
Epistemologi Empiris dalam Riset Lapangan
Pendahuluan
Ilmu pengetahuan modern tidak hanya bergantung pada intuisi atau akal semata, tetapi sangat menekankan pada bukti yang bisa diverifikasi melalui pengalaman, pengamatan, dan eksperimen. Di balik metode ilmiah yang digunakan dalam riset, baik natur-sains maupun sosial, terdapat landasan filosofis yang mendasari bagaimana pengetahuan dibentuk, diuji, dan dianggap sahih. Landasan tersebut adalah Epistemologi. Salah satu aliran penting dalam epistemologi yang menjadi basis riset empiris adalah Empirisme, yang menekankan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi atau observasi nyata. [Lihat sumber Disini - repository.iainkediri.ac.id]
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam “Epistemologi Empiris dalam Riset Lapangan”: mulai dari definisi, dasar teoretis, peran pengalaman dan observasi, teknik pengumpulan data empiris, hingga kelebihan dan kelemahan pendekatan empiris, serta contoh nyata studi dengan pendekatan empiris.
Definisi Epistemologi Empiris
Definisi Epistemologi Secara Umum
Epistemologi secara harfiah berasal dari bahasa Yunani: episteme yang berarti “pengetahuan” dan logos yang berarti “teori” atau “ilmu”. Dengan demikian, epistemologi secara umum berarti teori tentang pengetahuan, bagaimana pengetahuan diperoleh, apa sumbernya, bagaimana keabsahannya, dan apa batas-batasnya. [Lihat sumber Disini - repository.iainkediri.ac.id]
Dalam konteks filsafat ilmu, epistemologi mencakup aspek-aspek seperti sumber pengetahuan, metode memperoleh pengetahuan, keabsahan (justifikasi) pengetahuan, dan batasan-batasan epistemik manusia. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi Empiris / Empirisme
Empirisme adalah aliran filsafat dalam epistemologi yang berpendapat bahwa semua, atau sebagian besar, pengetahuan manusia berasal dari pengalaman inderawi (pengindraan) atau observasi nyata. Dengan kata lain, manusia memperoleh pengetahuan melalui indera dan pengalaman, bukan semata-mata melalui akal murni atau intuisi. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Kata “empirisme” sendiri berasal dari bahasa Yunani empeiria, yang berarti pengalaman inderawi. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Definisi Epistemologi Empiris Menurut Para Ahli
Berikut sejumlah definisi dari literatur/peneliti tentang epistemologi empiris:
-
Menurut Fitri dkk. (2025) dalam artikel “Epistemologi Empirisme”, epistemologi empiris dipahami sebagai teori tentang pengetahuan yang menekankan pengalaman inderawi, bahwa sumber sah pengetahuan adalah pengalaman dan observasi. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
-
Dalam kajian epistemologi ilmu pengetahuan terkini, epistemologi dianggap sebagai analisis atas bagaimana ilmu dibangun, mencakup sumber, metode, validitas, dan batas pengetahuan manusia, dan empirisme sebagai salah satu paradigma epistemik utama yang menekankan bukti empiris sebagai fondasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Menurut sumber dalam “Dasar-dasar Metode Penelitian” (2023), empirisme adalah metode dalam penelitian yang mengandalkan data nyata melalui pengamatan, pengalaman, atau percobaan, agar hasil penelitian dapat diverifikasi secara objektif. [Lihat sumber Disini - repository.uinjkt.ac.id]
-
Perspektif kontemporer (misalnya dalam artikel 2025 tentang konstruksi epistemologi ilmu) menunjukkan bahwa epistemologi empiris berfungsi sebagai kerangka untuk memahami bagaimana pengetahuan ilmiah dikonstruksi, diverifikasi, dan diuji melalui data empiris, bukan hanya asumsi teoritik belaka. [Lihat sumber Disini - ejournal.uncm.ac.id]
Landasan Teoretis Empirisme dalam Penelitian
