
Self-Efficacy Ibu Menyusui
Pendahuluan
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi memiliki manfaat besar bagi kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi serta mendukung ketahanan imun, tumbuh-kembang optimal, dan kesehatan jangka panjang. Namun di banyak daerah di Indonesia, capaian ASI eksklusif masih belum sesuai target nasional maupun rekomendasi global. Salah satu faktor psikologis yang memengaruhi keberhasilan menyusui adalah kepercayaan diri atau keyakinan ibu terhadap kemampuannya menyusui, dikenal dengan istilah self-efficacy menyusui. Tingkat self-efficacy yang tinggi dapat mendukung ibu dalam memulai menyusui, mempertahankan pemberian ASI, dan menghadapi berbagai tantangan menyusui. Oleh karena itu penting untuk memahami konsep self-efficacy dalam konteks menyusui, faktor-faktornya, serta bagaimana self-efficacy ini berkaitan dengan keberhasilan ASI eksklusif.
Artikel ini akan membahas definisi self-efficacy dalam konteks menyusui, faktor pembentuknya, pengaruh pengalaman menyusui, peran dukungan lingkungan dan tenaga kesehatan, keterkaitan dengan produksi ASI, serta hambatan dan dampak terhadap keberhasilan ASI eksklusif.
Definisi Self-Efficacy
Definisi Secara Umum
Self-efficacy secara umum merujuk pada keyakinan individu atas kemampuannya untuk melaksanakan suatu tindakan tertentu guna mencapai hasil yang diharapkan. Istilah ini populer dalam psikologi sosial dan pengembangan diri, di mana kepercayaan diri terhadap kemampuan sendiri menjadi penentu apakah seseorang akan memulai, bertahan, dan berhasil dalam perilaku tertentu. Dalam konteks menyusui, self-efficacy berarti keyakinan ibu bahwa ia mampu menyusui bayinya dengan baik, mulai dari inisiasi menyusui, manajemen laktasi, hingga mempertahankan ASI eksklusif.
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “efikasi” atau “efikasi diri” dapat diartikan sebagai “kemampuan seseorang untuk menghasilkan efek atau hasil sesuai harapan melalui usaha dan kepercayaan diri sendiri.” Dengan demikian, self-efficacy ibu menyusui mengacu pada kepercayaan dan keyakinan seorang ibu terhadap kemampuannya menyusui bayi dengan efektif dan berhasil. (Catatan: karena KBBI tidak secara spesifik menguraikan ‘self-efficacy menyusui’, definisi ini dapat diturunkan dari pengertian umum efikasi diri dalam KBBI dipadukan dengan konteks menyusui.)
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa pakar/peneliti psikologi dan kebidanan mendefinisikan self-efficacy dalam konteks menyusui sebagai berikut:
-
Dalam penelitian oleh Setyorini dkk. (2025), self-efficacy menyusui (BSE, Breastfeeding Self-Efficacy) dijelaskan sebagai “keyakinan diri ibu dalam menyusui” yang menentukan komitmen, usaha, pola pikir, serta kemampuan untuk menghadapi tantangan menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesmus.ac.id]
-
Dalam literatur umum kebidanan, self-efficacy menyusui disebut sebagai “kemampuan mengevaluasi dan mempersepsikan diri sendiri bahwa ia mampu melaksanakan menyusui secara efektif, termasuk kesiapan fisik maupun psikologis”. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Penelitian di Kabupaten Pringsewu (2022) menegaskan bahwa BSE adalah faktor psikologis penting yang memprediksi hasil menyusui, yaitu apakah ibu mampu memberikan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Dalam kajian intervensi, BSE dianggap sebagai variabel modifikatif: dengan edukasi/laktasi manajemen/dukungan, self-efficacy dapat ditingkatkan sehingga mempengaruhi keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Dengan demikian, self-efficacy menyusui adalah kombinasi dari keyakinan, persepsi, dan kesiapan ibu, fisik maupun psikologis, untuk menyusui secara efektif.
Konsep Self-Efficacy dalam Menyusui
Konsep self-efficacy menyusui (sering disingkat BSE, Breastfeeding Self-Efficacy) muncul sebagai aspek psikologis penting dalam praktik menyusui. BSE bukan sekadar semangat atau niat, melainkan keyakinan ibu terhadap kemampuannya secara riil, termasuk kompetensi teknik menyusui, kemampuan menghadapi tantangan (seperti rasa sakit, kelelahan, bayi rewel), serta kemauan untuk bertahan memberi ASI.
Penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan BSE tinggi lebih mungkin berhasil memberikan ASI eksklusif, sedangkan mereka dengan BSE rendah cenderung menghadapi kesulitan dan kemungkinan besar berhenti lebih awal. [Lihat sumber Disini - internationalbreastfeedingjournal.biomedcentral.com]
Dalam praktik kebidanan, memahami BSE membantu tenaga kesehatan merancang intervensi, seperti edukasi laktasi, konseling, dukungan keluarga, untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu, sehingga mendukung keberhasilan ASI eksklusif.
