Terakhir diperbarui: 11 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 11 January). Kekuasaan Sosial: Konsep dan Sumber Legitimasi. SumberAjar. Retrieved 25 February 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kekuasaan-sosial-konsep-dan-sumber-legitimasi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kekuasaan Sosial: Konsep dan Sumber Legitimasi - SumberAjar.com

Kekuasaan Sosial: Konsep dan Sumber Legitimasi

Pendahuluan

Kekuasaan sosial merupakan fenomena yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia dan struktur masyarakat. Dalam berbagai konteks interaksi sosial, dari keluarga, organisasi, hingga negara, kekuasaan hadir sebagai bentuk relasi yang menentukan siapa yang dapat memengaruhi dan siapa yang dipengaruhi. Pemahaman mengenai kekuasaan ini penting karena menyentuh inti hubungan antarindividu dan kelompok: bagaimana keputusan dibuat, norma diterapkan, dan kontrol dijalankan sehingga tatanan sosial tetap berlangsung. Sebuah masyarakat tanpa pemahaman terhadap konsep kekuasaan dan legitimasi berpotensi mengalami konflik, ketidakstabilan, maupun disfungsi sosial karena kurangnya kepercayaan terhadap otoritas yang ada. Oleh karena itu, memahami konsep, bentuk, dan sumber legitimasi dari kekuasaan sosial adalah dasar penting untuk memahami dinamika sosial secara komprehensif.


Definisi Kekuasaan Sosial

Definisi Kekuasaan Sosial Secara Umum

Secara umum, kekuasaan sosial dapat dipahami sebagai kemampuan yang dimiliki oleh individu atau kelompok untuk memengaruhi tindakan, pikiran, atau perasaan orang lain meskipun menghadapi resistensi. Konsep kekuasaan ini muncul dalam banyak kajian sosiologi dan ilmu politik, menempatkannya sebagai unsur fundamental dalam struktur sosial yang menentukan arah interaksi dan kebijakan sosial. Hubungan kekuasaan tidak hanya ditemukan dalam struktur pemerintahan, tetapi juga dalam organisasi komunitas, institusi pendidikan, serta setiap bentuk hubungan sosial di mana ada perbedaan kapasitas untuk memberikan pengaruh. Konsep ini menjelaskan realitas sosial di mana perbedaan posisi, sumber daya, atau kontrol atas informasi dapat mengubah perilaku dan ekspektasi sosial secara signifikan. Konsep ini penting karena membuka pemahaman mengapa ada individu atau kelompok yang lebih dominan dalam suatu struktur sosial dibanding yang lain, menjelaskan mekanisme sosial yang mengatur ketertiban serta hierarki di komunitas sosial.

Definisi Kekuasaan Sosial dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekuasaan merupakan “kemampuan, wewenang, atau otoritas untuk melakukan sesuatu atau memengaruhi orang lain”. Definisi ini menekankan aspek wewenang resmi maupun sosial yang melekat pada posisi tertentu dalam masyarakat, di mana kekuasaan bukan sekadar potensi untuk memengaruhi, tetapi juga diakui secara eksplisit dalam struktur sosial formal atau informal. KBBI menempatkan kekuasaan bukan hanya sebagai sebuah konsep abstrak, tetapi sebagai fenomena yang nyata dirasakan oleh anggota masyarakat dan tercermin dalam praktik norma, aturan, dan sistem pengambilan keputusan sehari-hari.

