
Pola Mobilitas Pasien Stroke
Pendahuluan
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan disabilitas jangka panjang di seluruh dunia. Setelah serangan stroke, banyak individu mengalami perubahan signifikan pada kemampuan motorik dan mobilitas fisik, mulai dari kelemahan otot ringan hingga kelumpuhan total pada bagian tubuh tertentu. Mobilitas menjadi aspek krusial dalam pemulihan karena mempengaruhi kemandirian pasien dalam aktivitas sehari-hari, kualitas hidup, dan kemampuan berpartisipasi sosial. Oleh karena itu, memahami pola mobilitas, faktor yang mempengaruhi, gangguan yang umum terjadi, serta pendekatan penilaian dan intervensi adalah kunci dalam asuhan keperawatan dan rehabilitasi pasien stroke. Artikel ini membahas secara komprehensif aspek mobilitas pada pasien stroke, dengan harapan memberikan gambaran yang jelas bagi tenaga kesehatan maupun keluarga pasien.
Definisi Mobilitas pada Pasien Stroke
Definisi Mobilitas secara Umum
Mobilitas, dalam konteks kesehatan, merujuk pada kemampuan seseorang untuk bergerak, termasuk berpindah posisi, berjalan, berdiri, serta mengontrol pergerakan ekstremitas (tangan dan kaki). Dalam konteks rehabilitasi dan keperawatan, mobilitas menjadi parameter penting yang mencerminkan fungsi motorik dan kemandirian fisik individu.
Definisi Mobilitas dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “mobilitas” merujuk pada kemampuan atau kebolehan untuk bergerak atau berpindah tempat. Definisi ini mencerminkan arti umum mobilitas sebagai pergerakan atau kemampuan berpindah posisi atau tempat.
Definisi Mobilitas menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi mobilitas dalam konteks medis/keperawatan menurut ahli atau literatur:
-
Tim Pokja SDKI PPNI (2017) mendefinisikan gangguan mobilitas fisik sebagai keterbatasan gerakan fisik pada satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Ernawati (2012) menyebutkan bahwa gangguan mobilitas fisik dapat berarti ketidakmampuan bergerak sebagian atau total, tidak hanya beraktivitas tetapi juga fungsi motorik terhambat. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Syabariyah et al. (2020) menyatakan bahwa imobilitas terjadi ketika seseorang memiliki keterbatasan gerak secara mandiri dan terarah, terutama pada ekstremitas bawah. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dalam literatur rehabilitasi modern, mobilitas pasca-stroke meliputi kemampuan untuk bermobilisasi (berdiri, berjalan, berpindah posisi), kontrol keseimbangan, dan kemampuan melakukan aktivitas fungsional harian. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Dengan demikian, mobilitas pada pasien stroke mencakup aspek gerakan, keseimbangan, kontrol motorik, dan kemampuan functional movement, yang bila terganggu akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Setelah Stroke
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan mobilitas pasien setelah stroke, baik faktor internal (pasien) maupun eksternal (lingkungan, dukungan, terapi). Berikut faktor-faktor utama:
-
Keseimbangan (Balance), menurut studi Prediction of Factors Affecting Mobility in Patients with Stroke and Finding the Mediation Effect of Balance on Mobility (2022), keseimbangan memiliki peran mediasi penting terhadap mobilitas: pasien dengan keseimbangan baik cenderung memiliki mobilitas lebih baik. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Kekuatan otot dan fleksibilitas sendi, kelemahan otot, kekakuan sendi, dan keterbatasan rentang gerak dapat membatasi kemampuan berjalan atau bergerak. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
-
Waktu dan intensitas rehabilitasi / latihan, mobilisasi dini (early mobilization) setelah stroke, termasuk duduk, berdiri, berjalan ketika kondisi memungkinkan, bisa mencegah atrofi otot, kontraktur, dan komplikasi lain yang memperburuk mobilitas. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Jenis stroke dan lokasi lesi otak, tergantung bagian otak yang terkena dan tingkat keparahan, kemampuan motorik dan mobilitas bisa sangat bervariasi. (Meskipun detail mekanisme neurologis di luar ruang lingkup artikel ini, penting untuk mempertimbangkan variasi klinis).
