
Risiko Jatuh pada Lansia
Pendahuluan
Populasi lansia di Indonesia dan dunia terus meningkat secara signifikan. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis, seperti penurunan massa otot, penurunan kekuatan, gangguan keseimbangan, serta penurunan fungsi sensorik dan kognitif, membuat lansia lebih rentan terhadap kejadian jatuh. [Lihat sumber Disini - ejurnal.univbatam.ac.id]
Jatuh pada lansia seringkali bukan sekadar “tersandung”, tetapi bisa mengakibatkan cedera serius, penurunan kualitas hidup, kehilangan kemandirian, hingga kematian. Oleh karena itu, pemahaman tentang risiko jatuh, faktor-faktornya, cara menilai risiko, serta strategi pencegahannya sangat penting, terutama bagi tenaga kesehatan, perawat, keluarga, dan penyelenggara layanan lansia.
Artikel ini membahas secara komprehensif tentang pengertian risiko jatuh pada lansia, faktor risiko, dampak, metode penilaian, strategi pencegahan, peran perawat, serta contoh kasus, sehingga diharapkan bisa menjadi referensi praktis untuk konten edukatif.
Definisi Risiko Jatuh pada Lansia
Definisi Umum
Risiko jatuh pada lansia secara umum diartikan sebagai kemungkinan atau potensi terjadinya peristiwa jatuh, yaitu ketika seseorang kehilangan keseimbangan atau kontrol atas postur tubuh sehingga terjatuh ke permukaan yang lebih rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Dalam konteks lansia, “jatuh” tidak selalu merupakan akibat kesalahan langkah atau kelalaian, melainkan seringkali disebabkan oleh perubahan fisiologis dan kondisi lingkungan yang membuat kontrol postural serta kemampuan tubuh menurun. [Lihat sumber Disini - geriatri.co.id]
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “jatuh” berarti terjerembap, terguling, tergelincir, terjun, atau turun mendadak ke tanah atau ke tempat lebih rendah karena kehilangan keseimbangan, terpeleset, tersandung dan sebagainya. Maka, “risiko jatuh” dapat ditafsirkan sebagai kemungkinan terjadinya jatuh seperti itu.
Meskipun KBBI tidak secara spesifik mendefinisikan “risiko jatuh pada lansia”, definisi “jatuh” dalam KBBI memberi landasan umum untuk memahami bahwa risiko jatuh berkaitan dengan kehilangan keseimbangan atau kontrol tubuh, sesuatu yang pada lansia bisa sering terjadi karena kondisi fisik dan lingkungan yang menantang.
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur/penelitian oleh para ahli:
-
Menurut Adnyaswari et al. dalam kajian literatur mereka, jatuh pada lansia didefinisikan sebagai “hilangnya keseimbangan secara tidak disengaja yang mengakibatkan seseorang tidak sempat mempersiapkan dirinya untuk tempat yang lebih rendah.” [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Dalam tinjauan oleh peneliti di Indonesia, risiko jatuh pada lansia dikatakan sangat terkait dengan proses degeneratif, perubahan fisik dan fisiologis terkait penuaan, sehingga lansia menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap kejadian jatuh. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Kajian literatur tentang faktor-faktor risiko jatuh menekankan bahwa risiko jatuh bagi lansia bersifat multifaktorial, melibatkan faktor intrinsik (fisik, kesehatan, mobilitas) dan ekstrinsik (lingkungan, gaya hidup, sosial). [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Ulasan naratif terkini menyebut bahwa risiko jatuh harus dilihat sebagai bagian dari manajemen kesehatan komprehensif pada lansia, tidak sekadar sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai indikator kebutuhan intervensi preventif, rehabilitatif, serta monitoring berkala. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dengan demikian, “risiko jatuh pada lansia” bisa dipahami sebagai kondisi atau potensi terjadinya jatuh akibat kombinasi faktor-faktor yang melemahkan kemampuan fisik, sensorik, atau lingkungan, sehingga membutuhkan perhatian khusus.
