
Pola Diet Intermittent Fasting pada Dewasa
Pendahuluan
Intermittent fasting (IF) atau pola diet puasa berselang merupakan pendekatan diet yang fokus pada kapan seseorang makan, bukan apa yang dimakan. Pendekatan ini semakin populer di kalangan masyarakat dewasa sebagai strategi untuk mengendalikan berat badan serta efek kesehatan jangka panjang lainnya. Pendekatan ini berbeda dari diet tradisional karena tidak menekankan pembatasan jenis makanan atau menghitung kalori secara ketat, melainkan mengatur jendela waktu makan dan puasa dalam siklus tertentu setiap hari atau setiap minggu. Konsep ini memicu perdebatan dalam dunia ilmiah dan kesehatan mengenai efektivitasnya terhadap berat badan, kepatuhan diet, hingga risiko terhadap kesehatan jantung dan metabolik, sehingga penting untuk memahami secara mendalam pola diet ini dari berbagai sudut pandang ilmiah. [Lihat sumber Disini - hopkinsmedicine.org]
Definisi Intermittent Fasting
Definisi Intermittent Fasting Secara Umum
Intermittent fasting secara umum didefinisikan sebagai pola makan yang melibatkan periode puasa dan periode makan dalam siklus yang diatur. Selama periode puasa, individu menahan diri dari asupan makanan padat, tetapi minum tanpa kalori (misalnya air, teh tanpa gula) biasanya masih diperbolehkan. Tujuan utama dari IF bukanlah membatasi jenis makanan, tetapi memaksimalkan periode puasa yang memicu perubahan fisiologis tubuh dalam penggunaan energi dan metabolisme. Pendekatan ini digunakan untuk menurunkan asupan energi secara keseluruhan dan memanfaatkan cadangan lemak tubuh sebagai sumber energi saat periode puasa. [Lihat sumber Disini - mitrakeluarga.com]
Definisi Intermittent Fasting dalam KBBI
Istilah intermittent fasting belum secara resmi tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai entri tersendiri. Namun, jika diterjemahkan dari istilah bahasa Inggrisnya, intermittent berarti “berselang-seling” dan fasting berarti “puasa”, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai pola “puasa berselang”. Ini merujuk pada praktik berpuasa dalam jangka waktu tertentu yang diatur secara berkala, di mana periode makan dan puasa berlangsung secara teratur. [Lihat sumber Disini - sustainability.ipb.ac.id]
Definisi Intermittent Fasting Menurut Para Ahli
Beberapa ahli telah memberikan definisi mengenai intermittent fasting berdasarkan perspektif ilmiah dan klinis:
-
Mark Mattson, seorang ahli neurosciences dari Johns Hopkins University, menyatakan bahwa intermittent fasting adalah pola makan yang memanfaatkan periode tanpa asupan makanan untuk memicu perubahan metabolik dan adaptasi fisiologis yang berpotensi meningkatkan kesehatan, terutama dalam konteks manajemen berat badan dan kesehatan otak. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Krista A. Varady, pakar nutrisi di University of Illinois Chicago, mendefinisikan IF sebagai bentuk diet di mana periode makan dan puasa diatur berdasarkan jadwal tertentu, dan berpotensi menurunkan risiko penyakit kronis melalui perubahan komposisi tubuh serta profil lipid. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Peneliti dari Cyprus Journal of Medical Sciences mendeskripsikan IF sebagai pembatasan energi atau asupan makanan pada waktu tertentu baik dalam harian maupun mingguan, yang melibatkan berbagai metode puasa seperti Alternate Day Fasting (ADF) dan Time-Restricted Eating (TRE). [Lihat sumber Disini - cyprusjmedsci.com]
-
Organisasi kesehatan seperti Harvard T.H. Chan School of Public Health menggambarkan IF sebagai strategi dimana waktu makan dipersempit sehingga memungkinkan periode puasa yang lebih panjang dibandingkan pola makan biasa, yang perlu dipantau efeknya pada gula darah dan risiko penyakit metabolik. [Lihat sumber Disini - health.harvard.edu]
Konsep dan Jenis Intermittent Fasting
Intermittent fasting bukanlah diet tunggal yang seragam, tetapi kumpulan pola makan yang mempunyai struktur waktu tertentu antara periode makan dan periode puasa. Beberapa metode IF yang umum dipraktikkan antara lain:
-
