
Praktik Hand Hygiene pada Perawat
Pendahuluan
Hand hygiene (kebersihan tangan) adalah salah satu aspek paling penting dalam pelayanan keperawatan. Di lingkungan rumah sakit, perawat sebagai tenaga kesehatan sering melakukan kontak langsung dengan pasien serta lingkungan, sehingga tangan mereka bisa menjadi media penularan mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan infeksi. Praktik hand hygiene yang konsisten dan tepat merupakan fondasi utama untuk mencegah infeksi nosokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit). Meskipun demikian, banyak penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap hand hygiene di kalangan perawat masih jauh dari ideal, dengan berbagai faktor yang mempengaruhi. Oleh karena itu, penting untuk memahami definisi, indikasi, prosedur, serta tantangan dalam penerapan hand hygiene agar upaya pencegahan infeksi dapat optimal.
Definisi Hand Hygiene
Definisi Hand Hygiene Secara Umum
Hand hygiene adalah upaya menjaga kebersihan tangan melalui pembersihan dengan sabun dan air, atau disinfektan (misalnya handrub), untuk menghilangkan kotoran, mikroorganisme, dan kontaminan lain yang menempel pada tangan setelah melakukan kontak dengan pasien, lingkungan, atau setelah prosedur keperawatan. Dengan membersihkan tangan, risiko transmisi kuman, seperti bakteri, virus, dapat dikurangi secara signifikan.
Definisi Hand Hygiene dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “higiene tangan” atau “kebersihan tangan” merujuk pada tindakan atau praktik menjaga kebersihan pada bagian tangan agar terbebas dari kuman, kotoran, dan kontaminan lain. Definisi ini mencakup upaya pembersihan baik secara fisik (sabun & air) maupun kimia (disinfektan).
Definisi Hand Hygiene Menurut Para Ahli
-
Menurut Wardani dkk. (2025) dalam studi literatur mengenai kepatuhan hand hygiene perawat, hand hygiene didefinisikan sebagai tindakan pencegahan infeksi dengan membersihkan tangan baik secara mekanis maupun antiseptik, yang dianggap sebagai strategi paling efektif, murah, dan mudah dilakukan untuk mengendalikan infeksi nosokomial di rumah sakit. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Menurut penelitian di RSUD Depati Hamzah (2024), hand hygiene didefinisikan sebagai cuci tangan dengan teknik enam langkah menggunakan handrub atau sabun, yang apabila dilakukan dengan benar dapat meningkatkan kesadaran kebersihan tangan dan menurunkan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]
-
Dalam penelitian di ruang rawat inap RS (2025), definisi hand hygiene juga mencakup konsistensi dan ketepatan prosedur, bukan sekadar cuci tangan, melainkan sesuai dengan pedoman standar dan Five (Lima) Moment yang ditetapkan. [Lihat sumber Disini - jurnal2.umku.ac.id]
-
Penelitian lain menyebut hand hygiene sebagai kombinasi antara pengetahuan, sikap, dan ketersediaan fasilitas yang mendukung, artinya keberhasilan hand hygiene bukan semata teknik, tapi juga faktor individu dan institusi. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]
Indikasi Kebersihan Tangan dalam Keperawatan
Dalam praktik keperawatan, terdapat berbagai situasi di mana hand hygiene wajib dilakukan, antara lain: sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan prosedur aseptik atau tindakan keperawatan, setelah terpapar atau bersentuhan dengan cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien, dan setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien. Pedoman ini penting untuk memutus rantai transmisi mikroorganisme. [Lihat sumber Disini - journal.awatarapublisher.com]
Indikasi ini tidak hanya berlaku saat interaksi langsung dengan pasien, tapi juga setelah menyentuh peralatan medis, permukaan lingkungan rumah sakit, atau setelah melepas sarung tangan. Dengan demikian, hand hygiene menjadi aspek fundamental dalam semua tahapan pelayanan keperawatan, dari awal pemeriksaan, tindakan medis, hingga perawatan lanjutan.
