
Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya
Pendahuluan
Masalah pola makan tidak teratur semakin relevan di era modern, di mana gaya hidup, pekerjaan, pendidikan, dan kebiasaan sehari-hari berubah cepat. Banyak orang, terutama remaja, mahasiswa, pekerja shift, ataupun orang dengan kesibukan padat, mengabaikan konsistensi waktu makan dan kualitas nutrisi. Padahal, pola makan memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan fungsi metabolisme tubuh. Artikel ini bertujuan menjelaskan apa itu pola makan tidak teratur, faktor-faktor penyebabnya, dampaknya terhadap kesehatan, serta bagaimana peran perawat dalam edukasi nutrisi dan strategi memperbaiki pola makan.
Definisi Pola Makan Tidak Teratur
Definisi Pola Makan Tidak Teratur secara Umum
Pola makan tidak teratur dapat diartikan sebagai kebiasaan makan yang tidak konsisten dalam hal waktu, frekuensi, dan kualitas, misalnya melewatkan sarapan, makan pada jam-jam berbeda setiap hari, sering ngemil makanan cepat saji, atau hanya makan sekali sehari. Ketidakteraturan ini bisa berupa ketidakkonsistenan waktu makan (misalnya makan siang kadang jam 12, kadang jam 15), frekuensi makan yang rendah atau tinggi secara acak, serta asupan nutrisi yang kurang seimbang.
Definisi Pola Makan Tidak Teratur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut entri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “pola makan” didefinisikan sebagai kebiasaan makan seseorang dalam hal jenis, jumlah, dan waktu makanan. Maka dari itu, “pola makan tidak teratur” bisa diartikan sebagai kebiasaan makan di mana aspek-aspek tersebut tidak stabil atau konsisten.
Definisi Pola Makan Tidak Teratur Menurut Para Ahli
-
Menurut Y Tahara dkk. (2021): “irregular meal timing” dikaitkan dengan gangguan tidur, penurunan persepsi kesehatan subjektif, penurunan aktivitas fisik, dan peningkatan neurotisisme. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Darbaz Adnan dkk. (2022): dalam studi prospektif menunjukkan bahwa kebiasaan makan dengan waktu tidak konsisten berhubungan dengan indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi dibanding yang makan dengan jadwal konsisten. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
F Alkhulaifi dkk. (2022): dalam tinjauan literatur mengemukakan bahwa frekuensi dan waktu makan mempengaruhi risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
MH Alhussain dkk. (2016): penelitian menunjukkan bahwa reguleritas makan berhubungan dengan fungsi metabolisme, ketidakaturan makanan dapat menurunkan respons glukosa dan efisiensi pembakaran energi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
ENC Manoogian dkk. (2019): menyarankan bahwa pola makan dengan durasi makan konsisten harian (< 12 jam), dan sebagian besar kalori dikonsumsi di awal hari, mendukung kesehatan optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor Penyebab Pola Makan Tidak Teratur
Terdapat berbagai faktor yang dapat memicu seseorang memiliki pola makan tidak teratur. Berikut penyebab utama berdasarkan riset:
-
Faktor gaya hidup dan aktivitas padat: Mahasiswa atau pekerja dengan jadwal padat, tugas banyak, kerja lembur, atau shift malam, cenderung melewatkan waktu makan, memilih makanan cepat saji, atau ngemil. Studi pada mahasiswa menunjukkan bahwa kombinasi pola makan tidak teratur, konsumsi junk food, dan kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko gizi buruk atau obesitas. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Kurangnya literasi gizi dan pemahaman nutrisi: Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan gizi berhubungan dengan pola makan; kurangnya edukasi membuat individu tidak menyadari pentingnya waktu makan teratur dan asupan nutrisi yang seimbang. [Lihat sumber Disini - jurnalfkip.unram.ac.id]
-
Pengaruh lingkungan sosial dan kebiasaan makan keluarga: Pola makan keluarga yang tidak teratur, misalnya sering melewatkan sarapan bersama, cenderung menurunkan asupan sayur/buah dan meningkatkan konsumsi makanan kurang sehat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Perubahan ritme harian dan pekerjaan bergilir / shift: Bagi pekerja shift atau yang punya aktivitas malam hari, jam makan bisa sangat kacau, menyebabkan asupan energi tidak memadai atau tidak tepat waktu, yang berujung pada konsumsi makanan instan atau junk food. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Tekanan psikologis, stres, atau kebiasaan emosional: Beberapa studi (luar negeri) menunjukkan bahwa irregular meal timing berhubungan dengan masalah kesehatan mental, pola tidur buruk, dan produktivitas menurun. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Pola Makan Buruk terhadap Kesehatan
Ketidakteraturan pola makan, baik dari sisi waktu, frekuensi, maupun kualitas, dapat membawa banyak dampak negatif bagi kesehatan, antara lain:
-
Risiko obesitas dan kenaikan berat badan: Studi prospektif menunjukkan bahwa orang dengan waktu makan tidak konsisten memiliki BMI lebih tinggi dibanding mereka dengan jadwal makan konsisten. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Gangguan metabolisme & penyakit kronis: Pola makan tidak teratur dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Penurunan efisiensi metabolik dan regulasi energi: Ketidakaturan makan mengganggu respons glukosa dan termogenesis (pembakaran energi setelah makan), sehingga metabolisme tubuh menjadi kurang optimal. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Masalah kesehatan mental dan fisik: Irregular meal timing berkaitan dengan gangguan tidur, stres, penurunan persepsi kesehatan, dan potensi penurunan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kualitas gizi buruk, malnutrisi atau kelebihan gizi: Pada remaja dan mahasiswa, pola makan tidak sehat dapat menyebabkan defisit gizi mikro (nutrisi kurang) atau asupan kalori berlebih dengan kualitas buruk, keduanya berdampak pada anemia, stunting, obesitas, atau kondisi gizi tidak seimbang. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Gangguan fungsi reproduksi (pada perempuan remaja): Penelitian pada remaja putri menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan buruk dengan ketidakteraturan siklus menstruasi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Hubungan Pola Makan dengan Nutrisi dan Metabolisme
Pola makan tidak teratur sering membuat asupan nutrisi tidak seimbang, baik dari segi makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) maupun mikronutrien (vitamin, mineral). Akibatnya:
-
Asupan energi bisa tidak mencukupi, menyebabkan kekurangan energi, penurunan massa otot, penurunan daya tahan tubuh, kelelahan, dan gangguan fungsi tubuh secara umum. Studi terbaru menekankan bahwa meal skipping dan jadwal makan acak sering membuat orang beralih ke makanan cepat saji atau instan dengan nilai gizi rendah. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Regulasi metabolisme terganggu, tubuh kesulitan mengatur kadar glukosa dan insulin, serta pembakaran energi jadi kurang efisien. Hal ini membuka peluang munculnya resistensi insulin, obesitas, hingga penyakit metabolik. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Fungsi fisiologis dan hormonal ikut terpengaruh, terutama jika pola makan tidak konsisten mengganggu ritme biologis/circadian. Asupan makanan yang acak bisa merusak koordinasi sistem hormonal dan metabolik tubuh. [Lihat sumber Disini - wellbeing.jhu.edu]
Peran Perawat dalam Edukasi Nutrisi
Perawat (baik di rumah sakit, klinik, maupun di komunitas) memiliki peran strategis dalam mengedukasi pasien atau masyarakat tentang pentingnya pola makan yang teratur dan sehat. Peran tersebut meliputi:
-
Memberikan informasi dan edukasi tentang dampak negatif pola makan tidak teratur, serta pentingnya waktu makan konsisten dan asupan gizi seimbang. Edukasi ini bisa dilakukan melalui konsultasi langsung, penyuluhan, atau kampanye literasi gizi.
-
Mengidentifikasi kelompok dengan risiko tinggi, seperti mahasiswa, pekerja shift, remaja, dan memberikan intervensi khusus: misalnya panduan membuat jadwal makan, pemilihan menu bergizi, serta membangun kebiasaan makan sehat.
-
Memantau status gizi dan kesehatan pasien: menilai kebiasaan makan, asupan nutrisi, status gizi, serta memberi rekomendasi diet atau rujukan ke ahli gizi jika diperlukan.
-
Mendampingi perubahan perilaku: membantu pasien membuat rencana makan, adopsi kebiasaan baru, dan memberikan dukungan psikologis apabila ada hambatan, misalnya dari kebiasaan, lingkungan, atau kondisi mental.
-
Mengintegrasikan edukasi gizi dalam perawatan umum, misalnya di asuhan keperawatan, konseling kesehatan, atau layanan komunitas, agar pola makan sehat menjadi bagian dari gaya hidup jangka panjang.
Strategi Memperbaiki Pola Makan Pasien
Supaya pola makan bisa diperbaiki dan dijaga secara konsisten, berikut strategi yang dapat diimplementasikan:
-
Susun jadwal makan harian dengan waktu relatif konsisten (sarapan, makan siang, makan malam), atau paling tidak buat pola yang bisa dipertahankan.
-
Prioritaskan asupan makanan seimbang: penuhi kebutuhan karbohidrat kompleks, protein, sayur, buah, serat, dan lemak sehat, hindari terlalu sering konsumsi makanan cepat saji atau junk food.
-
Edukasi dan literasi gizi, informasikan pentingnya makronutrien & mikronutrien, efek skipping meal, dampak makan tidak teratur terhadap metabolisme dan kesehatan.
-
Konsiderasi konteks individu, misalnya bagi pekerja shift, kombinasi jadwal makan optimal dengan kondisi kerja; bagi pelajar/mahasiswa: bantu susun menu dan waktu makan sesuai aktivitas.
-
Dukungan sosial dan lingkungan, dorong rutinitas makan bersama keluarga/teman, atur lingkungan agar mudah akses makanan sehat, kurangi ketergantungan pada fast food.
-
Monitoring dan evaluasi berkala, perawat/gizi bisa memantau status gizi, kebiasaan makan, dan perubahan kesehatan; berikan bimbingan jika ada gejala defisit gizi, obesitas, atau gangguan metabolik.
Contoh Kasus Pola Makan Tidak Teratur
Misalnya pada penelitian di universitas: Mahasiswa program studi sistem informasi di sebuah perguruan tinggi di Indonesia dilaporkan memiliki pola makan tidak teratur dengan konsumsi makanan cepat saji tinggi. Kondisi ini berkontribusi pada gangguan pencernaan dan penurunan kemampuan konsentrasi. [Lihat sumber Disini - journalcenter.org]
Contoh lain: Remaja yang lebih sering mengonsumsi snack dan junk food, memiliki pola makan buruk dan body image negatif, hal ini berdampak pada status gizi seperti anemia, obesitas atau kekurangan gizi. [Lihat sumber Disini - jurnal.utami.id]
Kesimpulan
Pola makan tidak teratur, ditandai oleh waktu makan tidak konsisten, frekuensi makan acak, dan asupan nutrisi yang kurang seimbang, adalah masalah kesehatan serius di tengah gaya hidup modern. Faktor penyebabnya sangat beragam: dari padatnya aktivitas, rendahnya literasi gizi, sampai tekanan sosial dan lingkungan. Dampaknya tidak hanya pada berat badan dan status gizi, tetapi juga pada metabolisme, risiko penyakit kronis, serta kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan. Perawat dan tenaga kesehatan memegang peran penting dalam edukasi nutrisi, pemantauan, dan pendampingan perubahan perilaku makan. Oleh karena itu, strategi intervensi, baik di tingkat individu maupun komunitas, sangat diperlukan untuk membantu masyarakat membangun pola makan yang teratur, seimbang, dan berkelanjutan.