Epistemologi empiris menempatkan pengalaman inderawi atau observasi sebagai basis dari pengetahuan. Dalam metode ilmiah modern, hal itu diterjemahkan ke dalam prosedur riset: observasi → pengumpulan data → analisis → kesimpulan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Aliran empirisme muncul sebagai reaksi terhadap aliran lain dalam epistemologi seperti rasionalisme, yang menekankan akal atau intuisi sebagai sumber pengetahuan. Empirisme menolak gagasan bahwa pengetahuan bawaan (innate ideas) atau pengetahuan a priori bisa menjadi dasar utama pengetahuan (kecuali dalam lingkup konsep abstrak). [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Dalam konteks penelitian sosial maupun alam, empirisme memberikan fondasi bahwa klaim-klaim ilmiah harus didasarkan pada data yang bisa diobservasi, diverifikasi, dan, bila memungkinkan, direplikasi. [Lihat sumber Disini - eprints.umm.ac.id]
Lebih jauh, kerangka epistemologi empiris menawarkan cara untuk membangun sistem pengetahuan yang bisa diuji dan dikritisi, bukan dogmatis, sehingga pengetahuan ilmiah bersifat dinamis dan terbuka terhadap revisi ketika data baru muncul. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Peran Pengalaman dan Observasi dalam Riset Lapangan
Dalam riset lapangan, terutama di bidang sosial, pendidikan, antropologi, sosiologi, atau studi komunitas, pengalaman dan observasi langsung memberikan material empiris vital bagi pemahaman realitas sosial.
-
Pengalaman inderawi, misalnya melihat, mendengar, merasakan situasi di lapangan, memungkinkan peneliti memperoleh data primer yang otentik, bukan sekedar asumsi teori.
-
Observasi lapangan memungkinkan peneliti menangkap dinamika sosial, interaksi, perilaku, konteks lingkungan, hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya direpresentasikan lewat teori abstrak atau data sekunder.
-
Kombinasi pengalaman dan observasi mendukung triangulasi data, yaitu membandingkan berbagai sumber data (misalnya wawancara, observasi, dokumentasi) untuk meningkatkan validitas pengetahuan yang diperoleh.
Dengan demikian, pengalaman dan observasi memberi fondasi kuat bagi riset empiris, membantu peneliti mengeksplorasi fenomena secara mendalam dan akurat sesuai kenyataan di lapangan.
Teknik Pengumpulan Data Empiris
Dalam riset yang memanfaatkan epistemologi empiris, terdapat beberapa teknik pengumpulan data empiris, antara lain:
-
Observasi langsung, peneliti mengamati fenomena secara langsung di lapangan, mencatat kejadian, perilaku, interaksi, lingkungan.
-
Wawancara, mendapatkan informasi dari subjek penelitian berdasarkan pengalaman, persepsi, atau ingatan mereka.
-
Dokumentasi / catatan lapangan, berupa foto, video, dokumen resmi, arsip, catatan harian, rekaman audio, dsb.
-
Kuesioner / survei, untuk mendapatkan data empiris dalam jumlah besar dengan cara terstruktur, memungkinkan analisis kuantitatif.
-
Kombinasi metode (mixed-method), menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif agar memperoleh gambaran komprehensif tentang fenomena.
Metode empiris seperti ini memastikan bahwa data yang dikumpulkan bersifat nyata, dapat diverifikasi, dan representatif terhadap fenomena aktual, sesuai prinsip empirisme. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Validitas dan Reliabilitas dalam Epistemologi Empiris
Dalam kerangka epistemologi empiris, penting untuk memastikan dua hal utama: validitas dan reliabilitas data/pengetahuan.
-
Validitas: memastikan bahwa data atau hasil observasi benar-benar mencerminkan fenomena yang diteliti, bukan hasil bias, distorsi, atau salah interpretasi. Dengan observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi, peneliti berusaha memperoleh data yang otentik dan relevan.
-
Reliabilitas: memastikan bahwa metode pengumpulan data dapat direplikasi atau dikonfirmasi kembali, sehingga hasil penelitian dapat dipercaya dan konsisten jika dilakukan ulang.
Epistemologi empiris mendukung pentingnya verifikasi melalui pengalaman dan observasi publik, bukan sekadar asumsi. Ini membuat pengetahuan yang dihasilkan bersifat transparan, dapat diuji, dan akuntabel. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Kelebihan dan Kelemahan Epistemologi Empiris
Kelebihan
-
Pengetahuan berdasarkan fakta nyata dan pengalaman, sehingga lebih obyektif dibanding spekulasi teori semata.
-
Memberi dasar kuat bagi metode ilmiah dan riset yang dapat diverifikasi, diuji ulang, serta diperbarui sesuai data baru.
-
Cocok untuk mempelajari fenomena kompleks di dunia nyata, terutama dalam riset sosial, pendidikan, antropologi, sosiologi, karena bisa menggali realitas empiris secara mendalam.
-
Memungkinkan kombinasi metode (kualitatif, kuantitatif, mixed-methods), sehingga mampu menangkap dinamika fenomena dari berbagai sudut pandang.
Kelemahan
-
Bergantung pada kemampuan peneliti dalam mengobservasi dan mencatat dengan akurat, terdapat risiko bias, distorsi, interpretasi subyektif.
-
Data empiris bisa sangat kontekstual, hasil studi lapangan di satu tempat/waktu bisa jadi tidak generalisable ke konteks lain.
-
Beberapa aspek abstrak, konseptual, atau teoretis sulit untuk diuji melalui empirisme, misalnya nilai, persepsi mendalam, konsep filosofis, atau fenomena internal non-observabel.
-
Waktu dan sumber daya riset bisa besar, observasi langsung, wawancara, dokumentasi lapangan memerlukan usaha, biaya, dan waktu.
Contoh Studi dengan Pendekatan Empiris
Dalam literatur terkini, beberapa kajian menggunakan epistemologi empiris sebagai basis riset mereka:
-
Studi “Epistemologi Empirisme” oleh Fitri dkk. (2025) mengeksplorasi bagaimana empirisme sebagai kerangka epistemik mendasari pengetahuan ilmiah dengan mengandalkan observasi dan pengalaman inderawi. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
-
Penelitian dalam artikel “Epistemologi Ilmu Pengetahuan: Pengertian, Ruang Lingkup dan Implikasinya dalam Konteks Keilmuan Modern” (2025) menunjukkan bahwa epistemologi, termasuk empirisme, memainkan peran sentral dalam konstruksi dan validasi pengetahuan ilmiah modern, berkaitan dengan sumber, metode, dan batas pengetahuan manusia. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam buku metedologi penelitian (2023), empirisme disebut sebagai metode yang memungkinkan verifikasi fakta berdasarkan pengalaman nyata, observasi, dan eksperimen, mendasari riset kuantitatif maupun kualitatif. [Lihat sumber Disini - repository.uinjkt.ac.id]
Kesimpulan
Epistemologi empiris, hasil pertemuan filosofis antara epistemologi dan empirisme, memberikan landasan filosofis kuat bagi riset ilmiah, terutama riset lapangan. Dengan menekankan pengalaman inderawi, observasi nyata, dan data empiris, pendekatan ini memungkinkan pengetahuan yang obyektif, terverifikasi, dan relevan dengan realitas di lapangan.
Namun, meskipun kuat dalam aspek verifikasi dan validitas empiris, empirisme juga memiliki keterbatasan, terutama ketika objek penelitian bersifat abstrak, konseptual, atau sulit diobservasi. Oleh karena itu, peneliti perlu peka terhadap konteks, metodologi, dan batasan pendekatan empiris ketika merancang dan melakukan riset.
Secara keseluruhan, epistemologi empiris tetap menjadi pondasi penting bagi riset lapangan modern, membantu menjembatani antara teori dan realitas, antara asumsi dan bukti, serta antara pengetahuan abstrak dan kenyataan sosial.