Lima Momen Cuci Tangan (WHO)
Konsep “Lima Momen” atau “Five Moments for Hand Hygiene” yang digagas World Health Organization (WHO) menjadi pedoman global dalam praktik kebersihan tangan bagi tenaga kesehatan. Lima momen tersebut adalah:
-
Sebelum kontak dengan pasien
-
Sebelum melakukan prosedur aseptik / tindakan keperawatan
-
Setelah terpapar cairan tubuh pasien / atau setelah tindakan aseptik
-
Setelah kontak dengan pasien
-
Setelah menyentuh lingkungan di sekitar pasien
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan Five Moments masih rendah, misalnya dalam satu studi di RS Muhammadiyah Palembang, tingkat kepatuhan hanya 17, 6%. [Lihat sumber Disini - jurnal2.umku.ac.id] Namun dalam studi lain di RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo ditemukan tingkat kepatuhan yang cukup baik, yakni 95, 3% perawat melaksanakan Five Moments. [Lihat sumber Disini - journal.mandiracendikia.com]
Penerapan lima momen ini menjadi standar minimal bagi institusi pelayanan kesehatan untuk memastikan bahwa praktik hand hygiene dilakukan pada waktu-waktu kritis guna menurunkan risiko infeksi nosokomial.
Jenis Hand Hygiene: Handwash vs Handrub
Dalam praktik sehari-hari, hand hygiene dapat dilakukan melalui dua cara utama: mencuci tangan dengan sabun dan air (handwash), atau menggunakan desinfektan berbasis alkohol (handrub / alcohol-based handrub, ABHR).
-
Handwash (cuci tangan dengan sabun & air): metode klasik, efektif terutama ketika tangan terlihat kotor secara fisik, terkena darah/cairan tubuh, atau setelah menggunakan toilet. Dengan sabun dan air, kotoran, debu, lendir, darah, dan mikroorganisme dapat dibersihkan secara mekanis dan kimia.
-
Handrub (desinfektan berbasis alkohol): metode praktis dan cepat, sangat berguna di lingkungan klinis ketika kecepatan dan frekuensi kontak tinggi, serta tangan tidak terlihat kotor. Handrub memungkinkan disinfeksi mikroorganisme tanpa perlu wastafel, sehingga sangat membantu efisiensi perawatan.
Penelitian terkini secara internasional menunjukkan bahwa jumlah volume ABHR penting agar penutupan seluruh permukaan tangan optimal. Sebagai contoh, studi menunjukkan bahwa volume 1, 5 ml sering tidak cukup menutupi seluruh permukaan tangan, sehingga area tertentu tetap bisa terkontaminasi. Sebaliknya, volume 3 ml memberikan cakupan yang jauh lebih baik. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
Dengan demikian, pemilihan antara handwash atau handrub harus mempertimbangkan kondisi: jika tangan kotor secara fisik β handwash; jika tangan bersih secara visual dan diperlukan kecepatan β handrub. Namun, penting untuk memastikan bahwa prosedurnya benar (volume, durasi, teknik) agar efektif.
