
Penerapan Metode Kangaroo Mother Care (KMC)
Pendahuluan
Masalah bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur menjadi tantangan signifikan dalam kesehatan neonatal, khususnya di negara berkembang. Kondisi BBLR membuat bayi rentan terhadap hipotermi, infeksi, gangguan tumbuh kembang, hingga kematian neonatal. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi yang efektif, terjangkau, dan mudah diimplementasikan untuk mendukung kesehatan dan keberlangsungan hidup bayi BBLR/prematur. Salah satu intervensi yang terbukti efektif adalah Kangaroo Mother Care (KMC), metode perawatan yang menekankan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi serta pemberian ASI eksklusif.
Artikel ini akan membahas definisi KMC, landasannya, syarat dan indikasi, faktor yang mempengaruhi keberhasilan, peran ibu dan keluarga, hambatan dalam pelaksanaan, dukungan tenaga kesehatan, serta dampak KMC terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tujuannya adalah memberikan gambaran komprehensif bagi tenaga kesehatan, ibu dan keluarga, maupun masyarakat umum tentang pentingnya penerapan KMC.
Definisi Kangaroo Mother Care (KMC)
Definisi KMC Secara Umum
KMC adalah metode perawatan bagi bayi dengan berat lahir rendah atau bayi prematur yang menekankan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) antara bayi dan ibu (atau pengasuh), serta menyusui secara langsung secara sering, menggantikan inkubator bila perlu. KMC dirancang untuk menstabilkan suhu tubuh bayi, mendukung nutrisi melalui ASI, serta memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Definisi KMC Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut definisi formal di KBBI, istilah “kanguru” dalam konteks perawatan bayi belum secara spesifik dijelaskan sebagai “Kangaroo Mother Care”. Namun, pengertian umum dari “perawatan intensif pada bayi BBLR/prematur” di ruang perawatan khusus bisa diasosiasikan dengan metode perawatan khusus, dalam praktik klinis lokal sering menggunakan istilah “metode kanguru” atau “perawatan metode kanguru (PMK)”. Beberapa pedoman kesehatan nasional di Indonesia menggunakan istilah “Perawatan Metode Kanguru (PMK)” untuk merujuk pada KMC. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Definisi KMC Menurut Para Ahli
-
Menurut studi oleh Fauziyah, Pratomo & Samaria (2021), KMC adalah perawatan bagi bayi berat lahir rendah dengan kontak langsung kulit ibu-bayi, memanfaatkan suhu tubuh ibu untuk menghangatkan bayi, serta sebagai alternatif inkubator. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Berdasarkan penelitian oleh Rahmayanti (2021) di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Jakarta, KMC didefinisikan sebagai metode perawatan untuk bayi LBW (< 2500 gram) dengan skin-to-skin contact antara ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Dalam penelitian oleh Novita dkk. (2024), KMC dinyatakan efektif sebagai alternatif perawatan konvensional, karena memberikan kehangatan, nutrisi, perlindungan dari infeksi, stimulasi, rasa aman, dan afeksi kepada bayi BBLR/prematur. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
-
Penelitian literatur oleh Mudhaifi (2023) menyebut bahwa KMC tidak hanya mendukung stabilitas fisiologis bayi tetapi juga mendukung pertumbuhan berat badan bayi BBLR. [Lihat sumber Disini - repo.uds.ac.id]
Syarat dan Indikasi Bayi yang Mendapatkan KMC
Metode KMC terutama ditujukan bagi bayi dengan karakteristik berikut:
-