Definisi Kekuasaan Sosial Menurut Para Ahli

Para ahli sosiologi dan ilmu politik telah menguraikan kekuasaan secara rinci dalam kerangka teori sosialnya masing-masing. Max Weber, salah satu tokoh klasik dalam sosiologi modern, mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan seseorang atau kelompok untuk melaksanakan kehendaknya dalam suatu hubungan sosial meskipun ada perlawanan dari pihak lain. Definisi ini menekankan bahwa kekuasaan adalah suatu kapasitas untuk membuat orang lain berperilaku sesuai dengan kehendak penguasa meskipun ada oposisi. [Lihat sumber Disini - gramedia.com]

Selain itu, dalam kajian-pelajaran kekuasaan, French dan Raven mengidentifikasi enam dasar kekuasaan sosial yang berbeda: coercive (pemaksaan), reward (imbalan), legitimate (legitimasi atau wewenang formal), expert (keahlian), referent (keteladanan), dan informational (informasi). Ini menunjukkan bahwa kekuasaan sosial tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga bersifat psikologis dan komunikatif dalam hubungan sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Bentuk-Bentuk Kekuasaan Sosial

Kekuasaan sosial muncul dalam berbagai bentuk yang masing-masing memiliki karakteristik sendiri dalam cara pengaruhnya dijalankan. Salah satu bentuk kekuasaan sosial adalah kekuasaan formal yang biasanya melekat pada suatu posisi atau jabatan resmi dalam struktur organisasi atau negara. Kekuasaan ini mempunyai dasar legitimasi yang formal, misalnya pejabat yang dipilih melalui mekanisme demokratis atau yang ditunjuk berdasarkan aturan organisasi tertentu.

Selanjutnya, ada bentuk kekuasaan informal yang sering kali muncul dari pengaruh sosial, hubungan interpersonal, atau reputasi sosial tanpa adanya wewenang formal yang jelas. Misalnya, seorang tokoh masyarakat atau influencer budaya dapat memiliki kekuasaan sosial yang besar meskipun tidak memegang jabatan formal. Bentuk ini sangat penting karena melibatkan dinamika sosial di luar struktur birokratis atau regulatif resmi.

Kekuasaan struktural juga merupakan bentuk penting lainnya, di mana kekuasaan terkonsentrasi dalam struktur-struktur sosial yang lebih luas, termasuk kelas sosial, strata ekonomi, atau jaringan elit politik. Bentuk ini berkaitan erat dengan bagaimana distribusi sumber daya dan akses terhadap peluang hidup dipengaruhi oleh struktur sosial yang sudah ada. Studi hubungan antara struktur sosial dan kekuasaan menunjukkan bahwa kekuasaan turut membentuk pola stratifikasi sosial dan memengaruhi distribusi sumber daya serta proses pengambilan keputusan di masyarakat. [Lihat sumber Disini - ripublis.com]


Sumber-Sumber Legitimasi Kekuasaan

Legitimasi kekuasaan merupakan elemen penting yang membedakan kekuasaan yang efektif dari sekadar pengaruh yang bersifat paksaan. Sumber legitimasi merujuk pada dasar di mana kekuasaan dianggap sah atau layak dipatuhi oleh anggota masyarakat. Menurut Max Weber, ada tiga sumber legitimasi utama yang menjadi dasar masyarakat menerima otoritas tertentu: pertama adalah legitimasi tradisional, yang muncul dari kebiasaan atau adat istiadat yang telah lama diikuti; kedua adalah legitimasi karismatik, yang berasal dari kepercayaan dan pengagungan terhadap kualitas individu penguasa; ketiga adalah legitimasi rasional-legal, yang didasarkan pada kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum dan aturan formal. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Selain itu, teori modern legitimasi memperluas sumber-sumber legitimasi ini melalui kerja David Beetham yang memandang bahwa legitimasi melibatkan tiga komponen: validitas hukum, justifikasi normatif, serta pengakuan dan persetujuan masyarakat terhadap otoritas tersebut. Komponen ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya sah karena aturan, tetapi juga karena nilai-nilai yang dirasakan etis dan karena masyarakat mengakui serta menerima legitimasi itu secara eksplisit. [Lihat sumber Disini - ivanjureta.com]


