
Kajian Interdisipliner antara Ilmu Sosial dan Teknologi
Pendahuluan
Di era modern saat ini, perubahan sosial dan kemajuan teknologi berjalan secara paralel, bahkan saling mempengaruhi dengan kompleksitas tinggi. Kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan sistem digital telah merombak cara manusia berinteraksi, bekerja, belajar, dan berorganisasi. Sementara itu, fenomena sosial yang timbul sebagai akibat dari kemajuan ini, seperti transformasi budaya, ekonomi digital, perubahan struktur pekerjaan, serta dinamika sosial-kultural lainnya, membutuhkan pemahaman yang mendalam dan lintas disiplin. Oleh karena itu, kajian yang hanya berlandaskan satu disiplin saja, misalnya hanya teknologi atau hanya sosiologi, seringkali tidak mampu menjelaskan realitas secara utuh.
Pendekatan interdisipliner, yaitu menggabungkan ilmu sosial dan ilmu/teknologi, menjadi sangat relevan untuk memahami dampak teknologi terhadap masyarakat secara komprehensif: dari aspek budaya, ekonomi, perilaku, hingga struktur sosial. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi konsep, definisi, serta manfaat dan tantangan dari kajian interdisipliner antara ilmu sosial dan teknologi, dengan mengacu pada literatur akademik dan penelitian terkini.
Definisi Kajian Interdisipliner Ilmu Sosial & Teknologi
Definisi secara umum
Kajian interdisipliner adalah pendekatan penelitian atau analisis yang melibatkan lebih dari satu disiplin ilmu secara intensif, dengan tujuan mengintegrasikan konsep, metode, dan analisis dari masing-masing disiplin untuk memperoleh pemahaman yang lebih holistik terhadap suatu fenomena. Dalam konteks “ilmu sosial & teknologi”, kajian interdisipliner berarti memadukan perspektif sosial, misalnya dari sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi sosial, dengan perspektif teknologi, seperti ilmu komputer, informatika, sistem informasi, teknologi komunikasi, untuk memahami bagaimana teknologi memengaruhi masyarakat, dan sebaliknya bagaimana struktur sosial memengaruhi penerapan dan dampak teknologi.
Definisi menurut KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “interdisipliner” pada dasarnya mengacu pada “hubungan antara dua disiplin ilmu atau lebih”, atau “cara pandang/pendekatan yang melibatkan lebih dari satu disiplin keilmuan”. Dengan demikian, kajian interdisipliner menunjukkan bahwa fokus analisis tidak dibatasi pada satu disiplin semata, melainkan melibatkan integrasi ilmu untuk melihat suatu masalah secara lintas bidang.
Definisi menurut para ahli
- Dalam riset tentang manajemen pendidikan Islam di Indonesia, Antonio Reinaldo, Septi Gia Aprima, dan Ardimen (2024) mendefinisikan pendekatan interdisipliner sebagai “interaksi intensif antara satu atau lebih disiplin dalam program penelitian dengan tujuan mengintegrasikan konsep, metode, dan analisis”. [Lihat sumber Disini - ejournal.indo-intellectual.id]
- Menurut ulasan dalam literatur filosofi keilmuan, kajian interdisipliner bukan sekadar penambahan disiplin (multidisipliner), melainkan transformasi epistemologis, di mana ide, metodologi, dan perspektif dari disiplin yang berbeda berkolaborasi secara sinergis guna menghasilkan pemahaman baru, bahkan metode baru. [Lihat sumber Disini - journal.uhamka.ac.id]
- Dalam konteks bidang sosial dan teknologi, kajian interdisipliner memungkinkan penyatuan analisis kuantitatif dan kualitatif, teori sosial klasik dan teknologi modern, sehingga hasil penelitian lebih adaptif terhadap dinamika zaman. Misalnya dalam pendidikan, integrasi antara pedagogi sosial dengan teknologi pendidikan memberikan kerangka analisis yang lebih komprehensif. [Lihat sumber Disini - ejournal.upi.edu]
- Pendekatan interdisipliner juga diartikan sebagai sarana untuk menjawab permasalahan sosial kontemporer yang kompleks dan multidimensional, permasalahan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin saja karena kompleksitas realitas manusia, budaya, ekonomi, politik, dan teknologi yang saling terkait. [Lihat sumber Disini - journal.uhamka.ac.id]
Mengapa Interdisipliner antara Ilmu Sosial dan Teknologi Penting
Kompleksitas Masalah Sosial-Teknologi di Era Digital
Perkembangan pesat teknologi digital, seperti internet, media sosial, aplikasi, sistem informasi, kecerdasan buatan, telah menciptakan fenomena sosial baru: transformasi pola kerja (remote working, gig-economy), perubahan interaksi sosial (virtual community, media sosial), tantangan privasi dan keamanan data, kesenjangan digital (digital divide), disinformasi, perubahan budaya, hingga dampak psikologis. Fenomena tersebut bersifat kompleks karena melibatkan aspek teknis, sosial, budaya, ekonomi, dan hukum sekaligus, sehingga sulit dipahami hanya dari satu disiplin. Kajian interdisipliner menjadi vital untuk menganalisis dampak teknologi terhadap masyarakat secara menyeluruh.