Faktor Risiko Internal dan Eksternal
Risiko jatuh pada lansia tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan hasil interaksi kompleks antara kondisi fisik/biologis, kesehatan, lingkungan, gaya hidup, dan aspek sosial. Berikut rincian faktor-faktornya:
Faktor Internal (Intrinsik)
-
Penurunan kekuatan otot, massa otot, dan fungsi fisik, Seiring bertambahnya usia, terjadi sarkopenia (penurunan massa otot), penurunan elastisitas otot dan sendi, serta kekuatan yang melemah, sehingga kontrol stabilitas tubuh menurun. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Gangguan keseimbangan postural dan kontrol sensorik, Sistem keseimbangan (vestibular, proprioseptif, visual) bisa melemah pada lansia, mengganggu postur tubuh dan respons terhadap perubahan posisi atau gerakan mendadak. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Masalah penglihatan, penglihatan kabur, atau gangguan indera, Misalnya gangguan penglihatan, perubahan kacamata, atau penurunan sensorik lain bisa membuat lansia sulit menilai permukaan atau rintangan, sehingga mudah terpeleset. [Lihat sumber Disini - jurnal.ensiklopediaku.org]
-
Komorbiditas / penyakit penyerta / kondisi kesehatan kronis, Lansia dengan penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, osteoporosis, atau gangguan neurologis lebih rentan jatuh. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Riwayat jatuh sebelumnya, Riwayat jatuh merupakan prediktor kuat untuk jatuh di masa depan. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Keterbatasan mobilitas atau penggunaan alat bantu jalan, Ketika mobilitas menurun atau lansia bergantung pada alat bantu jalan, koordinasi dan stabilitas bisa terganggu, meningkatkan risiko. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Fungsi kognitif dan psikososial, Penurunan kognitif, kurangnya kepercayaan diri dalam berjalan/keseimbangan (balance confidence), kecemasan terhadap jatuh, bisa mempengaruhi cara berjalan atau bergerak sehingga meningkatkan risiko. [Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id]
Faktor Eksternal (Lingkungan / Kontekstual)
-
Kondisi lingkungan rumah atau fasilitas lansia, Lantai licin, permukaan tidak rata, pencahayaan kurang, tangga tanpa pegangan, perabot rumah yang tidak aman: semua ini meningkatkan risiko jatuh. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Kurangnya adaptasi lingkungan dan alat bantu keamanan, Tidak adanya pegangan tangan, karpet licin, lampu redup, rute berjalan sempit, memperbesar peluang jatuh. [Lihat sumber Disini - openjournal.wdh.ac.id]
-
Polifarmasi atau penggunaan obat-obatan tertentu, Obat-obatan yang menurunkan tekanan darah, mempengaruhi keseimbangan, atau menyebabkan efek samping seperti pusing, meningkatkan risiko jatuh. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Gaya hidup, aktivitas, dan pengawasan yang kurang, Lansia yang aktif tanpa adaptasi, yang tidak mendapat edukasi tentang fall prevention, atau tidak diawasi saat berjalan bisa lebih berisiko. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Sosial ekonomi dan dukungan keluarga/pengasuh yang minim, Lansia yang hidup sendiri, tanpa pendamping atau dukungan lingkungan seringkali beresiko lebih tinggi, terutama jika mereka memiliki keterbatasan fisik. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Dampak Cedera Akibat Jatuh
Jatuh pada lansia bukan sekadar terpeleset, tetapi bisa membawa konsekuensi serius, secara fisik, psikologis, dan sosial. Beberapa dampaknya:
-
Cedera fisik: sering terjadi patah tulang (misalnya femur, pinggul, pergelangan), cedera kepala, memar, luka, kerusakan otot atau jaringan lunak. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penurunan fungsi dan mobilitas: setelah jatuh, lansia bisa mengalami kesulitan berjalan, gangguan stabilitas, penurunan aktivitas sehari-hari (ADL), bahkan kecacatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kehilangan kemandirian & penurunan kualitas hidup: akibat takut jatuh lagi, keterbatasan fisik, atau komplikasi medis, lansia bisa kehilangan kemandirian dan merasa terbatas dalam aktivitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dampak psikologis: rasa takut terhadap jatuh kembali, kecemasan, penurunan kepercayaan diri, bahkan isolasi sosial jika lansia mulai mengurangi aktivitas karena trauma. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Beban pada keluarga dan layanan kesehatan: perawatan setelah cedera, rawat inap, rehabilitasi, pengawasan intensif, semua ini meningkatkan beban finansial dan emosional bagi lansia, keluarga, dan penyedia layanan. [Lihat sumber Disini - sejurnal.com]
Dengan demikian, mencegah jatuh bukan saja soal menghindari luka ringan, tetapi menjaga kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraan lansia.
