
Hubungan Ilmu dan Nilai: Kajian Filosofis
Pendahuluan
Ilmu pengetahuan sering dianggap sebagai upaya manusia untuk mengenali, memahami, dan menjelaskan kenyataan secara objektif. Namun, apakah ilmu bisa benar-benar “bebas nilai”? Di sisi lain, nilai, dalam bentuk norma, etika, pandangan hidup, hingga orientasi sosial, tak jarang ikut membentuk tujuan, metode, dan interpretasi ilmu. Tulisan ini bertujuan menggali kedudukan nilai dalam praktik keilmuan melalui tinjauan filosofis: apa arti ilmu dan nilai, bagaimana keduanya saling terkait, dan apa konsekuensinya bagi pengetahuan kontemporer.
Definisi Ilmu dan Definisi Nilai dalam Filsafat
Definisi Ilmu Secara Umum
Ilmu dapat dipahami sebagai keseluruhan pengetahuan sistematis yang diperoleh melalui metode rasional, empiris, atau logis, dengan tujuan memahami realitas, alam, manusia, atau fenomena sosial. Dalam konteks filsafat ilmu, ilmu bukan sekedar kumpulan fakta, melainkan suatu struktur pengetahuan yang melibatkan teori, metode, dan interpretasi. Misalnya, dalam konteks pendidikan ilmu, proses penelitian adalah “perjalanan intelektual” untuk menyelami kompleksitas pengetahuan, bukan sekadar prosedur teknis. [Lihat sumber Disini - eperpus.bbpkciloto.or.id]
Definisi Ilmu dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “ilmu” diartikan sebagai pengetahuan yang sistematis dan metodis mengenai sesuatu, biasanya diperoleh melalui pengamatan, percobaan, dan pemikiran rasional, sehingga bukan sekadar pengetahuan sepele, tetapi pengetahuan yang terstruktur dan teruji.
Definisi Ilmu Menurut Para Ahli
Banyak pemikir dan filsuf telah mendefinisikan ilmu dengan nuansa berbeda:
-
Dalam tradisi filsafat ilmu modern, ilmu dipahami sebagai sistem pengetahuan empiris dan rasional yang berfokus pada penjelasan dan prediksi.
-
Namun dalam perspektif aksiologis atau kritis, ilmu juga dipandang sebagai proses yang tak terlepas dari nilai (value). Misalnya, dalam literatur aksiologi ilmu dikemukakan bahwa ilmu memiliki muatan nilai normatif dalam penetapan makna terhadap “kebenaran” atau “kenyataan”. [Lihat sumber Disini - ejurnal.unisri.ac.id]
-
Sebagian filsuf dan pemikir (misalnya dalam tradisi kritis atau pascakolonial) memandang bahwa pilihan topik, metode, dan interpretasi dalam ilmu sering dipengaruhi oleh nilai budaya, sosial, atau ideologis, terhadap hal ini akan dibahas lebih detail di bagian berikut.
Definisi Nilai
Definisi Nilai Secara Umum
Nilai mencakup norma, etika, orientasi, atau penilaian tentang apa yang dianggap baik, benar, penting, atau pantas dalam konteks manusia dan masyarakat. Nilai memberi arti, tujuan, dan orientasi moral atau estetis terhadap tindakan, pemikiran, dan kebijakan.
Nilai dalam Aksiologi
Dalam cabang filsafat yang disebut Aksiologi, yaitu teori tentang nilai, nilai bukan hanya terkait moral atau estetika, tetapi juga menyangkut bagaimana pengetahuan dan ilmu memiliki fungsi dan makna bagi manusia. Dalam konteks ilmu dan teknologi (iptek), aksiologi menekankan bahwa ilmu tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang mendasari bagaimana, untuk apa, dan kepada siapa ilmu itu dikembangkan. [Lihat sumber Disini - journal-stiayappimakassar.ac.id]
Nilai dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Menurut perspektif filsafat ilmu yang kritis, nilai mempengaruhi setiap tahap keilmuan, mulai dari pemilihan topik penelitian, desain metode, interpretasi data, hingga aplikasi temuan. Dengan demikian, nilai bukan sekadar tambahan, tetapi bagian inheren dari praktik keilmuan. [Lihat sumber Disini - eprints.unm.ac.id]
Perdebatan tentang Ilmu Bebas Nilai
Salah satu perdebatan klasik dalam epistemologi dan filsafat ilmu adalah apakah ilmu bisa benar-benar “bebas nilai” (value-free).
