
Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern
Pendahuluan
Di era modern kini, penelitian ilmiah tidak hanya berfungsi sebagai prosedur teknis untuk memperoleh data atau menguji hipotesis, melainkan juga telah memasuki ranah kajian filosofis yang lebih dalam. Pandangan filosofis terhadap penelitian modern membuka pemahaman bahwa aktivitas penelitian ternyata tidak sekadar mencari jawaban empiris, melainkan juga menyoal: apa hakikat pengetahuan, bagaimana realitas yang diteliti terbentuk, serta nilai-nilai apa yang melandasi proses penelitian itu sendiri. Dalam konteks Indonesia dan secara global, seiring perkembangan teknologi, akses data, metode campuran (mixed-methods), dan arus interdisipliner, kajian filosofis terhadap penelitian modern menjadi semakin penting guna memastikan bahwa penelitian tidak kehilangan arah,yakni pengembangan ilmu yang bermakna, inklusif, etis, dan adaptif terhadap tantangan zaman. Artikel ini akan mengkaji secara filosofis terhadap penelitian modern dengan membahas definisi, kemudian menelaah aspek-aspek utama filosofi penelitian (ontologi, epistemologi, aksiologi) serta relevansi dan tantangannya dalam konteks penelitian modern.
Definisi Penelitian Modern
Definisi Penelitian Modern Secara Umum
Secara umum, penelitian dapat dipahami sebagai suatu kegiatan sistematis untuk mengeksplorasi, mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data guna menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah tertentu. Dalam tulisan “Interpretasi Modern tentang Teori dan Filosofis Penelitian” dijelaskan bahwa penelitian ilmiah ialah suatu proses penyelidikan yang sistematis, terencana, di mana pengumpulan data dan analisis dilakukan untuk menghasilkan pengetahuan baru atau memperluas yang telah ada. [Lihat sumber Disini - ejournal.uksw.edu]
Sementara itu, dalam era “modernitas” dan perkembangan teknologi serta metodologi, istilah “penelitian modern” sering merujuk pada penelitian yang: (1) memakai metode campuran (kuantitatif, kualitatif, dan mixed methods); (2) berorientasi pada problem kontemporer dan global; (3) memanfaatkan teknologi informasi serta big data; (4) bersifat interdisipliner dan kolaboratif; dan (5) menempatkan nilai, etika, dan keberlanjutan sebagai bagian dari kerangka penelitian. Keberadaan paradigma-baru seperti social science terhadap big data, digitalisasi, serta perubahan dinamika masyarakat memunculkan bentuk penelitian yang berbeda dari penelitian tradisional, yaitu yang lebih kompleks dan terbuka terhadap globalisasi.
Karena itu, definisi “penelitian modern” secara umum bisa dirumuskan sebagai: kegiatan ilmiah yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan kritis oleh peneliti untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data dengan menggunakan metode dan paradigma terkini, serta menempatkan aspek nilai-etika dan kontekstual sebagai bagian integral dari proses penelitian.
Definisi Penelitian Modern dalam KBBI
Untuk mendapatkan acuan bahasa baku, kita melihat pada kamus besar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “penelitian” berarti “kegiatan ilmiah yang sistematis dengan metode dan tahapan tertentu untuk memperoleh jawaban atas masalah atau untuk mengembangkan pengetahuan”. Sedangkan “modern” diartikan sebagai “baru, terkini, sesuai dengan zaman sekarang”. [Lihat sumber Disini - maryamsejahtera.com]
Dengan demikian, jika digabungkan: secara KBBI, “penelitian modern” secara bahasa dapat diartikan sebagai kegiatan ilmiah terkini yang dilaksanakan dengan metode sistematis dan tahapan tertentu guna memperoleh jawaban atas masalah atau mengembangkan pengetahuan, dengan memperhatikan karakteristik zaman sekarang.
