
Pengetahuan Dukun Bayi vs Praktik Medis
Pendahuluan
Pelayanan persalinan dan perawatan bayi di Indonesia sering kali melibatkan dua jalur utama: pelayanan tradisional oleh dukun bayi, dan pelayanan medis oleh tenaga kesehatan formal seperti bidan atau dokter. Masyarakat, terutama di area pedesaan atau terpencil, sering bergantung pada dukun bayi karena kemudahan akses, kepercayaan budaya, dan biaya yang relatif terjangkau. Namun di sisi lain, perkembangan ilmu kedokteran dan kebijakan kesehatan mendorong penggunaan tenaga medis terlatih untuk mengurangi risiko komplikasi pada ibu dan bayi. Dalam konteks ini muncul dilema dan perdebatan: seberapa jauh pengetahuan tradisional dukun bayi dapat diandalkan dibandingkan standar medis modern? Bagaimana persepsi masyarakat dan bagaimana upaya integrasi antara dua sistem pelayanan ini? Artikel ini menggali aspek-aspek tersebut: definisi masing-masing, peran, persepsi, risiko, serta kemungkinan integrasi.
Definisi Dukun Bayi dan Tenaga Medis
Definisi Dukun Bayi Secara Umum
Dukun bayi, dalam konteks Indonesia, secara umum dipahami sebagai individu non-formal (non-profesional medis) yang memberikan bantuan selama kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi/pasca-melahirkan. Mereka sering dipercaya oleh masyarakat sebagai penolong tradisional, dengan praktik dan metode yang diwariskan turun-temurun, serta adaptasi terhadap kultur dan kebiasaan lokal. Dalam banyak komunitas, dukun bayi tidak hanya berfungsi sebagai penolong persalinan tetapi juga sebagai penasihat kehamilan, pemberi perawatan pasca-melahirkan, pijat bayi, dan penjaga tradisi. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]
Definisi Dukun Bayi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “dukun bayi” bisa dirujuk sebagai “dukun yang membantu proses kelahiran bayi dan perawatan bayi/ibu”. (Catatan: definisi KBBI bisa berbeda tergantung edisi; untuk kepastian, disarankan membaca entri “dukun bayi / dukun beranak / dukun bersalin”).
Definisi Dukun Bayi Menurut Para Ahli
Sejumlah studi akademik mendefinisikan dukun bayi (atau dalam istilah global, Traditional Birth Attendant, TBA) sebagai penyedia jasa persalinan non-formal, sering dipandang sebagai tokoh adat, yang memberikan dukungan fisik, emosional, dan ritual selama kehamilan dan kelahiran. Misalnya:
-
Dalam penelitian di Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, dukun bayi digambarkan tidak hanya sebagai penolong persalinan, tetapi juga sebagai tokoh adat dan mediator spiritual, menunjukkan fungsi ganda kultural dan sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]
-
Studi literatur mengenai kemitraan dukun bayi dan bidan menyebut bahwa dukun bayi kerap berperan dalam identifikasi kehamilan baru, motivasi kunjungan antenatal, pijat pasca-melahirkan, perawatan bayi, serta ritual budaya setempat atas kesehatan ibu dan anak. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikesdhb.ac.id]
-
Namun, dari sudut keilmuan kesehatan masyarakat, dukun bayi dianggap “unskilled” jika mereka tidak memiliki pelatihan formal, artinya tidak memenuhi standar kompetensi medis, baik dalam deteksi komplikasi maupun respon terhadap kondisi darurat. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
Sementara itu, tenaga medis, seperti bidan atau dokter, didefinisikan secara formal sebagai profesional kesehatan yang telah melalui pendidikan dan pelatihan resmi serta memiliki kompetensi dan kewenangan untuk melakukan perawatan kehamilan, persalinan, serta perawatan neonatus dan ibu post-partum. Dalam kebijakan kesehatan modern (termasuk global dan nasional), mereka disebut sebagai “skilled birth attendants” (SBA), yakni penolong persalinan terampil. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Perbedaan Peran Dukun Bayi dan Tenaga Medis
Perbedaan antara peran dukun bayi dan tenaga medis cukup signifikan, meskipun dalam praktik di lapangan keduanya kadang tumpang-tindih atau bekerja sama.
