
Manajemen Laktasi pada Ibu Bekerja
Pendahuluan
Sejak masa kehamilan hingga periode menyusui, manajemen laktasi memegang peranan krusial untuk memastikan kelangsungan pemberian Air Susu Ibu (ASI), terutama bagi ibu yang tetap bekerja. Banyak ibu pekerja menghadapi tantangan dalam mempertahankan ASI eksklusif akibat keterbatasan waktu, fasilitas, serta pengetahuan dan keterampilan yang kurang memadai. Oleh karena itu, pemahaman dan pelaksanaan manajemen laktasi yang baik menjadi strategi penting agar pemberian ASI optimal dapat tercapai, mendukung kesehatan dan tumbuh-kembang bayi.
Definisi Manajemen Laktasi
Definisi secara umum
Manajemen laktasi merujuk pada segala upaya, pengetahuan dan keterampilan, yang dilakukan ibu dalam mendukung keberhasilan menyusui. Upaya ini mencakup persiapan sejak kehamilan, teknik menyusui, memerah ASI, penyimpanan dan pemberian ASI perah, serta strategi mempertahankan produksi ASI dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi dalam KBBI
Menurut sumber definisi umum bahasa Indonesia, “laktasi” diartikan sebagai proses produksi dan pengeluaran ASI oleh kelenjar susu setelah melahirkan. Dengan demikian, “manajemen laktasi” dapat dipahami sebagai pengelolaan proses tersebut, mencakup produksi, pengeluaran, dan penanganan ASI agar menyusui berlangsung dengan sukses. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Definisi menurut para ahli
-
Menurut penelitian terbaru di Kabupaten Bogor (2024), manajemen laktasi didefinisikan sebagai rangkaian pengetahuan dan keterampilan yang meliputi fisiologi produksi ASI, teknik menyusui, teknik memerah, penyimpanan ASI perah, serta strategi mempertahankan produksi ASI agar memenuhi kebutuhan bayi dan mendukung ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Berdasarkan studi di Puskesmas Tanjung Sari Natar (2022), manajemen laktasi adalah upaya yang dilakukan ibu dalam berbagai aspek, dari pengetahuan tentang ASI, keterampilan menyusui maupun memerah, hingga dukungan sosial dan motivasi, untuk mencapai keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Literatur ringkasan tentang manajemen laktasi menyebut bahwa keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada niat, tetapi juga pada pengetahuan yang memadai serta keterampilan praktis dalam menyusui dan menangani ASI perah. [Lihat sumber Disini - repository.penerbiteureka.com]
-
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, manajemen laktasi dianggap sebagai bagian integral dari perawatan maternal dan neonatal, upaya sistematis untuk mendukung ibu dan bayi agar menyusui optimal. [Lihat sumber Disini - repository.penerbiteureka.com]
Tantangan Laktasi bagi Ibu yang Bekerja
Ibu bekerja kerap menghadapi kendala dalam melaksanakan manajemen laktasi secara optimal. Beberapa tantangan umum antara lain:
-
Terbatasnya waktu: Kewajiban kerja sering kali membuat ibu kesulitan menyediakan waktu untuk menyusui langsung atau memerah ASI secara teratur. Hal ini dapat mengganggu frekuensi stimulasi produksi ASI, sehingga berdampak pada pasokan ASI. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Kurangnya fasilitas dan dukungan di tempat kerja: Tidak semua tempat kerja menyediakan ruang khusus menyusui atau ruang memerah ASI, atau memberi jadwal istirahat memadai. Studi menunjukkan bahwa dukungan tempat kerja secara signifikan berkorelasi dengan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Pengetahuan dan keterampilan yang kurang: Banyak ibu bekerja memiliki pemahaman terbatas tentang manajemen laktasi, teknik menyusui dan memerah ASI, penyimpanan, serta penanganan masalah laktasi. Kurang pemahaman ini menjadi hambatan utama keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-medan.ac.id]
-
Motivasi dan dukungan sosial yang minim: Tanpa dukungan dari suami, keluarga, maupun lingkungan kerja, ibu bisa merasa kesulitan mempertahankan konsistensi menyusui atau memerah ASI. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pengaruh Jam Kerja terhadap Produksi ASI
Jam kerja yang panjang atau tidak fleksibel dapat mengganggu ritme menyusui dan memerah ASI. Ketika ibu tidak mendapatkan kesempatan untuk menyusui atau memerah secara teratur, maka stimulasi produksi ASI akan berkurang, yang kemudian menurunkan pasokan ASI. Penelitian di Magetan (2023) menunjukkan bahwa kurangnya dukungan jadwal dan fasilitas di tempat kerja berkorelasi dengan rendahnya praktik ASI eksklusif di antara ibu pekerja. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
Dengan demikian, jam kerja yang padat menjadi faktor signifikan yang harus diperhitungkan dalam perencanaan manajemen laktasi bagi ibu bekerja.
Teknik Memerah ASI yang Efektif
Teknik memerah ASI merupakan bagian krusial dari manajemen laktasi, terutama bagi ibu yang bekerja. Agar efektif, beberapa hal perlu diperhatikan:
-
Ibu perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan, melalui edukasi dan pelatihan memerah ASI. Studi pelatihan di Desa Martopuro (2023) menunjukkan bahwa ibu hamil pekerja yang mendapatkan pelatihan memerah ASI memperoleh peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan memerah dan menyimpan ASI perah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Teknik memerah dapat dilakukan manual (metode marmet), dengan pompa manual, atau pompa listrik, sesuai kenyamanan dan kemudahan ibu. Pelatihan perlu meliputi demonstrasi langsung, dan ibu diberi kesempatan praktik agar keterampilan memerah terinternalisasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Selain memerah, ibu perlu memahami bagaimana menyimpan ASI perah dengan benar, suhu penyimpanan, wadah steril, dan durasi penyimpanan, agar kualitas ASI tetap terjaga. [Lihat sumber Disini - jurnal.ensiklopediaku.org]
Penyimpanan dan Penanganan ASI Perah
Manajemen laktasi juga mencakup bagaimana ASI perah disimpan, ditangani, dan diberikan kepada bayi ketika ibu tidak dapat menyusui langsung. Faktor penting dalam penyimpanan dan penanganan ASI perah meliputi:
-
Wadah steril: ASI perah harus ditampung dalam botol atau kantong ASI yang bersih dan steril.
-
Suhu penyimpanan: Untuk menjaga kualitas ASI, penyimpanan di kulkas atau freezer sesuai panduan sangat penting.
-
Teknik thawing dan pemanasan: Saat hendak diberikan ke bayi, ASI perah harus dihangatkan dengan cara yang aman, misalnya merendam botol dalam air hangat, bukan memanaskan langsung di atas api.
-
Pelabelan: Cantumkan tanggal dan jam perahan agar ASI digunakan sesuai urutan produksi, dan tidak melebihi batas penyimpanan yang aman.
Pengetahuan dan keterampilan ibu (dan pengasuh) dalam aspek ini merupakan bagian dari manajemen laktasi yang efektif dan mencegah risiko kesehatan pada bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ensiklopediaku.org]
Dukungan Tempat Kerja terhadap Ibu Menyusui
Dukungan dari tempat kerja sangat berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen laktasi pada ibu pekerja. Dukungan ini bisa berupa:
-
Fasilitas ruang menyusui / ruangan khusus memerah ASI.
-
Kebijakan jam istirahat atau jadwal fleksibel agar ibu dapat memerah ASI atau menyusui.
-
Kebijakan cuti hamil dan cuti melahirkan yang memadai serta dukungan lanjutan setelah kembali bekerja.
Penelitian di Magetan (2023) menunjukkan bahwa ada korelasi signifikan antara dukungan tempat kerja dengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
Tempat kerja yang mendukung memberikan peluang lebih besar bagi ibu untuk mempertahankan ASI eksklusif meskipun sudah kembali bekerja.
Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Laktasi
Selain aspek fisik dan teknis, faktor psikologis seperti motivasi, kepercayaan diri, dan stres juga memengaruhi keberhasilan laktasi. Ibu yang mendapatkan dukungan emosional, dari suami, keluarga, teman kerja, cenderung lebih yakin dan konsisten dalam menyusui atau memerah ASI. Studi menunjukkan bahwa dukungan sosial dan edukasi laktasi meningkatkan kemungkinan pemberian ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Adanya tekanan kerja, stres akibat beban ganda (kerja + ibu), atau kurangnya istirahat juga dapat menghambat produksi ASI serta mengurangi kenyamanan ibu untuk menyusui atau memerah. Oleh karena itu, aspek psikologis perlu menjadi perhatian dalam manajemen laktasi ibu bekerja.
Peran Suami dalam Mendukung Laktasi Ibu Bekerja
Keterlibatan suami dan dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam manajemen laktasi. Suami dapat membantu dengan:
-
Memberi dukungan moral dan emosional, menghargai keputusan menyusui, memahami tantangan, serta memberi semangat.
-
Berpartisipasi dalam perawatan bayi ketika ibu sedang bekerja, misalnya memberi ASI perah atau memantau penyimpanan ASI.
-
Membantu mengatur rutinitas rumah tangga agar ibu memiliki waktu dan energi untuk memerah ASI atau istirahat dengan cukup.
Dengan dukungan suami dan keluarga, beban psikologis ibu bisa berkurang, dan konsistensi dalam manajemen laktasi lebih mudah dipertahankan.
Hambatan Umum dalam Manajemen Laktasi
Beberapa hambatan yang sering dijumpai dalam praktik manajemen laktasi pada ibu bekerja antara lain:
-
Minimnya pengetahuan dan keterampilan memerah dan menyimpan ASI. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-medan.ac.id]
-
Kurangnya fasilitas dan kebijakan mendukung di tempat kerja, ruang menyusui, jeda menyusui, jadwal fleksibel. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Ketidakmampuan mengatur waktu antara pekerjaan, tugas rumah tangga, dan menyusui/memerah ASI.
-
Stigma atau kurangnya pemahaman lingkungan kerja tentang pentingnya ASI, kadang menyusui atau memerah ASI dianggap “gangguan produktivitas.”
-
Stres, kelelahan, dan kurang tidur, yang bisa menurunkan produksi ASI.
-
Kurangnya dukungan suami atau keluarga, atau peran suami yang kurang aktif dalam mendukung laktasi.
Strategi Meningkatkan Keberlanjutan ASI Eksklusif
Agar manajemen laktasi pada ibu bekerja berjalan baik dan ASI eksklusif bisa dipertahankan, beberapa strategi berikut bisa diterapkan:
-
Edukasi dan pelatihan tentang laktasi, teknik menyusui, memerah ASI, penyimpanan ASI sejak masa kehamilan. Hal ini telah terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sehingga ibu lebih siap menjalani menyusui pasca melahirkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Mendorong tempat kerja menyediakan fasilitas pendukung, ruang menyusui / ruang pumping, kebijakan jadwal fleksibel atau waktu istirahat untuk memerah ASI.
-
Melibatkan suami dan keluarga dalam edukasi laktasi sehingga mereka paham pentingnya dukungan, termasuk partisipasi aktif dalam perawatan bayi dan penyimpanan/pemberian ASI perah.
-
Memberikan konseling laktasi, oleh tenaga kesehatan/laktasi konselor, untuk membantu ibu mengatasi masalah seperti puting lecet, produksi sedikit, atau rasa kurang yakin.
-
Mengatur manajemen waktu dengan baik, jadwal pumping, menyusui, istirahat, pekerjaan, dan tugas rumah tangga agar semua bisa seimbang.
-
Membangun komunitas atau kelompok pendukung ibu menyusui di lingkungan kerja atau sosial, agar ibu merasa tidak sendiri dan bisa berbagi pengalaman serta tips.
Dampak Manajemen Laktasi terhadap Kesehatan Bayi
Manajemen laktasi yang baik dan konsisten dapat membawa dampak positif signifikan bagi kesehatan dan tumbuh-kembang bayi, antara lain:
-
Memberikan nutrisi optimal: ASI mengandung komposisi protein, lemak, vitamin, dan antibodi yang sesuai dengan kebutuhan bayi, membantu imunitas dan pencegahan infeksi. [Lihat sumber Disini - ojs.staira.ac.id]
-
Menunjang pertumbuhan dan perkembangan: ASI eksklusif selama 6 bulan pertama mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan sistem imun bayi secara optimal. [Lihat sumber Disini - ojs.staira.ac.id]
-
Memperkuat ikatan emosional ibu-anak: Proses menyusui atau memberikan ASI perah membantu memperkuat keterikatan (bonding) emosional, yang penting untuk perkembangan psikologis bayi. [Lihat sumber Disini - eprints.ums.ac.id]
-
Mengurangi risiko penyakit: Bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah terhadap diare, infeksi saluran pernapasan, alergi, dan berbagai penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - ojs.staira.ac.id]
Kesimpulan
Manajemen laktasi adalah fondasi penting bagi keberhasilan menyusui, terutama bagi ibu yang bekerja. Dengan pemahaman dan keterampilan yang baik, mulai dari teknik menyusui, memerah, penyimpanan ASI perah, hingga penyusunan jadwal dan dukungan lingkungan, ibu pekerja memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan ASI eksklusif. Dukungan dari tempat kerja, suami, dan keluarga juga sangat menentukan. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi antara ibu, keluarga, lingkungan kerja, serta sistem kesehatan untuk menyediakan edukasi dan fasilitas yang memadai. Dengan manajemen laktasi yang tepat, manfaat ASI bagi bayi, dari segi nutrisi, kesehatan, hingga ikatan emosional, dapat optimal, sekaligus mendukung kesehatan jangka panjang anak.