Definisi Penelitian Modern Menurut Para Ahli
Beberapa peneliti dan ahli telah merumuskan definisi atau karakteristik penelitian dalam konteks yang lebih filosofis atau metodologis. Berikut beberapa di antaranya:
- Menurut John W. Creswell, dalam konteks penelitian ilmiah, penelitian adalah “process of collecting, analyzing, and interpreting data in specific context in order to understand a phenomenon” (proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi data dalam konteks tertentu untuk memahami fenomena). Term ini diadaptasi dalam artikel Radianto (2023) yang menyebut bahwa penelitian ilmiah adalah proses yang dirancang untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data. [Lihat sumber Disini - ejournal.uksw.edu]
- Dalam artikel “Peran Filsafat Ilmu dalam Mengembangkan Metode Penelitian Ilmiah” ditunjukkan bahwa filosofi ilmu (termasuk kajian tentang ontologi, epistemologi, aksiologi) memberikan kerangka bagi metode penelitian agar menjadi koheren, relevan dan adaptif terhadap perubahan. [Lihat sumber Disini - jurnalp4i.com]
- Dalam kajian “Ontologi Sains Modern: Fondasi Filsafat di Balik Pengetahuan Ilmiah” dijelaskan bahwa sains modern (dan penelitian secara luas) memiliki landasan filosofis yang berupa pemahaman tentang realitas (ontologi), pengetahuan (epistemologi) dan nilai (aksiologi) dalam penelitian. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stie-trianandra.ac.id]
- Artikel “Metode Penelitian Kualitatif di Era Transformasi Digital” menyebut bahwa metode penelitian di era modern menuntut refleksi yang lebih mendalam terhadap konteks digital, teknologi, dan perubahan paradigma penelitian, sehingga definisi penelitian modern mencakup aspek adaptasi teknologi dan perubahan konteks. [Lihat sumber Disini - jurnal.tau.ac.id]
Berdasarkan berbagai sumber di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa definisi penelitian modern menurut para ahli meliputi: kegiatan ilmiah yang sistematis, reflektif, dan adaptif terhadap konteks zaman (termasuk teknologi dan interdisipliner), yang mengintegrasikan proses pengumpulan-analisis data serta mempertimbangkan nilai, makna, dan tujuan di balik penelitian.
Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern
Dalam bagian ini kita akan membahas aspek-aspek filosofis yang mendasari penelitian modern: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Selain itu, kita juga akan mengulas hubungan antara paradigma penelitian, tantangan kontemporer, dan bagaimana filsafat penelitian memberikan kontribusi penting.
1. Ontologi: Hakikat Realitas dalam Penelitian Modern
Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari “apa yang ada”, hakikat dari keberadaan dan realitas. Dalam konteks penelitian, ontologi berkaitan dengan pemahaman terhadap objek penelitian,apakah objek tersebut dianggap sebagai realitas tunggal, absolut, atau konstruksi sosial, bergantung paradigma penelitian yang digunakan. Kajian “Ontologi Sains Modern: Fondasi Filsafat di Balik Pengetahuan Ilmiah” menyebut bahwa ontologi sains modern semakin berkembang seiring kemajuan teknologi dan metodologi ilmiah yang memungkinkan fenomena kompleks (mis. multiverse, realitas virtual) untuk dimunculkan sebagai ‘objek’ penelitian. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stie-trianandra.ac.id]
Dalam penelitian modern, peneliti harus secara sadar memilih asumsi ontologis yang mendasari penelitian: misalnya, apakah realitas yang diteliti dianggap objektif-eksistensial di luar subjek pengamatan (paradigma positivistik) atau realitas dianggap dibangun secara sosial melalui makna–makna (paradigma interpretatif/konstruktivis). Paradigma-tersebut akan menentukan cara peneliti melihat dan mendefinisikan objek penelitian, hubungan antar variabel, serta metodologi yang digunakan.
Dari perspektif filosofis, penting karena penelitian modern, terutama yang bersifat interdisipliner dan teknologi-termasuk, sering menghadapi realitas yang kompleks, abstrak, atau multilapis (misalnya data digital, big data, interaksi manusia–mesin, sosial media). Dalam hal ini, ontologi penelitian tidak hanya tentang objek fisik, tetapi juga realitas virtual, realitas jaringan, dan realitas makna. Peneliti yang tidak menyadari asumsi ontologisnya maka berisiko melakukan interpretasi yang bias atau kurang relevan dengan konteks realitas yang diteliti. Misalnya, penelitian kualitatif di era digital menuntut peneliti untuk melihat peserta sebagai agen bermakna dan realitas digital sebagai bagian dari konteks. [Lihat sumber Disini - jurnal.tau.ac.id]
Oleh karena itu, dalam penelitian modern, refleksi ontologis menjadi esensial: peneliti harus jelas tentang bagaimana realitas dipandang dan bagaimana objek penelitian didefinisikan. Ini merupakan fondasi kuat agar metodologi dan hasil penelitian menjadi koheren dan dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis.
