
Stunting: Pengertian dan Penyebab
Pendahuluan
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian global maupun nasional, termasuk di Indonesia. Di tengah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, fenomena stunting tetap menjadi tantangan terbesar karena bukan sekadar masalah pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif dan produktivitas di masa depan. Kondisi ini seringkali tersembunyi di balik angka prevalensi yang tampak rendah, padahal konsekuensinya jangka panjang dan sulit direversi setelah terjadi. Oleh karena itu, memahami secara komprehensif apa itu stunting, penyebab, indikator, serta pencegahannya adalah kunci dalam penanggulangan yang efektif.
Definisi Stunting dan Indikatornya
Definisi Stunting Secara Umum
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam jangka waktu lama sehingga tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan dengan standar pertumbuhan sesuai usianya. Kondisi ini bukan sekedar “pendek badan”, tetapi mencerminkan masalah malnutrisi berkepanjangan yang memengaruhi aspek fisik dan perkembangan otak anak. Studi ilmiah menyatakan bahwa stunting hasil dari kekurangan gizi yang bersifat kronis dan kondisi ini sering terjadi sejak masa prenatal hingga usia dua tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan/HPK) anak. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
Definisi Stunting dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stunting didefinisikan sebagai kondisi pertumbuhan tubuh anak yang terganggu sehingga tinggi badan tidak sesuai dengan usianya akibat kekurangan asupan nutrisi dalam waktu lama. Ini mencerminkan kegagalan sistematis dalam pemenuhan kebutuhan gizi terhadap pertumbuhan linear anak. [Lihat sumber Disini - kemkes.go.id]
Definisi Stunting Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO): Stunting adalah impaired growth and development yang dialami anak akibat gizi buruk kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat. Anak yang mengalami stunting memiliki height-for-age lebih dari 2 standar deviasi di bawah median standar WHO. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Soliman et al. (2021): Mengemukakan bahwa stunting adalah indikator kronis malnutrisi yang mengakibatkan retarded linear growth yang biasanya terjadi sejak masa prenatal sampai usia tiga sampai empat tahun dan berpengaruh pada perkembangan otak anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Masdalena (2024): Menyatakan bahwa stunting di Indonesia dipengaruhi oleh kekurangan gizi yang berkepanjangan sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun serta menjadi masalah kesehatan kronis yang kompleks. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
-
Anjani (2024): Menekankan bahwa stunting bukan hanya berdampak pada tinggi badan saja tetapi juga berhubungan dengan perkembangan kognitif yang terlambat akibat malnutrisi yang berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
Penyebab Utama Stunting pada Anak
Penyebab stunting adalah multifaktorial, melibatkan berbagai aspek gizi, kesehatan, lingkungan sosial, hingga perilaku pengasuhan. Faktor-faktor ini saling berinteraksi sehingga membuat pencegahannya memerlukan pendekatan terintegrasi.
Malnutrisi Kronis dan Asupan Nutrisi yang Tidak Memadai
Salah satu penyebab mendasar stunting adalah malnutrisi kronis yang terjadi terutama pada masa awal kehidupan anak. Kekurangan asupan energi, protein, serta mikronutrien penting seperti zat besi, zinc, dan vitamin, akan menghambat pertumbuhan linear tulang dan perkembangan organ tubuh termasuk otak. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
Infeksi Berulang dan Sistem Kekebalan Tubuh yang Menurun
Infeksi berulang seperti diare atau infeksi pernapasan mengganggu absorpsi nutrisi dan meningkatkan kebutuhan energi sehingga memperburuk keadaan malnutrisi. Lingkungan yang tidak sehat dan sanitasi buruk juga memperbesar risiko infeksi pencernaan yang berulang. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Pengetahuan dan Perilaku Orang Tua yang Belum Optimal
Kurangnya pemahaman mengenai gizi, pemberian ASI eksklusif yang tidak optimal, hingga pola makan yang belum sesuai standar nutrisi berkontribusi signifikan terhadap terjadinya stunting. Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang 1000 HPK berkorelasi dengan risiko stunting anak. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
Faktor Lingkungan dan Sosial
Faktor lingkungan seperti sanitasi buruk, akses air bersih yang kurang, serta pola hidup di lingkungan yang padat dan kumuh mempermudah terjadinya penyakit dan malnutrisi yang berujung pada stunting. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Peran Asupan Nutrisi 1000 HPK
Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode krusial untuk pengaturan nutrisi yang menentukan pertumbuhan anak di masa depan. Pada periode ini, kekurangan zat gizi akan berdampak permanen terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Asupan nutrisi yang adekuat pada fase ini, termasuk ASI eksklusif selama 6 bulan, protein berkualitas tinggi, serta vitamin dan mineral penting, berperan sebagai fondasi tumbuh kembang anak yang optimal. Intervensi nutrisi yang kuat dalam periode ini dapat menurunkan risiko stunting secara signifikan. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]
Pengaruh Sanitasi dan Infeksi Berulang
Sanitasi yang kurang, air minum yang terkontaminasi, serta perilaku cuci tangan yang tidak konsisten meningkatkan risiko infeksi, khususnya pada saluran pencernaan. Infeksi berulang ini mengganggu penyerapan nutrisi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Konsep environmental enteropathy, kondisi gangguan usus akibat paparan patogen berulang, ikut berkontribusi terhadap kerusakan mukosa usus yang mengurangi kemampuan tubuh menyerap nutrisi secara efisien. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dampak Kemiskinan dan Akses Pangan
Kemiskinan menjadi determinan kuat terjadinya stunting karena keterbatasan ekonomi sering kali berujung pada keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, layanan kesehatan, serta lingkungan yang bersih. [Lihat sumber Disini - ejournal.unjaya.ac.id]
Ketidakmampuan keluarga mengakses pangan sehat dan layanan kesehatan berkualitas membuat anak tumbuh dalam kondisi nutrisi yang kurang optimal. Hal ini memperbesar kemungkinan anak mengalami malnutrisi kronis yang berujung pada stunting.
Hubungan Pola Asuh dengan Stunting
Pola asuh yang tidak mendukung gizi optimal juga menjadi faktor penting. Pola ini mencakup pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat waktu, tidak cukup variasinya, serta pola imunisasi yang kurang lengkap. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Selain itu, stimulasi dini dan responsivitas orang tua juga terkait dengan perkembangan kognitif anak. Anak yang kurang stimulasi sosial dan emosional selain kurang nutrisi juga berisiko memiliki keterlambatan perkembangan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Peran Pemerintah dan Program Gizi
Berbagai program pemerintah Indonesia, seperti intervensi gizi spesifik dan sensitif, ditujukan untuk mencegah stunting dengan meningkatkan kualitas konsumsi makanan, pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta edukasi gizi masyarakat. [Lihat sumber Disini - stunting.go.id]
Program-program ini bertujuan melakukan deteksi dini dan memberikan intervensi tepat waktu sesuai kebutuhan lokal sehingga menurunkan prevalensi stunting secara signifikan.
Deteksi Dini dan Intervensi Pencegahan
Deteksi dini sangat penting agar anak yang berisiko mengalami stunting dapat diintervensi secepat mungkin. Ini bisa dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan secara berkala di Posyandu atau fasilitas kesehatan setempat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Intervensi mencakup suplementasi gizi, edukasi gizi untuk orang tua, peningkatan sanitasi lingkungan, serta perbaikan pola asuh secara holistik.
Dampak Jangka Panjang Stunting pada Anak
Stunting dapat memberikan dampak jangka panjang yang luas, baik secara fisik maupun kognitif. Anak yang stunting berisiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan otak sehingga pencapaian kemampuan belajar dan produktivitas di masa dewasa juga ikut menurun. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dampak lainnya meliputi penurunan kapasitas kerja, risiko penyakit kronis di kemudian hari, serta peningkatan beban ekonomi keluarga dan negara.
Faktor Lingkungan dan Sosial Budaya
Faktor sosial budaya seperti norma pangan setempat, kepercayaan terhadap makanan tertentu, serta pola praktik kesehatan tradisional juga memengaruhi risiko stunting. Kebiasaan makan yang kurang bervariasi dan minim pengetahuan gizi sering kali berakar dalam budaya lokal yang kurang mendukung gizi optimal anak. [Lihat sumber Disini - ihj.rivierapublishing.id]
Kesimpulan
Stunting adalah kondisi kegagalan pertumbuhan linear anak akibat malnutrisi kronis yang dimulai sejak masa prenatal hingga dua tahun pertama kehidupan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fisik tetapi juga perkembangan kognitif dan produktivitas masa depan. Penyebab stunting sangat kompleks, melibatkan kekurangan nutrisi, infeksi berulang, sanitasi yang buruk, kemiskinan, pola asuh yang kurang optimal, serta faktor lingkungan sosial budaya. Penanganannya memerlukan pendekatan multisektoral melalui peningkatan gizi spesifik dan sensitif, edukasi orang tua, sanitasi lingkungan yang baik, serta deteksi dini anak berisiko. Dampak jangka panjang stunting membuat upaya pencegahan menjadi prioritas dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.