
Perilaku Emotional Eating pada Remaja
Pendahuluan
Remaja merupakan fase perkembangan yang dinamis, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga emosional dan sosial. Di masa ini, remaja sering mengalami perubahan suasana hati, tekanan akademik, dan konflik interpersonal yang cukup intens. Banyak remaja yang kemudian menggunakan makanan sebagai pelarian untuk mengatasi perasaan yang tidak nyaman, sebuah fenomena yang dikenal sebagai emotional eating. Perilaku ini sering kali tersembunyi di balik rutinitas makan harian, namun dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental bisa signifikan jika tidak dikenali lebih dini. Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang perilaku emotional eating pada remaja, faktor-faktor yang memicunya, dampaknya terhadap pola konsumsi dan status gizi, serta strategi untuk mengurangi kebiasaan ini.
Definisi Perilaku Emotional Eating pada Remaja
Definisi Perilaku Emotional Eating Secara Umum
Perilaku emotional eating secara umum merujuk pada kebiasaan mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi tertentu, terutama emosi negatif seperti stres, sedih, atau cemas, bukan karena rasa lapar fisiologis. Dalam konteks ini, makanan digunakan sebagai alat untuk meredakan emosi yang tidak nyaman, memberikan kenyamanan sementara, atau mengalihkan perhatian dari perasaan yang sulit dihadapi. Penelitian psikologi kesehatan menyatakan bahwa emotional eating merupakan bentuk coping maladaptif di mana makanan berperan sebagai “pengalih emosi” daripada pemenuhan kebutuhan fisiologis makan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Perilaku Emotional Eating dalam KBBI
Saat ini istilah emotional eating belum memiliki entri tersendiri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam bentuk yang sama persis. Namun, maknanya dapat diinterpretasikan sebagai “perilaku makan yang dipicu oleh kondisi emosional (misalnya stres atau kesedihan), bukan oleh rasa lapar atau kebutuhan fisik”. Pendekatan ini selaras dengan penjelasan umum istilah tersebut dalam kajian bahasa Indonesia sehari-hari yang menggambarkan fenomena makan untuk merespons emosi ketimbang kebutuhan makan. [Lihat sumber Disini - hellosehat.com]
Definisi Perilaku Emotional Eating Menurut Para Ahli
Menurut para ahli dari berbagai disiplin ilmu, emotional eating didefinisikan sebagai kecenderungan atau dorongan untuk makan sebagai respons terhadap perasaan emosional, terutama emosi negatif, daripada karena sinyal lapar fisiologis. Van Strien dan kolega mendeskripsikan emotional eating sebagai kecenderungan untuk makan secara berlebihan sebagai bentuk respon terhadap emosi negatif seperti kecemasan, kesedihan, atau stres. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Shriver dan rekan menyatakan bahwa emotional eating merupakan penggunaan makanan sebagai mekanisme koping saat menghadapi stres atau perasaan negatif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dalam kajian nutrisi dan psikologi, konsep ini sering kali dijabarkan sebagai perilaku makan yang terjadi di luar kebutuhan fisiologis tubuh, di mana individu memilih makanan yang biasanya tinggi energi, gula, atau lemak sebagai respons terhadap keadaan emosionalnya. [Lihat sumber Disini - npt.tums.ac.ir]
Faktor Psikologis yang Memicu Emotional Eating
Beragam faktor psikologis dapat memicu emotional eating pada remaja. Stres, sebagai salah satu faktor dominan, terbukti berkaitan erat dengan perilaku ini di kalangan pelajar. Penelitian di Indonesia menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat stres yang dialami remaja dengan kecenderungan mereka untuk menunjukkan emotional eating, meskipun pola responsnya dapat berbeda, beberapa remaja cenderung makan lebih banyak, sementara sebagian lain justru mengalami pengurangan asupan makan saat stres. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id]
Stres akademik merupakan contoh nyata dari tekanan psikologis yang sering dialami oleh siswa. Studi kuantitatif mengidentifikasi bahwa akademik stress berkorelasi dengan perilaku emotional eating di antara pelajar sekolah menengah. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Selain stres, faktor psikologis lain seperti ketidakmampuan mengatur emosi (poor emotion regulation), perasaan rendah diri, atau tekanan sosial dari lingkungan sekitar dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko emotional eating. Emosi negatif yang tidak dikelola dengan baik cenderung mendorong remaja mencari kenyamanan melalui makanan, terutama makanan yang tinggi gula atau lemak. [Lihat sumber Disini - eprints.uny.ac.id]
Dampak Stres pada Pola Konsumsi Makanan
Stres memiliki dampak yang kompleks terhadap pola konsumsi makanan remaja. Saat mengalami stres emosional, remaja seringkali menunjukkan perubahan pola makan yang tidak konsisten dengan kebutuhan fisiologis tubuhnya. Beberapa studi menemukan bahwa stres dapat meningkatkan konsumsi makanan yang padat energi, tinggi gula, atau tidak sehat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Meskipun respons terhadap stres dapat bervariasi antara individu, beberapa justru makan lebih sedikit saat tertekan, kecenderungan ke arah konsumsi makanan yang kurang sehat menjadi ciri umum dari emotional eating. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga jenis makanan yang dipilih. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id]
Konsumsi berlebihan makanan tinggi energi sebagai respons terhadap emosi tidak hanya memberikan kenyamanan sesaat, tetapi juga menanamkan pola makan yang kurang sehat secara berkelanjutan jika tidak diatasi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Pengaruh Emotional Eating terhadap Status Gizi
Dampak perilaku emotional eating terhadap status gizi remaja telah menjadi subjek beberapa penelitian. Di Indonesia, kajian korelasi antara emotional eating, stres, dan status gizi pada remaja menunjukkan bahwa secara statistik emotional eating tidak selalu berkorelasi langsung dengan status gizi berdasarkan indeks massa tubuh (BMI-for-Age), meskipun stres memiliki hubungan bermakna dengan status gizi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Hal ini menunjukkan bahwa emotional eating mungkin tidak selalu langsung menyebabkan obesitas atau status gizi buruk tertentu, tetapi pola konsumsi makanan yang tidak teratur dan cenderung tinggi energi tetap dapat memberikan dampak negatif bagi keseimbangan nutrisi bila berlangsung terus-menerus. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Selain itu, emotional eating yang terus berlangsung dapat mendorong kebiasaan makan tidak sehat, termasuk konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, yang jika tidak disertai aktivitas fisik yang tepat dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan dan gangguan metabolik dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Hubungan Kesehatan Mental dan Kebiasaan Makan
Hubungan antara kesehatan mental dan kebiasaan makan sangat erat, terutama pada remaja yang sedang melalui transisi emosional dan sosial yang intens. Emotional eating sering dikaitkan dengan pengalaman stres, kecemasan, kesepian, dan perasaan negatif lainnya. Perilaku ini merupakan salah satu respons maladaptif terhadap tekanan emosional yang tidak ditangani dengan baik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Pola makan yang dipengaruhi oleh kondisi mental dapat menciptakan lingkaran setan: stres emosional mendorong konsumsi makanan tidak sehat, yang kemudian dapat memperburuk suasana hati atau citra tubuh seseorang, akhirnya memperkuat kecenderungan emotional eating. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Di sisi lain, remaja yang memiliki dukungan sosial yang kuat dan kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung menunjukkan pola makan yang lebih sehat dan mampu membangun strategi koping positif tanpa bergantung kepada makanan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Strategi Mengurangi Emotional Eating
Mengurangi emotional eating pada remaja membutuhkan pendekatan yang holistik, baik secara psikologis maupun perilaku. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu:
-
Meningkatkan Kesadaran Diri
Mengidentifikasi pemicu emosional yang mendasari kebiasaan makan melalui jurnal makanan dan emosi dapat membantu remaja memahami pola perilaku mereka. [Lihat sumber Disini - verywellhealth.com]
-
Mengembangkan Regulasi Emosi yang Sehat
Teknik seperti latihan pernapasan, mindfulness, atau konseling psikologis dapat membantu remaja mengelola emosi tanpa harus mencari pelarian melalui makanan. [Lihat sumber Disini - npt.tums.ac.ir]
-
Pendidikan Gizi yang Tepat
Mendorong pemahaman tentang hubungan antara emosi, makanan, dan kesejahteraan fisik dapat membantu remaja membuat pilihan makanan yang lebih sehat, terutama saat menghadapi tekanan emosional. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Kembangkan Aktivitas Positif Pengganti
Aktivitas fisik, hobi kreatif, atau teknik relaksasi dapat menjadi alternatif untuk mengalihkan fokus dari keinginan makan yang dipicu emosi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dukungan Sosial yang Memadai
Lingkungan yang suportif, dari keluarga, teman, atau pendidik, dapat memberikan motivasi dan dukungan untuk membangun kebiasaan makan yang sehat dan strategi koping adaptif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Kesimpulan
Emotional eating pada remaja merupakan perilaku makan yang dipicu oleh kondisi emosional, khususnya emosi negatif seperti stres atau kecemasan, daripada kebutuhan fisiologis akan makanan. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan dapat berdampak pada pola konsumsi makanan serta berkontribusi terhadap masalah kesehatan jangka panjang jika tidak ditangani. Meskipun penelitian lokal Indonesia menunjukkan bahwa emotional eating tidak selalu berkorelasi langsung dengan status gizi seperti BMI, kecenderungan konsumsi makanan tinggi energi tetap merupakan risiko yang perlu diwaspadai. Hubungan antara kesehatan mental dan kebiasaan makan menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner, termasuk regulasi emosi, pendidikan gizi, dan dukungan sosial, penting untuk membangun kebiasaan makan yang sehat pada remaja. Pencegahan dan intervensi yang tepat sejak dini dapat membantu remaja mengembangkan pola makan yang sehat dan strategi koping yang adaptif terhadap tantangan emosional.