
Kemiskinan Sosial: Konsep dan Pendekatan Sosiologis
Pendahuluan
Masalah kemiskinan sosial merupakan isu yang terus menghantui banyak negara, terutama negara berkembang seperti Indonesia. Fenomena ini bukan hanya masalah ekonomi semata, tetapi juga menyentuh persoalan sosial budaya, kesejahteraan masyarakat, akses pendidikan, kesehatan, serta partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai puluhan juta orang, dan meskipun tren menunjukkan penurunan, tantangan kemiskinan tetap kompleks dan multidimensi karena berkaitan dengan akses terhadap sumber daya, pendidikan, dan lapangan kerja yang belum merata di berbagai wilayah.
Kemiskinan sosial menunjukkan bagaimana keterbatasan akses terhadap sumber daya membuat individu dan kelompok masyarakat mengalami ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial. Karena dampaknya yang begitu luas dan merembet ke berbagai aspek kehidupan masyarakat, memahami konsep kemiskinan sosial dari perspektif sosiologis sangat penting untuk merumuskan pendekatan penanggulangannya secara tepat.
Definisi Kemiskinan Sosial
1. Definisi Kemiskinan Sosial Secara Umum
Kemiskinan sosial umumnya didefinisikan sebagai kondisi ketidakmampuan individu atau kelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan secara layak. Keadaan ini terjadi karena rendahnya pendapatan, keterbatasan akses terhadap sumber daya, atau kombinasi faktor struktural dalam masyarakat yang menghambat mobilitas sosial dan kesejahteraan.
Dalam banyak kajian, kemiskinan bukan hanya diukur dari sisi ekonomi tetapi juga mencakup keterbatasan sosial dalam ikut serta dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan peluang pekerjaan, sehingga kondisi sosial masyarakat miskin sering tertinggal dibanding kelompok masyarakat lain.
2. Definisi Kemiskinan Sosial dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemiskinan diartikan sebagai keadaan miskin atau ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar karena tidak memiliki harta atau penghasilan yang cukup. Definisi ini menekankan aspek ekonomi sebagai ukuran awal dari fenomena kemiskinan namun tidak secara eksplisit menyebutkan dimensi sosialnya, sehingga pemahaman lebih luas diperlukan dari perspektif ilmu sosial.
3. Definisi Kemiskinan Sosial Menurut Para Ahli
a. Peter Townsend: Kemiskinan terjadi ketika individu atau keluarga kekurangan sumber daya yang cukup untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang dianggap normal bagi masyarakatnya. Kekurangan ini mencakup kebutuhan material sekaligus keterbatasan akses sosial.
b. Jurnal Ilmiah Triwikrama (2024): Kemiskinan adalah kondisi ketidakmampuan individu atau kelompok masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, akses pendidikan, dan kesehatan, serta terhambatnya ketersediaan sumber daya yang memadai untuk pengembangan kualitas hidup.
c. Spicker (2025): Kemiskinan memiliki karakteristik multidimensi, meliputi kekurangan pendapatan, keterbatasan kontribusi sosial, serta hambatan dalam fungsi sosial sehingga menyebabkan ketidaksamaan dalam tingkat masyarakat.
d. Studi “Social Poverty and Relational Resources” (2020): Kemiskinan sosial mencakup kekurangan hubungan sosial yang berkualitas, kepercayaan, dan kesempatan jaringan sosial yang berkelanjutan, yang semuanya merupakan bagian dari keterbatasan sumber daya sosial.
Jenis-Jenis Kemiskinan
Kemiskinan tidak selalu bersifat tunggal dan homogen. Para peneliti mengidentifikasi berbagai bentuk kemiskinan, antara lain:
1. Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut merujuk pada situasi ketika individu atau keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal secara minimal. Ini umumnya diukur berdasarkan garis kemiskinan nasional atau internasional yang menunjukkan batas minimum kebutuhan hidup layak.
2. Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif muncul ketika individu tidak dapat mencapai standar hidup yang dianggap normal dalam konteks masyarakat tertentu. Orang yang miskin relatif mungkin memiliki sumber daya dasar untuk bertahan hidup, tetapi masih tertinggal dibanding kelompok lain dalam hal partisipasi sosial dan akses layanan.
3. Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural terjadi karena sistem sosial, politik, dan ekonomi yang menghasilkan ketimpangan distribusi sumber daya. Ketidakadilan akses pendidikan, lapangan kerja, dan infrastruktur menjadi faktor yang mempertahankan struktur kemiskinan generasi ke generasi.
4. Kemiskinan Kultural
Kemiskinan kultural berakar pada pola norma, nilai, dan kebiasaan dalam kelompok masyarakat yang membatasi kesempatan berkembang. Teori ini menunjukkan bahwa sikap dan kepercayaan tertentu dapat memperkuat kondisi kemiskinan.
Faktor Penyebab Kemiskinan Sosial
Penyebab kemiskinan sosial bersifat kompleks karena melibatkan interaksi antara faktor ekonomi, politik, budaya, dan struktur sosial yang ada dalam masyarakat. Berikut adalah faktor utama:
1. Ketidakmerataan Akses Sumber Daya
Akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan yang tidak merata menjadi pemicu utama bagi timbulnya kemiskinan sosial. Ketika kelompok masyarakat memiliki peluang yang jauh lebih rendah untuk mengakses layanan dasar, mereka berada pada risiko lebih tinggi mengalami dan mempertahankan kemiskinan.
2. Perubahan Ekonomi dan Struktur Tenaga Kerja
Penurunan kegiatan ekonomi atau perubahan struktur ekonomi dapat mengurangi kesempatan kerja layak, yang pada gilirannya menurunkan pendapatan rumah tangga. Hal ini sering terjadi pada daerah-daerah dengan pertumbuhan ekonomi tidak merata atau tergantung pada sektor tertentu.
