
Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial
Pendahuluan
Paradigma dalam penelitian sosial berfungsi sebagai kerangka pemahaman dasar (worldview) yang membentuk cara pandang peneliti terhadap realitas sosial, mulai dari asumsi ontologis, epistemologis, sampai metodologis. [Lihat sumber Disini - journal.unpak.ac.id]
Salah satu paradigma yang menonjol dalam kajian sosial adalah paradigma kritis. Paradigma ini tidak sekadar bertujuan memahami fenomena sosial, tetapi juga mengkritisi struktur sosial yang timpang, meyoroti relasi kekuasaan, dominasi, serta ketidakadilan, dengan harapan menghasilkan pemikiran dan tindakan yang membawa transformasi sosial dan emansipasi. [Lihat sumber Disini - revoedu.org]
Dalam konteks penelitian keilmuan, memahami paradigma kritis penting agar penelitian tidak hanya menggambarkan realitas sosial, tetapi juga mengungkap konflik struktural dan memberi kontribusi terhadap perubahan. Artikel ini membahas pengertian paradigma kritis, landasan filosofisnya, tujuan, posisi terhadap kekuasaan, metode penelitian, kelebihan dan tantangannya, serta contoh riset dengan pendekatan kritis.
Definisi Paradigma Kritis
Definisi Paradigma Kritis Secara Umum
Secara umum, paradigma merujuk pada sekumpulan asumsi dasar, cara kita melihat, berpikir, dan menafsirkan realitas, yang memandu seluruh proses penelitian: dari bagaimana pertanyaan dirumuskan, data dikumpulkan, hingga cara peneliti membuat interpretasi. [Lihat sumber Disini - journal.unpak.ac.id]
Dalam kerangka ini, paradigma kritis adalah paradigma yang tidak hanya mengamati realitas sosial, melainkan juga berusaha mengkritisinya, terutama struktur kekuasaan, ketidakadilan, dominasi, ideologi, dan bentuk penindasan lain dalam masyarakat, dengan tujuan transformasi dan emansipasi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Definisi Paradigma Kritis dalam KBBI
Menurut definisi paradigma (umum), paradigma adalah “pola pikir, cara pandang, atau kerangka dasar dalam melihat dan menafsirkan sesuatu.” Meskipun secara spesifik KBBI tidak selalu mencantumkan “paradigma kritis” sebagai istilah tersendiri, makna “paradigma” di atas sudah mencakup arti dasar dari worldview atau kerangka berpikir.
Dengan demikian, “paradigma kritis” dapat dipahami sebagai: suatu pola pikir dasar dalam penelitian/analisis sosial yang menekankan kritik terhadap struktur sosial dan kekuasaan, serta komitmen terhadap transformasi sosial.
Definisi Paradigma Kritis Menurut Para Ahli
Beberapa definisi dari kalangan akademik dan teori sosial:
-
Menurut literatur tentang penelitian sosial dan komunikasi, paradigma kritis adalah “sistem kepercayaan dasar yang membimbing peneliti” dan menjadi salah satu dari empat kategori paradigma dalam penelitian sosial (bersama positivisme, post-positivisme, konstruktivisme). [Lihat sumber Disini - core.ac.uk]
-
Dalam kajian pendidikan dan teori sosial, paradigma/teori kritis didefinisikan sebagai bentuk penyelidikan sosial yang menggabungkan penjelasan dan kritik, dengan tujuan membebaskan manusia dari struktur opresi dan dominasi dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Menurut pemikiran awal Frankfurt School, paradigma kritis berakar dari ide emancipatory social theory yang menginginkan perubahan sosial, bukan sekadar deskripsi. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
-
Dalam konteks ilmu komunikasi, paradigma kritis dilihat sebagai alternatif terhadap pandangan tradisional, dengan tujuan agar komunikasi tidak dijadikan alat dominasi, melainkan alat pembebasan. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]
Landasan Pemikiran Kritis (Frankfurt School)
Frankfurt School, lembaga pemikir sosial dan filosofi yang dibentuk di Jerman tahun 1923, menjadi cikal bakal munculnya teori/paradigma kritis. [Lihat sumber Disini - routledgesoc.com]
Para pemikir Frankfurt School mengombinasikan tradisi Marxis dengan elemen filsafat, sosiologi, psikologi, dan kritik budaya untuk menganalisis kondisi masyarakat kapitalis modern, termasuk aspek ekonomi, politik, budaya, dan ideologi. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
