Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hubungan-filsafat-ilmu-dengan-metodologi-penelitian  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian - SumberAjar.com

Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian

Pendahuluan

Dalam dunia akademik dan penelitian, landasan filsafat sering dianggap sebagai dasar teoretis di belakang metode, teknik, dan prosedur empiris. Namun, tanpa pemahaman mendalam tentang Filsafat Ilmu, terutama aspek-aspeknya seperti ontologi, epistemologi, dan aksiologi, penerapan metode penelitian bisa gagal menangkap makna, validitas, dan etika ilmu secara utuh. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana filsafat ilmu membentuk landasan bagi metodologi penelitian, bagaimana penerapannya berbeda dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif, serta peran paradigma dalam menentukan pendekatan riset. Dengan demikian, diharapkan pembaca memperoleh pemahaman komprehensif tentang hubungan antara teori filsafat dan praktik riset.


Definisi Filsafat Ilmu

Definisi Filsafat Ilmu Secara Umum

Filsafat Ilmu adalah cabang filsafat yang secara kritis dan reflektif menelaah dasar-dasar, asumsi, struktur, dan tujuan ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu mempertanyakan: apa itu “ilmu”, bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu sebagai “ilmu”, serta nilai dan tanggung jawab apa yang melekat pada pengembangan ilmu. Dalam arti luas, filsafat ilmu mencari landasan filosofis agar ilmu pengetahuan tidak sekadar kumpulan fakta, tetapi menjadi sistem pengetahuan yang rasional, sistematis, dan bermakna. [Lihat sumber Disini - jurnal.isi-ska.ac.id]

Definisi Filsafat Ilmu dalam Kamus (KBBI)

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “filsafat” berarti “ilmu yang berusaha memahami hakekat segala sesuatu, baik realitas, nilai, pengetahuan, maupun eksistensi manusia” dan “filsafat ilmu” diartikan sebagai “filsafat yang khusus menelaah hakikat dan metode ilmu pengetahuan.” (Catatan: definisi langsung dari KBBI secara daring dapat diperiksa via laman KBBI daring). Namun secara literatur akademik, filsafat ilmu lebih sering dijelaskan melalui konsep-konsep filosofis yang mendasarinya, bukan hanya definisi leksikal, sehingga pemaknaan ini lebih tajam dan konteksual.

Definisi Filsafat Ilmu Menurut Para Ahli

Beberapa definisi filsafat ilmu dari para peneliti dan ahli:

  • Menurut D. Rokhmah, filsafat ilmu adalah “berbagai pemikiran reflektif persoalan tentang segala hal yang berkaitan dengan landasan ilmu maupun hubungan sebuah ilmu dengan segala segi kehidupan manusia.” [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

  • Berdasarkan uraian di artikel “Kajian Deskriptif Tentang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Dalam Filsafat Ilmu”, filsafat ilmu terdiri atas tiga dimensi utama, ontologi, epistemologi, dan aksiologi, yang menjadi dasar dalam membangun kerangka berpikir ilmiah. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]

  • Menurut penulis dalam “Ilmu dalam tinjauan filsafat: ontology, epistemology, dan aksiologi”, filsafat ilmu menelaah objek, proposisi, dan karakteristik ilmu, serta bagaimana ilmu diperoleh dan digunakan, termasuk aspek nilai dan etika. [Lihat sumber Disini - ejournal.stai-tbh.ac.id]

  • Dalam kajian “Dissecting the Foundations of the Philosophy of Science (Contemporary Perspective)”, filsafat ilmu disebut sebagai basis untuk memahami struktur pengetahuan ilmiah: apa yang dianggap nyata (ontologi), bagaimana pengetahuan diperoleh (epistemologi), dan bagaimana nilai serta tujuan ilmu ditetapkan (aksiologi). [Lihat sumber Disini - lpppipublishing.com]

Dengan demikian, filsafat ilmu bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi fundamental yang memberi arah, batas, dan makna pada keilmuan.


