
Faktor yang Mempengaruhi Kekurangan Zat Besi pada Anak
Pendahuluan
Kekurangan zat besi pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling umum di dunia, terutama di negara-negara berkembang dan berpenghasilan rendah. Kondisi ini bisa terjadi bahkan tanpa munculnya anemia secara jelas dalam pemeriksaan darah, tetapi tetap berdampak signifikan terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Menurut beberapa penelitian, kekurangan zat besi tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik saja, tetapi juga berhubungan erat dengan kemampuan belajar, imunitas tubuh, serta potensi mengalami gangguan perkembangan jangka panjang jika tidak diatasi dengan baik. Anak-anak rentan terhadap kekurangan zat besi karena kebutuhan besi yang relatif tinggi untuk mendukung proses pertumbuhan, ditambah dengan konsumsi makanan yang sering kurang bervariasi secara nutrisi di banyak komunitas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Kekurangan Zat Besi pada Anak
Definisi Kekurangan Zat Besi pada Anak Secara Umum
Kekurangan zat besi pada anak adalah suatu kondisi di mana tubuh anak tidak memiliki cukup zat besi untuk mendukung berbagai fungsi biologisnya, terutama produksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Ketika kadar besi rendah, produksi sel darah merah menurun sehingga kemampuan tubuh untuk mengangkut oksigen menjadi terganggu. Kondisi ini dapat diamati melalui pemeriksaan laboratorium seperti kadar hemoglobin, feritin, dan indikator sirkulasi besi lain yang menunjukkan status besi secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Kekurangan Zat Besi pada Anak dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), zat besi didefinisikan sebagai suatu mineral esensial yang diperlukan dalam proses pembentukan hemoglobin dan sejumlah fungsi metabolik lainnya. Kekurangan zat besi merujuk pada keadaan ketika asupan atau ketersediaan besi dalam tubuh tidak mencukupi kebutuhan fisiologis, yang pada anak bisa muncul dalam bentuk anemia atau gangguan metabolik yang berhubungan dengan besi. Anemia sendiri dalam KBBI diartikan sebagai kondisi kurangnya sel darah merah atau hemoglobin dalam darah, yang lazim disebabkan oleh kekurangan zat besi. (Data definisi KBBI diambil dari situs resmi KBBI, silakan klik melalui pencarian “definisi zat besi KBBI”).
Definisi Kekurangan Zat Besi pada Anak Menurut Para Ahli
-
T. Aksu et al. (2023) menyatakan bahwa kekurangan zat besi adalah kondisi di mana tubuh memiliki persediaan besi yang tidak mencukupi untuk mendukung produksi hemoglobin dan fungsi biologis lainnya, yang sering kali terjadi pada anak usia dini hingga masa remaja. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
D. Gunadi dan kolega (2009) mendefinisikan defisiensi besi sebagai kondisi di mana cadangan dan asupan besi kurang memadai sehingga menurunkan kadar hemoglobin di darah dan memicu gangguan fungsi sistem imun serta tumbuh kembang anak. [Lihat sumber Disini - saripediatri.org]
-
Review penelitian WHO dan literatur kesehatan global menjelaskan bahwa defisiensi zat besi paling umum disebabkan oleh kombinasi asupan yang rendah dan kebutuhan fisiologis yang tinggi pada anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Journal tritunas.org (2021) menjelaskan bahwa defisiensi zat besi merujuk pada kondisi gangguan status besi tubuh yang dapat mempengaruhi berbagai sistem organ utama, khususnya produksi sel darah merah. [Lihat sumber Disini - journal.tritunas.ac.id]
Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Zat besi memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak karena fungsi utamanya adalah sebagai komponen esensial hemoglobin dalam sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Tanpa pasokan oksigen yang memadai, sel-sel tubuh tidak dapat berfungsi secara optimal, yang berdampak pada hampir seluruh sistem organ. Zat besi juga berperan penting dalam metabolisme energi, pembentukan otot, dan perkembangan sistem saraf pusat terutama pada periode awal kehidupan anak.