Time-Restricted Eating (TRE), Pola puasa harian di mana jendela makan dibatasi dalam rentang waktu tertentu, misalnya puasa selama 16 jam dan makan dalam jendela 8 jam (metode 16/8). Pendekatan ini membantu tubuh mengalami lebih banyak periode tanpa asupan makanan sehingga memaksimalkan penggunaan lemak sebagai sumber energi. [Lihat sumber Disini - mitrakeluarga.com]
-
Alternate Day Fasting (ADF), Pola di mana individu berpuasa penuh satu hari dan makan tanpa batasan kalori pada hari berikutnya. Ini dicirikan oleh alternasi puasa penuh dan makanan bebas untuk menghasilkan defisit energi. [Lihat sumber Disini - cyprusjmedsci.com]
-
5:2 Diet, Dibagi menjadi lima hari makan normal dan dua hari puasa dalam seminggu, di mana pada hari puasa asupan kalori dibatasi secara drastis atau bahkan tidak makan. [Lihat sumber Disini - mitrakeluarga.com]
-
Eat-Stop-Eat, Puasa total selama 24 jam sekali atau dua kali seminggu, misalnya dari sarapan satu hari hingga sarapan berikutnya. [Lihat sumber Disini - mitrakeluarga.com]
Penting untuk dicatat bahwa setiap jenis IF memiliki intensitas dan durasi puasa yang berbeda, sehingga efek terhadap tubuh juga bervariasi. Beberapa pendekatan diduga lebih mudah diikuti secara jangka panjang karena tidak memerlukan penghitungan kalori setiap hari. [Lihat sumber Disini - mitrakeluarga.com]
Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Diet
Kepatuhan terhadap pola intermittent fasting dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari aspek psikologis, fisiologis, sosial, dan lingkungan. Hal ini penting karena tanpa kepatuhan yang baik, efektivitas IF dalam mencapai target kesehatan dan berat badan menjadi terbatas.
Motivasi dan Persepsi Individu
Motivasi pribadi merupakan kunci dalam mempertahankan disiplin puasa. Individu yang memiliki tujuan kuat seperti penurunan berat badan atau peningkatan kesehatan metabolik cenderung lebih berkomitmen menjalankan periode puasa sesuai jadwal yang telah dipilih. Persepsi tentang kemudahan dan manfaat juga memengaruhi konsistensi diet. Studi menunjukkan bahwa seseorang yang melihat perubahan positif seperti penurunan berat badan atau peningkatan energi cenderung mempertahankan pola IF lebih lama. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Adaptasi Fisiologis terhadap Puasa
Adaptasi tubuh terhadap periode puasa memainkan peran besar dalam kemampuan seseorang mengikuti IF. Ketika tubuh mulai beradaptasi terhadap jendela puasa yang diperpanjang, hormon pengatur rasa lapar seperti ghrelin dan leptin dapat berubah, yang memengaruhi rasa lapar dan kenyang. Namun, pada awalnya beberapa orang mungkin mengalami rasa lapar hebat, sakit kepala, atau kelelahan, yang bisa menurunkan kepatuhan jika tidak diatasi secara bertahap. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Faktor Sosial dan Lingkungan
Lingkungan sosial seperti kebiasaan keluarga atau jadwal kerja dapat memengaruhi pola makan seseorang. Tantangan muncul ketika jadwal puasa IF bertabrakan dengan acara sosial atau budaya makan bersama. Selain itu, akses terhadap pilihan makanan sehat selama jendela makan juga berdampak pada kemampuan mencapai target diet, terutama jika seseorang sering berada di luar rumah atau bekerja dalam lingkungan yang menantang. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Strategi Implementasi dan Pendidikan Diet
Pemahaman tentang cara menerapkan IF dengan benar, termasuk pengetahuan tentang jendela waktu puasa serta cara memilih makanan selama periode makan, sangat penting untuk mempertahankan kepatuhan. Individu yang dilengkapi dengan pendidikan nutrisi cenderung dapat merencanakan pola makan yang lebih seimbang selama jendela makan sehingga mengurangi gangguan fisiologis yang dapat menghambat kepatuhan. [Lihat sumber Disini - emc.id]
Dampak Intermittent Fasting terhadap Berat Badan
Salah satu alasan utama popularitas IF adalah potensinya dalam mengendalikan berat badan dan komposisi tubuh. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa IF dapat memengaruhi berat badan melalui berbagai mekanisme fisiologis.