Berat lahir rendah (BBLR), umumnya < 2500 gram (LBW / Low Birth Weight). [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Bayi prematur atau bayi dengan komplikasi ringan, selama kondisi bayi memungkinkan dilakukan skin-to-skin contact dan stabilitas dasar (misalnya koordinasi hisap-menelan cukup, tidak ada kelainan kongenital berat). [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Kondisi di mana inkubator tidak tersedia, terbatas, atau hasil inkubator kurang optimal, sehingga KMC menjadi alternatif perawatan yang efektif serta efisien. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Indikasi lebih luas dari KMC: mencegah hipotermi pada bayi BBLR, mendukung pemberian ASI eksklusif, mempercepat stabilitas fisiologis bayi, mempercepat pelepasan dari rumah sakit, dan memperkuat bonding ibu-bayi. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan KMC
Beberapa faktor yang menentukan seberapa berhasil KMC dijalankan antara lain:
-
Pengetahuan dan sikap ibu (dan keluarga) mengenai manfaat dan cara pelaksanaan KMC. Penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan baik lebih mungkin menjalankan KMC dengan benar. [Lihat sumber Disini - ejournal.umpri.ac.id]
-
Dukungan dari tenaga kesehatan, konseling, edukasi, serta adanya kebijakan dan prosedur standar KMC di fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Komitmen dan dukungan keluarga/pasangan (ayah atau anggota keluarga lain), keberhasilan KMC sering dipengaruhi non-medis, misalnya kesiapan keluarga memberikan dukungan emosional dan fisik. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Durasi dan intensitas pelaksanaan KMC, beberapa penelitian menunjukkan bahwa durasi lebih lama (misalnya 2 jam per sesi) lebih efektif dalam meningkatkan berat badan bayi dibanding durasi lebih singkat. [Lihat sumber Disini - ejurnaladhkdr.com]
-
Ketersediaan fasilitas dan sumber daya, seperti lingkungan yang mendukung, privasi, pendidikan pasca-persalinan, serta akses ke layanan kesehatan untuk tindak lanjut. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Peran Ibu dan Keluarga dalam Pelaksanaan KMC
Ibu dan keluarga memegang peranan sentral dalam menjalankan KMC, antara lain:
-
Memberikan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin) secara konsisten sesuai rekomendasi, untuk menjaga suhu tubuh bayi, kenyamanan, dan stimulasi emosional.
-
Memberikan ASI eksklusif, mendukung nutrisi optimal bayi, serta frekuensi menyusui lebih sering sesuai kebutuhan bayi.
-
Memastikan lingkungan yang mendukung, tempat yang hangat, bersih, nyaman, menyediakan privasi bila perlu, serta meminimalkan gangguan.
-
Memberi dukungan emosional dan psikologis, memberikan rasa aman, bonding, dan kepercayaan diri bagi ibu maupun bayi.
-
Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan, mengikuti edukasi, konsultasi, dan petunjuk medis tentang cara pelaksanaan, durasi, serta perawatan lanjutan setelah pulang dari rumah sakit.
Peran keluarga (ayah, saudara, anggota keluarga lain) juga penting dalam memberikan dukungan fisik, moral, dan membantu ibu agar pelaksanaan KMC bisa berjalan optimal dan konsisten.
Hambatan dalam Penerapan KMC
Meski terbukti efektif, penerapan KMC sering menghadapi sejumlah hambatan, antara lain:
-
Pengetahuan dan kesadaran ibu/keluarga yang belum memadai, kurangnya pemahaman tentang manfaat KMC bisa menyebabkan keengganan atau pelaksanaan yang tidak konsisten. [Lihat sumber Disini - ejournal.umpri.ac.id]
-
Sikap dan budaya, ada keluarga atau fasilitas yang masih menganggap inkubator sebagai perawatan “standar” atau lebih “aman”, sehingga ragu menggantinya dengan KMC. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Keterbatasan fasilitas kesehatan, kurangnya kebijakan, SOP, atau ruang perawatan yang mendukung KMC; serta angka staf kesehatan yang terbatas. [Lihat sumber Disini - scholar.ui.ac.id]
-
Kurangnya dukungan pasca-kelahiran, misalnya kurangnya waktu, tenaga, atau dukungan keluarga sehingga sulit menjalankan KMC terus-menerus.
-
Ketidakpastian atau keraguan medis, apabila bayi memiliki komplikasi, ketidakstabilan kondisi, atau perawatan intensif lain yang memerlukan inkubator, sehingga KMC sulit dijadikan pilihan.
Dukungan Tenaga Kesehatan terhadap Implementasi KMC
Tenaga kesehatan memegang peran penting dalam mendorong keberhasilan KMC melalui:
-
Memberikan edukasi dan konseling kepada ibu dan keluarga tentang manfaat, cara pelaksanaan, durasi, dan tindak lanjut KMC. Studi di rumah sakit menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh pengetahuan ibu setelah edukasi dari tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Menyusun dan menerapkan kebijakan/SOP KMC di fasilitas kesehatan, agar KMC menjadi bagian dari standar perawatan bayi BBLR. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
-
Memberikan dukungan teknis dan logistik, membantu posisi bayi-ibu, memastikan keamanan, kebersihan, dan pendampingan bila diperlukan, serta memantau kondisi bayi selama KMC.
-
Melakukan pendampingan dan follow-up pasca-pulang, memberikan edukasi lanjutan, motivasi, dan pemeriksaan kesehatan bayi agar KMC terus diterapkan secara konsisten di rumah.
Dampak KMC terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi
Berdasarkan literatur dan penelitian di Indonesia dan internasional, penerapan KMC menunjukkan berbagai dampak positif, antara lain:
-
Stabilitas temperatur tubuh, beberapa penelitian melaporkan peningkatan suhu tubuh bayi setelah KMC, membuktikan bahwa KMC efektif mengatasi hipotermi pada BBLR. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Peningkatan berat badan, pelaksanaan KMC, terutama dengan durasi cukup (misalnya 2 jam per sesi), berkorelasi dengan kenaikan berat badan bayi BBLR secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ejurnaladhkdr.com]
-
Stabilitas tanda vital (denyut jantung, frekuensi napas, saturasi oksigen, pernapasan), KMC membantu menstabilkan sistem fisiologis bayi, dibandingkan perawatan konvensional. [Lihat sumber Disini - jurnal.samodrailmu.org]
-
Memperkuat bonding dan attachment ibu, bayi (dan keluarga, bayi), KMC membantu membentuk ikatan emosional yang lebih kuat, menurunkan risiko kegagalan bonding, dan mendukung perkembangan psikologis bayi dan persalinan kepercayaan diri ibu. [Lihat sumber Disini - ejournal-kertacendekia.id]
-
Mengurangi durasi rawat inap dan beban biaya, karena KMC bisa menggantikan inkubator dan mempercepat stabilitas bayi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.univbatam.ac.id]
-
Meningkatkan kelangsungan hidup bayi BBLR/prematur, melalui kombinasi stabilitas suhu, nutrisi optimal, dan pengurangan komplikasi, KMC berkontribusi pada penurunan kematian neonatal. [Lihat sumber Disini - perinasiajournal.id]
Kesimpulan
Metode Kangaroo Mother Care (KMC) merupakan intervensi perawatan bayi BBLR/prematur yang sederhana, murah, dan efektif. Dengan prinsip kontak kulit-ke-kulit, pemberian ASI, dan dukungan ibu, keluarga serta tenaga kesehatan, KMC terbukti mampu meningkatkan stabilitas fisiologis bayi, mempercepat kenaikan berat badan, memperkuat bonding emosional, serta berpotensi menurunkan angka kematian neonatal. Keberhasilan KMC sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap ibu/keluarga, dukungan dari tenaga kesehatan, durasi dan konsistensi pelaksanaan, serta kebijakan dan fasilitas mendukung. Oleh karena itu, penting bagi fasilitas kesehatan, keluarga, dan masyarakat untuk bersama-sama mendukung implementasi KMC, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas perawatan neonatal dan mengurangi mortalitas bayi di Indonesia.