Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/gangguan-mobilitas-fisik-pasien-lansia  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia - SumberAjar.com

Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia

Pendahuluan

Seiring bertambahnya usia, banyak aspek fisiologis, psikologis, dan lingkungan seseorang mengalami perubahan. Pada lansia, salah satu permasalahan kesehatan yang paling sering dialami adalah penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik dan mobilitas. Penurunan mobilitas fisik pada lansia tidak hanya mempengaruhi kemampuan untuk bergerak, tetapi juga dapat menurunkan kemandirian, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan risiko komplikasi kesehatan lain seperti jatuh dan imobilitas berkepanjangan. Oleh karena itu, penting bagi perawat, keluarga, dan tenaga kesehatan untuk mengenali, menilai, dan melakukan intervensi yang sesuai untuk menjaga, atau bila mungkin memulihkan, mobilitas fisik pada lansia. Artikel ini bertujuan membahas secara mendalam pengertian mobilitas fisik pada lansia, faktor-faktor yang memengaruhi, tanda dan gejala penurunan mobilitas, dampak terhadap kualitas hidup, cara penilaian kemampuan mobilitas, intervensi keperawatan, serta contoh kasus nyata untuk menggambarkan kondisi tersebut.


Definisi Gangguan Mobilitas Fisik pada Lansia

Definisi Umum

Mobilitas fisik dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk bergerak secara mandiri, berjalan, berpindah posisi, berdiri, atau bergerak sesuai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa atau dengan minimal bantuan dari orang lain. Ketika kemampuan ini menurun, muncul kondisi yang dikenal sebagai gangguan mobilitas fisik. Menurut kajian literatur, gangguan mobilitas fisik merujuk pada keterbatasan dalam melakukan gerakan fisik pada satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

Definisi dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “mobilitas” merujuk pada kemampuan atau kebolehan berpindah tempat atau bergerak. Dengan demikian, “mobilitas fisik” pada lansia dapat diartikan sebagai kemampuan fisik lansia untuk berpindah dan bergerak secara mandiri. Apabila kemampuan ini terganggu, maka disebut gangguan mobilitas fisik.

Definisi Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi dari para ahli dan literatur keperawatan / gerontik:

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gangguan mobilitas fisik pada lansia mencerminkan kondisi di mana kemampuan untuk bergerak, berpindah posisi, atau melakukan aktivitas fisik rutin menurun sehingga menghambat kemandirian.


Faktor yang Memengaruhi Mobilitas pada Lansia

Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas pada lansia dapat dibagi ke dalam tiga kategori besar: fisiologis, psikologis, dan lingkungan.

Fisiologis

  • Penurunan fungsi sistem muskuloskeletal: Proses penuaan menyebabkan melemahnya otot, kekakuan sendi, penurunan massa otot, dan perubahan struktur tulang sehingga rentan terhadap nyeri, gangguan keseimbangan, dan kesulitan bergerak. [Lihat sumber Disini - jim.usk.ac.id]

  • Penyakit kronis / patologis: Penyakit seperti Stroke (hemoragik maupun iskemik), osteoporosa, gangguan persendian, dapat memicu gangguan mobilitas fisik pada lansia. [Lihat sumber Disini - jurnal.usy.ac.id]

  • Penurunan sistem saraf dan koordinasi gerak: Penuaan dan penyakit-penyakit kronis dapat mengganggu sistem saraf serta koordinasi motorik, sehingga gerakan menjadi terbatas. [Lihat sumber Disini - jurnal.intekom.id]

Psikologis

  • Penurunan motivasi atau semangat hidup: Penurunan mobilitas dapat menyebabkan lansia merasa kehilangan kemandirian dan merasa bergantung, yang memicu rasa frustrasi, depresi atau hilangnya semangat hidup. [Lihat sumber Disini - sejurnal.com]

  • Stigma terhadap lansia: Beberapa lansia mungkin merasa bahwa kemampuan mereka menurun, mengurangi kepercayaan diri untuk bergerak atau beraktivitas sehingga mobilitas semakin berkurang. [Lihat sumber Disini - ejournal2.undip.ac.id]

Lingkungan

  • Fasilitas fisik yang tidak mendukung: rumah dengan tangga, lantai licin, kurang pegangan, kurang pencahayaan dapat meningkatkan risiko jatuh dan membuat lansia enggan bergerak.

  • Kurangnya dukungan dari keluarga atau tenaga kesehatan: Lansia yang mendapat sedikit pendampingan atau bantuan dalam mobilitas rawan mengalami penurunan fungsi. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]

  • Pola hidup: Kurangnya aktivitas fisik rutin dapat mempercepat penurunan otot dan sendi, sehingga mobilitas semakin menurun.


Tanda dan Gejala Penurunan Mobilitas Fisik pada Lansia

Tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya gangguan mobilitas fisik pada lansia dapat bersifat subjektif maupun objektif. Berdasarkan literatur keperawatan (SDKI / PPNI 2017): [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

Subjektif

  • Keluhan kesulitan menggerakkan anggota tubuh atau ekstremitas.

  • Keluhan nyeri, kaku sendi, pegal, sulit berdiri atau berjalan.

Objektif

  • Penurunan kekuatan otot. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Penurunan rentang gerak sendi. [Lihat sumber Disini - ejournal.almaata.ac.id]

  • Gangguan postur atau keseimbangan. [Lihat sumber Disini - ejournal.almaata.ac.id]

  • Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari mandiri, seperti berdiri, berjalan, berpindah tempat. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

  • Risiko jatuh meningkat.


Dampak Gangguan Mobilitas pada Kualitas Hidup Lansia

Gangguan mobilitas fisik pada lansia memiliki dampak luas terhadap kualitas hidup, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial:

  • Penurunan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari → Lansia menjadi bergantung pada orang lain dalam hal berpindah tempat, mandi, berpakaian, makan, dll. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesmajapahit.ac.id]

  • Peningkatan risiko jatuh → Penelitian di 2025 menunjukkan bahwa lansia dengan mobilitas fisik terbatas memiliki risiko jatuh yang signifikan lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.univbatam.ac.id]

  • Kehilangan semangat hidup / depresi → Salah satu penelitian kualitatif mendapati bahwa penurunan mobilitas fisik pada lansia menyebabkan hilangnya semangat hidup, karena mereka merasa kehilangan kemandirian dan tidak bisa beraktivitas sosial. [Lihat sumber Disini - sejurnal.com]

  • Penurunan partisipasi sosial dan isolasi → Ketidakmampuan bergerak membuat lansia sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan, berkunjung, atau ikut kegiatan sosial sehingga meningkatkan risiko kesepian. [Lihat sumber Disini - ejournal.unjaya.ac.id]

  • Risiko komplikasi kesehatan lain → Imobilitas dapat menyebabkan kelemahan otot lanjut, kontraktur sendi, luka tekan, penurunan sirkulasi darah, serta penurunan kualitas hidup secara umum. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]


Penilaian Kemampuan Mobilitas pada Lansia (ADL, IADL, Tes Jalan, dsb.)

Penilaian mobilitas pada lansia penting untuk menentukan tingkat kemandirian dan kebutuhan intervensi. Beberapa metode penilaian yang umum digunakan:

  • Activities of Daily Living (ADL), menilai kemampuan lansia melakukan aktivitas dasar sehari-hari seperti mandi, berpakaian, makan, berpindah posisi, toileting, dan mobilitas sederhana. Jika ADL menurun, menandakan penurunan mobilitas dasar.

  • Instrumental Activities of Daily Living (IADL), menilai kemampuan lansia melakukan aktivitas yang lebih kompleks secara mandiri seperti belanja, mengurus rumah, menggunakan transportasi, dan aktivitas sosial. Penurunan IADL sering menunjukkan kehilangan kemandirian yang lebih luas.

  • Tes berjalan dan mobilitas fisik, misalnya Timed Up and Go (TUG) Test, pemeriksaan rentang gerak sendi, pengukuran kekuatan otot, observasi postur dan keseimbangan. Banyak penelitian keperawatan menggunakan TUG dan pengukuran kekuatan otot serta rentang gerak untuk menilai efektivitas intervensi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.univbatam.ac.id]

  • Observasi klinis dan wawancara, tenaga kesehatan dapat menilai apakah lansia mengalami kesulitan saat bergerak, mengeluh nyeri, kaku, atau takut jatuh dalam aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]


Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Mobilitas Lansia

Penanganan gangguan mobilitas fisik pada lansia harus disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan. Berikut beberapa intervensi yang efektif berdasarkan studi terkini:

  • Range of Motion (ROM) (aktif atau pasif), banyak penelitian menunjukkan bahwa latihan ROM secara rutin dapat meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki rentang gerak sendi, serta mengurangi kekakuan dan perasaan kaku pada lansia, terutama setelah stroke. [Lihat sumber Disini - digital-science.pubmedia.id]

  • Latihan kekuatan otot menggunakan alat bantu, misalnya penggunaan elastic band dan bola karet untuk melatih kekuatan ekstremitas serta meningkatkan mobilitas fungsional. Studi 2023 pada lansia post stroke dengan kelemahan ekstremitas menunjukkan peningkatan kemampuan mobilisasi secara signifikan setelah intervensi. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]

  • Mobilisasi dini dan ambulasi, bagi lansia dengan risiko imobilitas (misalnya pasca-stroke), perawat bisa merencanakan mobilisasi sejak dini untuk mencegah komplikasi imobilitas dan melatih kembali kemampuan berjalan serta berdiri. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]

  • Perawatan terpadu dengan kombinasi terapi non-farmakologis, selain latihan fisik, perawatan bisa termasuk pemijatan lembut, kompres hangat, relaksasi, serta dukungan sosial dan emosional agar lansia tetap termotivasi melakukan latihan secara konsisten. [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]

  • Edukasi dan dukungan keluarga, penting agar keluarga memahami kondisi lansia, memotivasi, membantu mobilisasi, serta menciptakan lingkungan rumah yang aman dan mendukung mobilitas (pegangan, lantai tidak licin, akses mudah). Studi menunjukkan bahwa pengetahuan keluarga berpengaruh besar terhadap keberhasilan perawatan mobilitas lansia. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]


Contoh Kasus Mobilitas Lansia

Salah satu studi kasus terbaru (2025) pada lansia dengan stroke non-hemoragik menunjukkan bahwa setelah dilakukan latihan ROM selama beberapa hari, pasien mengalami peningkatan pada rentang gerak, kekuatan otot, dan koordinasi gerakan, yang berdampak pada kemampuan mobilitas fungsional serta kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]

Contoh lain: pada lansia dengan osteoporosa di Desa Maradekaya, melalui pendekatan keperawatan meliputi mobilisasi dan latihan kekuatan otot, kemampuan mobilitas fisik meningkat dan risiko komplikasi seperti jatuh dapat berkurang. [Lihat sumber Disini - jurnal.usy.ac.id]

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa dengan intervensi tepat dan konsisten, penurunan mobilitas pada lansia tidak selalu bermakna permanen, masih ada harapan peningkatan kualitas hidup melalui perawatan dan latihan.


Kesimpulan

Gangguan mobilitas fisik pada lansia adalah kondisi serius yang mencerminkan penurunan kemampuan bergerak secara mandiri, akibat kombinasi faktor fisiologis, patologis, psikologis, dan lingkungan. Dampaknya tidak hanya pada fisik, seperti penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, risiko jatuh, tetapi juga pada aspek psikologis dan kualitas hidup secara umum. Oleh karena itu, penilaian menyeluruh dengan ADL, IADL, dan tes mobilitas perlu dilakukan secara rutin. Intervensi keperawatan seperti latihan ROM, penguatan otot, mobilisasi dini, serta dukungan keluarga dan lingkungan terbukti efektif membantu meningkatkan mobilitas dan kemandirian lansia. Dengan pendekatan komprehensif, kualitas hidup lansia dapat dijaga dan bahkan ditingkatkan meskipun ada kondisi medis seperti stroke atau osteoporosis.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Gangguan mobilitas fisik pada lansia adalah kondisi ketika kemampuan bergerak menurun, seperti kesulitan berjalan, berdiri, atau berpindah posisi, akibat perubahan fisiologis, penyakit kronis, serta faktor psikologis dan lingkungan.

Mobilitas lansia dipengaruhi oleh faktor fisiologis seperti penurunan massa otot dan penyakit kronis, faktor psikologis seperti kecemasan atau depresi, serta faktor lingkungan seperti rumah yang tidak aman atau kurangnya dukungan keluarga.

Tanda penurunan mobilitas pada lansia meliputi kelemahan otot, rentang gerak terbatas, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, mudah lelah, dan meningkatnya risiko jatuh.

Penilaian mobilitas lansia dapat dilakukan melalui ADL, IADL, tes berjalan seperti TUG Test, pemeriksaan kekuatan otot dan rentang gerak, serta observasi aktivitas sehari-hari.

Intervensi yang efektif meliputi latihan Range of Motion (ROM), latihan kekuatan otot, mobilisasi dini, edukasi keluarga, serta penyesuaian lingkungan agar lebih aman dan mendukung aktivitas fisik lansia.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Gangguan Mobilitas Fisik Lansia: Konsep, Determinan, dan Dampak Gangguan Mobilitas Fisik Lansia: Konsep, Determinan, dan Dampak Risiko Jatuh pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia Pola Mobilitas Pasien Stroke Pola Mobilitas Pasien Stroke Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi Pola Mobilitas Pasien Stroke: Konsep, Hambatan, dan Implikasi Rehabilitasi Pola Mobilitas Pasien Stroke: Konsep, Hambatan, dan Implikasi Rehabilitasi Mobilitas Sosial: Konsep dan Jenis Pergerakan Sosial Mobilitas Sosial: Konsep dan Jenis Pergerakan Sosial Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan Aktivitas Fisik Lansia Aktivitas Fisik Lansia Kualitas Hidup Lansia Kualitas Hidup Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan Kesehatan Lansia Kesehatan Lansia Pola Mobilitas Post Operasi Pola Mobilitas Post Operasi Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Pola Mobilitas Pasca Operasi: Konsep, Hambatan, dan Pemulihan Pola Mobilitas Pasca Operasi: Konsep, Hambatan, dan Pemulihan Penyakit Degeneratif pada Lansia Penyakit Degeneratif pada Lansia Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Hydration Level pada Lansia Hydration Level pada Lansia
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…