Faktor yang Membentuk Self-Efficacy
Beberapa faktor empiris/riset menunjukkan bahwa BSE dipengaruhi oleh berbagai aspek, baik internal maupun eksternal ibu menyusui. Berikut faktor-faktornya:
-
Pengetahuan tentang menyusui: ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang teknik menyusui, manajemen laktasi, manfaat ASI, cenderung memiliki BSE lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Sikap dan kepercayaan diri: aspek psikologis seperti sikap positif terhadap menyusui, self-confidence, dan rendahnya kecemasan mendukung BSE. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Dukungan keluarga / lingkungan sosial: dukungan suami, keluarga, atau orang dekat terbukti meningkatkan BSE ibu. Dalam satu studi, sebagian besar ibu dengan dukungan keluarga baik memiliki BSE tinggi. [Lihat sumber Disini - aisyah.journalpress.id]
-
Pengalaman menyusui sebelumnya / pengalaman langsung (mastery experience): ibu yang pernah menyusui, atau memiliki pengalaman positif dalam menyusui, cenderung lebih percaya diri saat menyusui kembali. Beberapa intervensi pun membangun BSE melalui pengalaman langsung dan latihan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
-
Manajemen laktasi & edukasi dari tenaga kesehatan: edukasi kesehatan ASI, konseling laktasi, bimbingan postpartum, serta manajemen laktasi mendukung peningkatan BSE. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
-
Situasi psikologis dan emosional, termasuk kecemasan, stres, dukungan suami: ibu dengan stres tinggi atau tanpa dukungan psiko-sosial mungkin memiliki BSE lebih rendah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Status pekerjaan / kondisi kerja: bagi ibu bekerja, kepercayaan diri untuk menyusui dan persepsi terhadap kontrol lingkungan kerja (misalnya ada waktu, tempat memerah/mengosongkan payudara) mempengaruhi BSE. [Lihat sumber Disini - scitepress.org]
Faktor-faktor ini saling terkait; kombinasi pengetahuan, pengalaman, dukungan, dan kondisi nyata mendasari tingkat BSE seorang ibu.
Pengaruh Pengalaman Menyusui terhadap Kepercayaan Diri
Pengalaman langsung, seperti pernah menyusui, berhasil memberi ASI, menghadapi tantangan laktasi, berperan penting sebagai dasar membangun atau menurunkan kepercayaan diri (self-efficacy). Ibu yang memiliki pengalaman positif (misalnya menyusui berjalan lancar, produksi ASI cukup, bayi menyusu baik) biasanya memiliki BSE lebih tinggi ketika menyusui anak berikutnya. Sebaliknya, pengalaman negatif (misalnya kesulitan laktasi, ASI sedikit, bayi sulit menyusu) dapat menurunkan BSE, membuat ibu ragu atau enggan melanjutkan menyusui.
Beberapa intervensi, seperti konseling, edukasi, latihan laktasi, memanfaatkan aspek pengalaman ini: dengan memberikan simulasi atau panduan menyusui, ibu dapat membangun kepercayaan sebelum atau saat menyusui. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
Artinya, pengalaman nyata dan dukungan teknis/praktis dalam menyusui sangat menentukan apakah ibu yakin bahwa ia mampu menjalankan menyusui secara efektif.
Peran Dukungan Lingkungan dan Tenaga Kesehatan
Dukungan dari lingkungan sekitar, keluarga, suami, anggota keluarga lain, teman, serta dari tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, memainkan peran krusial dalam membentuk dan mempertahankan BSE.
-
Studi menunjukkan bahwa ibu hamil/menyusui yang mendapat dukungan keluarga baik, baik dalam bentuk emosional, fisik, maupun informasi, cenderung memiliki BSE tinggi. [Lihat sumber Disini - aisyah.journalpress.id]
-
Suami atau pasangan juga memiliki peran besar. Dalam penelitian di beberapa daerah di Indonesia, keberhasilan ASI eksklusif dipengaruhi juga oleh self-efficacy ayah (dukungan dan keyakinan pasangan terhadap menyusui). [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
-
Tenaga kesehatan (bidan, perawat, dokter, konselor laktasi), melalui edukasi, manajemen laktasi, konsultasi, bimbingan menyusui, dapat meningkatkan BSE ibu. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
-
Lingkungan kerja dan kondisi sosial (misalnya fasilitas memerah ASI di tempat kerja, waktu istirahat, penerimaan menyusui di masyarakat) juga mempengaruhi BSE, khususnya bagi ibu bekerja. [Lihat sumber Disini - scitepress.org]
Karena itu, mendukung ibu tidak hanya secara individual, tetapi juga dengan lingkungan sosial dan sistem layanan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan self-efficacy dan mendukung keberhasilan menyusui.
Self-Efficacy dan Hubungannya dengan Produksi ASI
Kepercayaan diri ibu dalam menyusui tidak hanya berdampak pada perilaku menyusui, tetapi juga berhubungan dengan produksi ASI itu sendiri. Sebuah studi terbaru (2025) menunjukkan bahwa BSE berhubungan signifikan dengan kelancaran produksi ASI, ibu yang memiliki persepsi positif dan keyakinan tinggi terhadap kemampuan menyusui cenderung melaporkan produksi ASI yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
Artinya, self-efficacy bukan sekadar modul psikologis, melainkan dapat mempengaruhi aspek fisiologis melalui mekanisme seperti manajemen laktasi yang tepat, frekuensi menyusui atau memerah, serta konsistensi dalam memberi ASI, yang semuanya mendukung produksi ASI yang memadai.
