Terakhir diperbarui: 14 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 14 November). X-Theory: Konsep, Asal-usul, dan Relevansi dalam Kajian Ilmiah. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/xtheory-konsep-asalusul-dan-relevansi-dalam-kajian-ilmiah  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

X-Theory: Konsep, Asal-usul, dan Relevansi dalam Kajian Ilmiah - SumberAjar.com

X-Theory: Konsep, Asal-usul, dan Relevansi dalam Kajian Ilmiah

Pendahuluan

Dalam dunia ilmu organisasi, manajemen, dan perilaku manusia dalam konteks kerja, salah satu konsep yang sering dikaji adalah apa yang dikenal dengan sebutan X-Theory atau secara lebih lengkap sering disebut “Teori X” (Theory X) yang dikemukakan oleh Douglas McGregor. Teori ini berperan penting karena menyodorkan asumsi-asumsi dasar tentang bagaimana manusia dipandang dalam konteks organisasi dan motivasi kerja, yang selanjutnya memengaruhi gaya manajemen, struktur organisasi, dan efektivitas kerja. Dalam artikel ini, akan ditelaah secara mendalam konsep Teori X, asal-usulnya dalam literatur ilmiah, serta relevansinya dalam kajian ilmiah masa kini , khususnya penelitian di Indonesia, serta bagaimana konsep ini dapat atau tidak dapat diterapkan di lapangan organisasi modern.


Definisi X-Theory

Definisi X-Theory secara umum

Secara umum, X-Theory (Teori X) dapat dipahami sebagai pandangan atau asumsi yang menegaskan bahwa manusia dalam konteks organisasi/kerja cenderung memiliki sikap negatif terhadap pekerjaan, perlu pengawasan ketat, dan kurang memiliki motivasi intrinsik. Dengan demikian, pengelolaan atau manajemen yang cocok bagi “tipe X” ini adalah melalui kontrol, arahan yang jelas, pengawasan yang lebih, serta hukuman atau insentif eksternal. Sebagai ilustrasi: manajer yang menganut Teori X akan beranggapan bahwa karyawan “secara dasar malas, menghindar dari tanggung jawab, dan hanya bekerja karena dipaksa atau dibayar”. Contoh penjelasan ini tercantum dalam uraian di situs universitas Indonesia yang menyebut bahwa Teori X “didasarkan pada asumsi pesimis dari rata-rata pekerja”. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]

Definisi X-Theory dalam KBBI

Karena Teori X merupakan istilah spesifik dalam manajemen/organisasi, KBBI tidak memberikan entri tersendiri untuk “Teori X”. Namun, kita bisa mendekatinya dengan definisi ‘teori’ dalam KBBI:

“te·o·ri /téori/ n 1 pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; 2 penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi; 3 asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan; 4 pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu.” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Dengan demikian, Teori X dapat dimaknai sebagai sebuah teori (dalam arti KBBI) yang menawarkan kerangka pemikiran tentang perilaku manusia dalam organisasi , khususnya pandangan negatif atau asumsi rendah terhadap motivasi kerja individu.

Definisi X-Theory menurut para ahli

Berikut beberapa definisi dari literatur akademik yang menguraikan Teori X atau klasifikasi manusia tipe X:

  1. Marliani (2019) dalam kajiannya menyebut bahwa: Teori X merupakan pandangan tradisional dimana “karyawan secara inheren tidak menyukai pekerjaan, lari dari tanggungjawab, dan harus dipaksa agar menunjukkan prestasi”. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
  2. A Salma (2025) pada penelitiannya “Analisis Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Kinerja …” menyebut bahwa Teori X terkait dengan asumsi manajemen tradisional yang menganggap bahwa pekerja memerlukan pengawasan ketat dan kontrol agar produktif. [Lihat sumber Disini - jurnal.lenteranusa.id]
  3. Dalam artikel “Motivasi Kerja Generasi Z di Indonesia” (2024), disebut bahwa teori-teori motivasi seperti Teori X dan Y menggambarkan bahwa Teori X melihat pekerja sebagai kelompok yang harus ditekan agar bekerja secara optimal. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]
  4. Menurut Feliana (2009) dalam tesisnya “Teori XY Douglas McGregor”, Teori X diuraikan sebagai sistem asumsi bahwa manusia secara alami tidak menyukai kerja dan menghindar dari tanggung jawab, dan oleh karena itu harus dikendalikan, diarahkan, dan dibimbing dengan keras. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]

Dari uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa Teori X adalah kerangka konseptual yang mengasumsikan bahwa untuk mendapatkan kinerja yang diinginkan dalam organisasi, maka gaya manajemen harus mengandalkan kontrol, pengawasan, dan sistem imbalan/hukuman , karena diduga bahwa pekerja tidak termotivasi secara inheren.