Komponen Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi

Ontologi

Ontologi berkaitan dengan pertanyaan tentang hakikat keberadaan, “apa yang ada?” Dalam konteks filsafat ilmu, ontologi menelaah sifat objek yang menjadi kajian ilmu, serta batas-batas dan karakteristik eksistensinya. Dengan demikian, ontologi menentukan apa yang bisa dijadikan objek penelitian, apakah realitas sosial, alam, pikiran, nilai, atau fenomena abstrak lain. [Lihat sumber Disini - ejurnal.inhafi.ac.id]

Epistemologi

Epistemologi membahas teori pengetahuan: bagaimana kita memperoleh pengetahuan, apa sumbernya, bagaimana memvalidasi keabsahan pengetahuan, serta bagaimana metode ilmiah dibangun. Dalam filsafat ilmu, epistemologi menjelaskan mengapa suatu metode dianggap ilmiah, bagaimana data diinterpretasikan, dan bagaimana kebenaran penelitian dinilai. [Lihat sumber Disini - ejournal.stai-tbh.ac.id]

Aksiologi

Aksiologi menyangkut nilai dan tujuan pengembangan ilmu, termasuk etika, manfaat sosial, dan relevansi moral dari penelitian. Aksiologi bertanya: untuk siapa ilmu dibuat? Untuk apa ilmu digunakan? Apakah ilmu dikembangkan hanya demi pengetahuan, atau juga untuk kebaikan bersama? Dengan memahami aksiologi, peneliti dapat menjaga integritas dan tanggung jawab moral dalam penelitian. [Lihat sumber Disini - jurnalp4i.com]

Ketiga komponen ini, ontologi, epistemologi, aksiologi, saling terkait dan membentuk fondasi filosofis agar ilmu pengetahuan punya dasar yang kuat, konsisten, dan bertanggung jawab. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]


Pengaruh Filsafat Ilmu terhadap Metode Penelitian

Filsafat ilmu memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana penelitian dirancang dan dijalankan. Berikut beberapa pengaruhnya:

  • Sebagai landasan konseptual: Dengan ontologi, peneliti menentukan apa yang bisa diteliti; dengan epistemologi, menentukan bagaimana memperoleh pengetahuan; dan dengan aksiologi, menentukan nilai dan tujuan penelitian. Tanpa fondasi ini, penelitian bisa kehilangan arah, validitas, atau makna. [Lihat sumber Disini - repository.uir.ac.id]

  • Sebagai kerangka refleksi kritis: Filsafat ilmu mendorong peneliti untuk mempertanyakan asumsi dasar, misalnya, apakah objek penelitian benar-benar ada (ontologi), apakah metode yang dipilih sahih (epistemologi), dan apakah hasil penelitian etis serta bermanfaat (aksiologi). Hal ini meningkatkan kualitas ilmiah dan tanggung jawab sosial penelitian. [Lihat sumber Disini - jurnalp4i.com]

  • Sebagai alat praktis dalam pengambilan keputusan metodologis: Berdasarkan kerangka filsafat ilmu, peneliti bisa menentukan apakah akan menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau campuran; memilih teknik pengumpulan dan analisis data; serta menetapkan kriteria validitas dan etika penelitian. [Lihat sumber Disini - jurnalp4i.com]

  • Sebagai landasan integritas dan relevansi ilmiah: Filsafat ilmu memastikan bahwa penelitian, selain valid dan sistematis, juga bermakna, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai sosial serta etika. [Lihat sumber Disini - jurnal.ardenjaya.com]

Dengan demikian, tanpa filsafat ilmu, metode penelitian bisa menjadi mekanistik, semata-mata teknis, tanpa pijakan filosofi yang menjamin kedalaman, koherensi, dan relevansi.


Filsafat Ilmu dalam Penelitian Kuantitatif

Dalam penelitian kuantitatif, orientasi penelitian biasanya pada pengukuran, generalisasi, dan penggunaan data numerik untuk menguji hipotesis atau model. Filsafat ilmu berperan sebagai berikut:

  • Ontologi: Menentukan objek penelitian sebagai realitas yang dapat diukur/kuantifikasi, misalnya variabel sosial, perilaku, karakteristik, fenomena alam. Tradisi positivistik dalam penelitian kuantitatif berangkat dari asumsi ontologis bahwa realitas bersifat objektif, eksistensi nyata, dan bisa diobservasi.

  • Epistemologi: Melandasi penggunaan metode ilmiah, instrumen pengukuran, prosedur pengumpulan data, serta teknik analisis statistik sebagai cara memperoleh pengetahuan ilmiah yang sahih dan dapat direplikasi. Dengan landasan epistemologis, validitas dan reliabilitas data menjadi penting, serta obyektivitas penelitian dijaga.

  • Aksiologi: Meskipun kuantitatif sering dianggap “netral nilai”, filosofi ilmu mendorong peneliti mempertimbangkan tujuan dan manfaat penelitian, misalnya aspek etis, tanggung jawab terhadap objek penelitian, implikasi sosial dari hasil penelitian, serta apakah penelitian memberi kontribusi pada kebaikan bersama. Penerapan aksiologi membantu memastikan bahwa data dan temuan tidak hanya numerik, tetapi juga bermakna dan bermanfaat.

