
Hubungan Paritas dengan Kualitas Laktasi
Pendahuluan
Pemberian ASI (air susu ibu) secara eksklusif dan keberhasilan laktasi menjadi aspek penting dalam kesehatan ibu dan bayi. Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan menyusui, salah satunya adalah paritas, yaitu jumlah anak yang pernah dilahirkan ibu. Paritas dapat memengaruhi pengalaman menyusui, produksi ASI, serta kelangsungan pemberian ASI eksklusif. Artikel ini membahas secara mendalam bagaimana paritas berkaitan dengan kualitas laktasi, mencakup aspek fisiologis, psikologis, sosial, dan edukasi, serta implikasinya terhadap keberhasilan menyusui.
Definisi Paritas
Definisi Paritas Secara Umum
Paritas merujuk pada jumlah kehamilan yang telah berakhir pada saat persalinan, baik hidup maupun lahir mati. Dalam konteks ibu menyusui, paritas sering dibedakan antara ibu primipara (melahirkan anak pertama) dan multipara (melahirkan lebih dari satu anak).
Definisi Paritas dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), paritas biasanya diartikan sebagai keadaan atau jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu. (Catatan: definisi spesifik KBBI bisa diperiksa langsung di laman KBBI).
Definisi Paritas Menurut Para Ahli
-
Dalam penelitian Maternal Parity and Onset of Lactation on Postpartum Mothers, paritas digunakan sebagai variabel untuk menilai waktu timbulnya laktasi pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Breastfeeding Outcome Comparison by Parity menunjukkan bahwa multipara lebih cenderung memulai menyusui dan mempertahankan durasi menyusui lebih lama dibanding primipara. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam studi The effect of parity on the incidence of breast-feeding duration and its predictors among lactating mothers in East Gojjam Zone, Northwest Ethiopia, paritas dianalisis sebagai faktor risiko durasi menyusui pendek. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sebuah penelitian baru tahun 2025, Hubungan Pengetahuan Ibu, Paritas dan Pemberian ASI, juga memasukkan paritas sebagai variabel utama untuk melihat pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ejournal.amirulbangunbangsapublishing.com]
Dengan demikian, paritas merupakan variabel demografis/obstetrik yang sering digunakan dalam riset laktasi untuk mengevaluasi bagaimana pengalaman kehamilan dan kelahiran sebelumnya memengaruhi praktik menyusui berikutnya.
Pengaruh Paritas terhadap Pengalaman Menyusui
Ibu multipara, karena pengalaman dari kehamilan atau kelahiran sebelumnya, sering memiliki “pengetahuan empiris” yang lebih baik tentang menyusui dibanding ibu primipara. Hal ini tercermin dalam kecenderungan multipara untuk lebih sering memulai menyusui dan mempertahankannya lebih lama. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Namun demikian, hasil tidak konsisten di berbagai studi: ada penelitian di mana paritas tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan keberhasilan atau durasi menyusui. [Lihat sumber Disini - ejurnal-citrakeperawatan.com]
Faktor pengalaman menyusui sebelumnya juga bisa menjadi pedang bermata dua, jika pengalaman awal menyusui buruk (masalah teknik menyusui, masalah produksi ASI, kurang dukungan), hal tersebut bisa mempengaruhi motivasi ibu multipara untuk menyusui anak berikutnya. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Faktor Fisiologis yang Berubah Berdasarkan Paritas
Beberapa aspek fisiologis laktasi dapat berbeda antara primipara dan multipara:
-
Waktu munculnya ASI awal / laktogenesis: dalam penelitian pada ibu postpartum, onset laktasi sering terjadi antara 24, 48 jam setelah melahirkan, dan jenis kelahiran maupun paritas bisa mempengaruhi waktu ini. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Produksi ASI di hari-hari pertama: sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada hari ke-4 postpartum, produksi ASI cenderung lebih tinggi pada ibu multipara dibanding primipara. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Namun, ketika laktasi sudah mapan (established lactation), banyak studi menunjukkan bahwa asupan ASI bayi, yaitu jumlah susu yang diterima bayi, tidak secara signifikan berbeda antara ibu primipara dan multipara dalam populasi dengan status gizi baik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan demikian, secara fisiologis, paritas dapat mempengaruhi fase awal laktasi, terutama onset laktasi dan output awal, namun efeknya terhadap produksi jangka panjang bisa dipengaruhi faktor lain.
Hubungan Paritas dengan Produksi ASI
Produksi ASI (volume, kelancaran, konsistensi) sering dipelajari dalam kaitannya dengan paritas. Beberapa temuan:
-
Studi internasional lama menunjukkan bahwa pada laktasi kedua, produksi ASI bisa meningkat signifikan, misalnya pada minggu pertama produksi naik sekitar 31 % dibanding laktasi pertama. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Sebaliknya, dalam penelitian di Desa Hutarimbaru, Indonesia (2025), meskipun peneliti mengkaji hubungan pengetahuan ibu dan paritas terhadap produksi ASI, hasilnya tidak selalu menunjukkan paritas sebagai faktor dominan karena sampel relatif kecil. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesnamira.ac.id]
-
Ada juga penelitian lokal di Puskesmas (misalnya di Bangka Tengah) yang menemukan hubungan signifikan antara paritas dan pemberian ASI eksklusif, yang mengindikasikan bahwa multipara lebih mungkin memberikan ASI eksklusif dibanding primipara. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Namun, ada penelitian lain dengan hasil berbeda, misalnya dalam satu studi, tidak ditemukan hubungan signifikan antara paritas dengan tipe eksklusifitas ASI. [Lihat sumber Disini - ejurnal-citrakeperawatan.com]
Artinya: paritas bisa menjadi salah satu dari banyak faktor yang menentukan produksi dan pemeliharaan ASI, tapi bukan satu-satunya faktor penentu.
Perbedaan Tantangan Menyusui pada Primipara dan Multipara
Setiap kelompok memiliki tantangan khas:
-
Primipara: biasanya menghadapi tantangan seperti ketidaktahuan teknik menyusui, rasa khawatir atau cemas terhadap produksi ASI, belum terbiasa manajemen menyusui, dan mungkin dukungan sosial/keluarga yang kurang. Karena ini pengalaman pertama, motivasi dan kepercayaan diri ibu sangat menentukan.
-
Multipara: meskipun punya pengalaman, bukan berarti bebas tantangan, bisa saja ibu menghadapi kelelahan, kurang waktu (karena mengasuh anak sebelumnya), kurang istirahat, stres, atau kondisi fisik yang berbeda. Jika pengalaman menyusui sebelumnya kurang baik, bisa mempengaruhi semangat menyusui lagi.
Studi di Ethiopia tahun 2025 menunjukkan bahwa multipara memiliki risiko lebih tinggi mengalami durasi menyusui pendek dibanding primipara. [Lihat sumber Disini - bmcpediatr.biomedcentral.com]
Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Kualitas Laktasi
Dukungan dari keluarga, pasangan, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial sangat berperan. Dalam penelitian di Puskesmas Koba (Bangka Tengah), disimpulkan bahwa paritas mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, namun keberhasilan ini juga dipengaruhi oleh faktor karakteristik ibu seperti pendidikan, pekerjaan, dan dukungan sistem pendampingan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Penelitian lain, Hubungan Pengetahuan Ibu, Paritas dan Pemberian ASI (2025), menekankan bahwa pengetahuan ibu tentang laktasi, ditambah dukungan sosial, dapat memperkuat kecenderungan memberikan ASI eksklusif, terutama bagi ibu multipara. [Lihat sumber Disini - ejournal.amirulbangunbangsapublishing.com]
Oleh karena itu, dukungan sosial / lingkungan sangat krusial untuk keberhasilan menyusui, tidak cukup hanya bergantung pada paritas.
Faktor Psikologis dalam Keberhasilan Menyusui
Psikologis ibu, seperti kepercayaan diri, pengalaman sebelumnya, persepsi tentang produksi susu, kecemasan tentang menyusui, bisa sangat berbeda antara primipara dan multipara. Ibu multipara bisa jadi lebih percaya diri jika pengalaman menyusui sebelumnya positif. Namun jika pengalaman sebelumnya negatif, bisa menurunkan motivasi atau kepercayaan bahwa produksi susu akan cukup.
Sebuah penelitian di Indonesia (2024) menemukan bahwa pengalaman menyusui sebelumnya mempengaruhi sikap ibu terhadap ASI eksklusif pada kelahiran berikutnya. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Selain itu, pengetahuan dan pemahaman ibu tentang manajemen laktasi juga terkait erat dengan aspek psikologis: semakin baik pengetahuan, semakin besar keyakinan ibu terhadap kemampuannya untuk menyusui sukses. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Peran Pengetahuan dan Edukasi Laktasi
Pengetahuan ibu tentang ASI dan manajemen menyusui adalah salah satu faktor penentu utama keberhasilan laktasi. Dalam studi terbaru Hubungan Pengetahuan Ibu dan Paritas terhadap Produksi ASI di Desa Hutarimbaru (2025), peneliti mengkaji korelasi antara pengetahuan dan paritas terhadap produksi ASI. Meski sampelnya kecil, penelitian menunjukkan bahwa edukasi dan informasi laktasi penting, terutama bagi ibu dengan paritas berapa pun. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesnamira.ac.id]
Penelitian di RS di Indonesia juga menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan manajemen laktasi yang baik lebih besar kemungkinannya untuk berhasil memberikan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan demikian, edukasi laktasi, prenatal maupun pascapersalinan, sebaiknya diberikan secara menyeluruh, tanpa melihat paritas.
Dampak Paritas terhadap Keberlanjutan ASI Eksklusif
Beberapa hasil penelitian:
-
Penelitian di Puskesmas Koba (2023) menunjukkan bahwa multipara memiliki peluang lebih besar memberikan ASI eksklusif dibanding primipara (p = 0, 04, RP = 1, 74). [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Namun, penelitian lain (contoh di kelompok kecil ibu menyusui) tidak menemukan hubungan signifikan antara paritas dan tipe eksklusifitas ASI. [Lihat sumber Disini - ejurnal-citrakeperawatan.com]
-
Studi longitudinal besar di Australia menunjukkan bahwa meskipun banyak ibu (primipara maupun multipara) mulai menyusui, multipara cenderung mempertahankan menyusui minimal selama 6 bulan lebih sering dibanding primipara. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sebaliknya, penelitian di Ethiopia (2025) melaporkan bahwa multipara memiliki risiko lebih tinggi untuk durasi menyusui yang lebih pendek dibanding primipara. [Lihat sumber Disini - bmcpediatr.biomedcentral.com]
Kesimpulannya: paritas dapat memengaruhi kemungkinan dan keberlanjutan ASI eksklusif, tapi hasil bervariasi dan sangat bergantung pada faktor pendukung lainnya (dukungan sosial, pengetahuan, kondisi ibu, lingkungan).
Pengaruh Pola Istirahat terhadap Produksi ASI
Pola istirahat, kelelahan fisik dan mental ibu, terutama pada ibu multipara yang mungkin harus merawat anak lebih dari satu, bisa memengaruhi produksi ASI. Meski tidak banyak penelitian secara eksplisit mengukur “istirahat vs paritas vs produksi ASI”, konsep ini relevan dalam praktik klinis dan pendampingan ibu.
Penelitian seperti Having Enough Milk to Sustain a Lactation Journey (2024) menunjukkan bahwa faktor manajemen laktasi, termasuk perawatan ibu, tekanan, stres, perkembangannya, berpengaruh pada volume susu. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Oleh karena itu, perawatan postpartum yang mendukung, termasuk istirahat cukup, dukungan keluarga, manajemen stres, penting, terutama bagi multipara.
Variasi Kebutuhan Konseling dan Intervensi Berdasarkan Paritas
Karena setiap kelompok (primipara vs multipara) memiliki tantangan yang berbeda, maka kebutuhan konseling dan intervensinya berbeda pula:
-
Ibu primipara: butuh edukasi dasar tentang menyusui, teknik menyusui, manajemen laktasi, pentingnya inisiasi dini menyusui, manajemen pijat payudara, dukungan emosional.
-
Ibu multipara: selain edukasi, perlu dukungan untuk manajemen waktu, kelelahan, stres, serta mencegah pengalaman negatif sebelumnya memengaruhi menyusui berikutnya. Juga penting memberikan konseling untuk mempertahankan ASI eksklusif / menyusui jangka panjang.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dan paritas bersama-sama mempengaruhi praktik menyusui, sehingga intervensi harus mempertimbangkan variabel tersebut. [Lihat sumber Disini - ejournal.amirulbangunbangsapublishing.com]
Kesimpulan
Berdasarkan literatur dan penelitian yang ada, dapat disimpulkan:
-
Paritas, apakah ibu primipara atau multipara, memang memiliki potensi memengaruhi kualitas laktasi, khususnya pada aspek pengalaman menyusui, onset laktasi, dan kemungkinan pemberian ASI eksklusif.
-
Namun, paritas bukan satu-satunya penentu, faktor penting lain seperti pengetahuan ibu, dukungan sosial, kondisi fisik dan psikologis, manajemen laktasi, serta kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh.
-
Untuk mencapai laktasi berkualitas dan pemberian ASI eksklusif optimal, intervensi (edukasi, konseling, dukungan sosial) harus disesuaikan dengan status paritas ibu.
-
Oleh karena itu, dalam kebijakan kesehatan maternal dan neonatal, penting mengenali perbedaan kebutuhan antara primipara dan multipara, agar dukungan dan edukasi laktasi dapat diberikan secara tepat.