Inovasi Solusi dan Kebijakan yang Berbasis Konteks Sosial dan Teknologi
Dengan pendekatan interdisipliner, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi teknologi, dan pemangku kepentingan lainnya bisa merancang solusi yang lebih matang dan relevan. Misalnya, dalam pengembangan sistem teknologi informasi untuk pendidikan, integrasi antara teori pendidikan (sosial) dan aspek teknis (teknologi) bisa menghasilkan model pembelajaran yang efektif, inklusif, dan kontekstual. Dalam manajemen pendidikan, kajian interdisipliner telah terbukti penting untuk merumuskan kurikulum, strategi pendidikan, dan kebijakan pendidikan Islam yang adaptif terhadap perubahan sosial global. [Lihat sumber Disini - ejournal.indo-intellectual.id]
Menghadirkan Perspektif Baru dan Pengetahuan Hibrida
Interdisipliner memungkinkan munculnya pengetahuan baru, yang tidak dihasilkan jika hanya memakai satu disiplin, karena kolaborasi metodologi, teori, dan data dari berbagai bidang. Pendekatan ini mendobrak batas-batas keilmuan tradisional, menghasilkan kerangka analisis yang lebih kaya, serta solusi yang bersifat holistik. Banyak jurnal dan institusi akademik sekarang mendorong penelitian interdisipliner untuk menjawab masalah kontemporer. [Lihat sumber Disini - journal.formosapublisher.org]
Contoh Kajian Interdisipliner Ilmu Sosial & Teknologi di Indonesia
Evolusi Kajian Sosial dan Komunikasi Pasca-2020
Dalam penelitian berjudul Evolusi Kajian Sosiologi dan Komunikasi di Indonesia Pasca-2020: Telaah Bibliometrik dan Perspektif Interdisipliner, ditemukan bahwa setelah pandemi COVID-19, ada peningkatan signifikan dalam kajian interdisipliner antara sosiologi dan komunikasi, di mana teknologi komunikasi modern (media digital, internet, media sosial) ikut dibahas bersama aspek sosial, perilaku, dan struktur masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa fokus kajian bergeser dari isu konvensional seperti urbanisasi, ke isu baru seperti digitalisasi sosial, pemasaran media lokal, dan integrasi teknologi informasi dalam riset sosial. Integrasi teknologi dan teori sosial terbukti memperkaya analisis sosial kontemporer. [Lihat sumber Disini - ojs.unida.ac.id]
Penerapan dalam Manajemen Pendidikan Islam
Dalam artikel Ilmu Interdisipliner dan Multidisipliner dalam Manajemen Pendidikan Islam (2024) oleh Reinaldo, Aprima & Ardimen, penulis menekankan bahwa manajemen pendidikan, khususnya di lingkungan pendidikan Islam, membutuhkan pendekatan interdisipliner untuk menghadapi tantangan kompleks pendidikan modern. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara teori sosial-keagamaan, kebijakan pendidikan, dan pemahaman terhadap konteks sosial budaya serta dinamika global memungkinkan kurikulum dan manajemen pendidikan yang lebih adaptif dan relevan. [Lihat sumber Disini - ejournal.indo-intellectual.id]
Integrasi Ilmu Sosial–Teknologi dalam Pendidikan dan Pembelajaran
Kajian dalam jurnal internasional dan nasional telah menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner antara ilmu sosial dan ilmu/teknologi dalam konteks pendidikan bisa meningkatkan efektivitas pembelajaran. Misalnya, integrasi pedagogi sosial dengan media dan teknologi pendidikan memungkinkan proses belajar yang responsif terhadap perkembangan zaman, serta lebih relevan dengan kebutuhan generasi digital. [Lihat sumber Disini - ejournal.upi.edu]
Tantangan dan Hambatan dalam Kajian Interdisipliner
Perbedaan Paradigma dan Metodologi
Menggabungkan dua, atau lebih, disiplin berarti harus menyatukan paradigma, epistemologi, dan metodologi yang kadang berbeda secara mendasar. Ilmu sosial sering menggunakan pendekatan kualitatif, interpretatif, kontekstual, sedangkan ilmu/teknologi bisa sangat teknis, kuantitatif, berbasis data/eksperimen. Menyatukan keduanya memerlukan usaha ekstra agar hasil kajian valid dan saling relevan. Hal ini menjadi tantangan, terutama bagi peneliti yang terbiasa dengan satu paradigma saja.