Asal-Usul dan Perkembangan Teori X

Latar Belakang dan Pencetus

Teori X dikemukakan oleh Douglas McGregor di MIT Sloan School of Management pada era 1950-an hingga 1960-an sebagai bagian dari buku dan karya tulisnya mengenai manajemen perilaku manusia dalam organisasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org] McGregor memposisikan Teori X sebagai salah satu dari dua sudut pandang , bersama dengan Teori Y , tentang bagaimana manajer memandang pekerja: apakah sebagai individu yang secara alami malas atau sebagai individu yang secara alami termotivasi. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]

Asumsi-Asumsi Dasar Teori X

Dalam literatur disebutkan beberapa asumsi pokok Teori X antara lain:

Evolusi dan Kritik

Seiring waktu, Teori X mulai dikritik karena terlalu general dan mengabaikan motivasi intrinsik pekerja, kreativitas, serta konteks organisasi yang lebih kompleks. Misalnya, ada penelitian di Indonesia yang mengeksplorasi bahwa generasi Z memiliki motivasi berbeda, sehingga pendekatan Teori X kurang relevan untuk generasi ini. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id] Selain itu, kajian budaya organisasi juga menyoroti bahwa gaya otoriter ala Teori X bisa menciptakan budaya kerja yang kaku dan kurang inovatif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

Konteks Penelitian di Indonesia

Beberapa penelitian Indonesia yang membahas Teori X antara lain:

  • Artikel “Teori X dan Teori Y” dari BINUS Accounting (2021) menjelaskan Teori X dan Y secara ringkas. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
  • Penelitian “Implementasi Teori X dan Y Douglas McGregor dan Chris Argyris dalam Kepemimpinan dan Motivasi Kerja di Lembaga Filantropi Islam” (2025) menunjukkan bagaimana Teori X masih diaplikasikan dalam organisasi yang menganggap pekerja perlu dikontrol secara ketat. [Lihat sumber Disini - ejurnal.swadharma.ac.id]

Dengan demikian, Teori X bermula dari analisis McGregor terhadap perilaku manusia dalam organisasi dan telah berkembang serta dikaji ulang dalam berbagai konteks, termasuk di Indonesia.


Relevansi X-Theory dalam Kajian Ilmiah

Implikasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia

Teori X memberikan kerangka bagi manajer untuk merancang sistem pengendalian, pengawasan, dan pengukuran kinerja. Dalam praktik HRD, apabila manajer berasumsi bahwa karyawan “tidak termotivasi secara inheren”, maka akan diterapkan kontrol lebih ketat, instruksi yang jelas, dan sistem imbalan/hukuman yang eksplisit. Sebuah kajian menyebut bahwa Teori X menekankan pentingnya pengawasan ketat serta imbalan eksternal dan hukuman. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]

Relevansi dalam Budaya Organisasi dan Kepemimpinan

Penelitian “Kepemimpinan dalam Budaya Organisasi” oleh Faturahman (tanpa tahun spesifik) mengemukakan bahwa Teori X dan Y merepresentasikan perilaku individu yang antagonis dan kooperatif dalam organisasi, sehingga memahami Teori X membantu pemimpin untuk menilai kapan gaya otoriter mungkin muncul. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com] Di konteks budaya organisasi Indonesia,yang kerap memiliki struktur hierarkis,penerapan asumsi Teori X kadang tetap ditemukan, meskipun mungkin tidak selalu optimal dalam era transformasi digital dan generasi baru pekerja.

Kajian Empiris Terbaru di Indonesia

  • Penelitian “Motivasi Kerja Generasi Z di Indonesia” (2024) menyebut bahwa teori-teori seperti Teori X dan Y perlu dikaji ulang karena karakter generasi Z berbeda dalam hal motivasi dan lingkungan kerja. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]
  • Penelitian “Analisis Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Kinerja” (2025) menegaskan bahwa gaya manajemen yang berbasiskan asumsi Teori X (otoriter, kontrol) masih ada tetapi tidak selalu menghasilkan kinerja optimal dalam organisasi modern. [Lihat sumber Disini - jurnal.lenteranusa.id]

Kapan Teori X Masih Relevan – dan Kapan Tidak

Masih relevan ketika:

  • Lingkungan organisasi bersifat rutin, monoton, pekerjaanya banyak pengulangan, dan tingkat kreativitas rendah; maka asumsi bahwa kontrol ketat diperlukan bisa diterapkan.
  • Struktur organisasi sangat hierarkis dan budaya kerja menganut otoritas kuat serta perintah langsung.

Kurang relevan ketika:

  • Lingkungan kerja membutuhkan kreativitas, inovasi, otonomi dan motivasi intrinsik,kondisi yang semakin umum di organisasi modern dan generasi pekerja kini.
  • Organisasi menekankan pemberdayaan, partisipasi, dan kolaborasi tim,dalam kondisi ini asumsi Teori X dapat menjadi kendala.

