
Pengetahuan Ibu tentang Manfaat Rooming-In
Pendahuluan
Periode nifas dan awal kehidupan bayi baru lahir adalah masa kritis bagi perkembangan fisik dan emosional bayi serta ikatan ibu, anak. Salah satu strategi pelayanan kesehatan pasca persalinan yang dianjurkan untuk mendukung tumbuh kembang bayi serta keberhasilan menyusui adalah layanan “rooming-in” atau rawat gabung, di mana bayi dan ibu dirawat dalam satu kamar setelah kelahiran. Praktik ini diyakini menawarkan berbagai manfaat, mulai dari memperkuat bonding ibu, bayi, memperlancar produksi dan pemberian ASI, hingga mendukung keberhasilan menyusui eksklusif. Namun, efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang manfaat rooming-in, serta pelaksanaan dan dukungan dari tenaga kesehatan dan lingkungan. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan dan kebijakan kesehatan untuk memahami bagaimana pengetahuan ibu terkait rooming-in mempengaruhi implementasi layanan ini, serta dampaknya terhadap bayi dan ibu. Artikel ini membahas konsep, manfaat, faktor yang mempengaruhi, hambatan, peran tenaga kesehatan, dan hubungan antara pengetahuan ibu dengan keikutsertaannya dalam rooming-in.
Definisi Rooming-In
Definisi Rooming-In Secara Umum
Rooming-in, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut “rawat gabung”, merujuk pada praktik merawat bayi baru lahir bersama ibu dalam satu kamar setelah persalinan, sehingga bayi tidak dipisahkan dan tetap berada di sisi ibu selama 24 jam penuh atau sepanjang perawatan post-partum. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Praktik ini memungkinkan ibu dan bayi untuk langsung melakukan kontak fisik, memperhatikan kebutuhan bayi secara intensif, serta memudahkan pemberian ASI. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
Definisi Rooming-In dalam KBBI
Istilah “rooming-in” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diterjemahkan bebas sebagai “perawatan gabungan ibu dan bayi di satu kamar/kamar yang sama setelah persalinan”. Meskipun KBBI tidak selalu secara eksplisit mencantumkan istilah bahasa Inggris “rooming-in”, makna “rawat gabung” sesuai dengan definisi di atas, yaitu bayi dirawat bersama ibunya di satu ruangan.
Definisi Rooming-In Menurut Para Ahli
Menurut literatur kesehatan dan kebidanan:
-
Dalam kajian oleh Manullang dkk. (2022), rooming-in didefinisikan sebagai sistem perawatan di mana bayi selalu berada di samping ibu pascapersalinan, memungkinkan interaksi ibu-bayi terus menerus. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
World Health Organization (WHO) dalam konteks “Baby-Friendly Hospital Initiative” merekomendasikan rooming-in sebagai praktik standar karena membantu ibu dalam menyusui dan membangun bonding emosional dengan bayi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Dalam penelitian kontemporer, misalnya oleh Ayuningrum dkk. (2025), rooming-in dikaji sebagai intervensi pascapersalinan yang berpengaruh pada bonding attachment ibu, bayi. [Lihat sumber Disini - thejhsc.org]
-
Studi di Indonesia (Laowo dkk., 2023) mendefinisikan rooming-in sebagai rawat gabung 24 jam antara ibu dan bayi untuk meningkatkan frekuensi menyusui pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
Dengan demikian, rooming-in dapat dipahami sebagai praktik perawatan ibu dan bayi bersama secara kontinu pascapersalinan, dengan tujuan mendukung bonding, kesehatan bayi, dan keberhasilan menyusui.
Konsep dan Prinsip Rooming-In
Prinsip dasar rooming-in adalah memfasilitasi kehadiran bayi di samping ibu secara terus-menerus segera setelah lahir. Hal ini mencakup beberapa elemen penting:
-
Kontak fisik dan kedekatan langsung: Bayi ditempatkan dalam satu kamar dengan ibu sehingga memungkinkan sentuhan kulit ke kulit, pengamatan bayi, serta respons cepat terhadap kebutuhan bayi.