Hambatan dalam Membangun Self-Efficacy
Meskipun penting, membangun BSE tidak selalu mudah. Beberapa hambatan yang sering muncul:
-
Kurangnya pengetahuan dan edukasi tentang teknik menyusui, manajemen laktasi, tanda-tanda bayi menyusu efektif. Tanpa informasi yang tepat, ibu bisa ragu kemampuan dirinya.
-
Dukungan keluarga atau lingkungan yang kurang, misalnya suami atau keluarga tidak mendukung menyusui, kurang pengertian, atau bahkan menentang.
-
Stigma sosial atau lingkungan kerja yang tidak mendukung menyusui (tidak ada fasilitas menyusui, kurang waktu, persepsi negatif terhadap ibu menyusui di luar rumah). Hal ini khususnya mempengaruhi ibu bekerja.
-
Pengalaman awal menyusui yang negatif, seperti kesulitan laktasi, rasa sakit, produksi ASI sedikit, dapat menurunkan kepercayaan diri.
-
Tekanan psikologis, kecemasan, stres, kelelahan postpartum, kondisi fisik atau emosional ibu pasca-melahirkan yang berat bisa menghambat BSE.
-
Kurangnya akses ke tenaga kesehatan atau konselor laktasi, tanpa bimbingan profesional, ibu mungkin kesulitan menerapkan teknik menyusui yang baik atau menghadapi masalah laktasi.
Hambatan-hambatan ini bisa saling memperkuat, sehingga penting adanya intervensi menyeluruh, meliputi edukasi, dukungan sosial, fasilitas pendukung, dan konseling, agar BSE dapat dibangun dan dipertahankan.
Dampak Self-Efficacy terhadap Keberhasilan ASI Eksklusif
Berdasarkan sejumlah penelitian di Indonesia dalam rentang tahun 2021, 2025 dan beberapa tahun sebelumnya, terdapat konsistensi bahwa BSE tinggi berkorelasi positif dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Beberapa temuan:
-
Studi di wilayah kerja Puskesmas Ngabang (Kalimantan Barat) menunjukkan ibu dengan BSE rendah cenderung tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi 0, 6 bulan; terdapat hubungan signifikan antara BSE dan keberhasilan ASI eksklusif (p < 0, 05). [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Penelitian lain di berbagai wilayah Indonesia juga mendapati bahwa BSE merupakan faktor dominan dalam keberhasilan menyusui eksklusif. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.untad.ac.id]
-
Selain itu, BSE juga terkait dengan durasi menyusui dan pola menyusui, ibu dengan BSE rendah lebih mungkin berhenti menyusui lebih awal atau menyusui dengan durasi singkat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Intervensi yang meningkatkan BSE, seperti edukasi, konseling, manajemen laktasi, dapat membantu ibu dalam mempertahankan ASI eksklusif dan meningkatkan produksi ASI. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
Dengan demikian, self-efficacy menyusui bukan sekadar teori, melainkan variabel kunci dalam upaya meningkatkan cakupan dan kualitas pemberian ASI eksklusif.
Kesimpulan
Self-efficacy ibu menyusui, yakni keyakinan dan kepercayaan diri ibu terhadap kemampuannya menyusui, merupakan komponen psikologis penting yang sangat mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Definisi self-efficacy menyusui melibatkan aspek keyakinan terhadap kemampuan diri, kesiapan fisik-psikologis, dan persepsi terhadap tantangan menyusui.
Faktor-faktor utama yang membentuk BSE meliputi pengetahuan, sikap, pengalaman menyusui, dukungan keluarga/lingkungan, serta bimbingan dari tenaga kesehatan. Dukungan sosial dan lingkungan yang mendukung sangat membantu meningkatkan BSE, begitu pula pengalaman positif dan manajemen laktasi yang baik. Hambatan, seperti kurangnya edukasi, dukungan, fasilitas, atau pengalaman negatif, dapat menurunkan BSE dan menghambat praktik menyusui.
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ibu dengan BSE tinggi cenderung lebih berhasil mempertahankan ASI eksklusif, memberikan ASI lebih lama, dan memiliki produksi ASI yang lebih lancar. Oleh karena itu, intervensi yang bertujuan meningkatkan self-efficacy ibu, misalnya melalui edukasi, konseling, dukungan keluarga, manajemen laktasi, sangat penting dalam upaya meningkatkan cakupan dan keberhasilan ASI eksklusif di Indonesia.
Mengingat peran krusial BSE, program kesehatan maternal dan child-health seharusnya memasukkan aspek psikologis ini sebagai bagian dari strategi. Peningkatan pengetahuan, dukungan sosial, akses konseling & edukasi laktasi, serta lingkungan yang mendukung menyusui (termasuk di tempat kerja) dapat memperkuat kepercayaan diri ibu dan mendukung keberhasilan menyusui eksklusif.