
Self-Efficacy Kesehatan: Konsep, Determinan Psikososial, dan Pengaruh Perilaku
Pendahuluan
Kesehatan tidak hanya ditentukan oleh tingkat akses layanan medis atau faktor biologis semata, tetapi juga oleh kemampuan individu untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang mendukung kesehatannya. Salah satu konstruk psikologis yang sangat berpengaruh dalam menentukan perilaku kesehatan adalah self-efficacy atau efikasi diri. Self-efficacy merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melaksanakan tindakan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai tuntutan dan situasi hidup, termasuk kesehatan. Efikasi diri yang kuat berkaitan erat dengan perilaku positif seperti kepatuhan pada pengobatan, gaya hidup sehat, dan keterlibatan aktif dalam pencegahan penyakit, serta menunjukkan kemampuan individu untuk mengatasi hambatan psikososial yang mungkin muncul dalam perubahan perilaku. Konsep ini ikut membentuk model perilaku kesehatan yang banyak diacu dalam promosi kesehatan dan intervensi klinis, karena keyakinan internal ini membantu menjelaskan mengapa beberapa individu lebih konsisten dalam menjalankan tindakan sehat dibandingkan yang lain. Berbagai penelitian dalam konteks kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa tingkat self-efficacy yang tinggi dapat meningkatkan kepatuhan terhadap perilaku sehat dan mampu memodifikasi faktor risiko penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi Self-Efficacy Kesehatan
Definisi Self-Efficacy Secara Umum
Self-efficacy atau efikasi diri secara umum didefinisikan sebagai keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan tertentu dan mencapai hasil yang diinginkan, baik dalam konteks prestasi akademik, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Definisi ini menekankan bahwa self-efficacy bukan sekadar kemampuan aktual, tetapi lebih pada persepsi individu terhadap kemampuannya sendiri dalam mengendalikan situasi dan mencapai tujuan spesifik. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Definisi Self-Efficacy dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), efikasi sering diartikan sebagai kemujaraban atau kemampuan menghasilkan efek. Ketika dikaitkan dengan diri sendiri (self), self-efficacy menggambarkan keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan yang akan menghasilkan hasil yang diharapkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.uncen.ac.id]
Definisi Self-Efficacy Menurut Para Ahli
-
Albert Bandura, Psikolog yang pertama kali mengembangkan konsep self-efficacy menjelaskan bahwa self-efficacy adalah keyakinan individu tentang kemampuannya sendiri untuk mengatur dan menjalankan tindakan yang diperlukan untuk mencapai prestasi tertentu dalam situasi spesifik. Bandura juga menekankan peran self-efficacy dalam menentukan motivasi, ketekunan, dan cara menghadapi tantangan yang kompleks. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Santrock, Menyatakan bahwa self-efficacy adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
-
Pervin (dalam Bart Smet), Menyatakan bahwa self-efficacy mengacu pada kemampuan yang dirasakan untuk membentuk perilaku yang relevan pada tugas atau situasi tertentu, yang mempengaruhi pilihan aktivitas, kesungguhan usaha, dan daya tahan terhadap hambatan. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
-
Ormrod, Mengemukakan bahwa self-efficacy adalah keyakinan individu bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha mereka sendiri dalam berbagai situasi tekanan. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
Konsep Self-Efficacy dalam Kesehatan
Self-efficacy dalam konteks kesehatan merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengambil tindakan yang membantu mempertahankan atau meningkatkan kesehatannya. Hal ini mencakup keyakinan untuk mengikuti pengobatan, menjalankan diet sehat, berolahraga secara teratur, menghindari perilaku berisiko seperti merokok, serta mampu mengatasi hambatan psikologis dalam menerapkan perilaku sehat. Penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy berperan sebagai prediktor kuat dalam keterlibatan individu terhadap tindakan pencegahan dan pengelolaan kondisi kesehatan, termasuk pengendalian penyakit kronis dan komitmen terhadap gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Determinan Psikososial Self-Efficacy
Determinans psikososial merupakan faktor lingkungan dan sosial yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan self-efficacy. Determinan ini tidak hanya berasal dari kepercayaan internal individu, tetapi juga dari interaksi sosial dan lingkungan yang membentuk ekspektasi perilaku. Beberapa determinan psikososial penting meliputi:
Pengalaman Pribadi (Mastery Experiences)
Pengalaman berhasil dalam melakukan tugas tertentu menjadi sumber paling kuat dalam meningkatkan self-efficacy. Ketika individu berhasil mencapai target atau menyelesaikan tantangan kesehatan di masa lalu, hal tersebut memperkuat keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengulangi tindakan serupa di masa depan. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