Beberapa penelitian manajemen dan sosial telah menunjukkan bahwa pendekatan filsafat ilmu pada penelitian kuantitatif meningkatkan kualitas dan integritas penelitian. [Lihat sumber Disini - plj.ac.id]


Filsafat Ilmu dalam Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif biasanya berfokus pada pemahaman mendalam terhadap makna, pengalaman, konteks sosial, budaya, interpretasi, dan dinamika proses. Dalam konteks ini, filsafat ilmu sangat relevan:

  • Ontologi: Realitas sosial dalam penelitian kualitatif sering kali bersifat kompleks, subjektif, kontekstual, bukan hanya fakta objektif. Filsafat ilmu memungkinkan peneliti mengakui bahwa “kenyataan” bisa berbeda-beda bergantung perspektif dan interpretasi, serta menelaah asumsi tentang eksistensi subjektif dan konstruksi sosial.

  • Epistemologi: Dalam epistemologi kualitatif, cara memperoleh pengetahuan tidak hanya melalui observasi kuantitatif, melainkan wawancara, observasi partisipatif, refleksi, interpretasi, narasi, dan analisis kontekstual. Filsafat ilmu mendasari legitimasi metode-metode ini sebagai valid untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah, terutama ketika objek penelitian adalah makna, persepsi, nilai, dan proses. Beberapa literatur menunjukkan bahwa epistemologi kontemporer, termasuk konstruktivisme, pragmatisme, teori pengetahuan sosial, semakin diakui dalam penelitian kualitatif. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]

  • Aksiologi: Karena penelitian kualitatif sering berhubungan dengan nilai, budaya, makna, etika, dan kepentingan manusia, aspek nilai dan tanggung jawab (aksiologi) menjadi sangat penting. Filsafat ilmu membantu peneliti mempertimbangkan dampak penelitian terhadap subyek, masyarakat, serta implikasi moral dan sosial dari interpretasi dan penggunaan hasil.

Dengan demikian, penelitian kualitatif, ketika dibingkai oleh filsafat ilmu, bisa menjadi metode yang tidak hanya deskriptif atau interpretatif, tetapi juga kritis, reflektif, dan bermakna secara etis.


Peran Paradigma dalam Menentukan Metode Riset

Dalam konteks filsafat ilmu dan metodologi penelitian, istilah “paradigma” mencakup kerangka berpikir filosofis yang mendasari bagaimana peneliti memandang realitas, pengetahuan, serta nilai. Paradigma ini menentukan pilihan metodologi, metode, teknik, serta cara menafsirkan data.

Misalnya:

  • Paradigma positivistik, berbasis ontologi realisme objektif dan epistemologi empiris, condong ke penelitian kuantitatif.

  • Paradigma interpretatif, konstruktivis, kritis, dengan ontologi sosial-konstruktif dan epistemologi interpretatif, lebih cocok untuk penelitian kualitatif.

  • Paradigma pragmatis atau postmodern bisa mengakomodasi metode campuran (kuantitatif + kualitatif), tergantung pada tujuan dan konteks penelitian.

Dengan demikian, peran paradigma sangat penting: ia menjembatani filsafat ilmu dengan metodologi konkret, sehingga metode bukan sekadar pilihan kebetulan, tetapi keputusan filosofis yang konsisten dengan asumsi dasar penelitian. Beberapa literatur menyebut bahwa pemilihan paradigma harus jelas sejak awal penelitian agar metodologi dan desain riset memiliki landasan epistemologis, ontologis, dan aksiologis yang konsisten. [Lihat sumber Disini - iicls.org]


Contoh Integrasi Filsafat Ilmu pada Penelitian Akademik

Berikut beberapa contoh bagaimana filsafat ilmu diterapkan dalam penelitian akademik, terutama di Indonesia:

  • Sebuah artikel dari 2025, “Kajian Deskriptif Tentang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Filsafat Ilmu”, secara konseptual memaparkan bagaimana ketiga aspek (ontologi, epistemologi, aksiologi) membangun kerangka berpikir ilmiah yang utuh. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]

  • Penelitian dalam bidang manajemen yang menggunakan kerangka filsafat ilmu untuk menentukan metode, pengumpulan data, serta menilai validitas dan relevansi temuan. [Lihat sumber Disini - journal.aripafi.or.id]

  • Kajian dalam pendidikan yang menelaah hakikat, metode, dan nilai ilmu, sehingga penelitian tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga reflektif dan etis. [Lihat sumber Disini - ejournal.stai-tbh.ac.id]

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa integrasi filsafat ilmu bukan hanya teori, tetapi praktik nyata yang memperkuat kualitas, konsistensi, dan tanggung jawab penelitian.


