
Return Saham: Konsep dan Pengukuran
Pendahuluan
Pasar saham merupakan salah satu instrumen investasi yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan perekonomian modern. Di pasar saham, investor tidak hanya bertindak sebagai pihak yang menanam modal, tetapi juga mengharapkan keuntungan dari investasinya melalui perubahan harga saham dan pembagian dividen. Return saham merupakan tolok ukur utama untuk menilai seberapa besar keuntungan yang diperoleh investor dari saham yang dimilikinya dalam jangka waktu tertentu. Tingkat return ini sering menjadi indikator apakah investasi tersebut berhasil atau sebaliknya kurang menguntungkan sekaligus menjadi salah satu daya tarik utama bagi para investor untuk mengambil keputusan investasi di pasar modal. ([Lihat sumber Disini - repository.unja.ac.id])
Definisi Return Saham
Definisi Return Saham Secara Umum
Secara umum, return saham adalah keuntungan yang diperoleh investor dari investasi saham yang dilakukannya pada periode tertentu. Keuntungan itu bisa berasal dari selisih antara harga jual dan harga beli saham serta pendapatan dividen yang diterima selama periode investasi. Dengan demikian, return saham mencerminkan total imbal hasil yang diterima investor sebagai kompensasi atas modal yang ditanam dalam saham perusahaan tertentu. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Definisi Return Saham dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “return” tidak secara langsung tercantum, tetapi dalam konteks keuangan dan investasi, kata return sering diartikan sebagai imbal hasil, yaitu keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi setelah dikurangi biaya dan risiko yang terkait. Secara khusus untuk saham, imbal hasil ini berupa pendapatan investor dari kenaikan harga saham dan dividen yang dibayarkan oleh perusahaan, yang mencerminkan kinerja investasi secara keseluruhan. Referensi dari KBBI menguatkan pemahaman umum bahwa return merupakan ukuran keuntungan atas dana yang diinvestasikan.
Definisi Return Saham Menurut Para Ahli
Menurut beberapa peneliti dan ahli keuangan, return saham memiliki definisi yang melibatkan aspek perubahan nilai dan pendapatan investasi. Jogiyanto (2020) menyatakan bahwa return saham dapat dibedakan menjadi return yang sudah terealisasi (realized return) dan return yang diharapkan (expected return), di mana realized return merupakan return yang benar-benar terjadi berdasarkan data historis sedangkan expected return adalah return yang diantisipasi investor di masa depan. ([Lihat sumber Disini - repository.upm.ac.id])
Menurut beberapa penelitian lain, return saham juga didefinisikan sebagai imbalan yang diterima investor atas risiko yang diambil dalam berinvestasi di pasar saham. Imbalan ini mencakup capital gain (selisih harga jual dan harga beli) serta dividen yang dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham. ([Lihat sumber Disini - jurnal.polsri.ac.id])
Jenis-Jenis Return Saham
Return saham dapat dilihat dari beberapa perspektif tergantung tujuan pengukuran dan periode waktunya. Secara umum, berikut adalah jenis-jenis return saham yang sering digunakan dalam literatur keuangan:
1. Return Realisasi (Realized Return)
Return realisasi adalah besaran return yang telah terjadi dan dapat dihitung berdasarkan data historis harga saham serta dividen yang sudah dibayarkan. Jenis return ini digunakan untuk mengevaluasi performa investasi di masa lalu karena mencerminkan hasil aktual yang diterima oleh investor. ([Lihat sumber Disini - repository.upm.ac.id])
2. Return Ekspektasi (Expected Return)
Return ekspektasi adalah estimasi atau proyeksi tingkat return yang diharapkan investor di masa depan. Return ini belum terealisasi, tetapi investor menggunakan estimasi ini sebagai dasar membuat keputusan investasi berdasarkan ekspektasi pertumbuhan harga saham dan potensi dividen. ([Lihat sumber Disini - repository.upm.ac.id])
3. Total Return
Total return mencakup semua komponen return, seperti capital gain dan dividen. Total return sering digunakan untuk membandingkan kinerja saham dari waktu ke waktu atau antara saham yang berbeda karena mempertimbangkan semua sumber keuntungan investor. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
4. Return Tahunan
Return tahunan mengukur return pada periode setahun penuh dan sering digunakan untuk membandingkan performa saham dari tahun ke tahun. Return ini penting dalam analisis jangka panjang dan evaluasi kinerja investasi.
Setiap jenis return memiliki tujuan yang berbeda, tetapi keseluruhannya berkontribusi pada pemahaman lengkap tentang imbal hasil yang diperoleh investor dari suatu saham.
Pengukuran Return Saham
Pengukuran return saham dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada kebutuhan analisis dan jangka waktu investasi. Berikut adalah metodologi yang umum digunakan:
1. Perhitungan Return Berdasarkan Harga dan Dividen
Metode yang paling sederhana untuk mengukur return saham adalah menghitung selisih antara harga saham pada akhir periode dengan harga saham pada awal periode ditambah dividen yang diterima selama periode tersebut, kemudian dibagi dengan harga awal investasi. Pendekatan ini mencerminkan total return bagi investor karena memperhitungkan dua komponen utama yaitu perubahan harga dan pendapatan dividen. ([Lihat sumber Disini - brights.id])
2. Realized vs Expected
Seperti disebutkan sebelumnya, realized return dihitung menggunakan data aktual sedangkan expected return menggunakan proyeksi atau model tertentu untuk memprediksi return masa depan. Pendekatan expected return penting dalam perencanaan investasi strategi jangka panjang. ([Lihat sumber Disini - repository.upm.ac.id])
3. Pengukuran Return Tahunan / CAGR
Pengukuran return tahunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) digunakan untuk mengukur pertumbuhan rata-rata tahunan atas investasi saham dalam periode tertentu, memperhitungkan efek compounding.
