
Software Requirement Specification (SRS)
Pendahuluan
Dokumen Software Requirements Specification (SRS) adalah dokumen penting dalam proses pengembangan perangkat lunak (software development). Dokumen ini mendefinisikan secara rinci persyaratan, baik fungsional maupun non-fungsional, yang harus dipenuhi oleh perangkat lunak yang akan dikembangkan. Dengan demikian, SRS menjadi acuan resmi yang menunjang komunikasi antara stakeholder, seperti klien, analis sistem, dan tim pengembang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Standar internasional yang umum digunakan dalam penyusunan SRS adalah IEEE 830β1998 sebagai pedoman awal, dan saat ini banyak proyek menggunakan versi terbarunya yaitu ISO/IEC/IEEE 29148:2018. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Software Requirements Specification (SRS)
Definisi SRS Secara Umum
SRS secara umum dapat diartikan sebagai dokumen yang menggambarkan kebutuhan dan spesifikasi sistem perangkat lunak yang akan dibangun. Dokumen ini memuat daftar persyaratan fungsional, non-fungsional, serta batasan atau constraint sistem, interaksi dengan antarmuka eksternal, dan aspek penting lainnya agar software dapat bekerja sesuai harapan. [Lihat sumber Disini - visuresolutions.com]
Definisi SRS dalam KBBI
Karena SRS adalah istilah teknis berlebel bahasa Inggris, tidak ada entri resmi “SRS” dalam KBBI yang mendefinisikan secara khusus “Software Requirements Specification.” Namun, bila diterjemahkan, SRS bisa disebut “Spesifikasi Kebutuhan Perangkat Lunak”, yakni dokumen yang menetapkan kebutuhan/perangkat lunak yang diinginkan. Definisi semacam ini lazim digunakan dalam literatur dan panduan teknis lokal ketika menjelaskan SRS dalam bahasa Indonesia.
Definisi SRS Menurut Para Ahli
Beberapa definisi dari literatur dan penelitian:
-
Menurut literatur rekayasa perangkat lunak, SRS adalah deskripsi dari sistem perangkat lunak yang akan dibangun, mencakup fungsi, kinerja, interface, dan atribut lain, yang menjadi landasan bagi desain dan implementasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Dalam panduan praktis pembuatan SRS, SRS dijelaskan sebagai dokumen yang menyediakan spesifikasi teknis bagi pengembang untuk membangun perangkat lunak, serta menjadi acuan tunggal di sepanjang siklus pengembangan. [Lihat sumber Disini - perforce.com]
-
Pada penelitian di Indonesia tentang sistem informasi manajemen, SRS diartikan sebagai dokumen resmi berisi kebutuhan sistem dan software yang harus diterapkan, sebagai acuan seluruh aktivitas pengembangan sistem. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Di lingkungan akademik/universitas, dokumen SRS berperan sebagai panduan sistematis untuk mendokumentasikan analisis kebutuhan, sehingga meminimalkan ambiguitas dan kesalahan pada tahap desain dan implementasi. [Lihat sumber Disini - journal.ukmc.ac.id]
Berdasarkan definisi-definisi di atas, SRS dapat dipahami sebagai dokumen formal, sistematis, dan terstruktur yang merangkum kebutuhan dan spesifikasi lengkap sebuah sistem perangkat lunak sebelum desain dan implementasi dimulai.
Tujuan dan Fungsi Dokumen SRS
Dokumen SRS dibuat dengan beberapa tujuan dan fungsi penting, antara lain:
-
Sebagai dasar/blueprint untuk seluruh fase pengembangan software, mulai dari desain, implementasi, hingga pengujian. Dengan spesifikasi yang jelas, pengembang dapat membangun software sesuai kebutuhan tanpa banyak revisi. [Lihat sumber Disini - perforce.com]
-
Menyediakan bahasa/paham bersama antara stakeholder: klien, analis sistem, developer, tester, sehingga semua pihak memiliki pemahaman yang sama terhadap kebutuhan sistem dan bisa meminimalkan miskomunikasi. [Lihat sumber Disini - domainesia.com]
-
Mengurangi risiko kegagalan proyek: karena SRS mendokumentasikan secara detail kebutuhan fungsional dan non-fungsional, sehingga perubahan mendadak atau requirement yang terlewat dapat diminimalkan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Sebagai dasar estimasi biaya, waktu, sumber daya dan scope proyek, dengan kebutuhan yang jelas, tim dapat membuat perencanaan lebih realistis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Sebagai acuan validasi dan verifikasi: setelah software dibangun, SRS bisa dijadikan referensi untuk memastikan bahwa implementasi telah sesuai dengan kebutuhan awal. [Lihat sumber Disini - teltics.com]
Struktur Standar SRS (IEEE 830 / ISO/IEC/IEEE 29148:2018)
Berikut adalah struktur umum SRS berdasarkan standar internasional dan praktik terbaik:
-
Pendahuluan (Introduction), menjelaskan tujuan dokumen, ruang lingkup, definisi istilah, referensi, dan gambaran umum sistem. [Lihat sumber Disini - math.uaa.alaska.edu]
-
Deskripsi Umum (Overall Description / General Description), mencakup perspektif produk, antarmuka eksternal (user interface, hardware, software, komunikasi), batasan, asumsi, dependensi, karakteristik pengguna, dan lingkungan operasional. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kebutuhan Sistem Spesifik (Specific Requirements), di sinilah kebutuhan fungsional dan non-fungsional dirinci secara detail. Termasuk requirement fungsional, antarmuka eksternal, performa, atribut sistem (reliability, security, maintainability, portability, dsb), database/logical data requirements, dan constraint lainnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Lampiran (Appendices / References), diagram, definisi tambahan, glossarium, referensi dokumen, dsb. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Banyak dokumen SRS di Indonesia juga mengacu pada struktur di atas. Sebagai contoh, penelitian SRS untuk sistem informasi akademik atau sistem informasi manajemen menggunakan struktur “Pendahuluan → Deskripsi Umum → Kebutuhan Sistem → Lampiran”. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
Penulisan Kebutuhan Fungsional
Kebutuhan fungsional (functional requirements) mendeskripsikan apa saja yang harus dilakukan oleh sistem, fungsi, layanan, fitur, interaksi user, input, output, alur kerja, use-case, dsb. [Lihat sumber Disini - medium.com]
Beberapa prinsip dalam menulis kebutuhan fungsional yang baik:
-
Harus jelas, tidak ambigu, dan mudah dipahami semua pihak (klien, developer, tester). [Lihat sumber Disini - medium.com]
-
Setiap fungsi dipecah menjadi bagian kecil yang spesifik: misalnya fungsi “login” bisa dipecah jadi input username/password, verifikasi, error handling, redirect, dsb.