-
Dukun bayi cenderung berperan dalam aspek tradisional, sosial, dan kultural: membantu persalinan, memberikan pijat bayi/ibu, merawat bayi, serta menyediakan dukungan emosional dan spiritual. [Lihat sumber Disini - repository.badankebijakan.kemkes.go.id]
-
Selain itu, dukun bayi sering menjadi figur yang dipahami dan dipercaya dalam komunitas, terutama di pedesaan, di mana bidan atau fasilitas medis mungkin sulit dijangkau. [Lihat sumber Disini - ejournal.itka.ac.id]
-
Tenaga medis (bidan/dokter) memiliki peran formal yang lebih luas dan ilmiah: memeriksa kehamilan, memantau kesehatan ibu dan janin, menangani persalinan dengan standar medis, mendeteksi komplikasi, melakukan rujukan bila perlu, serta memberikan perawatan pasca-kelahiran dan imunisasi bayi. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]
-
Dalam beberapa pendekatan kebijakan di Indonesia, dijalankan kemitraan antara bidan (SBA) dan dukun bayi, dengan tujuan memadukan cakupan medis dan penerimaan sosial/kultural: dukun bayi berperan sebagai “jembatan” ke layanan medis, misalnya dengan mendampingi bidan atau membantu mobilisasi masyarakat. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
Perbedaan ini menunjukkan bahwa dukun bayi dan tenaga medis bukan sekadar dua alternatif yang sama derajat, melainkan dua sistem pelayanan yang berbeda, dengan kekuatan dan keterbatasan masing-masing.
Persepsi Masyarakat terhadap Dukun Bayi
Masyarakat, terutama di daerah pedesaan atau komunitas adat, sering memiliki persepsi dan preferensi tertentu terhadap dukun bayi. Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi ini antara lain: budaya/tradisi, kepercayaan, akses, ekonomi, dan pengalaman turun-temurun. Berikut beberapa temuan:
-
Sebuah penelitian di Desa Sibito (Sumatera Utara) menunjukkan bahwa ibu hamil memilih dukun beranak karena kepercayaan terhadap dukun, pengalaman keluarga, dan rasa nyaman dengan pelaksanaan budaya/tradisi lokal. Pendidikan dan penghasilan yang rendah biasanya dikaitkan dengan pilihan ini. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimed.ac.id]
-
Dalam penelitian terbaru (2025) di sebuah desa, faktor budaya dan kepercayaan menjadi dominan dalam preferensi masyarakat menggunakan dukun bayi, meskipun fasilitas medis tersedia. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Terkadang keputusan memilih dukun bayi bukan hanya keputusan ibu, tetapi juga keluarga besar (orang tua, mertua), yang membawa nilai tradisi dan budaya. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
-
Selain itu, aspek biaya, yaitu bahwa jasa dukun bayi seringkali dianggap lebih terjangkau atau fleksibel (bisa dibayar dengan cara non-moneter, atau pembayaran dicicil), turut mendorong pemilihan dukun bayi dibanding tenaga medis formal. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Secara umum, persepsi masyarakat terhadap dukun bayi cenderung positif dalam komunitas yang kuat mempertahankan tradisi, memiliki keterbatasan ekonomi, atau memiliki akses medis terbatas.
Pengetahuan dan Praktik Tradisional vs Ilmiah
Membedah lebih dalam, perbedaan antara pengetahuan/praktik tradisional dan pendekatan ilmiah/medis terlihat dari aspek kompetensi, pelatihan, risiko, serta pemahaman tentang standar kesehatan.
-
Studi di Maluku (2023) terhadap 25 TBA menunjukkan bahwa hanya sekitar 20 % dari mereka memiliki “tingkat pengetahuan baik” sesuai standar kesehatan dalam membantu persalinan, sisanya (44 % sedang, 36 % rendah) masih menggunakan metode tradisional, dengan keterbatasan dalam sterilisasi, deteksi komplikasi, dan respon darurat. [Lihat sumber Disini - ajosh.org]
-
Penelitian di area dengan akses kesehatan terbatas menunjukkan ibu hamil kadang memakai campuran: mengikuti saran dukun bayi sambil tetap kontrol ke fasilitas kesehatan bila memungkinkan. [Lihat sumber Disini - ejournal2.unud.ac.id]
-
Di sisi lain, sistem medis, melalui bidan/dokter, menerapkan standar klinis: pemeriksaan kehamilan rutin, penanganan persalinan dengan prinsip sterilisasi, identifikasi komplikasi, serta rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap bila diperlukan. Hal ini penting untuk mencegah kematian ibu dan bayi, komplikasi, infeksi, atau trauma bayi/ibu. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]
-
Perbedaan konsep: pengetahuan tradisional cenderung berakar pada pengalaman turun-temurun, nilai kultural, serta kepercayaan, sementara pendekatan medis berbasis bukti (evidence-based), riset, pelatihan, dan regulasi kesehatan.
