiliki legitimasi formal seperti otoritas hukum atau institusional. Fenomena ini menunjukkan bagaimana modernitas memfasilitasi lahirnya bentuk baru otoritas yang lebih bersifat partisipatif dan interaktif. [Lihat sumber Disini - jurnal-muqaddimah.or.id]

Selain itu, kehidupan modern juga menuntut otoritas sosial untuk mampu beradaptasi terhadap isu global seperti perubahan nilai budaya, pluralitas masyarakat, dan tantangan etika dalam penggunaan teknologi. Otoritas sosial yang efektif di era ini bukan hanya sekadar memimpin berdasarkan hukum atau tradisi, tetapi juga harus mampu membangun kredibilitas melalui transparansi, partisipasi publik, dan respons terhadap kebutuhan masyarakat kontemporer. [Lihat sumber Disini - jurnal-muqaddimah.or.id]


Kesimpulan

Otoritas sosial merupakan sebuah konsep fundamental dalam sosiologi yang menjelaskan bagaimana kekuasaan legitim dan hak untuk mempengaruhi tindakan sosial diberikan dan diterima oleh masyarakat. Berbeda dari sekadar kekuasaan, otoritas mencerminkan legitimasi sosial yang memungkinkan figur atau struktur untuk mengatur, memimpin, dan menciptakan kepatuhan dalam masyarakat. Konsep ini secara klasik dikembangkan oleh Weber melalui tiga jenis otoritas utama, tradisional, karismatik, dan rasional-legal, yang menggambarkan berbagai sumber legitimasi dalam masyarakat.

Penerimaan otoritas oleh masyarakat dipengaruhi oleh legitimasi sosial, kepercayaan publik, kesesuaian budaya, komunikasi, dan tingkat kesadaran sosial. Otoritas yang diakui membawa keteraturan serta kepatuhan sosial yang sukarela, sedangkan kekuasaan tanpa legitimasi sering menghadirkan resistensi sosial. Dalam kehidupan modern, otoritas sosial terus berevolusi di tengah dinamika teknologi, informasi, dan budaya yang semakin kompleks, menjadikannya fenomena sosial yang dinamis dan kontekstual.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Otoritas sosial adalah bentuk kewenangan yang diakui dan diterima oleh masyarakat sebagai sah, sehingga individu atau lembaga yang memilikinya berhak mengatur, memimpin, dan mempengaruhi perilaku sosial tanpa harus menggunakan paksaan.

Kekuasaan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain, baik dengan paksaan maupun kontrol sumber daya, sedangkan otoritas adalah kekuasaan yang telah memperoleh legitimasi dan diterima secara sosial oleh masyarakat.

Jenis-jenis otoritas sosial meliputi otoritas tradisional yang bersumber dari adat dan kebiasaan, otoritas karismatik yang berasal dari daya tarik pribadi pemimpin, serta otoritas rasional-legal yang didasarkan pada hukum dan aturan formal.

Penerimaan otoritas terjadi melalui legitimasi sosial, kepercayaan masyarakat, kesesuaian dengan nilai budaya, komunikasi yang efektif, serta kesadaran sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Otoritas sosial penting karena membantu menciptakan keteraturan, stabilitas, dan kepatuhan sosial secara sukarela, sehingga kehidupan bermasyarakat dapat berjalan harmonis tanpa konflik yang berlebihan.

Dalam kehidupan modern, otoritas sosial beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan media digital, sehingga legitimasi tidak hanya berasal dari jabatan formal, tetapi juga dari kepercayaan publik, transparansi, dan partisipasi masyarakat.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sistem Web Penerimaan Mahasiswa Baru Penerimaan Teknologi Informasi Kesehatan Kekuasaan Sosial: Konsep dan Sumber Legitimasi Pelaporan Penyakit Wajib Lapor Pengujian User Acceptance Test (UAT) Kepatuhan Terhadap Vaksinasi Obat Generik: Konsep, Persepsi Pasien, dan Penerimaan Sikap Ibu terhadap Vaksinasi Penggunaan Obat Non-Resmi Sistem Informasi Pemantauan Banjir Kepemimpinan Sosial: Konsep dan Pola Kepemimpinan Reintegrasi Sosial: Konsep dan Pemulihan Hubungan Pemberdayaan Masyarakat: Konsep, Tujuan, dan Strategi Kepercayaan terhadap Sistem Kesehatan: Konsep, Legitimasi Layanan, dan Kepatuhan Disorganisasi Sosial: Konsep dan Dampak Masyarakat Diferensiasi Sosial: Konsep dan Bentuknya Farmakovigilans: Konsep, Pelaporan Efek Samping, dan Keselamatan Dominasi Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Struktur Sosial: Konsep dan Karakteristik Sistem Informasi Donasi Online
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna