
X-Theory: Konsep, Asal-usul, dan Relevansi dalam Kajian Ilmiah
Pendahuluan
Dalam dunia ilmu organisasi, manajemen, dan perilaku manusia dalam konteks kerja, salah satu konsep yang sering dikaji adalah apa yang dikenal dengan sebutan X-Theory atau secara lebih lengkap sering disebut “Teori X” (Theory X) yang dikemukakan oleh Douglas McGregor. Teori ini berperan penting karena menyodorkan asumsi-asumsi dasar tentang bagaimana manusia dipandang dalam konteks organisasi dan motivasi kerja, yang selanjutnya memengaruhi gaya manajemen, struktur organisasi, dan efektivitas kerja. Dalam artikel ini, akan ditelaah secara mendalam konsep Teori X, asal-usulnya dalam literatur ilmiah, serta relevansinya dalam kajian ilmiah masa kini , khususnya penelitian di Indonesia, serta bagaimana konsep ini dapat atau tidak dapat diterapkan di lapangan organisasi modern.
Definisi X-Theory
Definisi X-Theory secara umum
Secara umum, X-Theory (Teori X) dapat dipahami sebagai pandangan atau asumsi yang menegaskan bahwa manusia dalam konteks organisasi/kerja cenderung memiliki sikap negatif terhadap pekerjaan, perlu pengawasan ketat, dan kurang memiliki motivasi intrinsik. Dengan demikian, pengelolaan atau manajemen yang cocok bagi “tipe X” ini adalah melalui kontrol, arahan yang jelas, pengawasan yang lebih, serta hukuman atau insentif eksternal. Sebagai ilustrasi: manajer yang menganut Teori X akan beranggapan bahwa karyawan “secara dasar malas, menghindar dari tanggung jawab, dan hanya bekerja karena dipaksa atau dibayar”. Contoh penjelasan ini tercantum dalam uraian di situs universitas Indonesia yang menyebut bahwa Teori X “didasarkan pada asumsi pesimis dari rata-rata pekerja”. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
Definisi X-Theory dalam KBBI
Karena Teori X merupakan istilah spesifik dalam manajemen/organisasi, KBBI tidak memberikan entri tersendiri untuk “Teori X”. Namun, kita bisa mendekatinya dengan definisi ‘teori’ dalam KBBI:
“te·o·ri /téori/ n 1 pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; 2 penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi; 3 asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan; 4 pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu.” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Dengan demikian, Teori X dapat dimaknai sebagai sebuah teori (dalam arti KBBI) yang menawarkan kerangka pemikiran tentang perilaku manusia dalam organisasi , khususnya pandangan negatif atau asumsi rendah terhadap motivasi kerja individu.
Definisi X-Theory menurut para ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur akademik yang menguraikan Teori X atau klasifikasi manusia tipe X:
- Marliani (2019) dalam kajiannya menyebut bahwa: Teori X merupakan pandangan tradisional dimana “karyawan secara inheren tidak menyukai pekerjaan, lari dari tanggungjawab, dan harus dipaksa agar menunjukkan prestasi”. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
- A Salma (2025) pada penelitiannya “Analisis Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Kinerja …” menyebut bahwa Teori X terkait dengan asumsi manajemen tradisional yang menganggap bahwa pekerja memerlukan pengawasan ketat dan kontrol agar produktif. [Lihat sumber Disini - jurnal.lenteranusa.id]
- Dalam artikel “Motivasi Kerja Generasi Z di Indonesia” (2024), disebut bahwa teori-teori motivasi seperti Teori X dan Y menggambarkan bahwa Teori X melihat pekerja sebagai kelompok yang harus ditekan agar bekerja secara optimal. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]
- Menurut Feliana (2009) dalam tesisnya “Teori XY Douglas McGregor”, Teori X diuraikan sebagai sistem asumsi bahwa manusia secara alami tidak menyukai kerja dan menghindar dari tanggung jawab, dan oleh karena itu harus dikendalikan, diarahkan, dan dibimbing dengan keras. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa Teori X adalah kerangka konseptual yang mengasumsikan bahwa untuk mendapatkan kinerja yang diinginkan dalam organisasi, maka gaya manajemen harus mengandalkan kontrol, pengawasan, dan sistem imbalan/hukuman , karena diduga bahwa pekerja tidak termotivasi secara inheren.
Asal-Usul dan Perkembangan Teori X
Latar Belakang dan Pencetus
Teori X dikemukakan oleh Douglas McGregor di MIT Sloan School of Management pada era 1950-an hingga 1960-an sebagai bagian dari buku dan karya tulisnya mengenai manajemen perilaku manusia dalam organisasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org] McGregor memposisikan Teori X sebagai salah satu dari dua sudut pandang , bersama dengan Teori Y , tentang bagaimana manajer memandang pekerja: apakah sebagai individu yang secara alami malas atau sebagai individu yang secara alami termotivasi. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Asumsi-Asumsi Dasar Teori X
Dalam literatur disebutkan beberapa asumsi pokok Teori X antara lain:
- “Rata-rata manusia secara inheren tidak menyukai pekerjaan dan akan menghindar darinya bila bisa.” [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
- “Karena manusia tidak menyukai pekerjaan, maka sebagian besar harus dipaksa, diawasi, dikendalikan, bahkan diancam dengan hukuman agar mau bekerja.” [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
- “Manusia rata-rata menghindar dari tanggung jawab, memiliki sedikit ambisi, dan mendambakan keamanan lebih daripada prestasi.” [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
- Gaya manajemen yang cocok adalah gaya otoriter, kontrol langsung, komando, pengawasan ketat. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
Evolusi dan Kritik
Seiring waktu, Teori X mulai dikritik karena terlalu general dan mengabaikan motivasi intrinsik pekerja, kreativitas, serta konteks organisasi yang lebih kompleks. Misalnya, ada penelitian di Indonesia yang mengeksplorasi bahwa generasi Z memiliki motivasi berbeda, sehingga pendekatan Teori X kurang relevan untuk generasi ini. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id] Selain itu, kajian budaya organisasi juga menyoroti bahwa gaya otoriter ala Teori X bisa menciptakan budaya kerja yang kaku dan kurang inovatif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Konteks Penelitian di Indonesia
Beberapa penelitian Indonesia yang membahas Teori X antara lain:
- Artikel “Teori X dan Teori Y” dari BINUS Accounting (2021) menjelaskan Teori X dan Y secara ringkas. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
- Penelitian “Implementasi Teori X dan Y Douglas McGregor dan Chris Argyris dalam Kepemimpinan dan Motivasi Kerja di Lembaga Filantropi Islam” (2025) menunjukkan bagaimana Teori X masih diaplikasikan dalam organisasi yang menganggap pekerja perlu dikontrol secara ketat. [Lihat sumber Disini - ejurnal.swadharma.ac.id]
Dengan demikian, Teori X bermula dari analisis McGregor terhadap perilaku manusia dalam organisasi dan telah berkembang serta dikaji ulang dalam berbagai konteks, termasuk di Indonesia.
Relevansi X-Theory dalam Kajian Ilmiah
Implikasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
Teori X memberikan kerangka bagi manajer untuk merancang sistem pengendalian, pengawasan, dan pengukuran kinerja. Dalam praktik HRD, apabila manajer berasumsi bahwa karyawan “tidak termotivasi secara inheren”, maka akan diterapkan kontrol lebih ketat, instruksi yang jelas, dan sistem imbalan/hukuman yang eksplisit. Sebuah kajian menyebut bahwa Teori X menekankan pentingnya pengawasan ketat serta imbalan eksternal dan hukuman. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
Relevansi dalam Budaya Organisasi dan Kepemimpinan
Penelitian “Kepemimpinan dalam Budaya Organisasi” oleh Faturahman (tanpa tahun spesifik) mengemukakan bahwa Teori X dan Y merepresentasikan perilaku individu yang antagonis dan kooperatif dalam organisasi, sehingga memahami Teori X membantu pemimpin untuk menilai kapan gaya otoriter mungkin muncul. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com] Di konteks budaya organisasi Indonesia,yang kerap memiliki struktur hierarkis,penerapan asumsi Teori X kadang tetap ditemukan, meskipun mungkin tidak selalu optimal dalam era transformasi digital dan generasi baru pekerja.
Kajian Empiris Terbaru di Indonesia
- Penelitian “Motivasi Kerja Generasi Z di Indonesia” (2024) menyebut bahwa teori-teori seperti Teori X dan Y perlu dikaji ulang karena karakter generasi Z berbeda dalam hal motivasi dan lingkungan kerja. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]
- Penelitian “Analisis Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Kinerja” (2025) menegaskan bahwa gaya manajemen yang berbasiskan asumsi Teori X (otoriter, kontrol) masih ada tetapi tidak selalu menghasilkan kinerja optimal dalam organisasi modern. [Lihat sumber Disini - jurnal.lenteranusa.id]
Kapan Teori X Masih Relevan – dan Kapan Tidak
Masih relevan ketika:
- Lingkungan organisasi bersifat rutin, monoton, pekerjaanya banyak pengulangan, dan tingkat kreativitas rendah; maka asumsi bahwa kontrol ketat diperlukan bisa diterapkan.
- Struktur organisasi sangat hierarkis dan budaya kerja menganut otoritas kuat serta perintah langsung.
Kurang relevan ketika:
- Lingkungan kerja membutuhkan kreativitas, inovasi, otonomi dan motivasi intrinsik,kondisi yang semakin umum di organisasi modern dan generasi pekerja kini.
- Organisasi menekankan pemberdayaan, partisipasi, dan kolaborasi tim,dalam kondisi ini asumsi Teori X dapat menjadi kendala.
Relevansi untuk Penelitian Akademik
Dalam kajian ilmiah, Teori X tetap digunakan sebagai salah satu variabel atau asumsi dalam penelitian tentang gaya kepemimpinan, motivasi kerja, budaya organisasi, dan kinerja. Karena banyak penelitian empiris yang menguji implikasi asumsi manajerial terhadap hasil organisasi,misalnya, penerapan gaya otoriter vs partisipatif. Di Indonesia, sejumlah jurnal sejak 2021 hingga 2025 telah menyentuh tema terkait asumsi Teori X dalam konteks lokal. Oleh karena itu, bagi peneliti, memahami Teori X sangat membantu sebagai salah satu kerangka teoretis dalam penelitian perilaku organisasi/manajemen.
Kesimpulan
Secara ringkas, Teori X merupakan kerangka pemikiran yang menegaskan bahwa dalam organisasi, ada asumsi bahwa pekerja cenderung tidak suka bekerja, menghindar dari tanggungjawab, perlu pengawasan dan kontrol agar produktif. Teori ini dilahirkan oleh Douglas McGregor dan dikembangkan dalam konteks manajemen dan perilaku manusia dalam organisasi. Meskipun Teori X telah mendapat banyak kritik dan dalam banyak konteks modern dianggap kurang relevan, namun tetap memiliki nilai guna,terutama ketika digunakan sebagai alat analisis atau titik tolak dalam penelitian ilmiah tentang manajemen, kepemimpinan, budaya organisasi, dan motivasi kerja. Di Indonesia, penelitian dari tahun 2021 hingga 2025 menunjukkan bahwa asumsi Teori X masih muncul di berbagai organisasi, namun juga ada kecenderungan bahwa generasi baru dan konteks baru menuntut pendekatan yang lebih adaptif. Oleh karena itu, bagi praktisi dan peneliti, penting untuk memahami kapan asumsi Teori X masih relevan dan kapan harus dikombinasikan atau diganti dengan perspektif lain (misalnya asumsi Teori Y atau konsep motivasi yang lebih modern).