Relevansi untuk Penelitian Akademik

Dalam kajian ilmiah, Teori X tetap digunakan sebagai salah satu variabel atau asumsi dalam penelitian tentang gaya kepemimpinan, motivasi kerja, budaya organisasi, dan kinerja. Karena banyak penelitian empiris yang menguji implikasi asumsi manajerial terhadap hasil organisasi,misalnya, penerapan gaya otoriter vs partisipatif. Di Indonesia, sejumlah jurnal sejak 2021 hingga 2025 telah menyentuh tema terkait asumsi Teori X dalam konteks lokal. Oleh karena itu, bagi peneliti, memahami Teori X sangat membantu sebagai salah satu kerangka teoretis dalam penelitian perilaku organisasi/manajemen.


Kesimpulan

Secara ringkas, Teori X merupakan kerangka pemikiran yang menegaskan bahwa dalam organisasi, ada asumsi bahwa pekerja cenderung tidak suka bekerja, menghindar dari tanggungjawab, perlu pengawasan dan kontrol agar produktif. Teori ini dilahirkan oleh Douglas McGregor dan dikembangkan dalam konteks manajemen dan perilaku manusia dalam organisasi. Meskipun Teori X telah mendapat banyak kritik dan dalam banyak konteks modern dianggap kurang relevan, namun tetap memiliki nilai guna,terutama ketika digunakan sebagai alat analisis atau titik tolak dalam penelitian ilmiah tentang manajemen, kepemimpinan, budaya organisasi, dan motivasi kerja. Di Indonesia, penelitian dari tahun 2021 hingga 2025 menunjukkan bahwa asumsi Teori X masih muncul di berbagai organisasi, namun juga ada kecenderungan bahwa generasi baru dan konteks baru menuntut pendekatan yang lebih adaptif. Oleh karena itu, bagi praktisi dan peneliti, penting untuk memahami kapan asumsi Teori X masih relevan dan kapan harus dikombinasikan atau diganti dengan perspektif lain (misalnya asumsi Teori Y atau konsep motivasi yang lebih modern).

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

X-Theory adalah konsep manajemen yang menyatakan bahwa manusia secara alami tidak menyukai pekerjaan, cenderung menghindari tanggung jawab, dan memerlukan pengawasan serta kontrol ketat agar produktif.

X-Theory dicetuskan oleh Douglas McGregor pada tahun 1950-an sebagai bagian dari teori manajemen perilaku yang membagi pandangan manajer terhadap pekerja menjadi Teori X dan Teori Y.

Asumsi utama X-Theory meliputi anggapan bahwa karyawan malas bekerja, menghindari tanggung jawab, membutuhkan arahan langsung, dan termotivasi oleh imbalan eksternal atau hukuman.

X-Theory penting karena menjadi dasar analisis dalam penelitian manajemen, kepemimpinan, budaya organisasi, dan motivasi kerja. Teori ini membantu peneliti memahami bagaimana asumsi manajerial dapat memengaruhi perilaku dan kinerja karyawan.

X-Theory masih relevan dalam konteks organisasi yang bersifat rutin, hierarkis, atau membutuhkan kontrol ketat. Namun pada organisasi modern yang menuntut kreativitas dan otonomi, pendekatan Teori X dinilai kurang efektif.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Metode Grounded Theory: Prinsip dan Aplikasinya Metode Grounded Theory: Prinsip dan Aplikasinya Attribution Theory: Konsep dan Contoh Attribution Theory: Konsep dan Contoh Grounded Theory: Definisi, Tahapan, dan Contohnya Grounded Theory: Definisi, Tahapan, dan Contohnya Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Prinsip Relevansi Ilmiah dalam Penulisan Akademik Prinsip Relevansi Ilmiah dalam Penulisan Akademik Grounded Analysis: Pengertian, Tahapan, dan Contohnya Grounded Analysis: Pengertian, Tahapan, dan Contohnya Social Identity: Konsep dan Contoh Social Identity: Konsep dan Contoh Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Hubungan antara Teori dan Praktik dalam Ilmu Hubungan antara Teori dan Praktik dalam Ilmu Perubahan Perilaku Kesehatan Perubahan Perilaku Kesehatan Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Paradigma Transformatif dalam Dunia Ilmiah Paradigma Transformatif dalam Dunia Ilmiah Rasionalisme vs Empirisme: Perbandingan dan Relevansinya Rasionalisme vs Empirisme: Perbandingan dan Relevansinya Identitas Sosial: Konsep, Faktor, dan Perkembangannya Identitas Sosial: Konsep, Faktor, dan Perkembangannya Pola Attachment: Konsep dan Dampaknya Pola Attachment: Konsep dan Dampaknya Objek Kajian Ilmiah: Jenis, Ciri, dan Contoh Objek Kajian Ilmiah: Jenis, Ciri, dan Contoh Penelitian Hermeneutik: Prinsip dan Tahapan Penelitian Hermeneutik: Prinsip dan Tahapan Analisis Data Sekunder: Teknik dan Interpretasi Analisis Data Sekunder: Teknik dan Interpretasi Identitas Kelompok: Konsep, Pengaruh, dan Perannya Identitas Kelompok: Konsep, Pengaruh, dan Perannya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