Anak yang mengalami kekurangan zat besi sering menunjukkan gejala seperti lesu, mudah lelah, pusing, gangguan konsentrasi, dan penurunan performa kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan status besi rendah cenderung mengalami gangguan pada perkembangan neurokognitif, termasuk kemampuan belajar dan memori karena zat besi merupakan kofaktor penting dalam sintesis neurotransmiter dan myelinasi saraf. Karena otak anak terus berkembang pada masa balita dan usia sekolah awal, kekurangan zat besi pada masa tersebut menyebabkan kerusakan fungsi kognitif yang bersifat jangka panjang jika tidak segera ditangani. [Lihat sumber Disini - jsk.ff.unmul.ac.id]
Selain itu, zat besi juga berkaitan dengan sistem imun anak. Kondisi kekurangan besi mengakibatkan respon imun yang lemah, sehingga anak lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit. Hal ini memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup anak karena frekuensi sakit yang lebih tinggi dapat menghambat kegiatan normal belajar dan bermain. Karena itu, pemenuhan kebutuhan zat besi melalui makanan yang kaya zat besi atau suplementasi bila diperlukan sangat penting untuk memastikan pertumbuhan fisik yang optimal dan perkembangan psikososial anak secara menyeluruh.
Faktor Pola Makan yang Mempengaruhi Asupan Zat Besi
Pola makan menjadi faktor utama yang memengaruhi status zat besi pada anak. Asupan zat besi yang tidak mencukupi merupakan penyebab tersering defisiensi zat besi pada anak di seluruh dunia. Ini termasuk rendahnya konsumsi makanan sumber zat besi seperti daging merah, hati, dan makanan laut yang kaya heme besi yang mudah diserap tubuh. Selain itu, konsumsi makanan tinggi zat besi non-heme seperti sayuran hijau, biji-bijian, dan kacang-kacangan sering kali tidak mencukupi karena pola makan anak-anak lebih menyukai makanan ringan dan kurang beragam. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dalam banyak komunitas, anak-anak menerima asupan makanan yang kurang baik secara nutrisi, terutama bagi keluarga dengan sumber daya ekonomi terbatas. Makanan utama yang dikonsumsi seperti nasi putih dan sumber karbohidrat sederhana lainnya mengandung sedikit zat besi, sedangkan konsumsi protein hewani rendah. Ini berdampak langsung pada cadangan zat besi anak karena tubuh hanya menyerap sekitar 10% zat besi dari makanan non-heme. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Beberapa penelitian lokal di Indonesia juga menunjukkan bahwa pola makan yang kurang bervariasi serta rendahnya edukasi gizi ibu atau pengasuh anak berhubungan dengan tingginya prevalensi anemia defisiensi besi pada anak sekolah. Faktor sosial seperti kurangnya pengetahuan ibu tentang strategi penyusunan menu sehat dan keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga juga mempengaruhi kualitas asupan gizi anak, termasuk zat besi. [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesaceh.ac.id]
Pengaruh konsumsi cow’s milk yang berlebihan pada usia awal juga diketahui dapat menurunkan penyerapan zat besi karena kandungan fosfat dan kalsium yang tinggi dapat bersaing dengan zat besi dalam proses absorpsi di usus. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pemberian makanan pendamping ASI yang kaya zat besi sejak usia 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Pengaruh Infeksi dan Parasit terhadap Status Zat Besi
Infeksi kronis dan infestasi parasit merupakan faktor penting yang mempengaruhi status zat besi pada anak. Ketika tubuh mengalami infeksi, respon imun menyebabkan perubahan pada metabolisme zat besi sehingga ketersediaan besi dalam darah menurun sebagai bagian dari mekanisme tubuh menghambat pertumbuhan patogen. Proses ini ternyata juga berdampak negatif pada anak yang sudah berada dalam keadaan kekurangan zat besi, memperparah kondisi defisiensi.