Metode Penilaian Risiko Jatuh
Penilaian risiko jatuh (fall risk assessment) penting agar tenaga kesehatan atau caregiver bisa mengidentifikasi siapa lansia yang berisiko tinggi dan merencanakan intervensi preventif. Berikut beberapa metode yang umum digunakan:
Morse Fall Scale (MFS)
-
MFS adalah salah satu alat penilaian risiko jatuh paling banyak digunakan di fasilitas kesehatan. Skala ini menilai beberapa faktor seperti riwayat jatuh, kondisi sekunder, ambulasi, pemakaian alat bantu jalan, status mental, dan waktu berjalan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Sebuah studi tahun 2025 menunjukkan bahwa menggunakan cut-off tertentu, MFS mampu mengidentifikasi kategori risiko jatuh (tinggi, sedang, rendah) dengan sensitivitas dan spesifisitas tertentu, sensitivitas 80%, spesifisitas 56, 3%. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Timed Up and Go Test (TUG Test)
-
TUG adalah tes fungsional yang meminta lansia berdiri dari kursi, berjalan beberapa meter, berputar, kembali, dan duduk, sambil diukur waktunya. Tes ini mengukur mobilitas, kekuatan, dan keseimbangan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sebuah ulasan sistematik menunjukkan bahwa TUG sering dipakai dalam kombinasi dengan alat lain untuk menilai risiko jatuh karena mobilitas dan berjalan adalah prediktor utama. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Namun, bukti mengenai kemampuan TUG untuk memprediksi jatuh di masa depan bersifat bercampur: meskipun banyak studi retrospektif menunjukkan korelasi antara waktu TUG dan riwayat jatuh, hanya sedikit studi prospektif yang konsisten menunjukkan TUG sebagai prediktor jatuh di masa datang. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Instrumen lain dan kombinasi alat
-
Selain MFS dan TUG, ada banyak alat lain untuk penilaian risiko jatuh, dalam ulasan literatur 2021 disebut ada 38 alat berbeda yang digunakan dalam penelitian, tergantung setting (komunitas, rumah sakit, panti jompo). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beberapa penelitian terbaru juga merekomendasikan pendekatan multidimensional, menggunakan kombinasi tes fungsional, screening kesehatan, survei riwayat, dan penilaian lingkungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Misalnya, Berg Balance Scale (BBS) kadang dipakai untuk menilai keseimbangan dan efektivitas intervensi fisioterapi bagi lansia, terutama dalam program pencegahan jatuh atau rehabilitasi. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Strategi Pencegahan Jatuh pada Lansia
Pencegahan jatuh pada lansia harus komprehensif, meliputi intervensi personal, lingkungan, dan edukasi. Berikut strategi-strateginya:
-
Edukasi dan penyuluhan, Memberikan pengetahuan kepada lansia dan keluarga tentang faktor risiko jatuh, cara aman bergerak, pemakaian alat bantu, dan pentingnya pemeliharaan kesehatan. Sebuah penelitian intervensi menunjukkan bahwa edukasi pencegahan jatuh pada lansia dan keluarga dapat menurunkan skor risiko jatuh secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Latihan fisik dan peningkatan keseimbangan, Program latihan seperti latihan keseimbangan, koordinasi, kekuatan otot (misalnya latihan beban ringan, latihan keseimbangan) atau metode spesifik seperti Square Stepping Exercise (SSE) terbukti efektif menurunkan risiko jatuh pada lansia, dengan peningkatan stabilitas dan koordinasi. [Lihat sumber Disini - assyifa.forindpress.com]
-
Modifikasi lingkungan dan adaptasi rumah, Mengurangi risiko eksternal: lantai tidak licin, pencahayaan cukup, tambahkan pegangan atau handrail, atur perabot agar tidak menghalangi jalur berjalan, menggunakan alas anti-selip, dsb. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Monitoring kesehatan secara rutin & manajemen komorbiditas, Pengelolaan penyakit kronis, penglihatan, pengobatan, gangguan sensorik, serta evaluasi berkala status fisik bisa membantu mendeteksi perubahan yang meningkatkan risiko jatuh. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Penggunaan alat bantu dan asisten bila perlu, Jika mobilitas terbatas atau keseimbangan lemah, alat bantu jalan, kursi dengan sandaran, pegangan tangan bisa digunakan, dengan edukasi dan pengawasan agar penggunaan aman. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]
-
Pendekatan multidisipliner dalam perawatan lansia, Melibatkan tenaga kesehatan, fisioterapi, pengasuh, keluarga, untuk merancang program pencegahan dan pemantauan rutin. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Peran Perawat dalam Mengurangi Risiko Jatuh
Perawat memegang peran penting dalam manajemen pencegahan jatuh pada lansia, baik di fasilitas kesehatan, panti jompo, maupun dalam perawatan komunitas. Berikut peran dan tanggung jawabnya:
-
Melakukan screening risiko jatuh secara rutin, Dengan menggunakan instrumen seperti MFS, TUG, BBS, serta observasi kondisi fisik dan lingkungan lansia, perawat dapat mengidentifikasi lansia berisiko tinggi.