Beberapa penganut pandangan bahwa ilmu harus bebas nilai menganggap bahwa pengetahuan ilmiah harus bersifat objektif dan netral terhadap norma, moral, dan nilai subjektif. Namun, pandangan ini kini banyak dikritik.
Misalnya, artikel “Ilmu Sebagai Sumber Pengetahuan Bebas Nilai” menunjukkan bahwa klaim bahwa ilmu bebas nilai sulit dipertahankan: karena dalam praktik, penelitian selalu melibatkan pilihan, terhadap topik, metode, interpretasi, yang secara inheren mengandung nilai. [Lihat sumber Disini - proceeding.unpkediri.ac.id]
Pendukung perspektif “value-laden science” (ilmu bermuatan nilai) berargumen bahwa nilai tidak bisa dipisahkan dari kegiatan ilmiah: nilai memengaruhi pembentukan masalah, penafsiran data, hingga relevansi sosial ilmu. [Lihat sumber Disini - repository.uinmataram.ac.id]
Dengan demikian, klaim bahwa ilmu dapat benar-benar netral terhadap nilai dipandang terlalu idealistik, apalagi dalam ilmu sosial atau humaniora.
Pengaruh Nilai dalam Pemilihan Metode dan Topik
Nilai berperan dalam menentukan topik penelitian, misalnya: apakah fokus pada isu kemiskinan, keadilan sosial, pembangunan atau kemajuan teknologi; apakah memilih pendekatan kuantitatif, kualitatif, kritis, atau interpretatif; apakah menekankan aspek moral, etika, keadilan, atau efisiensi.
Dalam literatur metodologi penelitian dikemukakan bahwa metodologi tidak pernah benar-benar netral; setiap metode mengandung asumsi teoretis dan nilai tentang realitas, pengetahuan, dan tujuan penelitian. [Lihat sumber Disini - eprints.unm.ac.id]
Contoh nyata: dalam pendidikan nilai atau integrasi ilmu dan nilai, argumen dikemukakan bahwa sejak sekarang banyak ilmuwan menolak gagasan bahwa sains bisa “bebas nilai”, artinya metode dan hasil penelitian dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial, budaya, atau moral tertentu. [Lihat sumber Disini - digilib.iainptk.ac.id]
Dengan demikian, pemilihan metode dan topik bukan sekadar keputusan teknis, melainkan keputusan nilai dan paradigma, memengaruhi apa yang dianggap layak untuk diteliti, bagaimana diteliti, dan untuk siapa hasilnya berguna.
Hubungan Etika, Moralitas, dan Pengetahuan
Ilmu dan nilai seringkali bersinggungan di wilayah moral dan etika. Nilai-nilai moral/etika dapat memandu apa yang dianggap “baik” atau “bertanggung jawab” dalam praktik keilmuan, misalnya, kejujuran data, tanggung jawab sosial, dampak terhadap manusia dan lingkungan.
Dalam kajian aksiologi dan filsafat ilmu disebut bahwa nilai normatif (etika, keadilan, hak asasi) memberi arah bagi kegunaan ilmu: ilmu tidak sekadar untuk mengetahui, tetapi juga untuk membawa manfaat, kebaikan, atau kemajuan yang bermakna bagi manusia. [Lihat sumber Disini - journal-stiayappimakassar.ac.id]
Sebaliknya, ketika nilai moral diabaikan, praktik ilmiah bisa jatuh pada sikap instrumental: ilmu hanya sebagai alat, tanpa mempertimbangkan implikasi sosial, etis, atau kemanusiaan. Ini bisa menimbulkan konflik antara kebenaran epistemik dan kebaikan sosial, misalnya penelitian bisa “benar secara metodologis” tetapi merugikan manusia atau lingkungan.
Konsekuensi Ilmiah dari Intervensi Nilai
Keterlibatan nilai dalam ilmu membawa beberapa konsekuensi penting:
-
Kerangka interpretasi: Nilai dapat mempengaruhi bagaimana data diinterpretasikan, bukan sekadar “apa adanya”, tapi diberi makna sesuai orientasi nilai tertentu.
-
Prioritas penelitian: Nilai normatif atau moral bisa menentukan prioritas: misalnya penelitian pada isu keadilan sosial, kemanusiaan, lingkungan, etika, dibandingkan topik netral/teknis.
-
Relevansi sosial: Ilmu yang dibingkai oleh nilai lebih mungkin relevan dengan masalah nyata di masyarakat, bukan cuma teori abstrak.
-
Tanggung jawab sosial: Ilmu bermuatan nilai mendorong tanggung jawab sosial: ilmuwan mempertimbangkan dampak, manfaat, dan etika ketika memproduksi pengetahuan.
