
Eksklusi Sosial: Konsep dan Bentuk Marginalisasi
Pendahuluan
Fenomena eksklusi sosial atau sering disebut social exclusion merupakan salah satu masalah mendasar dalam ilmu sosial kontemporer yang mencerminkan kondisi tidak meratanya partisipasi individu atau kelompok dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Istilah ini berasal dari gagasan bahwa tidak semua anggota masyarakat memiliki akses penuh terhadap hak, sumber daya, dan peluang yang seharusnya terbuka untuk semua orang. Dalam konteks global maupun lokal, eksklusi sosial telah menjadi fokus kebijakan sosial, pembangunan, dan pembangunan manusia karena efeknya yang terus meluas terhadap kesejahteraan masyarakat.
Berbagai kelompok masyarakat, seperti masyarakat adat, kelompok marjinal, perempuan, penyandang disabilitas, dan kaum miskin, menunjukkan risiko yang tinggi terhadap situasi di mana mereka secara sistematis terhalang dari partisipasi penuh dalam struktur sosial yang lebih luas. Hakikat eksklusi sosial tidak hanya berupa ketidaksetaraan ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi politik, budaya, dan pengakuan sosial yang tidak setara. Hal ini membuat eksklusi sosial menjadi fenomena yang kompleks, multidimensional, dan sering tidak terlihat secara eksplisit dalam statistik umum, namun dampaknya sangat nyata dalam kehidupan keseharian mereka yang terdampak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Eksklusi Sosial
Definisi Eksklusi Sosial Secara Umum
Eksklusi sosial secara umum dipahami sebagai proses sosial yang memicu pengucilan atau marginalisasi individu atau kelompok dari struktur penuh kehidupan sosial masyarakat. Hal ini mencakup ketidakmampuan individu untuk mengakses sumber daya, kesempatan, dan hak sosial yang menjadi bagian dari kenyataan sosial masyarakat. Secara multidimensional, eksklusi sosial mencakup hambatan dalam partisipasi sosial, politik, ekonomi, pendidikan, serta budaya sehingga individu atau kelompok merasa berada di luar “lingkaran keterlibatan sosial”.
Eksklusi sosial menjadi tema penting dalam kajian pembangunan sosial karena menggambarkan bagaimana ketidaksetaraan dan kekurangan akses berakar dalam struktur-relasi kekuasaan, norma sosial, dan distribusi sumber. Sebagai contoh, eksklusi sosial tidak hanya soal kemiskinan materi, tetapi juga ketidakmampuan untuk turut serta dalam komunitas atau hubungan sosial yang lebih luas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Eksklusi Sosial dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksklusi sosial dapat diartikan sebagai proses atau keadaan di mana individu atau kelompok tertentu dikeluarkan atau ditinggalkan dari hak-hak sosial yang umum atau akses terhadap sumber daya masyarakat sehingga pada akhirnya tidak dapat mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Arti ini sesuai dengan konsep dasar eksklusi sebagai bentuk pengucilan atau penyingkiran dari peluang, fasilitas, dan hubungan sosial yang semestinya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Definisi diambil langsung dari KBBI daring resmi sebagai sumber standar bahasa Indonesia)
Definisi Eksklusi Sosial Menurut Para Ahli
Hilary Silver (2007)
Menurut Silver, eksklusi sosial bukan sekadar kondisi akhir tetapi merupakan proses di mana individu atau kelompok mengalami keterputusan hubungan sosial dengan masyarakat luas, melibatkan dinamika sosial dan struktural yang kompleks. Fokusnya bukan hanya dampak tetapi juga mekanisme yang menghasilkan kondisi tersebut. [Lihat sumber Disini - files.ethz.ch]
Levitas et al. (2007)
Penelitian ini menyatakan bahwa eksklusi sosial adalah fenomena multidimensional yang melampaui kemiskinan material, mencakup ketidaksetaraan partisipasi dalam sosial, politik, dan ekonomi. Proses ini sering terjadi secara bersamaan dengan kondisi struktural yang menghasilkan ketidakadilan sosial. [Lihat sumber Disini - un.org]
Silver, Popay, & Escorel (2008)
Dalam tinjauan WHO, eksklusi sosial disebut sebagai kondisi di mana individu tidak hanya mengalami keterbatasan akses terhadap sumber daya, tetapi juga mengalami hambatan dalam partisipasi kehidupan sosial, kesehatan, dan pendidikan dibandingkan kelompok dominan. [Lihat sumber Disini - copasah.org]
Ananda Putri Aqila et al. (2025)
Dalam konteks pendidikan, eksklusi sosial dipahami sebagai kondisi di mana hambatan struktural, identitas sosial, dan kekurangan sumber daya menghalangi akses pendidikan yang setara bagi semua individu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stitnualhikmah.ac.id]
Bentuk-Bentuk Eksklusi Sosial
Eksklusi sosial bermanifestasi dalam berbagai bentuk nyata dalam masyarakat. Perbedaan itu bisa terjadi berdasarkan sektor kehidupan sosial, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta akses terhadap hak-hak dasar lainnya.
