
Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pendahuluan
Dalam perkembangan keilmuan modern, sering kali muncul pertanyaan dasar: apa yang sebenarnya kita pelajari (hakikat), bagaimana kita memperoleh pengetahuan itu (metode), dan untuk apa pengetahuan tersebut (nilai atau manfaat). Ketiga pertanyaan ini berada di ranah filsafat ilmu, yang secara umum membahas landasan-filsafat di balik aktivitas ilmiah. Dalam kerangka tersebut, muncul tiga konsep dasar yang kerap digunakan sebagai kerangka analisis: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi berkaitan dengan “apa yang ada”, epistemologi dengan “bagaimana kita tahu”, dan aksiologi dengan “untuk apa atau nilai apa”. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan membentuk satu kesatuan yang memadai untuk memahami filsafat ilmu secara komprehensif. Beberapa penelitian di Indonesia menggarisbawahi bahwa pengembangan ilmu pengetahuan yang hanya memperhatikan aspek metode dan hasil tanpa memperhatikan hakikat dan nilai, cenderung mengalami krisis legitimasi atau relevansi. Misalnya, dalam kajian deskriptif disebutkan bahwa “integrasi ketiga aspek filsafat ilmu ini penting untuk menjamin bahwa proses pengembangan ilmu tidak hanya sahih secara metodologis, tetapi juga bertanggung jawab secara moral dan bermanfaat secara sosial.” [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengupas secara mendalam hubungan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam filsafat ilmu, mulai dari definisinya secara umum, menurut KBBI, hingga pendapat para ahli, kemudian diikuti dengan pembahasan bagaimana ketiga aspek tersebut saling terkait dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan, dan akhirnya menarik kesimpulan yang dapat membantu pembaca memperoleh pemahaman utuh mengenai kerangka filosofis ini.
Definisi Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Definisi Secara Umum
Secara umum, ontologi adalah cabang dari filsafat yang membicarakan tentang hakikat keberadaan atau realitas, yaitu “apa yang ada”. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan, yaitu bagaimana pengetahuan diperoleh, apa sumbernya, bagaimana cara memvalidasinya. Aksiologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai dan etika, dengan fokus pada “untuk apa” atau “nilai apa” dari pengetahuan atau tindakan.
Dalam konteks ilmu pengetahuan, kajian ontologi menelaah “apa ilmu itu”, epistemologi menelaah “bagaimana ilmu itu diperoleh atau dibuktikan”, dan aksiologi menelaah “apa manfaat atau nilai dari ilmu itu dalam kehidupan manusia”. Sebagai contoh, dalam sebuah kajian disebutkan: “Ilmu pengetahuan ditinjau secara ontologi mencoba membuktikan dan menelaah bahwa sebuah ilmu pengetahuan itu benar-benar dapat dibuktikan.” [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Definisi dalam KBBI
Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (KBBI), definisi-definisi yang relevan adalah sebagai berikut:
- Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang apa yang ada atau realitas (hakikat keberadaan).
- Epistemologi: teori tentang pengetahuan; cara memperoleh, batas, dan validitas pengetahuan.
- Aksiologi: teori tentang nilai-nilai; berkaitan dengan apa yang baik/buruk, layak atau tidak, dan nilai moral atau estetis dari sesuatu.
Walaupun KBBI mungkin tidak secara eksplisit mendefinisikan “ontologi” dan “aksiologi” dalam istilah filsafat secara mendetail, tetapi penggunaan istilah-istilah itu dalam karya ilmiah menunjukkan bahwa definisi umum tersebut cukup diterima. Contoh pengantar term “Ontologi menjelaskan mengenai pertanyaan apa, epistemologi menjelaskan pertanyaan bagaimana, dan aksiologi menjelaskan pertanyaan untuk apa.” [Lihat sumber Disini - uin-malang.ac.id]
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa pengertian dari para ahli terkait masing-masing konsep:
- Menurut Dewi Rokhmah (2021): ontologi berbicara tentang hakikat “yang ada”, epistemologi berbicara tentang dasar pengetahuan, sumber, karakteristik, cara memperolehnya, dan aksiologi berbicara tentang hubungan ilmu dengan nilai, apakah layak ilmu tersebut dikembangkan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Menurut Al Munip (2024): ontologi ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik seperti: berasal dari penyelidikan/riset; memiliki sifat rasional, objektif, sistematis; mengakui verifikasi; dan mengakui konsep hukum-alam. Epistemologi adalah disiplin yang mempelajari sumber, metode, struktur, dan kebenaran/ketidakbenaran pengetahuan. Aksiologi adalah analisis nilai-nilai, apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau terikat nilai, hubungan antara pengetahuan dengan nilai manfaat bagi masyarakat. [Lihat sumber Disini - ejournal.stai-tbh.ac.id]
- Menurut Pebriani Yusnia Herman, Yeni Karneli dan Puji Gusri Handayani (2025): ontologi membahas hakikat keberadaan dan batas-batas objek kajian ilmu; epistemologi mengkaji sumber, metode, dan validitas pengetahuan ilmiah; sedangkan aksiologi menelaah nilai dan tujuan penggunaan ilmu, termasuk aspek etika dan kemanfaatan sosial. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
- Menurut K. Dedes (2021): dalam filsafat ilmu, ontologi adalah studi mengenai sifat dasar ilmu yang memiliki arti, struktur, dan prinsip ilmu; epistemologi menentukan bagaimana pengetahuan dibangun; aksiologi menentukan untuk apa pengetahuan atau ilmu digunakan. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id]
Dari definisi-ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara konseptual:
- Ontologi → apa yang ada atau hakikat objek kajian ilmu.
- Epistemologi → bagaimana pengetahuan tentang objek itu diperoleh dan divalidasi.
- Aksiologi → untuk apa atau nilai apa pengetahuan itu bagi manusia dan kehidupan sosial.
Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Hubungan Konseptual
Ketiga konsep tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling terkait. Jika seseorang hanya mempertimbangkan epistemologi (bagaimana kita memperoleh pengetahuan) tanpa mempertanyakan terlebih dahulu ontologi (apa yang kita pelajari atau apakah objek itu memang ada/valid), maka metodologi yang digunakan bisa salah arah karena objeknya tidak jelas atau keberadaannya dipertanyakan. Sebaliknya, jika hanya ontologi tanpa epistemologi, maka kita mungkin memiliki objek yang jelas tetapi cara memperoleh pengetahuan terhadap objek itu tidak cukup terjamin. Begitu pula jika hanya aksiologi tanpa ontologi dan epistemologi, maka kita mungkin tahu nilai dari sesuatu tetapi tidak tahu objeknya atau bagaimana pengetahuan itu diperoleh dengan benar.
Sebagai ilustrasi, dalam salah satu artikel disebutkan bahwa:
“Ketiga aspek filsafat ilmu ini menjadi landasan dalam membangun kerangka berpikir ilmiah yang utuh.” [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Artinya: ontologi, epistemologi dan aksiologi bersama-sama membentuk kerangka filosofi ilmu yang lengkap: apa → bagaimana → untuk apa.
Hubungan dalam Praktik Ilmu Pengetahuan
- Ontologi → Epistemologi: Misalnya dalam suatu cabang ilmu (misal ilmu sosial), kita mulai dengan mempertanyakan hakikat objek kajian (misal: masyarakat, struktur sosial). Setelah itu baru kita mempertimbangkan metode penelitian: bagaimana kita memperoleh data, validitasnya, metode analisisnya. Contoh: penelitian manajemen meninjau realitas organisasi (ontologi), kemudian menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif untuk memperoleh pengetahuan (epistemologi). Sebuah artikel menunjukkan bahwa “ontologi membantu dalam memahami sifat realitas organisasi, dan epistemologi memberikan panduan untuk validitas dan metode pengumpulan data” dalam penelitian manajemen. [Lihat sumber Disini - plj.ac.id]
- Epistemologi → Aksiologi: Setelah kita memperoleh pengetahuan dengan metode yang sahih, kita kemudian mempertanyakan nilai pengetahuan itu: apakah ilmu tersebut bermanfaat, etis, atau malah merugikan? Sebuah kajian menyebut bahwa “aksiologi menelaah nilai dan tujuan penggunaan ilmu, termasuk aspek etika dan kemanfaatannya bagi kehidupan” dalam konteks filsafat ilmu. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
- Ontologi → Aksiologi: Ada pula kaitan langsung antara hakikat objek dan nilai. Jika objek kajian ternyata merugikan atau tidak layak dikembangkan (misal ilmu yang menghasilkan dampak negatif sosial), maka dari aspek aksiologi akan dipertanyakan: “apakah ilmu ini memang harus ada/dikembangkan?”. Sebagai contoh: “Jika suatu disiplin ilmu tidak memiliki nilai aksiologis maka lebih cenderung mendatangkan kemudharatan bagi kehidupan manusia bahkan tidak menutup kemungkinan ilmu tersebut dapat menjadi ancaman bagi kehidupan sosial dan keseimbangan alam.” [Lihat sumber Disini - ejournal.stai-tbh.ac.id]
Skema Ringkas
- Ontologi → menetapkan objek dan realitas yang dikaji ilmu.