Pengamatan pada Orang Lain (Vicarious Experiences)
Observasi terhadap individu lain yang berhasil melakukan tindakan tertentu dapat membentuk keyakinan seseorang bahwa mereka juga mampu melakukannya. Dalam konteks kesehatan, ini bisa berupa melihat teman atau keluarga berhasil mempertahankan gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
Dukungan Sosial dan Verbal Persuasi
Interaksi sosial yang positif, seperti dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, atau komunitas, berperan dalam memperkuat keyakinan individu. Dorongan verbal yang konsisten dan positif dapat membantu individu mempercayai kemampuan mereka untuk melakukan tindakan sehat. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Keadaan Emosional dan Psikologis
Kondisi emosional seperti stres, kecemasan, dan suasana hati dapat mempengaruhi persepsi self-efficacy. Individu yang mampu mengelola emosi dengan baik cenderung memiliki keyakinan lebih kuat dalam mengejar tindakan kesehatan yang diinginkan. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
Peran Pengalaman dan Dukungan Sosial
Pengalaman langsung dalam mencapai tujuan kesehatan serta dukungan sosial memainkan peran penting dalam membentuk self-efficacy. Dalam promosi kesehatan, praktik bimbingan, model peran (role modeling), dan program dukungan kelompok sering digunakan untuk meningkatkan keyakinan individu dalam menjalankan perilaku sehat. Studi di Indonesia misalnya menunjukkan bahwa self-efficacy terkait erat dengan perilaku berkelanjutan seperti penggunaan jamban yang konsisten di masyarakat pedesaan, di mana self-efficacy menjadi mediator utama antara persepsi komunitas dan perilaku kesehatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Hubungan Self-Efficacy dengan Perilaku Kesehatan
Tingkat self-efficacy berdampak langsung terhadap perilaku kesehatan yang diadopsi individu. Studi internasional menunjukkan bahwa individu dengan self-efficacy yang tinggi lebih mungkin untuk mempertahankan diet sehat, rutin berolahraga, berhenti merokok, dan lebih konsisten dalam pengobatan penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dalam perilaku kesehatan masyarakat di Indonesia, hubungan antara self-efficacy dan modifikasi gaya hidup juga terlihat pada pasien hipertensi dan pasien penyakit lainnya; individu dengan efikasi diri kuat menunjukkan manajemen diri yang lebih baik dan keterlibatan aktif dalam perubahan perilaku sehat. [Lihat sumber Disini - journal.stikesyarsimataram.ac.id]
Dampak Self-Efficacy terhadap Kepatuhan dan Konsistensi
Self-efficacy tidak hanya mempengaruhi keputusan awal untuk mengadopsi perilaku sehat, tetapi juga keberlanjutan dan kepatuhan jangka panjang terhadap tindakan tersebut. Individu dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih konsisten menjalankan regimen kesehatan, seperti mengikuti pengobatan diabetes atau terapi rehabilitasi, bahkan saat menghadapi hambatan psikososial. Self-efficacy yang rendah sering menjadi faktor risiko non-kepatuhan, menyebabkan kegagalan dalam mencapai hasil kesehatan yang optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Strategi Peningkatan Self-Efficacy Kesehatan
Untuk mendorong perilaku sehat yang berkelanjutan, berbagai strategi telah digunakan dalam promosi kesehatan:
Intervensi Pendidikan dan Pelatihan
Peningkatan pengetahuan melalui edukasi kesehatan yang tepat dapat membantu individu memahami tindakan spesifik yang perlu diambil, sehingga meningkatkan keyakinan mereka untuk melaksanakannya.
Pendekatan Model Peran dan Bimbingan
Peragaan perilaku sehat oleh tokoh masyarakat, peer support groups, dan pelatihan keterampilan dapat memberikan pengalaman vicarious experience yang kuat.
Pendekatan Dukungan Komunitas
Membangun lingkungan sosial yang mendukung melalui kelompok komunitas, keluarga, atau dukungan profesional kesehatan dapat memperkuat dorongan verbal dan persuasif untuk mencapai target kesehatan.
Manajemen Emosi dan Motivasi
Program pengelolaan stres dan penguatan psikososial membantu individu untuk mengatasi hambatan emosional yang mungkin mengurangi keyakinan diri dalam melakukan perubahan perilaku.
Kesimpulan
Self-efficacy kesehatan merupakan konstruk kunci dalam perilaku kesehatan yang mencerminkan keyakinan individu untuk melakukan tindakan yang mendukung kesehatannya. Konsep ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengalaman pribadi, tetapi juga oleh faktor psikososial termasuk dukungan sosial dan keadaan emosional. Tingkat self-efficacy yang tinggi berkaitan erat dengan peningkatan perilaku kesehatan yang positif, kepatuhan terhadap regimen kesehatan, dan konsistensi jangka panjang dalam memelihara gaya hidup sehat. Intervensi yang menargetkan peningkatan self-efficacy melalui pendidikan, pengalaman terarah, dan dukungan komunitas dapat menjadi strategi efektif dalam upaya promosi kesehatan masyarakat.