3. Kurangnya Mobilitas Sosial
Sistem sosial yang tidak memberikan ruang bagi kelompok berpendapatan rendah untuk meningkatkan status sosial ekonomi mereka akan memperkuat kemiskinan struktural. Hambatan ini sering timbul dari diskriminasi, rendahnya akses pendidikan, dan jaringan sosial yang terbatas.
4. Kemiskinan Intergenerasional
Kemiskinan sering kali diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya akibat kurangnya akses pendidikan dan peluang ekonomi pada keluarga miskin. Faktor keturunan kondisi sosial-ekonomi ini terus memperkuat situasi kemiskinan.
Pendekatan Sosiologis dalam Memahami Kemiskinan
Pendekatan sosiologis memandang kemiskinan bukan hanya sebagai ketidakmampuan ekonomi, tetapi sebagai fenomena sosial yang berkaitan dengan struktur sosial, stratifikasi, relasi kekuasaan, serta nilai budaya yang membentuk perilaku masyarakat.
1. Teori Stratifikasi dan Ketimpangan Sosial
Pendekatan sosiologis menekankan peran struktur sosial dalam menciptakan dan mereproduksi kemiskinan. Stratifikasi sosial yang ketat menyebabkan kelompok-kelompok tertentu terus berada pada strata bawah dengan kesempatan ekonomi dan sosial yang minimal.
2. Pendekatan Konflik Sosial
Teori konflik memandang kemiskinan sebagai hasil dari ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya yang disebabkan oleh sistem sosial yang timpang. Kelompok dominan dalam masyarakat menggunakan kekuatan struktural untuk mempertahankan posisi mereka, sehingga kelompok miskin sulit keluar dari kemiskinan.
3. Teori Interaksionis
Pendekatan ini melihat kemiskinan sebagai hasil dari proses sosial yang berkelanjutan, khususnya dalam pola interaksi antara individu miskin dengan masyarakat luas. Persepsi sosial terhadap kemiskinan dapat mempengaruhi penyikapan dan penanganannya.
Dampak Kemiskinan terhadap Kehidupan Sosial
Kemiskinan sosial membawa dampak yang dalam dan luas terhadap kehidupan individu dan masyarakat secara keseluruhan:
1. Pengaruh terhadap Relasi Sosial
Kemiskinan sering menyebabkan keterbatasan dalam menjalin dan mempertahankan hubungan sosial karena kurangnya kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan pekerjaan, yang pada akhirnya mengisolasi individu dari kehidupan sosial yang sehat.
2. Dampak pada Akses Pendidikan dan Kesehatan
Keluarga miskin cenderung menghadapi hambatan besar dalam mengakses layanan pendidikan dan kesehatan berkualitas, sehingga generasi muda dari keluarga miskin memiliki peluang lebih rendah untuk keluar dari kemiskinan.
3. Pengaruh pada Kualitas Hidup
Kemiskinan sering dikaitkan dengan pola hidup yang tidak sehat, rendahnya tingkat kesejahteraan psikologis, dan keterbatasan dalam pemenuhan standar hidup yang layak, sehingga meningkatkan risiko masalah sosial lain seperti kriminalitas dan pelecehan norma sosial.
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Sosial
Penanggulangan kemiskinan sosial memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi, melibatkan peran pemerintah, komunitas, serta sektor privat:
1. Perbaikan Akses Pendidikan dan Pelatihan
Meningkatkan akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan dapat membantu kelompok miskin untuk memperbaiki daya saing mereka di pasar kerja, sehingga mengurangi risiko kemiskinan dalam jangka panjang.
2. Perlindungan Sosial dan Bantuan Langsung
Program bantuan sosial seperti bantuan langsung tunai, subsidi, dan jaminan kesehatan dapat membantu meringankan beban masyarakat miskin sekaligus mengurangi efek negatif kemiskinan terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
3. Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi
Program pemberdayaan ekonomi melalui akses modal usaha, pelatihan kewirausahaan, dan peningkatan inklusi finansial dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat miskin untuk memulai usaha dan memperkuat ekonomi lokal.
4. Reformasi Struktur Sosial
Strategi jangka panjang untuk mengurangi kemiskinan sosial harus melibatkan upaya reformasi struktural yang membuka akses peluang secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk perbaikan infrastruktur, penguatan layanan publik, serta pengurangan ketimpangan regional dan sosial.
Kesimpulan
Kemiskinan sosial adalah fenomena multidimensi yang jauh melampaui sekadar ketidakmampuan ekonomi. Secara sosiologis, kemiskinan mencerminkan ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya, kesempatan sosial, pendidikan, serta partisipasi masyarakat yang menyebabkan individu atau kelompok tidak mampu berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial. Jenis-jenis kemiskinan seperti kemiskinan absolut, relatif, struktural, dan kultural menunjukkan bahwa kemiskinan bukan fenomena tunggal, melainkan hasil interaksi kompleks berbagai faktor.
Pendekatan sosiologis dalam memahami kemiskinan membantu kita melihat bagaimana struktur sosial, konflik, dan nilai budaya turut memperkuat kondisi ketidaksetaraan sosial. Dampak kemiskinan sangat luas, mencakup relasi sosial, kualitas hidup, serta akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Oleh karena itu, strategi penanggulangannya harus melibatkan kebijakan pendidikan, perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta reformasi struktural yang terintegrasi untuk menciptakan pemerataan peluang.
Melalui pemahaman komprehensif ini, diharapkan upaya penanggulangan kemiskinan sosial dapat lebih efektif dan berkelanjutan, sehingga masyarakat memiliki kesempatan yang adil untuk hidup layak dan sejahtera dalam kehidupan sosial mereka masing-masing.