Kesimpulan

Filsafat Ilmu, melalui komponen ontologi, epistemologi, dan aksiologi, memberikan fondasi filosofis penting bagi metodologi penelitian. Ia membantu peneliti menentukan objek, metode, dan tujuan penelitian dengan landasan konseptual yang jelas, kritis, dan etis. Dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif, filsafat ilmu memainkan peran fundamental: memastikan metode tidak mekanistik, tetapi bermakna, relevan, dan bertanggung jawab. Paradigma riset merupakan jembatan antara filsafat dan metode, menentukan arah dan karakter penelitian. Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan filsafat ilmu harus menjadi bagian integral dari proses penelitian, agar ilmu yang dihasilkan tidak hanya sahih, tetapi juga berguna dan bermartabat.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Filsafat Ilmu adalah cabang filsafat yang mempelajari dasar-dasar, struktur, asumsi, serta metode dalam ilmu pengetahuan. Filsafat ini menelaah bagaimana pengetahuan diperoleh, bagaimana kebenaran divalidasi, dan bagaimana nilai etika terlibat dalam proses penelitian.

Filsafat Ilmu menjadi fondasi bagi metodologi penelitian melalui tiga komponennya: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiganya menentukan objek penelitian, cara memperoleh pengetahuan, serta nilai dan tujuan penelitian sehingga metode yang digunakan konsisten dengan paradigma ilmiah.

Dalam penelitian kuantitatif, filsafat ilmu berperan dalam menetapkan asumsi ontologis bahwa realitas bersifat objektif dan dapat diukur, serta landasan epistemologis yang mendukung penggunaan instrumen, statistik, dan generalisasi sebagai cara memperoleh pengetahuan ilmiah.

Penelitian kualitatif dipengaruhi oleh filsafat ilmu melalui pemahaman bahwa realitas bersifat subjektif dan kontekstual. Epistemologi interpretatif digunakan untuk menggali makna melalui wawancara, observasi, dan analisis naratif. Aksiologi turut menekankan etika dan sensitivitas sosial dalam penelitian.

Paradigma penelitian adalah kerangka berpikir filosofis yang mencakup pandangan tentang realitas, cara memperoleh pengetahuan, dan nilai penelitian. Paradigma menentukan apakah peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau campuran.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Filsafat Ilmu Kontemporer: Ciri dan Arah Perkembangan Filsafat Ilmu Kontemporer: Ciri dan Arah Perkembangan Teori dan Praksis dalam Filsafat Ilmu Teori dan Praksis dalam Filsafat Ilmu Idealisme dalam Filsafat Ilmu: Ciri dan Relevansinya Idealisme dalam Filsafat Ilmu: Ciri dan Relevansinya Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Filsafat Naturalistik: Pengertian dan Contohnya Filsafat Naturalistik: Pengertian dan Contohnya Aksiologi: Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Filsafat Ilmu Aksiologi: Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Filsafat Ilmu Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi  Ilmu dan Metafisika: Hubungan dan Perbedaannya Ilmu dan Metafisika: Hubungan dan Perbedaannya Dialektika Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Dialektika Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Metodologi Penelitian: Definisi, Unsur, dan Perbedaannya dengan Metode, lengkap beserta sumber [PDF] Metodologi Penelitian: Definisi, Unsur, dan Perbedaannya dengan Metode, lengkap beserta sumber [PDF] Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif Filsafat Sains Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif Filsafat Sains Epistemologi: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Contoh dalam Ilmu Pengetahuan Epistemologi: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Contoh dalam Ilmu Pengetahuan Ontologi Pengetahuan: Definisi dan Peran dalam Riset Ontologi Pengetahuan: Definisi dan Peran dalam Riset Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Rasionalisme vs Empirisme: Perbandingan dan Relevansinya Rasionalisme vs Empirisme: Perbandingan dan Relevansinya Logika Analitik dalam Kajian Riset Logika Analitik dalam Kajian Riset Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Metafisika Pengetahuan: Hubungannya dengan Ilmu Metafisika Pengetahuan: Hubungannya dengan Ilmu Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…