-
Kenyamanan dan keamanan: Ruangan dan kondisi perawatan dirancang sedemikian rupa agar ibu dan bayi merasa aman dan nyaman, meskipun tempat tidur terpisah, tetapi berada dalam satu kamar, memungkinkan keterlibatan ibu dalam perawatan bayi tanpa harus terpisah secara ruangan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
-
Dukungan menyusui dan ASI eksklusif: Dengan bayi berada dekat ibu, ibu bisa segera merespons ketika bayi membutuhkan menyusu, mendukung pemberian ASI on-demand, yang penting untuk keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - journal.budimulia.ac.id]
-
Dukungan emosional dan bonding: Prinsip bahwa kehadiran dan interaksi awal ibu-anak membantu membangun ikatan emosional (bonding/attachment) yang sehat antara ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - thejhsc.org]
-
Pencegahan pemisahan tanpa alasan medis: Rooming-in menegaskan bahwa bayi tidak dipisahkan dari ibu kecuali ada indikasi medis, mengikuti rekomendasi standar rumah sakit “ramah bayi”. [Lihat sumber Disini - scribd.com]
Dengan memahami prinsip-prinsip tersebut, maka implementasi rooming-in di fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dari perawatan post-partum yang holistik: mendukung fisik, nutrisi, dan psikososial bayi dan ibu.
Manfaat Rooming-In bagi Bonding Ibu dan Bayi
Pelaksanaan rooming-in memiliki berbagai manfaat signifikan terutama dalam menciptakan ikatan emosional dan fisik antara ibu dan bayi:
-
Memperkuat bonding/attachment ibu, bayi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rooming-in meningkatkan bonding attachment antara ibu dan bayi pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - thejhsc.org]
-
Meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi, dengan bayi yang selalu berada dekat, ibu memiliki kesempatan lebih sering untuk mengenal tanda-tanda kebutuhan bayi (laukas, lapar, rasa nyaman, dll), sehingga ibu merasa lebih kompeten dan nyaman dalam merawat bayinya. [Lihat sumber Disini - europeanjournalofmidwifery.eu]
-
Mendukung pemberian ASI eksklusif dan responsif, kedekatan ibu-bayi memudahkan ibu untuk memberikan ASI secara on-demand sesuai kebutuhan bayi, penting bagi keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Stimulasi psikologis dan perkembangan bayi, kontak kulit, interaksi, respons cepat terhadap kebutuhan bayi dapat memberikan stimulasi awal baik secara emosional maupun sensorik, yang bermanfaat untuk perkembangan bayi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Mencegah pemisahan tanpa alasan, melindungi hak bayi & ibu, dengan rooming-in, pemisahan bayi-ibu hanya dilakukan saat ada indikasi medis, sehingga menghindari risiko stres bayi, kebingungan, atau kesulitan adaptasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan demikian, rooming-in bukan sekadar penataan ruang, melainkan strategi pelayanan kesehatan yang mendukung aspek nutrisi, emosional, dan perkembangan bayi serta ibu.
Dampak Rooming-In terhadap Keberhasilan Menyusui
Pelaksanaan rooming-in terbukti memiliki dampak positif terhadap keberhasilan menyusui dan produksi ASI:
-
Sebuah studi di RSIA Muslimat Jombang menemukan bahwa 91, 7% ibu yang menjalani rooming-in berhasil menyusui bayinya dalam 24 jam pertama, menunjukkan hubungan signifikan antara rooming-in dan keberhasilan menyusui dini. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Penelitian di RSUD Prabumulih (2021) menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang efek rooming-in terhadap produksi ASI berhubungan dengan kelancaran produksi ASI: ibu dengan pengetahuan baik memiliki probabilitas 93, 3 kali lebih tinggi untuk menghasilkan ASI secara lancar. [Lihat sumber Disini - journal.budimulia.ac.id]
-
Studi pada ibu post sectio caesarea menunjukkan bahwa pelaksanaan rooming-in dapat menghasilkan produksi ASI dalam 24 jam pertama setelah persalinan di mayoritas peserta (77, 1%). [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Penelitian pada ibu nifas di RS Royal Prima Medan (2022) melaporkan bahwa rooming-in terkait signifikan dengan peningkatan frekuensi pemberian ASI. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
-
Selain itu, rooming-in juga terkait dengan kemandirian ibu dalam pemberian ASI pada bayi, menurut skripsi di Universitas Airlangga (2023). [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
Secara konsisten, literatur menunjukkan bahwa rooming-in mendukung: awal menyusui dini (IMD), frekuensi menyusui reguler, kelancaran produksi ASI, serta keberhasilan dan durasi menyusui, terutama bila didukung pengetahuan yang memadai pada ibu.
Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu tentang rooming-in dan manfaatnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
-
Pendidikan dan literasi kesehatan ibu, ibu dengan tingkat pengetahuan yang baik cenderung mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan, penyuluhan, atau materi pendukung pada saat hamil atau nifas. Hal ini memengaruhi pemahaman terhadap pentingnya rooming-in dan ASI. [Lihat sumber Disini - journal.budimulia.ac.id]
-
Informasi dan edukasi dari fasilitas kesehatan / tenaga kesehatan, jika tenaga kesehatan aktif memberikan konseling tentang rooming-in, maka ibu lebih memahami manfaat dan prosedurnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
-
Pelatihan/praktik perawatan dari awal (postpartum care practices), pengalaman ibu dalam perawatan pascapersalinan (misalnya rooming-in, IMD, pendampingan laktasi) turut membentuk pengetahuan dan keterampilan menyusui. [Lihat sumber Disini - repository.strada.ac.id]
-
Lingkungan keluarga dan sosial (dukungan suami, keluarga, komunitas), meskipun tidak selalu secara eksplisit disebutkan dalam semua penelitian, dukungan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keputusan ibu untuk memilih rooming-in dan menyusui. Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa sikap keluarga dan lingkungan turut mempengaruhi pelaksanaan rooming-in. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Fasilitas dan kebijakan rumah sakit / fasilitas kesehatan, fasilitas yang mendukung (ruangan, kebijakan rawat gabung, tenaga kesehatan terlatih) mempengaruhi apakah rooming-in bisa dilakukan atau tidak. Jika fasilitas tidak memadai, ibu dan bayi mungkin tetap terpisah meskipun ibu sudah tahu manfaatnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
Hambatan dalam Pelaksanaan Rooming-In
Meskipun banyak manfaat, implementasi rooming-in juga menghadapi berbagai hambatan:
-
Kurangnya pengetahuan ibu, jika ibu tidak memahami manfaat atau merasa khawatir (misalnya takut bayi rewel, tidak nyaman, rasa sakit setelah persalinan), maka ibu mungkin menolak rawat gabung. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Fasilitas rumah sakit tidak mendukung, ruangan yang sempit, tenaga kesehatan kurang, kurangnya staf yang mendampingi, atau kurangnya tempat tidur bayi bisa menghambat pelaksanaan rooming-in. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Jenis persalinan (misalnya sectio caesarea), ibu pasca operasi caesar sering mengalami nyeri, kelelahan, atau kesulitan mobilisasi, yang bisa membuat ibu tidak nyaman melakukan rooming-in. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Kurangnya dukungan dari keluarga atau lingkungan, jika keluarga atau pendamping kurang mendukung (misalnya takut bayi rewel, keluarga menyarankan bayi dirawat terpisah), bisa jadi ibu memilih untuk tidak rooming in. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Kurangnya edukasi dan konseling dari tenaga kesehatan, bila petugas kesehatan tidak aktif memberikan informasi atau tidak ada materi penyuluhan, ibu bisa kurang memahami keuntungan rooming-in. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Ibu