1. Eksklusi Sosial-Ekonomi
Bentuk ini terjadi ketika kelompok tertentu tidak memiliki akses terhadap peluang ekonomi, pekerjaan yang layak, maupun distribusi sumber daya yang adil. Individu yang mengalami eksklusi sosial-ekonomi sering kali berada pada garis kemiskinan, memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal, dan tertinggal dalam taraf ekonomi masyarakat umum. Eksklusi sosial-ekonomi dapat memperparah siklus kemiskinan karena individu kehilangan kesempatan untuk keluar dari kondisi ketidakmampuan ekonomi yang berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
2. Eksklusi Sosial dalam Pendidikan
Eksklusi dalam ranah pendidikan terjadi saat anak-anak atau kelompok masyarakat tertentu tidak mendapatkan akses pendidikan yang setara dengan kelompok lain. Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan ekonomi, geografis, diskriminasi struktural, dan ketidaktersediaan fasilitas pendidikan yang layak. Sebagai contoh, studi kasus di Indonesia menunjukkan bahwa kesenjangan digital saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memicu eksklusi sosial karena tidak semua peserta didik dapat mengakses teknologi dan konektivitas untuk belajar daring. [Lihat sumber Disini - jurnal.stitnualhikmah.ac.id]
3. Eksklusi Sosial-Kultural dan Identitas
Bentuk ini terjadi ketika individu atau kelompok tertentu mengalami marginalisasi karena identitas mereka, misalnya etnis, agama, atau budaya tertentu. Diskriminasi terhadap identitas ini mengakibatkan hak-hak budaya dan pengakuan sosial mereka tidak diakui, sehingga menghambat kemampuan untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial secara bermartabat. Konteks ini terlihat pada kasus masyarakat adat yang terpinggirkan dalam pengelolaan sumber daya alam akibat kebijakan hukum yang tidak mempertimbangkan hak-hak adat mereka. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
4. Eksklusi Sosial-Spasial
Eksklusi sosial-spasial terjadi ketika kelompok tertentu terputus secara geografis dari akses terhadap fasilitas penting seperti layanan kesehatan, infrastruktur, pendidikan, dan pusat-pusat ekonomi. Ketidakmerataan pembangunan antar wilayah sering kali menciptakan batasan bagi kelompok yang tinggal di daerah tertinggal atau terpencil untuk mengakses layanan dan peluang yang ada di wilayah maju. [Lihat sumber Disini - un.org]
5. Eksklusi Sosial Politik
Bentuk ini terjadi ketika individu atau kelompok tertentu tidak memiliki akses terhadap proses politik atau institusi sosial yang membuat keputusan vital dalam masyarakat, sehingga suara mereka tidak terdengar dan hak politiknya terbatas. Ketidaksetaraan dalam politik sangat terkait dengan hak asasi manusia dan keadilan sosial. [Lihat sumber Disini - copasah.org]
Faktor Penyebab Eksklusi Sosial
Eksklusi sosial tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi dipicu oleh faktor struktural, budaya, ekonomi, dan institusional yang kompleks. Berikut adalah faktor-faktor utama penyebab eksklusi sosial:
1. Ketimpangan Akses Sumber Daya
Ketidakadilan dalam distribusi sumber daya, seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan modal ekonomi, menjadi pemicu utama eksklusi sosial. Ketika kelompok tertentu tidak mendapat akses adil terhadap sumber daya ini, mereka akan tertinggal secara sosial dan ekonomi dibandingkan kelompok dominan. [Lihat sumber Disini - un.org]
2. Diskriminasi Struktural dan Norma Sosial
Eksklusi sosial sering dipicu oleh norma sosial dan struktur institusional yang diskriminatif, seperti prasangka terhadap kelompok etnis tertentu, diskriminasi gender, atau stereotip terhadap kelompok rentan lainnya. Norma-norma ini menciptakan lingkungan sosial yang tidak ramah terhadap inklusi penuh semua kelompok. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
3. Kebijakan Publik yang Tidak Inklusif
Perencanaan kebijakan yang tidak mempertimbangkan keragaman kebutuhan masyarakat dapat memperkuat eksklusi sosial. Contohnya adalah kebijakan pembangunan yang lebih memihak pada pusat kota, sementara wilayah pedesaan tertinggal dalam akses infrastruktur penting. [Lihat sumber Disini - un.org]
4. Teknologi dan Kesenjangan Digital
Kemajuan teknologi juga dapat menciptakan eksklusi sosial ketika akses terhadap teknologi digital tidak merata, terutama di era pembelajaran daring atau layanan publik digital. Mereka yang tidak memiliki perangkat atau keterampilan digital akan tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan modern. [Lihat sumber Disini - jurnaldidaktika.org]
Eksklusi Sosial dan Kelompok Rentan
Kelompok rentan mengalami risiko eksklusi sosial lebih tinggi karena berbagai faktor yang saling terkait. Kelompok-kelompok ini termasuk:
1. Penyandang Disabilitas
Kelompok ini sering mengalami hambatan akses terhadap layanan sosial, pendidikan, dan pekerjaan karena keterbatasan fasilitas inklusif dan diskriminasi sosial. Eksklusi sosial yang mereka alami mencakup ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas masyarakat umum. [Lihat sumber Disini - ojs.unm.ac.id]
2. Masyarakat Adat
Masyarakat adat menghadapi eksklusi sosial-kultural dan struktural, terutama dalam konteks pengelolaan sumber daya alam dan pengakuan atas hak-hak adat mereka. Ketidaksetaraan struktural menyebabkan mereka kehilangan akses terhadap sumber daya yang menjadi basis kehidupan mereka. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
3. Kelompok Miskin dan Marjinal
Kelompok masyarakat dengan status ekonomi rendah sering kali tidak memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan partisipasi sosial lainnya, sehingga siklus kemiskinan dan eksklusi terus berlanjut. [Lihat sumber Disini - un.org]
4. Perempuan dan Minoritas Sosial
Perempuan dan minoritas sosial seperti etnis atau agama tertentu sering menghadapi lapisan diskriminasi yang memperkuat eksklusi sosial. Hambatan budaya, politik, dan ekonomi memperburuk akses mereka terhadap hak-hak dasar dan peluang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dampak Eksklusi Sosial terhadap Kesejahteraan
Eksklusi sosial berdampak luas terhadap kesejahteraan individu maupun masyarakat. Beberapa dampak tersebut antara lain:
1. Ketidakadilan Sosial dan Ketimpangan Ekonomi
Eksklusi sosial memperlebar jurang ketidaksetaraan karena kelompok yang dieksklusi kehilangan kesempatan untuk mengakses peluang ekonomi, pendidikan, atau layanan sosial, yang pada akhirnya berimbas pada kesejahteraan hidup mereka. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Penurunan Kesehatan Mental dan Fisik
Individu yang mengalami eksklusi sosial sering menunjukkan hasil kesehatan fisik dan mental yang lebih buruk karena kehilangan dukungan sosial, akses layanan kesehatan, serta tekanan psikologis akibat marginalisasi. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
3. Hambatan Mobilitas Sosial
Eksklusi sosial membatasi mobilitas sosial karena kesempatan untuk keluar dari kondisi ekonomi atau sosial yang buruk menjadi sangat rendah jika akses terhadap pendidikan dan pekerjaan dibatasi. [Lihat sumber Disini - un.org]
4. Ketidakharmonisan Sosial
Kondisi ini dapat memperkuat konflik sosial, ketidakpercayaan antar kelompok, dan polarisasi dalam masyarakat, karena sebagian kelompok merasa diabaikan dan tidak terwakili dalam proses pengambilan keputusan. [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]
Upaya Mengatasi Eksklusi Sosial
Mengatasi eksklusi sosial memerlukan pendekatan yang komprehensif, melibatkan berbagai pihak, dan strategi kebijakan yang inklusif:
1. Kebijakan Inklusif dan Redistributif
Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mengurangi ketimpangan akses terhadap hak dasar seperti pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, dan perlindungan sosial. Pendekatan redistributif dapat memperbaiki peluang bagi kelompok yang terpinggirkan. [Lihat sumber Disini - un.org]
2. Pemberdayaan Komunitas Rentan
Program pemberdayaan sosial yang memberi dukungan keterampilan, akses modal, dan partisipasi penuh dalam proses sosial dapat memperkecil kesenjangan antara kelompok dominan dan yang termarginalkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
3. Pendidikan Inklusif
Pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan semua golongan masyarakat, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil atau memiliki kebutuhan khusus, dapat memperkuat mobilitas sosial dan mencegah reproduksi eksklusi sosial dari generasi ke generasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stitnualhikmah.ac.id]
4. Advokasi dan Perubahan Norma Sosial
Upaya advokasi yang menentang diskriminasi sosial, merubah stereotip budaya, serta memperluas kesadaran akan pentingnya inklusi dapat meminimalkan hambatan struktural yang memperkuat eksklusi sosial. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kesimpulan
Eksklusi sosial adalah fenomena kompleks dan multidimensional yang mencakup kondisi di mana individu atau kelompok masyarakat secara sistematis terhalang dari partisipasi penuh dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Proses ini bukan sekadar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga merupakan hasil dari struktur sosial, norma budaya, kebijakan, serta ketidaksetaraan yang ada dalam masyarakat.
Dampak eksklusi sosial sangat luas, mulai dari ketidaksetaraan ekonomi, hambatan akses layanan sosial, hingga penurunan kualitas kesehatan dan mobilitas sosial. Kelompok rentan seperti masyarakat adat, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok miskin menunjukkan risiko yang sangat tinggi terhadap kondisi eksklusi sosial.
Upaya untuk mengatasi eksklusi sosial memerlukan kebijakan inklusif yang berfokus pada pemberdayaan, redistribusi sumber daya, advokasi sosial, dan perubahan norma budaya agar setiap individu dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat dengan bermartabat dan setara.