- Epistemologi → menetapkan cara pengetahuan diperoleh, metode, validitas, batas-pengetahuan.
- Aksiologi → menetapkan nilai, manfaat, etika dari pengetahuan yang diperoleh.
Ketiga aspek tersebut sebaiknya dilihat sebagai satu rangkaian utuh: kita mulai dengan objek (apa), lanjut ke metode (bagaimana), dan pada akhirnya ke nilai (untuk apa).
Implikasi bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Dengan memahami hubungan ini, pengembang ilmu atau peneliti dapat memperoleh manfaat sebagai berikut:
- Menjamin bahwa objek kajian benar-benar relevan dan ada secara ontologis, sehingga penelitian atau pengembangan tidak berbasis asumsi kosong.
- Metodologi penelitian atau pembangunan teori dapat dibangun dengan epistemologis yang kuat, yaitu memilih sumber, metode, validasi yang tepat, sehingga hasilnya sahih secara ilmiah.
- Nilai atau manfaat ilmu dapat ditinjau secara aksiologis, sehingga ilmu tidak hanya menjadi teknik atau instrument semata, tetapi memberikan kontribusi terhadap kemaslahatan, etika, dan pembangunan manusia.
Pengabaian salah satu aspek dapat menyebabkan kelemahan: misalnya penelitian yang metodologinya bagus tetapi objeknya tidak jelas → hasilnya bisa tidak relevan; atau objek dan metode bagus tetapi nilai sosialnya rendah → ilmu bisa menjadi teknis tetapi tidak bermakna secara budaya atau etika.
Contoh Aplikasi
Dalam bidang pendidikan, suatu kajian menyebut bahwa pendidikan sebagai aplikasi filsafat memiliki tiga masalah pokok: “apa yang ingin diketahui” (ontologi), “bagaimana cara mendapatkannya” (epistemologi), dan “apa nilai dari pengetahuan yang diperoleh” (aksiologi). [Lihat sumber Disini - ejournal.jendelaedukasi.id]
Dalam konteks penelitian manajemen, sebuah artikel menyatakan bahwa epistemologi memberikan panduan validitas, ontologi memahami realitas organisasi, dan aksiologi memastikan penelitian bersifat etis serta memberikan kontribusi praktis. [Lihat sumber Disini - plj.ac.id]
Contoh di atas menunjukkan bagaimana ketiga aspek dapat diaplikasikan dalam ranah keilmuan nyata, bukan hanya konsep abstrak.
Kesimpulan
Secara ringkas, tulisan ini telah menguraikan bahwa dalam kerangka filsafat ilmu, tiga aspek dasar yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi memainkan peran yang saling melengkapi:
- Ontologi: membahas hakikat dari objek atau realitas yang dikaji ilmu.
- Epistemologi: membahas bagaimana pengetahuan terhadap objek itu diperoleh, divalidasi, dan dikembangkan.
- Aksiologi: membahas nilai, manfaat, dan etika dari pengetahuan serta ilmu yang berkembang.
Hubungan antar ketiga aspek tersebut sangat penting. Ilmu pengetahuan yang hanya mengandalkan metode (epistemologi) tanpa mempertanyakan hakikat objek (ontologi) bisa kehilangan relevansi. Sebaliknya, ilmu yang hanya menekankan objek atau nilai tanpa metode yang sahih bisa kehilangan akurasi ilmiah. Begitu pula, tanpa mempertimbangkan nilai (aksiologi), ilmu bisa menjadi teknis, instrumental, dan bahkan merugikan sosial.
Dengan demikian, bagi para peneliti, pengembang teori, dan praktisi ilmu, penting untuk senantiasa mengintegrasikan ketiga aspek ini dalam setiap upaya pengembangan ilmu pengetahuan: mulai dari pemilihan objek kajian yang sesuai, pemilihan metode yang valid, hingga penilaian terhadap nilai sosial dan etika dari hasil ilmu tersebut. Pendekatan holistik ini menjadikan ilmu tidak hanya sahih secara metode melainkan juga bermakna secara hakikat dan bermanfaat secara nilai.