Tenaga kesehatan, bidan, dokter kandungan, perawat, konselor laktasi, memiliki peran krusial dalam:
-
Memberikan informasi dan edukasi tentang rooming-in dan manfaatnya selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Edukasi ini membantu meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu untuk melakukan rooming-in. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
-
Memfasilitasi ruang dan prosedur perawatan yang mendukung rooming-in, misalnya menyediakan kamar pasca persalinan yang memungkinkan ibu dan bayi berada bersama, serta menyediakan staf yang mendampingi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Memberikan dukungan praktik menyusui, pelatihan teknik menyusui, pendampingan IMD, membantu ibu pasca sectio caesarea mengatasi kendala nyeri atau mobilitas, serta membantu Ibu nyaman dalam rooming-in. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Melibatkan keluarga/pasangan dalam edukasi, memberi informasi tidak hanya kepada ibu, tetapi juga pasangan atau anggota keluarga agar mendukung pelaksanaan rooming-in. [Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id]
Dengan peran aktif tenaga kesehatan, pengetahuan ibu meningkat, resistensi terhadap rooming-in bisa diminimalkan, dan potensi manfaat optimal dari rooming-in bisa tercapai.
Hubungan Pengetahuan dengan Keikutsertaan Rooming-In
Beberapa penelitian empiris di Indonesia menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pengetahuan ibu tentang rooming-in dengan pelaksanaan dan hasilnya:
-
Penelitian di RSUD Prabumulih (2021) menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan baik tentang pengaruh rooming-in memiliki peluang jauh lebih tinggi untuk menghasilkan ASI secara lancar. [Lihat sumber Disini - journal.budimulia.ac.id]
-
Studi di RSIA Muslimat Jombang (2025) menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang melakukan rooming-in berhasil menyusui dalam 24 jam pertama, yang mengindikasikan bahwa pelaksanaan rooming-in (yang bisa dipengaruhi oleh pengetahuan ibu) terkait dengan keberhasilan menyusui dini. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Penelitian di RSU Royal Prima Medan (2022) menemukan hubungan signifikan antara rooming-in dan frekuensi pemberian ASI, menunjukkan bahwa ketika ibu dan bayi dirawat bersama, ibu lebih sering memberikan ASI. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
Dengan demikian, pengetahuan ibu merupakan salah satu determinan penting, semakin baik pemahaman ibu tentang manfaat rooming-in, semakin besar kemungkinan ibu memilih rooming-in, dan semakin besar kemungkinan keberhasilan menyusui serta bonding ibu-bayi.
Kesimpulan
Rooming-in (rawat gabung) adalah praktik perawatan post-persalinan di mana bayi dan ibu dirawat dalam satu kamar secara bersamaan. Praktik ini didukung oleh banyak penelitian dan rekomendasi global, karena terbukti memberikan manfaat signifikan bagi bonding ibu, bayi, keberhasilan menyusui, kelancaran produksi ASI, serta perkembangan fisik dan emosional bayi. Keberhasilan implementasinya sangat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, yang dipengaruhi oleh pendidikan, edukasi dari tenaga kesehatan, dukungan lingkungan, dan fasilitas rumah sakit. Namun, terdapat pula sejumlah hambatan seperti kurangnya edukasi, fasilitas yang tidak mendukung, persalinan caesar, serta dukungan keluarga. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan sangat penting untuk memberikan edukasi dan pendampingan secara aktif agar lebih banyak ibu memilih rooming-in, sehingga potensi manfaatnya bisa optimal. Dengan demikian, meningkatkan literasi ibu tentang rooming-in dan ASI, serta memperbaiki sistem pelayanan post-persalinan di rumah sakit, menjadi strategi penting untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi.