
Stunting dan Faktor Perilaku
Pendahuluan
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan tantangan besar terutama di negara berkembang. Kondisi ini bukan sekadar masalah perawakan pendek pada anak, tetapi merupakan indikator kegagalan pertumbuhan yang berakar pada kekurangan gizi jangka panjang sejak fase awal kehidupan, termasuk masa kehamilan ibu hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Masalah ini memiliki dampak fisik maupun perkembangan kognitif yang signifikan, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan yang komprehensif, termasuk perubahan perilaku keluarga, pola asuh yang tepat, serta perhatian terhadap sanitasi dan gizi. Studi menunjukkan bahwa perilaku keluarga dan pola asuh berpengaruh langsung terhadap status gizi anak dan kejadian stunting melalui praktik pemberian makan, kebersihan serta pemanfaatan layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
Definisi Stunting dan Dampak Stunting
Definisi Stunting Secara Umum
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak yang terganggu ditandai oleh tinggi badan yang lebih rendah daripada standar usia normal yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan faktor lingkungan, termasuk pola asuh dan sanitasi. Masalah stunting mencerminkan kegagalan dalam proses tumbuh kembang yang berlangsung sejak masa kehamilan hingga usia awal anak. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Definisi Stunting dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah stunting terkait dengan kata “tengkes”, yang diartikan sebagai keadaan kerdil atau tidak dapat tumbuh menjadi besar dari ukuran yang semestinya. Ini menggambarkan secara linguistik kondisi tubuh yang terhambat pertumbuhannya, tetapi istilah medisnya dikembangkan dalam konteks kesehatan masyarakat untuk menggambarkan kondisi kurang gizi kronis pada anak. [Lihat sumber Disini - bizlab.co.id]
Definisi Stunting Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO) mendefinisikan stunting sebagai pertumbuhan anak yang terhambat pada tinggi badan berdasarkan usia (height-for-age) yang berada di bawah minus dua standar deviasi dari median standar pertumbuhan WHO. Ini mencerminkan malnutrisi kronis yang mungkin bersifat tidak reversibel setelah periode kritis pertama kehidupan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan stunting sebagai masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak adekuat dalam jangka waktu panjang, termasuk rendahnya kualitas makanan ibu selama kehamilan dan anak pada awal masa tumbuh kembangnya. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
-
Penelitian di Jurnal Cendikia Muda juga menyatakan bahwa stunting adalah kondisi kegagalan tumbuh tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama sehingga anak berada di bawah standar tinggi badan seharusnya dan sering disertai keterlambatan perkembangan kognitif. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Studi Kemenkes menyatakan bahwa stunting mencerminkan malnutrisi yang terjadi sejak dalam kandungan hingga masa awal kehidupan anak, sehingga berdampak tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Perilaku Keluarga yang Berisiko
Perilaku keluarga memainkan peran sentral dalam kejadian stunting. Perilaku keluarga meliputi praktik pemberian makan, sanitasi rumah tangga, kebiasaan kebersihan, serta pemanfaatan layanan kesehatan. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi status gizi dan perkembangan anak.
Beberapa penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa pola asuh ibu, termasuk bagaimana seorang ibu memberikan makan, merawat anak saat sakit, atau menjaga kebersihan lingkungan, berhubungan langsung dengan terjadinya stunting. Pola asuh yang kurang baik terkait dengan pemberian makanan yang tidak responsif, kurangnya rangsangan psikososial, serta kebiasaan kebersihan yang buruk dapat meningkatkan risiko stunting karena berdampak pada asupan gizi, infeksi berulang, dan respon kesehatan anak terhadap lingkungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Dalam model struktural yang dianalisis oleh peneliti internasional, faktor sosiodemografis seperti pengetahuan ibu, sikap, dan pendapatan keluarga ternyata memengaruhi stunting secara tidak langsung melalui pola asuh. Ketika pengetahuan dan sikap ibu baik, praktik makan dan sanitasi cenderung lebih sehat yang kemudian menurunkan risiko stunting. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
Faktor perilaku lain yang berisiko termasuk kurangnya pemanfaatan layanan kesehatan seperti imunisasi dan pemeriksaan gizi di posyandu, serta rendahnya kebiasaan menggunakan fasilitas sanitasi yang layak. Ketidakteraturan dalam praktik-praktik ini berkorelasi dengan kejadian stunting yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Hubungan Pola Asuh dengan Stunting
Pola asuh merupakan keseluruhan cara dan perilaku orang tua dalam mengasuh dan merawat anaknya sehari-hari. Semakin baik pola asuh yang diterapkan di keluarga, semakin besar pula kemungkinan anak tumbuh dengan status gizi optimal.
Penelitian di berbagai komunitas kesehatan di Indonesia menunjukkan bahwa pola asuh ibu berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Aspek-aspek pola asuh seperti perilaku pemberian makan anak, rangsangan psikososial, serta kebiasaan kebersihan dan sanitasi lingkungan berkorelasi langsung dengan stunting. Pola asuh yang kurang baik termasuk pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan usia balita serta minimnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan menyebabkan risiko anak mengalami stunting lebih tinggi dibandingkan anak yang dipola asuh dengan praktik yang baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Selain itu, penelitian ilmiah internasional juga mengonfirmasi bahwa praktik pemberian makan yang tepat, kebiasaan higiene yang baik, serta pemanfaatan layanan kesehatan berkontribusi signifikan dalam menurunkan kejadian stunting. Hal ini menegaskan bahwa strategi penanganan stunting harus mencakup perbaikan pola asuh di keluarga. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
Peran Gizi dan Sanitasi
Peran Gizi
Gizi merupakan faktor krusial dalam pencegahan stunting. Asupan gizi yang adekuat sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak, periode yang dikenal sebagai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), merupakan periode kritis untuk pertumbuhan optimal. Kekurangan gizi dalam periode ini dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan yang tidak sepenuhnya reversibel meskipun intervensi dilakukan kemudian. [Lihat sumber Disini - ayosehat.kemkes.go.id]
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nutrisi buruk seperti kurangnya protein, zat besi, dan zat gizi mikro lain selama masa perkembangan anak berkontribusi pada stunting. Intervensi gizi yang tepat, termasuk pemberian ASI eksklusif, MPASI yang bergizi seimbang, serta pendidikan gizi kepada orang tua, dapat mengurangi risiko stunting secara signifikan. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Peran Sanitasi
Sanitasi lingkungan yang buruk adalah faktor risiko lain yang berpengaruh terhadap kejadian stunting. Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko infeksi berulang seperti diare dan ISPA yang pada gilirannya mengganggu penyerapan nutrisi anak. Penelitian epidemiologis di Indonesia menemukan hubungan kuat antara sanitasi lingkungan yang tidak memadai dan kejadian stunting. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan sanitasi rumah, akses air bersih, fasilitas jamban sehat, serta praktik cuci tangan dapat menurunkan kejadian stunting. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Upaya Perubahan Perilaku Pencegahan Stunting
Upaya pencegahan stunting harus mencakup perubahan perilaku yang melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, serta komunitas. Strategi yang efektif antara lain:
-
Edukasi Gizi kepada Orang Tua: Pendidikan dan penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang, kebutuhan nutrisi anak, serta cara memberi makan responsif dapat meningkatkan praktik pemberian makanan yang sehat dan mengurangi risiko stunting. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
-
Perbaikan Sanitasi Lingkungan: Program peningkatan akses air bersih, fasilitas jamban sehat, serta kampanye perilaku hidup bersih dapat mengurangi infeksi berulang yang berkontribusi pada stunting. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
-
Peningkatan Pemanfaatan Layanan Kesehatan: Mendorong orang tua untuk rutin mengikuti pemeriksaan tumbuh kembang, imunisasi, serta posyandu dapat memastikan deteksi dini gangguan pertumbuhan dan intervensi tepat waktu. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
-
Pendekatan Multi-Sektoral: Menggabungkan upaya kesehatan, pendidikan, gizi, dan sanitasi melalui kolaborasi lintas sektor membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan anak secara optimal. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
Kesimpulan
Stunting merupakan masalah tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama perilaku keluarga, pola asuh, gizi, dan sanitasi. Kondisi ini berdampak luas baik pada aspek fisik maupun perkembangan kognitif anak, sehingga memerlukan pendekatan intervensi yang holistik. Perilaku keluarga yang kurang mendukung, termasuk pemberian makan tidak tepat, sanitasi buruk, serta rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan, berkaitan erat dengan kejadian stunting. Oleh karena itu, perubahan perilaku melalui pendidikan gizi, peningkatan pola asuh, serta perbaikan sanitasi menjadi strategi penting dalam pencegahan stunting. Intervensi yang terintegrasi dan melibatkan berbagai sektor dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan optimal anak sehingga menurunkan prevalensi stunting.