Karena perbedaan mendasar ini, meskipun dukun bayi bisa punya peran penting dalam komunitas, praktik mereka sering dianggap kurang aman jika dihadapkan pada komplikasi persalinan, prematuritas, infeksi, atau kondisi darurat lain. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
Risiko dan Keamanan Pelayanan Tradisional
Penggunaan jasa dukun bayi, terutama jika tanpa kemitraan dengan tenaga medis, dapat membawa sejumlah risiko terhadap ibu dan bayi:
-
Penelitian di Desa Baros, Kabupaten Bandung, menunjukkan bahwa pertolongan persalinan oleh dukun bayi sering berhubungan dengan morbiditas dan komplikasi seperti perdarahan, persalinan lama, ruptur rahim, infeksi, asfiksia pada bayi, hingga kematian ibu atau bayi. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
-
Kurangnya pengetahuan dalam penanganan darurat: sebagian besar dukun bayi tidak memiliki pelatihan formal, sehingga dalam keadaan komplikasi, misalnya pendarahan berat, distosia, infeksi, mereka tidak mampu memberikan intervensi yang memadai atau merujuk secara tepat. [Lihat sumber Disini - ajosh.org]
-
Faktor sanitasi dan teknik asistensi: praktik tradisional kadang mengabaikan aspek sterilisasi alat, kebersihan, dan protokol medis, sehingga meningkatkan risiko infeksi baik pada ibu maupun bayi. [Lihat sumber Disini - ajosh.org]
-
Risiko hukum dan tanggung jawab: ada pertanyaan legalitas terhadap praktik dukun bayi, khususnya jika mereka melakukan perawatan tanpa kemitraan formal, hal ini dapat menempatkan pasien dalam posisi rentan terhadap malpraktik, tanpa jaminan perlindungan hukum yang memadai. [Lihat sumber Disini - jurnal-mhki.or.id]
Dengan demikian, meskipun dukun bayi masih dipilih oleh sebagian masyarakat, penting untuk menyadari bahwa menggunakan jasa mereka, tanpa dukungan medis, bukan tanpa risiko signifikan bagi keselamatan ibu dan bayi.
Upaya Integrasi Pengetahuan Tradisional dan Medis
Mengingat kenyataan bahwa dukun bayi tetap eksis dan banyak dipercaya di masyarakat, beberapa upaya telah dilakukan untuk mengintegrasikan peran dukun bayi dengan sistem medis formal, agar manfaat sosial/kultural tetap dipertahankan sambil meningkatkan keamanan kesehatan.
-
Kemitraan antara dukun bayi dan bidan/tenaga medis sudah diinisiasi di banyak daerah. Dalam kemitraan ini, dukun bayi dapat membantu dalam identifikasi kehamilan, motivasi kunjungan antenatal, pijat pasca-melahirkan, perawatan bayi, serta peran sebagai mediator budaya, sementara bidan mengambil alih peran medis utama seperti pemeriksaan kehamilan, persalinan, rujukan dan perawatan klinis. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
-
Literatur menyebut bahwa kemitraan ini memungkinkan dukun bayi “tidak dihapus”, tetapi “direvitalisasi” sebagai bagian dari sistem kesehatan, sebagai penghubung antara budaya komunitas dengan pelayanan kesehatan formal. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Namun, implementasi kemitraan menghadapi tantangan: tidak semua dukun bayi bersedia bekerja sama, dukungan dari pemimpin komunitas bisa kurang, regulasi formal terkadang lemah atau tidak konsisten, serta hambatan komunikasi (bahasa atau adat) antara tenaga medis dan masyarakat. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikesdhb.ac.id]
-
Oleh karena itu, upaya integrasi ideal melibatkan edukasi bagi dukun bayi, pelatihan dasar kebidanan, sosialisasi ke masyarakat tentang manfaat dan risiko, serta penyusunan regulasi lokal agar kemitraan ditata dengan jelas.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Masyarakat
Tenaga kesehatan (bidan, dokter, petugas puskesmas) memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama di daerah di mana budaya tradisional kuat, terkait kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi:
-
Memberikan informasi berbasis bukti tentang risiko persalinan, komplikasi, pentingnya persalinan oleh tenaga terlatih, serta perawatan bayi yang aman. Hal ini bisa membantu mengoreksi persepsi yang berlebihan terhadap praktik tradisional.