Keterbatasan Tradisi Akademik dan Institusional
Di banyak institusi akademik, terutama di Indonesia, struktur keilmuan masih sangat terpisah berdasarkan disiplin. Hal ini menyebabkan sulitnya kolaborasi lintas disiplin, minimnya dana riset interdisipliner, serta kurangnya dukungan administratif. Sebagai contoh, dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama atau antara ilmu sosial dan ilmu teknologi menjadi hambatan historis. [Lihat sumber Disini - jurnal.insida.ac.id]
Kerumitan dalam Integrasi dan Interpretasi Data
Menggabungkan data sosial (kualitatif, naratif, kontekstual) dengan data teknis (kuantitatif, statistik, algoritmis) memerlukan keahlian multi-aspek agar analisis tetap konsisten. Peneliti harus mampu menyelaraskan definisi, asumsi, dan metodologi dari disiplin berbeda, jika tidak, hasil bisa jadi bias, dangkal, atau tidak relevan dengan salah satu sisi.
Rekomendasi untuk Pengembangan Kajian Interdisipliner Ilmu Sosial & Teknologi
- Mendorong kolaborasi antar disiplin di universitas dan lembaga riset, misalnya antara jurusan sosiologi, antropologi, ilmu komputer, dan sistem informasi, untuk membentuk tim riset interdisipliner yang solid.
- Menerapkan kurikulum dan pedagogy interdisipliner di pendidikan tinggi agar mahasiswa terbiasa melihat masalah dari berbagai perspektif, baik sosial maupun teknologi.
- Pemerataan akses terhadap jurnal dan publikasi open-access agar hasil kajian interdisipliner dapat diakses luas dan mendukung transparansi ilmu.
- Memfasilitasi pendanaan riset interdisipliner, termasuk mendukung penelitian yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif agar analisis lebih menyeluruh.
- Mengedepankan etika dan sensitivitas sosial ketika menggabungkan teknologi dengan aspek kemanusiaan, agar teknologi yang diterapkan memperhatikan nilai-nilai sosial, budaya, dan hak asasi manusia.
Kesimpulan
Kajian interdisipliner antara ilmu sosial dan teknologi memegang peran krusial dalam memahami realitas masyarakat modern yang kompleks dan dinamis. Dengan menggabungkan perspektif sosial, seperti struktur masyarakat, budaya, perilaku, dan interaksi, bersama perspektif teknologi, seperti sistem informasi, digitalisasi, dan inovasi teknis, kita bisa memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan komprehensif terhadap fenomena kontemporer. Berbagai penelitian di Indonesia telah menunjukkan bahwa integrasi ini memungkinkan solusi, kebijakan, dan analisis yang relevan dan adaptif terhadap tantangan zaman. Meskipun menghadapi tantangan seperti perbedaan paradigma, keterbatasan institusional, dan kerumitan metodologis, potensi manfaat pendekatan interdisipliner sangat besar, baik untuk akademisi, pembuat kebijakan, praktisi, maupun masyarakat luas. Oleh karena itu, menguatkan kolaborasi lintas disiplin, mendukung penelitian dan publikasi interdisipliner, serta memastikan etika dan sensitivitas sosial dalam penerapan teknologi, adalah langkah penting untuk menjawab kompleksitas zaman di masa depan.