Kekuasaan Sosial dan Struktur Masyarakat

Kekuasaan sosial tidak dapat dipisahkan dari struktur masyarakat karena kekuasaan sering ditentukan oleh posisi sosial yang ada dalam tatanan sosial. Struktur sosial mencerminkan pola hubungan yang menetapkan peran, status, dan posisi dalam masyarakat, yang pada gilirannya membentuk distribusi kekuasaan. Sebagai contoh, kelompok sosial yang memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya, ekonomi, pendidikan, atau politik, cenderung memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam mengambil keputusan kolektif. Kekuasaan ini sering diperkuat oleh struktur sosial yang sudah mapan seperti kelas sosial atau jaringan elit, yang mengatur akses terhadap peluang dan fasilitas penting dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Ketidakseimbangan dalam kekuasaan dan struktur sosial dapat menimbulkan ketidaksetaraan, di mana kelompok yang berada dalam posisi dominan mempertahankan privilese mereka melalui berbagai mekanisme sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan hanya soal pengaruh individual, tetapi juga soal bagaimana institusi sosial dan struktur hierarkis membentuk dinamika sosial yang lebih luas dan memengaruhi pengalaman hidup kelompok tertentu.


Relasi Kekuasaan dalam Kehidupan Sosial

Relasi kekuasaan dalam kehidupan sosial tampak dalam berbagai dimensi hubungan antarindividu dan kelompok. Dalam keluarga, kekuasaan mungkin terwujud dalam pengambilan keputusan sehari-hari; dalam organisasi, kekuasaan hadir dalam struktur hierarki yang menentukan alur komando; dalam negara, kekuasaan menjadi basis legitimasi hukum dan kebijakan publik. Relasi-relasi ini menjelaskan bagaimana tindakan, norma sosial, dan peraturan dijalankan serta dipatuhi.

Selain itu, relasi kekuasaan juga terasa dalam dinamika kelompok sosial di mana kekuasaan dapat berupa pengaruh nilai, kemampuan mengatur opini publik, hingga kendali atas sumber informasi. Peran media massa atau platform komunikasi modern menjadi salah satu kanal kekuasaan sosial dalam menentukan narasi yang dominan di masyarakat, menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya terbatas pada struktur formal tetapi juga pada pengendalian informasi dan opini publik. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Dampak Kekuasaan Sosial terhadap Perilaku Masyarakat

Kekuasaan sosial memiliki dampak yang luas terhadap perilaku masyarakat. Kekuasaan yang sah dan legitim dapat memperkuat kohesi sosial karena anggota masyarakat cenderung mematuhi aturan dan arahan otoritas yang mereka anggap sah. Di sisi lain, kekuasaan yang dipimpin oleh paksaan atau dianggap tidak legitim dapat menimbulkan resistensi, konflik sosial, dan penolakan terhadap otoritas tersebut. Dampak ini mencerminkan betapa pentingnya legitimasi dalam memastikan bahwa kekuasaan dapat dijalankan secara efektif tanpa menciptakan konflik sosial yang berkepanjangan.

Kekuasaan sosial juga berdampak pada pembentukan norma sosial dan nilai budaya. Ketika kelompok tertentu memiliki kekuasaan besar dalam masyarakat, mereka dapat mempengaruhi apa yang dianggap sebagai norma atau perilaku yang diterima. Kontrol atas media, sistem pendidikan, atau narasi publik menjadi instrumen kekuasaan yang kuat dalam membentuk pandangan masyarakat tentang kebenaran atau kewajaran sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan hanya alat kontrol, tetapi juga alat konstruksi sosial terhadap realitas sosial di mana masyarakat hidup. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Kesimpulan