-
Mendefinisikan interaksi dengan antarmuka eksternal jika ada, user interface, sistem lain, hardware, komunikasi, dsb. [Lihat sumber Disini - math.uaa.alaska.edu]
-
Menggunakan istilah dan definisi konsisten agar tidak ada interpretasi ganda, penting untuk quality dan konsistensi.
Penulisan Kebutuhan Non-Fungsional
Kebutuhan non-fungsional (non-functional requirements) mendefinisikan bagaimana sistem harus bekerja, kualitas, batasan, atribut sistem seperti performa, keamanan, reliabilitas, maintainability, portabilitas, skalabilitas, dsb. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Contoh aspek non-fungsional:
-
Performansi (response time, throughput, beban maksimal, waktu muat)
-
Keamanan (authentication, authorization, enkripsi, proteksi data)
-
Reliabilitas dan ketersediaan (uptime, recovery, backup, redundansi)
-
Maintainability dan kemudahan perawatan/pembaruan
-
Portabilitas (dukungan platform, kompatibilitas)
-
Usability / user-friendliness, kemudahan penggunaan oleh user akhir [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Kebutuhan non-fungsional seringkali menjadi bagian yang mudah terabaikan, padahal berpengaruh besar terhadap kualitas akhir software. Oleh karena itu, dokumen SRS harus mendokumentasikan non-fungsional dengan sama telitinya seperti fungsional. [Lihat sumber Disini - visuresolutions.com]
Contoh Format SRS untuk Sistem Informasi
Berikut kerangka contoh dokumen SRS sederhana untuk Sistem Informasi (misalnya sistem akademik, sistem manajemen, sistem marketing, dll), sesuai struktur standar:
Pendahuluan
-
Tujuan Dokumen
-
Ruang Lingkup Sistem
-
Definisi / Istilah / Singkatan
-
Referensi
Deskripsi Umum
-
Gambaran Umum Sistem
-
Perspektif Produk (apakah stand-alone, modul, web-based, dsb)
-
Antarmuka Eksternal (user interface, hardware, software, komunikasi)
-
Karakteristik Pengguna
-
Asumsi, Dependensi, dan Batasan
Kebutuhan Sistem Spesifik
-
Kebutuhan Fungsional
-
Daftar fungsi / fitur secara detail (input, proses, output, alur, interaksi)
-
Use cases / skenario penggunaan (opsional, bisa digambarkan dengan use-case diagram / deskripsi)
-
-
Kebutuhan Non-Fungsional
-
Performa (misalnya respon ≤ 2 detik, mendukung 1000 pengguna simultan, dsb)
-
Keamanan (autentikasi, enkripsi, hak akses)
-
Reliabilitas & Availability
-
Maintainability & Portabilitas
-
Usability / User experience
-
Lampiran / Referensi / Dokumentasi Pendukung
-
Glossarium / Daftar Istilah
-
Referensi dokumen / standar / pustaka
-
Diagram pendukung (use-case, alur, ERD/database, dsb)
-
Catatan tambahan / pedoman implementasi
Sebagai gambaran nyata, dalam penelitian “SRS Sistem Informasi Marketing” menggunakan standar ISO/IEC/IEEE 29148:2018 dan mendokumentasikan seluruh bagian di atas, termasuk workflow, use-case, requirement, database logical, dsb. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Begitu juga pada sistem informasi akademik berbasis web: dokumen SRS dihasilkan dengan struktur serupa dan menjadi acuan dalam tiap fase pengembangan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kesimpulan
SRS (Software Requirements Specification) adalah dokumen fundamental dalam pengembangan software karena mendefinisikan secara rinci kebutuhan dan spesifikasi sistem. Dengan SRS: kebutuhan fungsional dan non-fungsional dapat tertata jelas, semua pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama, serta risiko kesalahan, miskomunikasi, dan revisi besar dapat dipinimalisir. Struktur standar (misalnya berdasarkan IEEE 830 / ISO/IEC/IEEE 29148:2018) memberikan kerangka formal yang membantu membuat dokumentasi lengkap dan konsisten. Saat membuat sistem informasi, baik itu akademik, manajemen, marketing, atau lainnya, menggunakan format SRS yang baik akan sangat membantu dalam menjaga kualitas pengembangan, implementasi, dan pemeliharaan perangkat lunak ke depan.