Selain itu, aspek ontologi juga berkaitan dengan perubahan realitas sosial dan teknologi: fenomena baru seperti kecerdasan buatan, internet of things, lingkungan digital, globalisasi, semuanya menuntut ontologi yang lebih “terbuka” dan adaptif. Kajian ini menunjukkan bahwa penelitian modern tidak bisa hanya mengandalkan asumsi tradisional tentang realitas yang stabil dan tunggal. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
2. Epistemologi: Cara Mengetahui dalam Penelitian Modern
Epistemologi adalah teori pengetahuan,bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu, apa kriteria pengetahuan yang valid, bagaimana bukti dan argumentasi dibangun. Dalam konteks penelitian modern, epistemologi menuntut refleksi terhadap metode penelitian: bagaimana data dikumpulkan, bagaimana analisis dilakukan, bagaimana interpretasi dibuat, dan bagaimana peneliti memastikan bahwa hasil penelitian adalah sah, reliabel, dan valid secara epistemik. Artikel “Peran Filsafat Ilmu dalam Mengembangkan Metode Penelitian Ilmiah” menyimpulkan bahwa filsafat ilmu (yang meliputi epistemologi) membantu peneliti untuk memperjelas konsep dasar penelitian, menentukan paradigma yang sesuai, dan memastikan bahwa metode yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan rasional. [Lihat sumber Disini - jurnalp4i.com]
Dalam penelitian modern, terdapat beberapa hal epistemologis yang penting:
- Kejelasan asumsi asumsi pengetahuan yang digunakan (misalnya positivisme, post-positivisme, interpretivisme, kritikal).
- Transparansi terhadap metode pengumpulan dan analisis data, termasuk dalam penelitian kualitatif, kuantitatif dan metode campuran.
- Reflexivity: peneliti menyadari posisi, bias, dan batasan sendiri dalam penelitian.
- Keterlibatan teknologi dan digitalisasi dalam pengumpulan dan analisis data, misalnya big data analytics, machine learning, yang memunculkan pertanyaan epistemologis baru: bagaimana data besar mempengaruhi pengetahuan manusia? Bagaimana interpretasi data otomatis dapat dipertanggungjawabkan secara manusiawi dan filosofis?
Sebagai contoh, pada penelitian kualitatif di era transformasi digital, disebutkan bahwa penelitian tetap relevan namun menuntut pemilihan desain penelitian yang kuat, validitas dan reliabilitas data yang dijaga, dan pengakuan bahwa penelitian bukan sekadar generalisasi tetapi juga pemahaman makna. [Lihat sumber Disini - jurnal.tau.ac.id]
Epistemologi dalam penelitian modern juga menuntut bahwa peneliti tidak hanya mencari “jawaban” tetapi memahami “cara menemukan jawaban”, “kerangka interpretasi”, dan “konteks pengetahuan”. Dengan demikian, penelitian modern menjadi lebih reflektif dan metodologis daripada sekadar teknis.
3. Aksiologi: Nilai dan Tujuan dalam Penelitian Modern
Aksiologi adalah cabang filosofi yang mempelajari nilai,etika, estetika, tujuan dan makna. Dalam konteks penelitian modern, aksiologi menuntut bahwa penelitian tidak hanya valid secara metodologis dan berdasar pada realitas, tetapi juga mempertimbangkan nilai-etika, tujuan sosial, manfaat, dan implikasi yang lebih luas bagi masyarakat. Artikel “Peran Filsafat Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari” menyatakan bahwa filsafat ilmu membantu untuk mengintegrasikan pengetahuan dengan nilai moral dan sosial, meningkatkan literasi informasi, serta mendorong adaptabilitas dan kepekaan sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Dalam penelitian modern, aspek aksiologi dapat tampak melalui beberapa poin:
- Penelitian harus memiliki relevansi sosial atau kontribusi terhadap masyarakat, bukan hanya untuk publikasi atau akademik saja.
- Peneliti harus mempertimbangkan implikasi etis penelitian: privasi data, pengaruh teknologi, representasi kelompok, bias metodologis dan diskriminasi.
- Nilai transparansi, akuntabilitas, reproducibility, dan open access semakin menonjol dalam penelitian modern.
- Orientasi terhadap keberlanjutan, inklusivitas, dan keadilan (khususnya dalam penelitian global atau lintas budaya) menjadi bagian dari kerangka aksiologi penelitian modern.
Dari kajian-di atas, dapat dilihat bahwa penelitian modern bukan hanya aktivitas teknis mengumpulkan dan menganalisis data, melainkan juga aktivitas reflektif yang mempertanyakan: “apa yang layak diteliti?”, “untuk siapa?”, “bagaimana hasilnya digunakan?”, “nilai apakah yang melekat?” Dengan demikian, aksiologi menjadi landasan normatif yang memberi arah bahwa penelitian harus bermakna, bertanggungjawab, dan berkelanjutan.