Kekuasaan sosial merupakan fenomena kompleks yang tercermin dalam banyak aspek kehidupan masyarakat. Ia tidak sekadar kemampuan untuk memengaruhi, tetapi juga bersifat struktural, interpersonal, dan normatif. Pemahaman tentang bentuk-bentuk kekuasaan dan sumber legitimasi, seperti tradisional, karismatik, dan rasional-legal, membantu menjelaskan bagaimana otoritas dihasilkan, dipertahankan, dan diterima dalam masyarakat. Relasi kekuasaan mempengaruhi struktur sosial serta pengalaman individu dan kelompok sosial dalam interaksi sehari-hari. Dampaknya terhadap perilaku sosial mencakup pengaturan norma, pembentukan pandangan sosial, hingga stabilitas atau konflik dalam masyarakat. Dengan demikian, kajian tentang kekuasaan sosial dan legitimasi menjadi penting dalam memahami dinamika sosial yang luas dan beragam dalam kehidupan modern.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kekuasaan sosial adalah kemampuan individu atau kelompok untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan keputusan pihak lain dalam suatu hubungan sosial, baik melalui wewenang formal, pengaruh sosial, maupun kontrol terhadap sumber daya tertentu.

Bentuk-bentuk kekuasaan sosial meliputi kekuasaan formal, kekuasaan informal, kekuasaan struktural, kekuasaan koersif, kekuasaan berbasis keahlian, dan kekuasaan simbolik yang muncul dari pengaruh nilai serta norma sosial.

Legitimasi kekuasaan adalah pengakuan dan penerimaan masyarakat terhadap kekuasaan atau otoritas tertentu sehingga kekuasaan tersebut dianggap sah, layak dipatuhi, dan memiliki dasar moral maupun hukum.

Menurut Max Weber, sumber legitimasi kekuasaan terdiri dari legitimasi tradisional, legitimasi karismatik, dan legitimasi rasional-legal yang masing-masing didasarkan pada adat, kharisma individu, serta sistem hukum dan aturan formal.

Kekuasaan sosial berkaitan erat dengan struktur masyarakat karena distribusi kekuasaan dipengaruhi oleh posisi sosial, status, kelas, dan akses terhadap sumber daya yang membentuk hierarki serta pola hubungan sosial.

Kekuasaan sosial dapat memengaruhi perilaku masyarakat melalui pembentukan norma, kepatuhan terhadap aturan, legitimasi otoritas, serta potensi munculnya konflik sosial jika kekuasaan dianggap tidak adil atau tidak sah.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Relasi Kekuasaan: Konsep dan Dinamika Sosial Relasi Kekuasaan: Konsep dan Dinamika Sosial Otoritas Sosial: Konsep dan Penerimaan Masyarakat Otoritas Sosial: Konsep dan Penerimaan Masyarakat Dominasi Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Dominasi Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Hegemoni: Pengertian, Karakteristik, dan Contoh dalam Kajian Sosial Hegemoni: Pengertian, Karakteristik, dan Contoh dalam Kajian Sosial Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Metode Analisis Wacana: Prinsip dan Langkah Metode Analisis Wacana: Prinsip dan Langkah Teori Relativitas Sosial dalam Kajian Ilmiah Teori Relativitas Sosial dalam Kajian Ilmiah Stratifikasi Sosial: Konsep dan Bentuk Pelapisan Sosial Stratifikasi Sosial: Konsep dan Bentuk Pelapisan Sosial Paradigma Kritis: Prinsip dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Paradigma Kritis: Prinsip dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Paradigma Transformatif dalam Dunia Ilmiah Paradigma Transformatif dalam Dunia Ilmiah Kepercayaan terhadap Sistem Kesehatan: Konsep, Legitimasi Layanan, dan Kepatuhan Kepercayaan terhadap Sistem Kesehatan: Konsep, Legitimasi Layanan, dan Kepatuhan Kelas Sosial: Konsep dan Mobilitas Ekonomi Kelas Sosial: Konsep dan Mobilitas Ekonomi Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Manajemen Berorientasi Stakeholder: konsep, kepentingan bersama, dan keberlanjutan Manajemen Berorientasi Stakeholder: konsep, kepentingan bersama, dan keberlanjutan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…