Namun, intervensi nilai juga bisa menimbulkan bias: interpretasi bisa condong, seleksi data bisa dipengaruhi orientasi moral, dan hasil penelitian bisa digunakan untuk agenda tertentu.
Posisi Nilai dalam Ilmu Kontemporer
Di era modern dan kontemporer, banyak pemikir dan akademisi yang menerima bahwa ilmu tidak bisa dilepaskan dari nilai. Tradisi “value-free science” semakin dipertanyakan. Dalam konteks globalisasi, teknologi, dan transformasi sosial, nilai, etika, norma sosial, tanggung jawab, menjadi bagian penting dari keilmuan. [Lihat sumber Disini - repository.uinmataram.ac.id]
Misalnya, dalam artikel terbaru tahun 2025 tentang aksiologi dalam masyarakat digital, dikemukakan bahwa transformasi nilai terjadi bersamaan dengan perkembangan ilmu dan teknologi; nilai-nilai fundamental, etika, norma sosial, logika sosial, ikut berubah dan mempengaruhi bagaimana kita memahami dan menggunakan pengetahuan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, dalam ilmu kontemporer, nilai tidak dilihat sebagai gangguan, melainkan bagian integral dari praktik ilmiah, bahkan sebagai fondasi etis dan sosial agar ilmu tetap relevan dan bertanggung jawab.
Contoh Studi Mengenai Pengaruh Nilai pada Ilmu
Berikut beberapa studi/contoh empiris atau konseptual yang menunjukkan bagaimana nilai mempengaruhi ilmu:
-
Studi “Ilmu Sebagai Sumber Pengetahuan Bebas Nilai”, menunjukkan bahwa klaim netralitas ilmu sulit dipertahankan, dan praktik ilmiah sering mengandung nilai. [Lihat sumber Disini - proceeding.unpkediri.ac.id]
-
Artikel tentang aksiologi dalam transformasi masyarakat digital (2025), menyoroti bagaimana perkembangan ilmu & teknologi dalam masyarakat modern disertai perubahan nilai, dan bagaimana nilai-nilai fundamental mempengaruhi orientasi keilmuan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kajian “Nilai dan Kegunaan Ilmu Bagi Manusia”, menguraikan bahwa ilmu membawa nilai dan manfaat bagi manusia, dan bahwa nilai/nilai-nilai dalam ilmu (etik, estetika, kemanusiaan) menjadi bagian dari fungsi ilmu. [Lihat sumber Disini - journal-stiayappimakassar.ac.id]
-
Pendekatan integrasi antara ilmu dan nilai dalam tradisi keilmuan religius, misalnya dalam karya yang mencoba “mengintegrasikan nilai keagamaan dan ilmu pengetahuan”, menunjukkan bahwa interpretasi ilmu bisa dipandu nilai spiritual atau religius. [Lihat sumber Disini - ejournal.uit-lirboyo.ac.id]
Implikasi bagi Praktik Ilmiah dan Sosial
Berdasarkan kajian di atas, beberapa implikasi penting muncul:
-
Peneliti dan ilmuwan harus menyadari bahwa pilihan topik, metode, dan interpretasi tidak netral, perlu refleksi nilai dan tanggung jawab sosial.
-
Pengembangan ilmu hendaknya mempertimbangkan manfaat dan dampak sosial, bukan hanya aspek epistemik atau teknis.
-
Pendidikan dan pelatihan ilmiah perlu menyertakan aspek aksiologi: pemahaman nilai, etika, dan tanggung jawab sosial.
-
Masyarakat dan pembuat kebijakan harus kritis terhadap klaim “objektivitas mutlak” dari ilmu, karena nilai selalu hadir, secara sadar maupun tidak.
Kesimpulan
Ilmu dan nilai, meskipun kadang dianggap sebagai dua ranah berbeda, sesungguhnya tidak bisa dipisahkan secara mutlak: ilmu sebagai proses menghasilkan pengetahuan selalu dipengaruhi oleh nilai dalam pemilihan topik, metode, interpretasi, dan aplikasi. Pandangan “ilmu bebas nilai” telah banyak dikritik, dan munculnya tradisi “value-laden science” menunjukkan bahwa nilai adalah bagian inheren dari praktik keilmuan. Oleh karena itu, kesadaran akan nilai, etika, estetika, kemanusiaan, tanggung jawab sosial, menjadi penting agar ilmu tidak sekadar mengungkap fakta, tetapi juga memberi kontribusi bermakna bagi masyarakat.