Dampak Hand Hygiene terhadap Penurunan Infeksi Nosokomial
Hand hygiene terbukti menjadi salah satu intervensi paling efektif untuk menurunkan infeksi nosokomial (HAIs). Kombinasi praktik kebersihan tangan yang baik dan konsisten pada tenaga kesehatan dapat mengurangi kejadian infeksi terkait pelayanan keperawatan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Beberapa penelitian di Indonesia mendokumentasikan bahwa ketidakpatuhan perawat terhadap hand hygiene berkorelasi dengan tingginya kejadian infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id] Sebaliknya, ketika hand hygiene diimplementasikan secara benar dan konsisten, mencakup Five Moments dan prosedur yang tepat, angka infeksi dapat ditekan secara drastis, meningkatkan keselamatan pasien serta mutu layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.ici.ac.id]
Selain itu, praktik hand hygiene juga dapat berkontribusi mengurangi beban biaya perawatan, memperpendek lama rawat inap, dan mencegah komplikasi serta kematian akibat infeksi yang bisa dicegah. [Lihat sumber Disini - journal.mandiracendikia.com]
Tantangan Kepatuhan Hand Hygiene pada Tenaga Kesehatan
Meskipun penting, kepatuhan terhadap hand hygiene di kalangan perawat menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan kajian dan penelitian di Indonesia:
-
Pengetahuan dan Sikap: Banyak perawat belum memiliki pengetahuan dan sikap yang memadai terkait pentingnya hand hygiene. Hubungan antara pengetahuan/sikap dengan perilaku hand hygiene telah dibuktikan secara statistik. [Lihat sumber Disini - jurnal.uisu.ac.id]
-
Ketersediaan fasilitas dan akses: Kurangnya fasilitas pencucian atau handrub di area kerja bisa menghambat praktik hand hygiene secara konsisten. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]
-
Beban kerja (workload): Kelelahan dan beban kerja tinggi sering menjadi alasan perawat melewatkan cuci tangan, terutama ketika frekuensi kontak dan tindakan sangat padat. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Disiplin dan Konsistensi: Meskipun ada pedoman, implementasi di lapangan sering tidak konsisten, ada perbedaan besar antara teori dan praktik. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
-
Kurangnya edukasi dan pengawasan: Tanpa edukasi berkelanjutan dan pengawasan/dukungan manajemen (misalnya tim pencegahan dan pengendalian infeksi, PPI), praktik hand hygiene sulit dipertahankan.
Penelitian di RS Sungai Lilin misalnya menunjukkan faktor pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dan peran tim PPI berhubungan signifikan dengan kepatuhan cuci tangan. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]
Contoh Implementasi Hand Hygiene yang Benar
-
Melaksanakan cuci tangan (handwash) menggunakan sabun dan air saat tangan secara fisik kotor (terkena darah, lendir, kotoran), sebelum makan, setelah ke toilet, sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien.
-
Menggunakan handrub berbasis alkohol (ABHR) sesuai pedoman: pastikan volume cukup (misalnya ~ 3 ml) dan tetapkan durasi gosokan hingga seluruh permukaan tangan, punggung tangan, sela-jari, ujung jari, ibu jari, dan pergelangan tangan, terlapisi disinfektan secara merata. Teknik ini dibuktikan secara ilmiah meningkatkan cakupan dan efektivitas disinfeksi. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
-
Menerapkan “Lima Momen Hand Hygiene” (Five Moments) dari WHO secara konsisten: sebelum kontak pasien, sebelum prosedur aseptik, setelah terpapar cairan tubuh, setelah kontak pasien, dan setelah menyentuh lingkungan pasien.
-
Memastikan fasilitas tersedia: wastafel, sabun, handrub, tisu sekali pakai; serta memastikan kemudahan akses di dekat area perawatan agar perawat dapat melaksanakan tanpa hambatan.
-
Pelatihan dan edukasi rutin untuk perawat, serta pengawasan dan evaluasi oleh tim PPI agar disiplin dan konsistensi terjaga. Pendekatan multimodal bisa memperkuat komitmen dan keberhasilan program hand hygiene. [Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.ici.ac.id]
Kesimpulan
Hand hygiene merupakan pilar utama dalam pencegahan infeksi nosokomial di fasilitas kesehatan, terutama yang melibatkan perawat. Dengan definisi yang jelas, indikasi yang tepat, dan implementasi sesuai pedoman (Five Moments, teknik handwash/handrub yang benar), praktik ini dapat menurunkan risiko infeksi secara signifikan. Namun dalam prakteknya, banyak tantangan, mulai dari kurangnya pengetahuan dan sikap, beban kerja tinggi, ketersediaan fasilitas, hingga kurangnya konsistensi. Oleh karena itu, implementasi hand hygiene harus didukung dengan edukasi berkelanjutan, fasilitas memadai, pengawasan, dan komitmen manajemen rumah sakit. Peningkatan kepatuhan dan kualitas hand hygiene bukan cuma tanggung jawab individu, tapi kolektif, demi keamanan pasien, tenaga kesehatan, dan mutu layanan.