Gagasan inti mereka adalah bahwa pengetahuan dan teori sosial tidak netral, melainkan selalu berada dalam konteks kekuasaan, ideologi, sejarah, dan struktur sosial. Oleh karena itu, teori sosial perlu bersifat reflektif dan kritis, tidak hanya menjelaskan, tetapi juga membongkar struktur dominasi dan membuka ruang emansipasi bagi mereka yang terpinggirkan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan semangat emancipatory, teori kritis berupaya memperluas pemahaman sosial berdasarkan totalitas historis, melihat masyarakat sebagai produk sejarah dan kebudayaan, serta menyoroti bagaimana ideologi dominan mengaburkan relasi kekuasaan di balik fenomena sehari-hari. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Tujuan Paradigma Kritis dalam Penelitian
Paradigma kritis dalam penelitian sosial memiliki sejumlah tujuan utama berikut:
-
Mengidentifikasi dan mengkritisi struktur sosial, kekuasaan, ideologi, dan praktik dominasi yang tersembunyi di balik realitas sosial. Penelitian dengan paradigma ini berusaha menggali bagaimana ketidakadilan dan dominasi beroperasi, baik pada level ekonomi, politik, budaya, maupun sosial. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Membuka kesadaran (consciousness) kritis terhadap masyarakat, membantu individu atau kelompok memahami posisi mereka dalam struktur sosial, serta memperlihatkan bagaimana struktur tersebut membentuk peluang, penindasan, atau marginalisasi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Memberi kontribusi terhadap transformasi sosial dan emansipasi, tidak sekadar analitis, tetapi normatif: penelitian dan teori kritis diarahkan pada perubahan sosial agar tercipta keadilan, kebebasan, dan martabat bagi semua. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Mengeksplorasi aspek-aspek sosial yang sering diabaikan oleh paradigma positivis atau tradisional, seperti aspek ideologi, budaya, dominasi, rasa ketidakadilan, marginalisasi, dan hegemoni, dengan cara yang reflektif, historis, dan multidisipliner. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Posisi Paradigma Kritis terhadap Kekuasaan dan Ketidakadilan
Paradigma kritis menempatkan relasi kekuasaan, dominasi ideologi, dan struktur sosial sebagai titik sentral analisis. Ia berasumsi bahwa masyarakat tidak dapat dilihat sebagai sistem netral, melainkan diwarnai konflik, dominasi, dan ketidakadilan struktural. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dalam pandangan ini, norma, hukum, institusi sosial, budaya populer, media massa, pendidikan, semua dapat menjadi alat reproduksi kekuasaan dan dominasi, bukan semata-alat objektif untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu, paradigma kritis berupaya mendekomposisi dan mengungkap ideologi dominan yang tersembunyi di balik praktik sosial sehari-hari. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Paradigma kritis juga berpihak kepada kaum tertindas, minoritas, kelompok marginal, atau mereka yang suaranya jarang terdengar, dengan tujuan memperjuangkan keadilan sosial, kesetaraan, dan pembebasan dari struktur opresi. [Lihat sumber Disini - revoedu.org]
Metode Penelitian Berbasis Pendekatan Kritis
Perlu dicatat: paradigma kritis bukanlah metode penelitian tunggal, melainkan kerangka pemahaman yang membimbing pilihan metode dan strategi penelitian. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Karena orientasinya reflektif, normatif, dan historis-sosial, penelitian dengan paradigma kritis umumnya menggunakan metode kualitatif, seperti studi literatur, analisis wacana, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan lain-lain, untuk mengeksplorasi makna sosial, relasi kekuasaan, ideologi, dan struktur dominasi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Penelitian kritis seringkali bersifat interdisipliner, melibatkan sosiologi, filsafat, komunikasi, antropologi, kajian budaya, dan ilmu sosial lain. Hal ini penting karena fenomena sosial yang dikaji, seperti dominasi ideologi, hegemoni, budaya massa, reproduksi kekuasaan, bersifat kompleks dan multidimensional. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Dalam praktiknya, penelitian kritis bukan hanya mendeskripsikan realitas tapi juga bersifat evaluatif dan transformatif, menghasilkan temuan yang diharapkan bisa memicu kesadaran kritis maupun tindakan sosial untuk perubahan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Kelebihan dan Tantangan Paradigma Kritis
Kelebihan
-
Paradigma kritis mampu membuka aspek-aspek sosial yang sering tersembunyi, seperti ideologi, dominasi, hegemoni, ketidakadilan, dan struktur kekuasaan, sehingga membantu kita lebih memahami dinamika sosial secara mendalam dan reflektif.