-
Memonitor kondisi kesehatan dan mobility lansia, Memeriksa kekuatan otot, keseimbangan, respons postural, keadaan kognitif dan sensorik, serta pemakaian obat/terapi, untuk mendeteksi faktor risiko intrinsik.
-
Memberikan edukasi kepada lansia dan keluarga/pengasuh, Menjelaskan pentingnya modifikasi lingkungan, latihan fisik, perilaku aman, serta risiko penggunaan obat atau aktivitas tertentu, sebagai bagian dari pencegahan jatuh.
-
Menyusun dan mengimplementasikan intervensi pencegahan, Termasuk latihan keseimbangan, koordinasi, mobilitas, secara rutin atau program rehabilitasi, serta memfasilitasi adaptasi lingkungan.
-
Kolaborasi dengan tim multidisipliner, Bekerja sama dengan fisioterapis, dokter, keluarga, pengasuh, untuk merancang rencana pencegahan jatuh, perawatan pasca-jatuh, dan pemantauan jangka panjang.
-
Evaluasi dan dokumentasi kejadian jatuh atau near-fall, Mencatat insiden, menganalisis penyebab, dan mengevaluasi efektivitas intervensi, guna memperbaiki kualitas perawatan dan pencegahan.
Peran aktif perawat sangat penting, karena mereka sering berada di garis depan interaksi dengan lansia, mampu mendeteksi perubahan dini, serta dapat memberikan edukasi dan intervensi preventif langsung.
Contoh Kasus Pencegahan Jatuh
Misalnya di sebuah panti lansia atau komunitas lansia, ditemukan bahwa banyak penghuni mengalami gangguan keseimbangan dan penggunaan obat-obatan tertentu. Perawat melakukan skrining menggunakan MFS dan TUG, lalu mengidentifikasi sejumlah lansia dengan risiko jatuh tinggi.
Kemudian, perawat bersama fisioterapis merancang program latihan keseimbangan dan kekuatan (misalnya latihan berdiri-duduk, latihan keseimbangan ringan, SSE), sekaligus melakukan modifikasi lingkungan: memperbaiki permukaan lantai (tidak licin), memasang pegangan tangan di kamar mandi dan tangga, memperbaiki pencahayaan, dan memastikan jalur berjalan aman dan lebar.
Setiap bulan dilakukan evaluasi ulang; lansia menjalani latihan rutin dan monitoring kesehatan. Hasilnya, jumlah insiden jatuh menurun secara signifikan dibanding periode sebelum intervensi.
Kasus semacam ini menunjukkan bahwa dengan identifikasi risiko, intervensi multidimensi, dan pengawasan rutin, jatuh pada lansia bisa dicegah secara efektif.
Kesimpulan
Risiko jatuh pada lansia merupakan masalah kesehatan serius yang bersifat multifaktorial, dipengaruhi oleh faktor intrinsik (penurunan fungsi fisik, keseimbangan, komorbiditas, mobilitas) dan faktor eksternal (lingkungan, gaya hidup, pengawasan, alat bantu).
Penilaian risiko menggunakan alat seperti MFS dan TUG sangat membantu dalam mengidentifikasi lansia berisiko tinggi, tetapi untuk efektivitas terbaik, sebaiknya dipadukan dengan evaluasi menyeluruh lingkungan, kesehatan, dan kondisi fungsional.
Strategi pencegahan harus komprehensif: edukasi, intervensi latihan fisik, modifikasi lingkungan, monitor kesehatan, kolaborasi tim multidisipliner, serta peran aktif perawat dan pengasuh.
Dengan penerapan langkah-langkah tersebut secara konsisten, diharapkan kejadian jatuh dan akibat buruknya pada lansia dapat diminimalisir, menjaga keselamatan, kemandirian, dan meningkatkan kualitas hidup lansia.