
Pengetahuan tentang Inisiasi Menyusu Dini
Pendahuluan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah salah satu praktik penting dalam perawatan bayi baru lahir. IMD direkomendasikan agar bayi diberi kesempatan untuk disusui segera setelah lahir, melalui kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi. Praktik ini bukan sekadar tradisi, tetapi berdasarkan bukti ilmiah yang menunjukkan berbagai manfaat, baik bagi bayi maupun ibu. Meskipun demikian, pelaksanaan IMD di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, ibu, dan keluarga memahami definisi, prinsip, faktor pendukung dan penghambat, serta peran edukasi agar IMD dapat dilakukan secara optimal. Tulisan ini akan mengulas aspek-aspek penting tersebut secara komprehensif berdasarkan hasil penelitian ilmiah terkini.
Definisi Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Definisi IMD Secara Umum
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) secara umum dipahami sebagai tindakan membiarkan bayi baru lahir segera menyusu pada ibu dalam waktu dekat setelah lahir, tanpa penundaan yang tidak perlu, sehingga bayi mendapat kolostrum dan memulai proses menyusui sejak dini. Proses ini melibatkan kontak langsung kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
Definisi IMD dalam KBBI
Menurut klasifikasi dan definisi kebahasaan di Indonesia, definisi resmi untuk “Inisiasi Menyusu Dini” di KBBI belum tersedia dalam banyak literatur daring. Oleh karena itu, definisi operasional di banyak penelitian menggunakan pengertian klinis/populer: yakni menyusui bayi segera setelah lahir dengan kontak kulit langsung, tanpa terlebih dahulu melakukan proses seperti menimbang, membersihkan bayi secara menyeluruh (kecuali dikeringkan), atau menunda pemberian ASI. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
Definisi IMD Menurut Para Ahli
-
Dalam “Jurnal Riset Kebidanan Indonesia” disebut bahwa IMD merupakan “upaya awal pemberian ASI eksklusif”, yaitu momen penting di mana bayi diletakkan di dada ibu segera setelah lahir dan dibiarkan menyusu. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
-
Dalam penelitian oleh Putri Winasari dkk. (2023) di jurnal “Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan”, IMD didefinisikan sebagai tahapan menyusui yang dimulai segera sesudah kelahiran, dengan kontak kulit ibu dan bayi, minimal berlangsung satu jam. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Menurut penelitian di Klinik Pratama Shaqi, IMD dipahami sebagai pelaksanaan kontak kulit-ke-kulit segera setelah lahir, untuk mencegah hipotermi pada bayi baru lahir. [Lihat sumber Disini - jurnal.lppm-mmy.ac.id]
-
Sebuah review scoping menyebut IMD sebagai bagian dari “awal sempurna pemberian ASI eksklusif” yang esensial untuk kesehatan bayi dan ibu. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
Proses Pelaksanaan IMD yang Benar
Praktik IMD yang benar biasanya mengikuti langkah-langkah berikut:
-
Segera setelah lahir, bayi diletakkan di dada atau perut ibu dalam kontak kulit langsung (“skin to skin”), tanpa penundaan seperti menimbang atau membersihkan bayi secara menyeluruh. Hanya dikeringkan secara ringan jika perlu. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Kontak kulit ini dilakukan minimal sekitar 1 jam, agar bayi bisa merayap sendiri mencari puting susu dan menyusu pertama (kolostrum). [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Proses menyusui pertama ini menstimulasi refleks alami bayi untuk menghisap dan membantu stimulasi keluarnya ASI pada ibu, termasuk kolostrum. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperalkautsar.ac.id]
-
Selama periode IMD, intervensi seperti menimbang, mengukur, atau tindakan rutin lainnya sebaiknya ditunda sampai setelah bayi menyusu. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Dukungan dari petugas kesehatan, bidan, perawat, dokter, penting untuk memastikan proses IMD berlangsung sesuai protokol (misalnya memastikan kontak kulit, kenyamanan ibu & bayi, suasana tenang). [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu tentang IMD sangat beragam dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain:
-
Pendidikan ibu: Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan lebih baik mengenai pentingnya IMD. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Paritas (jumlah kehamilan/kelahiran sebelumnya): Ibu primigravida (kelahiran pertama) mungkin memiliki pengetahuan dan pengalaman berbeda dibanding ibu multipara. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Akses terhadap layanan antenatal dan edukasi prenatal: Ibu yang mendapatkan edukasi laktasi/prenatal, termasuk informasi tentang IMD, memiliki kecenderungan lebih baik dalam memahami dan melakukan IMD. [Lihat sumber Disini - inhis.pubmedia.id]
-
Dukungan keluarga, terutama suami/ayah, dan lingkungan sekitar: Dukungan dari pasangan dan keluarga dapat mempengaruhi keberhasilan IMD. [Lihat sumber Disini - ibi.or.id]
-
Peran tenaga kesehatan: Jika petugas kesehatan memberikan edukasi dan mendampingi proses IMD dengan baik, tingkat pengetahuan dan pelaksanaan IMD meningkat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Hambatan dalam Pelaksanaan IMD
Meskipun manfaatnya banyak, pelaksanaan IMD sering menghadapi hambatan, seperti:
-
Situasi persalinan yang mendesak atau sibuk, misalnya ruang bersalin penuh, tenaga kesehatan terbatas, sehingga kontak kulit ibu-bayi dan IMD tidak bisa dilakukan optimal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Prosedur klinis segera setelah lahir seperti menimbang, membersihkan bayi, atau tindakan rutin lainnya yang menunda IMD. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Kurangnya pengetahuan ibu/harga dan keluarga tentang pentingnya IMD, jika ibu/familia tidak paham, IMD mungkin diabaikan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Faktor budaya atau kebiasaan lama: di beberapa komunitas mungkin ada tradisi atau persepsi yang membuat IMD terabaikan. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
-
Kurangnya dukungan atau kepekaan dari tenaga kesehatan, jika bidan/perawat/dokter tidak mendukung atau tidak memiliki motivasi, pelaksanaan IMD bisa gagal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
Manfaat IMD bagi Ibu dan Bayi
Pelaksanaan IMD membawa banyak manfaat, antara lain:
-
Memungkinkan bayi segera mendapatkan kolostrum, kaya nutrisi dan antibodi, yang penting untuk pertahanan awal tubuh bayi. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Membantu mencegah hipotermi pada bayi baru lahir; beberapa penelitian menunjukkan bayi yang mendapatkan IMD memiliki suhu tubuh stabil dan lebih baik dibanding bayi yang tidak IMD. [Lihat sumber Disini - jurnal.lppm-mmy.ac.id]
-
Mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif di masa 0, 6 bulan: IMD terkait signifikan dengan peningkatan peluang ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Bagi ibu: membantu proses laktasi, mempercepat pengeluaran ASI, meningkatkan ikatan emosional ibu-bayi, serta mendukung kesehatan ibu pasca persalinan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Menurunkan risiko kematian bayi neonatal, terutama yang disebabkan oleh komplikasi seperti hipotermia atau infeksi di awal kehidupan. [Lihat sumber Disini - jurnal.lppm-mmy.ac.id]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi dan Pelaksanaan IMD
Tenaga kesehatan, bidan, dokter, perawat, memiliki peran krusial dalam keberhasilan IMD:
-
Memberikan edukasi prenatal kepada ibu hamil, menjelaskan pentingnya IMD, manfaatnya, cara pelaksanaan, sehingga ibu datang ke persalinan dengan pemahaman baik. [Lihat sumber Disini - inhis.pubmedia.id]
-
Mendampingi ibu saat persalinan untuk memastikan kontak kulit ibu-bayi segera setelah lahir dan mendukung agar tidak ada prosedur yang menunda IMD . [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Menciptakan lingkungan dan prosedur klinis yang mendukung IMD: meminimalkan gangguan, menunda tindakan rutin (menimbang, membersihkan bayi) sampai bayi menyusu, sesuai protokol. [Lihat sumber Disini - poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Memberi dukungan lanjutan setelah lahir supaya ibu dan keluarga memahami pentingnya melanjutkan ASI eksklusif, serta memantau kesehatan bayi dan ibu. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Keberhasilan IMD
Berbagai studi menunjukkan bahwa semakin baik pengetahuan ibu tentang IMD, semakin besar kemungkinan IMD dilaksanakan dan berhasil. Misalnya:
-
Studi terbaru (2025) menunjukkan ada hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dan keberhasilan IMD serta riwayat pemberian ASI eksklusif pada bayi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Pada penelitian di klinik Medan (2023) ditemukan bahwa meskipun ada sebagian ibu dengan pengetahuan cukup, banyak yang tetap tidak melakukan IMD, menunjukkan bahwa pengetahuan saja kadang belum cukup tanpa dukungan dan kondisi yang mendukung. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Faktor pendukung lain seperti dukungan tenaga kesehatan dan keluarga, fasilitas kebidanan, serta prosedur persalinan turut menentukan apakah pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi praktik IMD. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Tantangan & Rekomendasi untuk Meningkatkan Pelaksanaan IMD di Indonesia
Tantangan
-
Rendahnya cakupan IMD nasional: meskipun program telah digencarkan, penerapannya belum optimal. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Variasi pengetahuan ibu: masih ada ibu, terutama dengan pendidikan rendah atau kurang akses informasi, yang belum memahami pentingnya IMD. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Hambatan pada layanan kesehatan: keterbatasan tenaga, ruang persalinan sibuk, prosedur rutin yang belum disesuaikan dengan protokol IMD, dan kadang kurang motivasi tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Faktor budaya atau kebiasaan lokal: beberapa praktik kebidanan tradisional atau kebiasaan setelah lahir dapat menghambat kontak kulit langsung atau menyusui segera. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Rekomendasi
-
Perlu edukasi intensif pra, dan antenatal kepada ibu hamil dan keluarga tentang pentingnya IMD dan dampaknya jangka panjang.
-
Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan perlu diberi pelatihan dan pedoman yang jelas agar IMD dijadikan bagian rutin dari prosedur persalinan, hindari penundaan menimbang atau tindakan lain sebelum pemberian ASI.
-
Libatkan keluarga (suami, orang tua) dalam edukasi dan dukung mereka agar mendukung ibu dalam melakukan IMD.
-
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan IMD oleh fasilitas kesehatan: memastikan bahwa protokol diikuti, dukungan tersedia, dan ibu diberi kesempatan optimal melakukan IMD.
-
Kampanye publik melalui media, komunitas, puskesmas, agar kesadaran IMD meningkat di masyarakat luas, terutama di daerah remote atau dengan akses informasi terbatas.
Kesimpulan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah praktik menyusui dengan memberikan bayi kesempatan untuk menyusu segera setelah lahir melalui kontak kulit ibu-bayi tanpa penundaan. Definisi operasional ini didukung oleh berbagai penelitian dan merupakan bagian esensial dari upaya pemberian ASI eksklusif. Pelaksanaan IMD yang benar, kontak kulit langsung, durasi minimal satu jam, dukungan tenaga kesehatan, membawa banyak manfaat bagi bayi maupun ibu: dari stabilisasi suhu tubuh, pencegahan hipotermi, awal terbaik ASI eksklusif, hingga penguatan ikatan ibu-bayi dan kesehatan ibu pasca persalinan. Namun, pelaksanaan di lapangan masih terkendala oleh banyak faktor: pengetahuan ibu, praktik kebidanan, dukungan tenaga kesehatan, serta budaya lokal. Oleh karena itu, edukasi, dukungan sistem kesehatan, dan keterlibatan keluarga sangat penting agar IMD dapat dilaksanakan secara optimal, sehingga bayi mendapat hak terbaiknya sejak lahir dan ibu mendapat manfaat maksimal.