-
Dukungan sosial, lingkungan & motivasi pasien, aspek psikososial seperti kepercayaan diri, dukungan keluarga, serta lingkungan fisik (misalnya akses ke alat bantu, ruang bergerak) juga mempengaruhi kemampuan mobilitas dan keberhasilan rehabilitasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Pelaksanaan program rehabilitasi dan intervensi keperawatan, perawatan yang tepat, latihan terstruktur seperti rentang gerak (Range of Motion/ROM), dan supervisi profesional akan sangat menentukan hasil mobilitas. [Lihat sumber Disini - eprints.ukh.ac.id]
Gangguan Mobilitas Umum pada Pasien Stroke
Stroke sering menyebabkan berbagai gangguan mobilitas. Berikut gangguan mobilitas fisik yang umum terjadi pada pasien pasca-stroke:
-
Hemiparesis / Hemiplegia, kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh akibat kerusakan motorik di otak. Hal ini menghambat kemampuan menggerakkan ekstremitas secara efektif dan stabil. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Penurunan kekuatan otot & fleksibilitas sendi, banyak pasien mengalami menurunnya kekuatan otot dan rentang gerak sendi, yang menyebabkan kesulitan dalam berjalan, berdiri, atau berpindah posisi. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
-
Gangguan keseimbangan dan koordinasi, pasien mungkin sulit menjaga keseimbangan saat berdiri atau berjalan, rentan jatuh, serta koordinasi gerakan anggota tubuh terganggu. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Keterbatasan dalam aktivitas fungsional / kemandirian, imobilitas atau mobilitas terbatas mengakibatkan pasien kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari (misalnya berpindah tempat tidur, berjalan, berpakaian, toilet, dan aktivitas ADL lainnya). [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
-
Risiko komplikasi akibat imobilitas, jika mobilisasi tidak dilakukan, dapat timbul atrofi otot, kontraktur sendi, gangguan peredaran darah, trombosis, maupun penurunan kondisi umum. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Penilaian Kemampuan Mobilitas Pasien
Penilaian mobilitas penting untuk menentukan tingkat gangguan, rencana rehabilitasi, dan memantau kemajuan pasien. Beberapa metode dan alat penilaian yang umum digunakan:
-
FuglโMeyer Assessment (FMA), skala untuk menilai fungsi sensorimotor pada pasien stroke, termasuk motorik, rentang gerak sendi, keseimbangan, dan sensasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Timed Up and Go test (TUG), tes sederhana untuk mengevaluasi mobilitas dan keseimbangan: pasien diminta bangun dari kursi, berjalan, berbelok dan kembali duduk. Hasil waktu menunjukkan apakah mobilitas pasien dalam batas normal, memerlukan bantuan, atau rentan jatuh. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Skor dan instrumen fungsional lainnya seperti Functional Independence Measure (FIM) atau indeks ADL (kemandirian aktivitas sehari-hari) dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana pasien dapat melakukan aktivitas tanpa bantuan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pengkajian klinis dan pemeriksaan fisik, kekuatan otot, rentang gerak sendi, observasi berjalan, keseimbangan, ketergantungan bantuan serta dokumentasi terhadap kebutuhan mobilisasi di lingkungan rumah/ruang perawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Intervensi Keperawatan untuk Mobilitas Pasien Stroke
Asuhan keperawatan memiliki peran signifikan dalam mendukung mobilitas pasien stroke, terutama di fase akut dan sub-aku. Beberapa tindakan keperawatan/intervensi yang umum dilakukan:
-
Latihan rentang gerak sendi (Range of Motion / ROM) pasif maupun aktif, untuk mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas sendi, mencegah kontraktur dan kekakuan otot. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
-
Mobilisasi dini, sedini mungkin setelah stabil, membantu pasien duduk, berdiri, dan bila memungkinkan berjalan, guna mencegah komplikasi imobilitas seperti atrofi otot, kontraktur, trombosis. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Observasi dan monitor kekuatan otot, keluhan nyeri, kemampuan fungsi motorik secara berkala, untuk menentukan progres dan menyesuaikan rencana perawatan atau intervensi rehabilitasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespamenang.ac.id]
-