Penurunan Berat Badan dan Lemak Tubuh
Banyak penelitian menunjukkan bahwa IF membantu dalam penurunan berat badan dan lemak tubuh. Misalnya, penelitian pada pekerja overweight menunjukkan bahwa metode puasa 16/8 menghasilkan penurunan signifikan kecil dalam berat badan dan lingkar perut setelah intervensi singkat. [Lihat sumber Disini - ejournal.cibinstitute.com] Selain itu, ulasan naratif juga mencatat bahwa berbagai rejimen IF berkorelasi dengan pengurangan berat badan dan perbaikan profil metabolik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Efek pada Komposisi Tubuh
Selain penurunan berat badan, IF juga dapat mempengaruhi komposisi tubuh dengan menurunkan persentase lemak tubuh. Studi lainnya melaporkan bahwa metode 5:2 IF berhubungan dengan perubahan lemak tubuh dan lipatan kulit subkutan dibandingkan pola makan biasa. [Lihat sumber Disini - jkk-fk.ejournal.unsri.ac.id]
Perbandingan dengan Pendekatan Non-IF
Analisis dan ulasan terkini menunjukkan bahwa IF memiliki efektivitas yang sama atau bahkan sedikit lebih unggul dibandingkan pembatasan kalori kontinu dalam menghasilkan penurunan berat badan dalam jangka pendek. Ini mungkin karena IF membantu menciptakan defisit energi tanpa perlu menghitung setiap kalori yang masuk. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Risiko dan Efek Samping Diet Puasa
Walaupun banyak manfaat yang dikaitkan dengan IF, penting untuk memahami potensi risiko dan efek samping yang dapat muncul, terutama jika diet ini tidak direncanakan atau diawasi dengan baik.
Efek Samping Fisiologis
Selama periode adaptasi awal, beberapa individu dapat mengalami rasa lapar yang intens, sakit kepala, kelelahan, pusing, atau perubahan suasana hati karena bergantung pada asupan makanan sebagai sumber energi utama. Ini merupakan respons umum saat tubuh bertransisi ke penggunaan cadangan lemak sebagai energi. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Risiko Jantung dan Metabolik
Beberapa penelitian observasional dan laporan berita ilmiah menunjukkan temuannya seperti peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada individu yang menerapkan jendela makan sangat sempit (contoh <8 jam), meskipun data ini masih preliminer dan memerlukan penelitian lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - people.com]
Keterbatasan pada Kelompok Tertentu
IF umumnya tidak direkomendasikan untuk individu dengan gangguan makan, wanita hamil atau menyusui, lansia, atau orang dengan kondisi medis tertentu yang memerlukan asupan makanan teratur. Ini karena periode puasa yang panjang dapat memperburuk defisit nutrisi atau memengaruhi metabolisme yang rentan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Perbandingan dengan Pola Diet Konvensional
Perbandingan IF dengan diet konvensional seperti pembatasan kalori kontinu atau diet rendah lemak menunjukkan bahwa kedua pendekatan dapat menghasilkan penurunan berat badan. Namun, IF menawarkan beberapa keunggulan praktis seperti kemudahan implementasi tanpa menghitung kalori setiap hari, serta potensi peningkatan metabolisme yang lebih jelas. Beberapa meta-analisis menunjukkan IF dapat menghasilkan efek penurunan berat badan yang sedikit lebih besar dibandingkan diet konvensional dalam jangka pendek, meskipun hasil jangka panjangnya masih memerlukan penelitian lebih mendalam. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Kesimpulan
Intermittent fasting adalah pola diet yang berfokus pada pembatasan waktu makan dan periode puasa yang telah menarik perhatian ilmuwan dan masyarakat luas sebagai strategi nonfarmakologis untuk mengendalikan berat badan dan memperbaiki beberapa indikator metabolik. Pendekatan ini memiliki berbagai metode yang dapat disesuaikan dengan gaya hidup individu, serta potensi manfaat terhadap penurunan berat badan dan komposisi tubuh. Namun demikian, kepatuhan terhadap diet ini dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan, serta dapat menimbulkan efek samping fisiologis terutama selama fase adaptasi. Risiko potensial terhadap kesehatan jantung perlu diwaspadai, terutama pada pola jendela makan yang sangat sempit. Dibandingkan dengan pendekatan diet konvensional, IF menawarkan fleksibilitas dan beberapa manfaat tambahan, tetapi efektivitas jangka panjangnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Implementasi IF sebaiknya dilakukan dengan pemahaman yang baik terhadap tubuh dan, jika perlu, dengan supervisi ahli kesehatan untuk meminimalkan risiko.