4. Pengukuran dengan Model Statistik dan Ekonometrika
Dalam studi akademis dan praktis, pengukuran return saham sering dilakukan dengan menggunakan model statistik seperti regresi dan model risiko pasar. Metode ini penting untuk memahami hubungan antara return saham dan faktor-faktor lain seperti risiko dan karakteristik perusahaan. Selain standar rasio sederhana, pendekatan ini membantu mengidentifikasi determinan return secara empiris. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Return Saham sebagai Indikator Kinerja Investasi
Return saham merupakan tolok ukur fundamental untuk menilai kinerja investasi. Investor menggunakan return saham untuk mengetahui apakah keuntungan yang diperoleh dari suatu saham telah sesuai dengan harapan atau bahkan melebihi target yang ditetapkan. Return yang tinggi dapat menunjukkan saham tersebut berkinerja baik atau memberikan imbal hasil yang menarik bagi investor dalam periode tertentu, sementara return yang rendah atau negatif justru menunjukkan investasi kurang menguntungkan. ([Lihat sumber Disini - repository.unja.ac.id])
Kinerja investasi terutama diukur dengan membandingkan return saham dengan tingkat risiko yang diambil. Analisis risiko-return adalah konsep penting dalam teori portofolio modern, di mana investor harus menilai apakah return yang diharapkan cukup untuk mengkompensasi risiko yang ditanggung. Hubungan ini menjadi dasar bagi model seperti CAPM (Capital Asset Pricing Model) dan model multi-faktor lainnya yang membantu investor mengukur dan membandingkan imbal hasil saham berdasarkan profil risiko pasar.
Secara praktis pula, return saham sering digunakan oleh perusahaan sebagai feedback terhadap strategi korporat dan kinerja manajemen dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham. Return yang positif secara konsisten dapat mencerminkan tata kelola perusahaan yang efektif serta strategi pertumbuhan yang baik.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham
Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa return saham dipengaruhi oleh sejumlah faktor baik internal perusahaan maupun kondisi ekonomi makro dan mikro. Dalam konteks pasar modal Indonesia, beberapa faktor yang terbukti memengaruhi return saham antara lain:
1. Profitabilitas Perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan yang baik sering kali akan meningkatkan return saham karena investor menilai perusahaan tersebut memiliki prospek laba yang stabil. ([Lihat sumber Disini - ejournal.lumbungpare.org])
2. Struktur Modal dan Rasio Keuangan. Rasio seperti debt-to-equity ratio dan current ratio dapat mempengaruhi persepsi risiko investor, yang pada akhirnya berimbas pada return saham. ([Lihat sumber Disini - journal.unusia.ac.id])
3. Likuiditas Saham. Saham yang likuid lebih mudah diperdagangkan dan cenderung menarik lebih banyak investor, yang pada akhirnya dapat mendorong return saham. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
4. Faktor Makroekonomi. Tingkat inflasi, kurs valuta asing, suku bunga bank sentral, dan kondisi ekonomi global dapat mempengaruhi harga saham termasuk return yang diterima investor. ([Lihat sumber Disini - journal.uinmataram.ac.id])
5. Kebijakan Dividen. Perusahaan yang konsisten membayar dividen sering dipandang lebih menarik oleh investor karena memberikan aliran pendapatan tetap selain perubahan harga saham. ([Lihat sumber Disini - ejournal4.unud.ac.id])
Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa return saham bukan hanya merupakan fungsi dari perubahan harga semata, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi perusahaan, pasar modal serta dinamika lingkungan ekonomi.
Hubungan Return Saham dengan Risiko
Investor menerima return sebagai imbalan atas risiko yang mereka ambil ketika menanamkan modal di pasar saham. Secara teori keuangan, terdapat hubungan positif antara risiko dan return, di mana semakin tinggi risiko yang ditanggung investor, semakin tinggi pula return yang diharapkan sebagai kompensasi atas ketidakpastian nilai investasi.
Model ekonomi seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM) menegaskan hubungan antara risiko pasar dan return saham, di mana beta saham menggambarkan sensitivitas return saham terhadap gerakan pasar secara keseluruhan. Semakin tinggi risiko (volatilitas), semakin besar potensi return yang dibutuhkan untuk menarik investor.
Di sisi lain, pasar modal yang efisien juga mencerminkan hubungan antara informasi aset dan harga, di mana informasi baru mengenai kinerja perusahaan atau kondisi ekonomi akan segera tercermin dalam return saham. Hal ini menunjukkan bahwa risiko tidak hanya berasal dari volatilitas harga historis tetapi juga dari ketidakpastian informasi masa depan.
Kesimpulan
Return saham merupakan konsep sentral dalam investasi karena mencerminkan seberapa besar keuntungan atau kerugian yang diperoleh investor dari penanaman modal di pasar saham. Return ini dapat diukur melalui realisasi historis maupun ekspektasi masa depan dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal dan eksternal seperti profitabilitas, struktur modal, likuiditas saham, kebijakan dividen serta kondisi ekonomi makro. Sebagai indikator kinerja investasi, return saham tidak hanya memandu investor dalam mengevaluasi portofolio mereka tetapi juga menjadi alat penilaian utama dalam strategi manajemen perusahaan. Hubungan antara return dan risiko menjadi landasan dalam teori keuangan modern, yang membantu investor memahami trade-off antara keuntungan dan ketidakpastian dalam investasi saham secara menyeluruh.