
Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu
Pendahuluan
Dalam kajian filsafat ilmu, pemahaman tentang ontologi menjadi amat fundamental, ia menentukan “apa yang nyata”, “apa yang ada”, dan dengan demikian membatasi apa yang bisa dijadikan objek pengetahuan. Ontologi tidak hanya relevan bagi ilmu alam tetapi juga bagi ilmu sosial, karena dunia manusia penuh dengan entitas, relasi, institusi, norma, serta konstruksi sosial yang kompleks. Dalam konteks inilah muncul kajian khusus: ontologi sosial, yaitu refleksi filosofi tentang sifat dan struktur realitas sosial. Artikel ini menguraikan pengertian ontologi sosial, struktur realitas sosial, entitas sosial, kaitannya dengan ilmu sosial, serta perdebatan dan implikasinya bagi paradigma penelitian.
Definisi Ontologi Sosial
Definisi Ontologi Sosial Secara Umum
Ontologi, secara umum, adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat “yang ada”: realitas, keberadaan, dan wujud segala sesuatu. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org] Dalam terminologi filsafat ilmu, ontologi menentukan batas dan karakter objek ilmu, apa yang bisa dikatakan ada sehingga layak dijadikan objek penelitian. [Lihat sumber Disini - ojs.daarulhuda.or.id]
Ontologi sosial kemudian adalah bagian dari ontologi yang secara khusus menelaah realitas sosial, entitas, struktur, relasi, institusi, dan fenomena yang muncul dari interaksi manusia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Ontologi Sosial dalam KBBI
Istilah “ontologi sosial” tidak lazim tercantum sebagai frase baku di dalam KBBI, KBBI umumnya mendefinisikan “ontologi” saja sebagai ilmu tentang keberadaan (hakikat “yang ada” secara umum). Namun, jika kita merujuk pada makna ontologi + prefiks “sosial”, maka bisa diartikan sebagai “kajian filosofis tentang hakikat realitas sosial”, realitas yang dihasilkan oleh interaksi, kesepakatan, institusi, norma, dan konstruksi kolektif manusia.
Definisi Ontologi Sosial Menurut Para Ahli
Berikut definisi ontologi sosial menurut beberapa filsuf/teoretikus:
-
Menurut Brian Epstein, ontologi sosial adalah studi tentang sifat dan properti dunia sosial; yaitu analisis atas hal-hal di dunia yang muncul dari interaksi sosial, serta apa yang membuat mereka menjadi seperti itu. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
-
Menurut Lynne Rudder Baker dan penganut realisme non-reduktif, banyak fenomena sosial (misalnya institusi, hukum, norma) adalah entitas nyata yang tidak sepenuhnya dapat direduksi ke fakta fisik semata. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Menurut John R. Searle, realitas sosial dibangun melalui status fungsi kolektif: objek atau perilaku fisik memperoleh arti sosial karena collective acceptance (kesepakatan bersama). [Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id]
-
Menurut kajian kontemporer (lihat artikel “The nature and significance of social ontology” oleh Francesco Guala, dkk.), ontologi sosial membantu menjelaskan bagaimana entitas sosial (norma, institusi, struktur) berkaitan dengan entitas non-sosial (psikis, fisik), serta bagaimana dunia sosial menyatu dengan dunia “alami” atau individual. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Struktur Realitas Sosial
Dunia sosial bukan sekadar kumpulan individu; ia memiliki struktur, level, hubungan, dan entitas yang khas, tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dari aspek fisik atau individu saja. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
-
Realitas sosial dibangun dari interaksi manusia + kesepakatan + institusi + norma + praktik bersama. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Realitas sosial memiliki entitas tersendiri, bukan sekadar agregat individu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Realitas sosial dapat bersifat dinamis: struktur dan institusi bisa berubah melalui proses sosial, regulasi, interaksi, dan konstruksi makna. [Lihat sumber Disini - journalofsocialontology.org]
Entitas Sosial: Individu, Kelompok, dan Institusi
Salah satu fokus utama ontologi sosial adalah mengidentifikasi “siapa/apa” yang termasuk dalam realitas sosial, serta bagaimana entitas-entitas ini saling terkait dan eksis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Individu, manusia sebagai aktor sosial, dengan kesadaran, niat, tindakan, pengalaman. Individu seringkali dianggap titik dasar dalam struktur sosial, meskipun realitas sosial melampaui sekadar kumpulan individu.
-
Kelompok / Kolektif, entitas sosial yang lebih besar dari individu: komunitas, masyarakat, organisasi, kelompok etnis, kelas sosial, dan sebagainya. Pertanyaan yang muncul: apakah kelompok bisa memiliki “niat kolektif”, “belief” bersama, atau bertindak sebagai satu kesatuan? [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
-
Institusi / Organisasi / Norma Sosial, sistem aturan, norma, peran sosial, hukum, lembaga: misalnya institusi keluarga, institusi pendidikan, pasar, negara, hukum, norma budaya. Institusi ini dibentuk oleh collective acceptance, tetapi memiliki eksistensi relatif terhadap individu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kategori Sosial & Konstruksi Sosial, seperti gender, ras, kelas, status sosial, peran sosial, profesi, pernikahan, kategori yang ada bukan atas dasar kodrat alamiah (selalu kontestabel), melainkan hasil konstruksi sosial dan regulasi bersama. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Hubungan Ontologi Sosial dengan Ilmu Sosial
Kajian ontologi sosial dan ilmu sosial sebenarnya saling terkait erat:
-
Ontologi sosial memberi fondasi filosofis bagi objek, kategori, dan entitas yang akan dikaji oleh ilmu sosial, menentukan apa yang bisa dianggap “realitas sosial”. Tanpa landasan ontologis, metodologi dan teori sosial bisa kehilangan arah. [Lihat sumber Disini - ejournal.indo-intellectual.id]
-
Kerangka ontologis memengaruhi bagaimana peneliti mendefinisikan objek penelitian, bagaimana mengukur, mengobservasi, dan menafsirkan fenomena sosial. Sebagai contoh, jika peneliti memandang institusi sebagai entitas nyata (bukan sekadar agregat individu), maka pendekatan dan analisis terhadap lembaga itu bisa berbeda. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
-
Dalam filsafat ilmu, asumsi ontologis berdampak pada epistemologi (bagaimana kita mengetahui) dan aksiologi (nilainya), sehingga memilih ontologi sosial tertentu berarti juga mempengaruhi cara kita memahami ilmu sosial secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Perdebatan Ontologi dalam Kajian Sosial
Seperti halnya filsafat, ontologi sosial menyimpan sejumlah perdebatan penting, filosofis maupun praktis. Beberapa di antaranya:
-
Reduksionisme vs Non-Reduksionisme: Apakah entitas sosial (institusi, norma, kelompok) hanyalah agregat dari individu dan interaksi mereka, atau entitas itu memiliki keberadaan tersendiri yang tidak bisa direduksi ke individu? Penganut realisme non-reduktif berargumen bahwa banyak fenomena sosial tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh atribut individu saja. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Social Construction vs Realism: Sejauh mana kategori seperti gender, ras, kelas, status sosial hanyalah konstruksi sosial, dan apakah konstruksi itu “nyata” dalam arti ontologis? Beberapa teoretikus memandang kategori sosial sebagai hasil konstruksi kolektif dan regulasi, tetapi tetap memiliki realitas struktur sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Determinasi Sosial vs Individu: Apakah struktur sosial dan institusi menentukan individu (determinisme struktural), atau individu tetap memiliki agensi dan otonomi dalam membentuk struktur? Debat ini terkait dengan bagaimana kita memandang relasi antara individu dan struktur sosial. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]
-
Metafisika vs Empiris: Bagaimana ontologi sosial (yang sifatnya metafisik/filsafati) bisa relevan dan “nyata” bagi penelitian empiris di ilmu sosial? Beberapa kritik mengatakan bahwa terlalu abstrak bisa membuat teori sosial jauh dari realitas empiris; sebaliknya, terlalu empiris bisa mengabaikan struktur mendasar dari realitas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Peran Ontologi dalam Pembentukan Paradigma Penelitian
Memahami ontologi sosial bukan sekadar soal teori abstrak, tapi punya implikasi nyata terhadap bagaimana penelitian sosial dirancang dan dijalankan.
-
Ontologi mengarahkan apa yang diteliti. Jika peneliti memandang institusi sebagai entitas sosial nyata, maka studi bisa fokus pada institusi, pola struktural, sistem norma, bukan hanya perilaku individu. Sebaliknya, jika pandangan subjektivistik/psikologistik dipilih, maka fokus bisa pada pengalaman, persepsi, dan mindset individu.
-
Ontologi mempengaruhi metodologi dan metode. Kerangka ontologis berbeda bisa memerlukan pendekatan berbeda, kualitatif, kuantitatif, mixed-method, analisa struktural, historis, kritis, dll. [Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]
-
Ontologi membentuk paradigma teori: teori sosial struktural, teori tindakan, teori kritis, konstruktivisme sosial, realisme struktural, semua berpijak pada asumsi ontologis tertentu.
-
Ontologi membantu keseimbangan antara teori dan empirisme, memastikan bahwa penelitian sosial tidak mengabaikan kompleksitas dunia sosial maupun landasan filosofisnya.
Contoh Penerapan Ontologi Sosial dalam Penelitian
-
Dalam konteks administrasi publik: artikel “Ontologi Sosial dalam Konteks Administrasi Publik: Implikasi bagi Pengembangan Kebijakan” menunjukkan bagaimana pemahaman ontologi sosial membantu pembuat kebijakan memahami dinamika sosial kompleks, interaksi aktor, struktur institusi, dan merancang kebijakan lebih responsif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Studi normatif vs sosiologis terhadap agama: dalam artikel “Agama dalam Masyarakat (Realitas Sosial) dan Agama dalam Ajaran (Teks)”, penulis menggabungkan kajian ontologis dan sosiologis untuk membedakan antara aspek teologis ajaran agama dan realitas agama sebagai fenomena sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.iaifa.ac.id]
-
Pendekatan reflektif-kritis: dalam artikel “A New Ontological Foundation for Prophetic Social Science”, penulis menawarkan ontologi sosial yang berbeda dari positivisme (flat ontology), yaitu ontologi sosial “Heideggerian” yang menekankan makna, peristiwa bermakna, dan refleksivitas sebagai dasar kajian sosiologi. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suka.ac.id]
Kesimpulan
Ontologi sosial memegang peran penting dalam filsafat ilmu dan ilmu sosial: ia menetapkan kerangka dasar tentang apa yang masuk ke dalam realitas sosial dan bagaimana kita memahaminya. Melalui ontologi sosial, kita bisa menelaah entitas, individu, kelompok, institusi, serta struktur dan relasi sosial secara filosofis, bukan sekadar empiris. Debat antara reduksionisme vs non-reduksionisme, konstruk sosial vs realitas struktural, menunjukkan bahwa pemilihan asumsi ontologis bukan semata soal akademik tapi punya konsekuensi epistemologis, metodologis, dan praktis. Oleh karena itu, bagi peneliti sosial, memahami ontologi sosial bukan pilihan, melainkan landasan wajib agar penelitian punya pijakan filosofis yang kuat, relevan, dan reflektif terhadap kompleksitas dunia sosial.