4. Paradigma dan Metode Penelitian Modern dari Perspektif Filosofis
Dalam kerangka filosofis, penelitian modern sangat dipengaruhi oleh paradigma (sets of assumptions) yang dipilih oleh peneliti,ontologis, epistemologis, aksiologis,yang kemudian menentukan metode penelitian. Sebagai contoh, artikel Radianto (2023) menyebut bahwa dalam penelitian ilmiah modern, paradigma yang melandasi metode adalah asumsi-filosofis yang sangat mempengaruhi pengambilan keputusan metodologis seperti memilih dan merancang metode campuran (mixed methods). [Lihat sumber Disini - ejournal.uksw.edu]
Metode penelitian modern meliputi: kuantitatif, kualitatif, dan campuran; penggunaan teknologi digital (internet, big data, analitik); pendekatan interdisipliner; penelitian aksi; dan penelitian berbasis tantangan nyata (real world problem). Dari sisi filosofis, pemilihan metode harus mempertimbangkan asumsi-ontologi tentang realitas, asumsi-epistemologi tentang pengetahuan, dan nilai-aksiologi yang dipegang peneliti.
Penelitian modern juga sering menghadapi dinamika baru: misalnya arus data besar, algoritma, jaringan global, perubahan sosial yang cepat, dan interaksi manusia-mesin. Hal ini menuntut penelitian yang adaptif dan fleksibel tanpa mengorbankan kualitas filosofis. Peneliti yang mengabaikan kerangka filosofisnya bisa mengalami masalah seperti: kesimpulan yang tidak sah secara epistemologis, interpretasi data yang dangkal, atau penelitian yang tidak etis atau tidak relevan dengan masyarakat.
Dengan demikian, dalam penelitian modern, filosofis penelitian,yakni refleksi ontologi, epistemologi, aksiologi,harus menjadi bagian integral dari desain penelitian. Ini memastikan bahwa penelitian bukan hanya “apa” dan “bagaimana”, tetapi juga “mengapa” dan “untuk siapa”.
5. Tantangan dan Peluang Filosofis Penelitian Modern
Sejumlah tantangan filosofis muncul dalam penelitian modern:
- Kompleksitas realitas: Realitas yang diteliti menjadi semakin kompleks (fenomena digital, global, interdisipliner) sehingga asumsi‐ontologis tradisional mungkin kurang memadai.
- Teknologi dan data besar: Penggunaan big data, AI, algoritma membawa tantangan epistemologis, bagaimana memastikan bahwa data besar menghasilkan pengetahuan yang valid dan bermakna? Bagaimana memastikan interpretasi manusia tetap relevan?
- Etika dan nilai: Penelitian modern sering melibatkan aspek global, privasi data, penggunaan jaringan digital, sehingga aksiologi penelitian menjadi lebih penting, nilai inklusivitas, keadilan, reproducibility, open science.
- Paradigma yang bergeser: Peneliti kadang harus berpindah paradigma (dari positivisme ke konstruktivisme ke kritikal) atau menggunakan paradigma campuran, sehingga kerangka filosofis harus fleksibel.
Meski demikian, terdapat peluang besar: - Penelitian modern yang terfilosofis dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak hanya empiris tetapi juga bermakna bagi masyarakat, memperkuat relevansi akademik dan praktis.
- Integrasi nilai-etika, teknologi, dan konteks sosial memungkinkan penelitian yang lebih holistik, transdisipliner dan inovatif.
- Kesadaran filosofis dalam penelitian membantu peneliti menjadi reflektif dan kritis terhadap asumsi mereka sendiri, meningkatkan kredibilitas dan integritas penelitian.
Kesimpulan
Kajian filosofis terhadap penelitian modern menunjukkan bahwa penelitian saat ini harus dipahami lebih luas dari sekadar pengumpulan data atau uji hipotesis. Melalui aspek ontologi (hakikat realitas), epistemologi (cara memperoleh pengetahuan), dan aksiologi (nilai-tujuan), penelitian modern dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih reflektif, bertanggungjawab, dan relevan dengan tantangan zaman. Definisi penelitian modern mencakup kriteria sistematis, reflektif, adaptif terhadap teknologi dan konteks serta mempertimbangkan nilai-etika. Untuk mencapai itu, peneliti harus secara sadar memilih asumsi‐filosofis, menggunakan metode yang sesuai, dan mempertimbangkan implikasi sosial-etis dari penelitian mereka. Melalui pendekatan ini, penelitian modern tidak hanya mengembangkan ilmu, tetapi juga memberikan kontribusi bermakna terhadap masyarakat, budaya, dan perkembangan manusia secara lebih luas.