-
Memberi ruang bagi penelitian yang tidak netral: menegakkan komitmen moral dan etis terhadap keadilan sosial, emansipasi, dan perlindungan kelompok marginal.
-
Mendukung pendekatan interdisipliner dan metodologis beragam, memungkinkan penggunaan berbagai metode penelitian kualitatif untuk memahami realitas sosial secara holistik.
-
Mendorong penelitian tidak hanya untuk teori atau akademik, tetapi juga untuk transformasi sosial, menghasilkan pengetahuan yang relevan untuk perubahan nyata.
Tantangan
-
Penelitian dengan paradigma kritis bisa dianggap subjektif atau bias karena asumsi moral dan normatif yang melekat, sehingga objektivitas ala positivisme sering dipersoalkan.
-
Karena fokus pada struktur dan kekuasaan, penelitian kritis kadang sulit “menggeneralisasi” secara kuantitatif; hasilnya bisa sangat kontekstual dan sulit direplikasi.
-
Pendekatan interdisipliner dan kompleksitas teori membuat desain penelitian lebih rumit dan memerlukan kedalaman literatur serta komitmen interpretatif.
-
Karena orientasinya transformasional dan evaluatif, penelitian kritis kadang mendapat resistensi, baik dari institusi, status quo, maupun dari paradigma dominan yang skeptis terhadap perubahan.
Contoh Riset yang Menggunakan Pendekatan Kritis
Berikut beberapa contoh riset kontemporer yang menerapkan paradigma kritis dalam konteks sosial/kajian komunikasi/masyarakat:
-
Sebuah penelitian tentang fenomena “budaya konsumtif” di media sosial (khususnya pada generasi muda) menggunakan pendekatan kritis untuk menelisik bagaimana praktik media memperkuat kebutuhan palsu, dominasi budaya konsumsi, dan reproduksi ideologi konsumerisme. [Lihat sumber Disini - jgi.internationaljournallabs.com]
-
Kajian tentang “hegemoni ideologi gender” dalam iklan media (misalnya iklan produk populer) menggunakan paradigma kritis untuk mengungkap bagaimana iklan bukan sekadar promosi, tetapi juga alat reproduksi norma gender dan dominasi budaya. [Lihat sumber Disini - kc.umn.ac.id]
-
Analisis wacana kritis (critical discourse analysis) terhadap wacana publik/media untuk menyingkap relasi kekuasaan, ideologi, dan dominasi dalam struktur sosial, misalnya dalam kajian komunikasi, pendidikan, atau politik. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Contoh-contoh ini menunjukkan paradigma kritis relevan tidak hanya dalam teori, tetapi dalam praktik riset sosial kontemporer, terutama di masyarakat yang kompleks dan dinamis seperti sekarang.
Kesimpulan
Paradigma kritis adalah kerangka berpikir dalam penelitian sosial yang menekankan kritik terhadap struktur sosial, kekuasaan, dominasi, ideologi, serta ketidakadilan, dengan tujuan tidak hanya memahami, tetapi juga mendorong transformasi sosial dan emansipasi.
Berasal dari tradisi pemikiran Frankfurt School, paradigma ini mengajak peneliti untuk bersikap reflektif, historis, dan normatif dalam mendekati realitas sosial. Dalam penelitian, paradigma ini sering menggunakan metode kualitatif dan interdisipliner, serta aktif menyoroti isu-isu seperti hegemoni, ideologi, ketidakadilan struktural, dan marginalisasi.
Kelebihan paradigma kritis terletak pada kemampuannya membongkar realitas sosial yang tersembunyi, memberi suara pada kelompok tertindas, dan mendukung penelitian yang relevan sosial. Namun, tantangan seperti subjektivitas, kesulitan rekayasa kuantitatif, kompleksitas teori, serta resistensi terhadap perubahan menjadi hal yang perlu diwaspadai.
Contoh-contoh riset mutakhir menunjukkan bahwa paradigma kritis tetap relevan dan penting dalam kajian sosial dan komunikasi, terutama di era di mana struktur kekuasaan, ideologi, dan media memiliki peran besar dalam membentuk kesadaran dan realitas sosial.
Dengan demikian, penggunaan paradigma kritis dalam penelitian sosial bukan sekadar alternatif metodologis, tetapi juga pilihan etis dan politis untuk mewujudkan keadilan sosial, emansipasi, dan transformasi.