Edukasi kepada pasien dan keluarga, tentang pentingnya latihan mobilitas, latihan ROM, dukungan motivasi, serta kolaborasi keluarga dalam mendampingi perawatan agar program rehabilitasi bisa berlangsung kontinu, termasuk di rumah. [Lihat sumber Disini - eprints.ukh.ac.id]
-
Kerjasama interdisipliner, kolaborasi perawat, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya untuk merancang program mobilisasi dan rehabilitasi sesuai kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Peran Rehabilitasi Fisik (Fisioterapi, Latihan Gerak)
Rehabilitasi fisik adalah kunci dalam mengembalikan mobilitas dan fungsi motorik setelah stroke. Berikut penjelasannya:
-
Menurut ulasan dalam literatur Stroke rehabilitation: from diagnosis to therapy (2024), rehabilitasi awal (early mobilization) melalui latihan ROM, baik pasif maupun aktif, serta latihan mobilitas di tempat tidur, berdiri, atau berjalan bila memungkinkan, sangat membantu mencegah komplikasi seperti atrofi otot, kontraktur, dan gangguan peredaran darah. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Untuk pasien yang sudah mampu berjalan atau berdiri (meskipun dengan bantuan), terapi gait training intensif dan progresif direkomendasikan, terutama di fase sub-aku dan kronis. Hal ini sesuai dengan pedoman rehabilitasi setelah stroke dalam literatur Mobility After Stroke: Relearning to Walk (2021). [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Meta-analisis terbaru (2025) menunjukkan bahwa intervensi latihan fisik pada pasien stroke kronis signifikan meningkatkan skor mobilitas dan keseimbangan (misalnya pengukuran dengan TUG dan skala keseimbangan seperti BBS), meskipun tidak selalu meningkatkan parameter gait seperti kecepatan berjalan atau jarak tempuh 6 menit berjalan. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Rehabilitasi harus bersifat individual, mempertimbangkan kondisi neurologis, kekuatan otot, keseimbangan, toleransi fisik, dan kebutuhan pasien. Program rehabilitasi yang disesuaikan akan lebih efektif dalam meningkatkan mobilitas dan mendorong kemandirian fungsional. [Lihat sumber Disini - eprints.ukh.ac.id]
Contoh Kasus Mobilitas Pasien Stroke
Dalam studi kasus yang dipublikasikan di Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan (2024), terapi ROM pada pasien stroke dengan gangguan mobilitas fisik diaplikasikan, hasilnya menunjukkan peningkatan kekuatan otot setelah beberapa hari terapi. [Lihat sumber Disini - jurnal-d3per.uwhs.ac.id]
Contoh lain: di RSUD Pandan Arang Boyolali, intervensi keperawatan dengan latihan ROM dua kali sehari selama minimal 4 minggu pada pasien stroke non-hemoragik menunjukkan peningkatan kekuatan otot ekstremitas kanan dari skor 2 menjadi 3, dan kaki dari 1 menjadi 3 dalam 3 hari awal, meskipun gangguan mobilitas belum sepenuhnya hilang. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa intervensi konsisten dan terstruktur dapat memberikan perbaikan meskipun prosesnya memerlukan waktu, kesabaran, dan dukungan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Mobilitas pada pasien stroke adalah aspek esensial yang mempengaruhi kemandirian, kualitas hidup, dan outcome rehabilitasi. Definisi mobilitas dalam konteks stroke meliputi kemampuan bergerak, kontrol motorik, keseimbangan, dan fungsi gerak ekstremitas. Faktor yang mempengaruhi mobilitas sangat beragam, termasuk keseimbangan, kekuatan otot, fleksibilitas sendi, intensitas rehabilitasi, serta dukungan sosial dan lingkungan. Gangguan mobilitas umum pada pasien stroke, seperti hemiparesis, penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, dan keterbatasan aktivitas fungsional, memerlukan penilaian secara sistematis melalui instrumen seperti FMA, TUG, FIM, serta evaluasi klinis.
Intervensi keperawatan (termasuk latihan ROM, mobilisasi dini) dan rehabilitasi fisik (terapi fisik / fisioterapi, latian gait, latihan fungsional) berperan penting dalam memulihkan mobilitas. Studi empiris menunjukkan bahwa program latihan yang konsisten dan terstruktur mampu meningkatkan mobilitas dan keseimbangan meskipun perbaikan penuh kadang membutuhkan waktu dan terapi lanjutan.
Dengan pendekatan multidisipliner, dukungan keluarga, serta penerapan intervensi dan rehabilitasi sesuai kebutuhan individu, pasien stroke memiliki peluang lebih baik untuk mencapai kemandirian dalam mobilitas dan memperbaiki kualitas hidup pasca-stroke.