
Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Inisiasi Laktasi
Pendahuluan
Inisiasi laktasi, atau awal keluarnya ASI setelah melahirkan, merupakan tahap penting bagi keberhasilan menyusui. Namun dalam praktiknya, banyak ibu yang mengalami keterlambatan onset laktasi (laktogenesis II), yaitu ASI banyak baru keluar setelah lebih dari 72 jam postpartum. Kondisi ini bisa menghambat ASI eksklusif dan berdampak pada nutrisi serta kesehatan bayi. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan inisiasi laktasi, agar tenaga kesehatan dan keluarga bisa mencegah atau meminimalkan keterlambatan tersebut.
Definisi Inisiasi Laktasi
Definisi Secara Umum
Inisiasi laktasi merujuk pada proses awal keluarnya ASI setelah melahirkan, ketika payudara mulai menghasilkan kolostrum lalu meningkat ke produksi ASI yang lebih banyak (milk “comes in”).
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “laktasi” berarti menyusui atau pengeluaran susu dari payudara; sehingga inisiasi laktasi adalah proses awal keluarnya susu dari payudara setelah bayi dilahirkan.
Definisi Menurut Para Ahli
-
Menurut laporan di literatur kedokteran, onset laktasi (laktogenesis II) biasanya ditandai dengan persepsi ibu bahwa payudara terasa “penuh, keras atau berat”, sebagai indikasi bahwa ASI telah mulai diproduksi dalam jumlah banyak. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]
-
Dalam penelitian di Indonesia disebut bahwa onset laktasi yang tertunda terjadi bila masa dari persalinan sampai ibu merasakan tanda tersebut lebih dari 72 jam postpartum. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]
-
Kajian internasional juga mendefinisikan delayed onset of lactation (DOL) sebagai kegagalan menghasilkan susu dalam jumlah banyak dalam 72 jam pertama setelah lahir. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Penyebab Fisiologis Keterlambatan Laktasi
Beberapa kondisi fisiologis pada ibu dan proses persalinan dapat mempengaruhi keterlambatan inisiasi laktasi:
-
Paritas dan pengalaman menyusui: Ibu multipara (yang telah melahirkan sebelumnya) cenderung lebih cepat mengalami onset laktasi dibanding ibu primipara (melahirkan pertama kali). [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id] Ibu primipara lebih berisiko mengalami stres, kecemasan, atau ketidaksiapan yang bisa mempengaruhi hormon dan respons menyusui. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Status gizi / kondisi tubuh ibu: Beberapa penelitian menyebut bahwa ibu dengan indeks massa tubuh (IMT) tinggi atau obesitas memiliki kecenderungan mengalami keterlambatan onset laktasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Berat lahir bayi & kondisi bayi: Faktor seperti bayi prematur atau berat lahir rendah bisa mempengaruhi stimulasi hisap bayi, sehingga mempengaruhi deteksi awal ASI dan delay produksi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Proses biokimia & hormon pasca persalinan: Normalnya, produksi ASI banyak (laktogenesis II) dipicu oleh penurunan hormon kehamilan (seperti progesteron) dan naiknya hormon prolaktin setelah plasenta lahir. Gangguan dalam proses ini, misalnya karena sisa plasenta, komplikasi persalinan, bisa menunda keluarnya susu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Pengaruh Jenis Persalinan terhadap Inisiasi ASI
Metode persalinan sangat berpengaruh pada seberapa cepat ibu bisa memulai ASI secara intensif:
Persalinan normal (vaginal) cenderung mendukung onset laktasi lebih cepat dibandingkan persalinan melalui operasi caesar (seksio sesarea). [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id] Alasan utamanya adalah kontak ibu-bayi yang lebih cepat, mobilitas ibu yang lebih baik, dan respons hormonal yang lebih optimal setelah persalinan normal. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
Penelitian di Ethiopia (2024) menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan dengan Caesar memiliki odds ratio ~ 3, 8 kali lebih besar untuk mengalami delayed initiation dibanding ibu yang melahirkan secara normal. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
Selain itu, kondisi perawatan pasca bedah (misalnya kurang kontak kulit-ke-kulit segera, kurang rooming-in, efek anestesi dan nyeri) dapat menghambat stimulasi menyusui awal. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Faktor Psikologis dan Sosial
Aspek psikologis dan lingkungan sosial memainkan peran penting dalam kelancaran inisiasi laktasi:
-
Kecemasan, stres pasca persalinan, kelelahan: Ibu yang mengalami kecemasan tinggi, takut, atau kelelahan setelah melahirkan cenderung mengalami keterlambatan onset laktasi. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id] Hormon stres seperti kortisol bisa menghambat hormon oksitosin yang penting untuk refleks pengeluaran ASI (“let-down”). [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Kurangnya dukungan sosial dan lingkungan: Dukungan dari pasangan, keluarga, tenaga kesehatan, serta lingkungan rumah sakit/klinik (misalnya kebijakan perawatan pasca persalinan) berpengaruh besar. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Norma sosial, budaya, dan pengetahuan lingkungan sekitar: Misalnya, jika dalam komunitas ASI eksklusif atau menyusui dini belum dianggap prioritas, ibu bisa kurang termotivasi atau tidak mendapat dukungan, ini bisa menunda inisiasi laktasi dan pengenalan kolostrum secara dini. [Lihat sumber Disini - publichealth.jmir.org]
Pengetahuan Ibu tentang Teknik Menyusui dan Praktik Menyusui
Pengetahuan dan keterampilan ibu (serta tenaga kesehatan) soal menyusui punya peran penting agar ASI keluar lebih cepat dan lancar:
-
Ibu dengan pendidikan dan pengetahuan menyusui yang baik cenderung berhasil melakukan inisiasi menyusui lebih cepat. [Lihat sumber Disini - ijpediatrics.com]
-
Teknik menyusui (posisi, pelekatan, latching) yang benar membantu stimulasi hisap bayi dan refleks hormon, ini penting untuk memicu produksi ASI awal. Jika teknik salah atau bayi sulit menyusu, stimulasi hormon produksi ASI bisa terhambat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pemberian prelakteal atau makanan/minuman selain ASI sebelum ASI pertama keluar, beberapa penelitian menunjukkan ini berhubungan dengan delay onset laktasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Peran IMD dalam Mempercepat Laktasi
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) / early skin-to-skin contact dan menyusui segera setelah lahir memiliki peran besar dalam mempercepat onset laktasi:
-
Penelitian di Malang menunjukkan bahwa ibu yang melakukan IMD lebih cepat mengalami onset laktasi dibanding mereka yang tidak melakukan IMD. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]
-
Kontak kulit-ke-kulit langsung antara ibu dan bayi, serta menyusui segera, membantu stimulasi hormonal prolaktin dan oksitosin, memperlancar refleks pengeluaran ASI. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Sebaliknya, apabila IMD tidak dilaksanakan, misalnya karena kondisi medis, persalinan sesar, atau kebijakan rumah sakit, risiko keterlambatan laktasi meningkat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Hambatan yang Menghambat Produksi ASI Awal
Selain faktor-faktor di atas, ada beberapa hambatan umum yang sering menyebabkan keterlambatan atau kegagalan ASI awal:
-
Pemberian prelakteal atau susu pengganti sebelum ASI pertama keluar, ini dapat mengurangi stimulasi hisap bayi dan menurunkan frekuensi menyusui awal sehingga produksi ASI tertunda. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kondisi medis ibu atau bayi, misalnya prematuritas bayi, berat lahir rendah, komplikasi obstetri, atau penggunaan obat/anaestesi pasca persalinan bisa menghambat refleks menyusui dan produksi ASI. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Kurangnya dukungan dari tenaga kesehatan atau rumah sakit, jika tidak ada edukasi, kurang rooming-in, atau kurang dorongan untuk menyusui dini, ibu bisa mengalami kesulitan memulai ASI tepat waktu. [Lihat sumber Disini - ijpediatrics.com]
Dampak Keterlambatan Laktasi terhadap ASI Eksklusif
Keterlambatan inisiasi laktasi, jika tidak ditangani, bisa berdampak negatif terhadap keberhasilan ASI eksklusif:
-
Menurut penelitian di Indonesia, sekitar 31% ibu postpartum mengalami keterlambatan onset laktasi, dan kondisi ini berkontribusi pada kegagalan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penelitian kohort menunjukkan bahwa ibu yang mengalami delayed onset laktasi lebih berisiko menghentikan ASI eksklusif lebih dini. [Lihat sumber Disini - jik.stikesalifah.ac.id]
-
Sebaliknya, onset laktasi tepat waktu (berkat IMD, praktik menyusui benar, dukungan, dsb.) terkait erat dengan keberhasilan menyusui eksklusif, sehingga penting dilakukan upaya preventif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Kesimpulan
Keterlambatan inisiasi laktasi (onset laktasi yang tertunda) dipengaruhi oleh beragam faktor, dari aspek fisiologis (paritas, status gizi, kondisi persalinan), psikologis (stres, kecemasan), hingga sosial dan praktik menyusui (pengetahuan, teknik, dukungan, IMD). Karena dampaknya sangat besar terhadap keberhasilan ASI eksklusif, penting bagi tenaga kesehatan, keluarga, dan ibu sendiri untuk memahami serta meminimalkan faktor-faktor risiko. Strategi seperti promosi IMD, edukasi menyusui, mendukung ibu secara emosional dan fisik, serta memperhatikan kondisi medis dapat membantu mempercepat onset laktasi dan mendukung ASI eksklusif sesuai rekomendasi.