-
Mengajak dukun bayi dalam kemitraan: dengan melibatkan mereka dalam program kesehatan ibu-anak, tenaga kesehatan bisa menjembatani antara kepercayaan budaya dan praktik medis aman.
-
Melakukan penyuluhan dan sosialisasi, terutama di komunitas pedesaan atau terpencil, terkait manfaat antenatal care (ANC), imunisasi, sanitasi, dan pengawasan kehamilan, sehingga ibu hamil punya pilihan informasi lengkap sebelum memutuskan penolong persalinan.
Penelitian menunjukkan bahwa di tempat di mana terdapat edukasi dan kemitraan, kombinasi praktik tradisional dan medis bisa berjalan beriringan, dengan masyarakat tetap mempertahankan aspek budaya sambil mendapatkan perawatan medis aman. [Lihat sumber Disini - ejournal2.unud.ac.id]
Pengaruh Budaya terhadap Pilihan Pelayanan
Budaya dan tradisi memainkan peran besar dalam menentukan pilihan layanan persalinan. Beberapa aspek budaya yang mempengaruhi antara lain:
-
Nilai kepercayaan turun-temurun terhadap dukun bayi dan praktik adat melahirkan/pasca-melahirkan. Banyak keluarga mempercayai bahwa dukun bayi memiliki “ilmu” atau kekuatan spiritual yang penting untuk keselamatan ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
-
Faktor sosial dan komunitas: reputasi dukun bayi dalam komunitas, keterikatan antar keluarga, tradisi lokal, serta keputusan kolektif (bukan hanya ibu) dalam memilih penolong persalinan. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
-
Ekonomi dan akses: di area terpencil atau desa dengan fasilitas kesehatan terbatas, dukun bayi menjadi alternatif praktis, sering lebih murah, fleksibel pembayaran, dan tersedia kapan saja. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Kebiasaan dan kepraktisan: dalam beberapa kasus, masyarakat memilih dukun bayi karena kemudahan (bisa datang ke rumah ibu), kenyamanan dengan kehadiran seseorang dari komunitas (bukan “asing” seperti bidan baru), serta kebiasaan tradisional yang sulit diubah. [Lihat sumber Disini - journals.badnurmedisa.org]
Budaya ini membuat dukun bayi tetap relevan, bahkan di era modern, asalkan pendekatan pelayanan kesehatan mempertimbangkan sensitivitas budaya dan kebutuhan lokal.
Kesimpulan
Dialog antara pengetahuan tradisional dukun bayi dan praktik medis modern mencerminkan kompleksitas dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia, terutama di area pedesaan atau komunitas adat. Dukun bayi memiliki peran sosial, kultural, dan emosional yang kuat dalam masyarakat, serta menyediakan akses alternatif bagi mereka dengan keterbatasan ekonomi, akses, atau kepercayaan terhadap medis. Namun dari perspektif kesehatan, praktik dukun bayi, terutama jika tidak berkombinasi dengan tenaga medis terlatih, membawa risiko serius, terutama jika ada komplikasi kehamilan atau persalinan.
Upaya integrasi antara dukun bayi dan tenaga medis (melalui kemitraan, edukasi, pelatihan, dan regulasi) menawarkan jalan tengah: mempertahankan aspek budaya dan sosial, sambil memastikan keselamatan dan standar kesehatan. Tenaga kesehatan punya peran penting dalam edukasi masyarakat, membangun kepercayaan, dan menjembatani antara tradisi dan medis.
Bagi kebijakan kesehatan dan masyarakat, pendekatan yang menghormati budaya sekaligus menegakkan standar kesehatan adalah kunci, agar ibu dan bayi memperoleh pelayanan yang aman tanpa harus melepas identitas budaya komunitas.