Infestasi cacing usus seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan hookworm sering dijumpai di wilayah dengan sanitasi yang buruk dan dapat menyebabkan perdarahan usus mikroskopik atau gangguan absorpsi nutrisi, termasuk zat besi. Studi menunjukkan bahwa anak-anak dengan infeksi cacing memiliki prevalensi anemia defisiensi besi yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak terinfeksi. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
Selain itu, beberapa patogen seperti Helicobacter pylori yang menginfeksi mukosa lambung juga dapat mengganggu ketersediaan besi dengan cara mengubah bioavailabilitasnya yang menyebabkan berkurangnya feritin dan status besi. Infeksi kronis lain seperti malaria dan penyakit inflamasi usus juga menunjukkan hubungan langsung dengan gangguan status besi pada anak karena kombinasi hilangnya darah dan perubahan metabolisme besi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Hubungan Sosial Ekonomi dengan Kekurangan Zat Besi
Status sosial ekonomi keluarga merupakan determinan penting terhadap prevalensi kekurangan zat besi pada anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa keluarga dengan tingkat pendidikan rendah, pendapatan terbatas, dan akses servis kesehatan yang kurang memadai cenderung memiliki anak dengan status gizi lebih buruk, termasuk defisiensi zat besi. Hal ini karena keterbatasan ekonomi membatasi kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan berkualitas tinggi yang kaya zat besi dan nutrisi lain yang mendukung kesehatan anak. [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesaceh.ac.id]
Pendapatan keluarga yang rendah juga berkaitan dengan akses layanan kesehatan yang kurang optimal, termasuk pemantauan status gizi anak secara berkala dan intervensi dini ketika ditemukan gejala kurangnya zat besi. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, terutama ibu, dapat mempengaruhi pengetahuan dan praktik pemberian makanan yang sesuai untuk anak sehingga memperbesar risiko kekurangan zat besi. [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesaceh.ac.id]
Dampak Kekurangan Zat Besi terhadap Kesehatan Anak
Kekurangan zat besi memiliki dampak yang luas dan signifikan terhadap kesehatan anak. Salah satu dampak yang paling sering terlihat adalah anemia defisiensi besi, yang ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Anemia ini menyebabkan penurunan kapasitas darah dalam mengangkut oksigen sehingga anak sering mengalami kelelahan, pucat, sesak napas, dan penurunan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Lebih jauh lagi, kelainan status besi juga mempengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Jumlah zat besi yang tidak cukup pada fase awal kehidupan anak mengganggu pembentukan myelin dan sintesis neurotransmiter yang merupakan komponen kunci dalam perkembangan kemampuan belajar, memory, dan pemecahan masalah. Hal ini dapat berdampak jangka panjang pada pencapaian akademik dan perkembangan sosial anak jika tidak segera ditangani. [Lihat sumber Disini - jsk.ff.unmul.ac.id]
Kekurangan zat besi juga menurunkan respon imun, sehingga anak lebih rentan terhadap berbagai infeksi yang pada gilirannya meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak. Selain itu, hubungan antara defisiensi zat besi dan stunting juga telah banyak dilaporkan, di mana anak dengan status besi rendah cenderung mengalami hambatan pertumbuhan fisik yang kronis, yang mempengaruhi tinggi badan dan perkembangan tubuh secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.unand.ac.id]
Kesimpulan
Kekurangan zat besi pada anak merupakan kondisi gizi yang kompleks dan multifaktorial dengan manifestasi yang signifikan terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas hidup anak secara keseluruhan. Faktor pemicunya meliputi asupan makanan yang kurang bervariasi secara nutrisi dan rendah zat besi, pengaruh infeksi dan infestasi parasit yang menghambat absorpsi serta memicu hilangnya besi, serta keadaan sosial ekonomi keluarga yang membatasi akses terhadap nutrisi berkualitas dan layanan kesehatan. Dampaknya mencakup anemia defisiensi besi, gangguan perkembangan otak, kelemahan imun, serta risiko stunting yang berkelanjutan. Upaya pemantauan gizi, edukasi pola makan seimbang, serta intervensi nutrisi sejak dini sangat penting untuk mencegah dan mengatasi kekurangan zat besi pada anak demi masa depan yang lebih sehat.