Terakhir diperbarui: 21 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 21 December). Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/risiko-jatuh-pada-lansia-faktor-risiko-dan-pencegahan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan - SumberAjar.com

Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan

Pendahuluan

Jatuh merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat umum terjadi pada populasi lanjut usia (lansia) dan dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup, bahkan meningkatkan angka kematian dan kecacatan. Pada lansia, jatuh tidak hanya sekadar peristiwa fisik terjadi di lantai atau permukaan yang lebih rendah, tetapi juga seringkali menjadi indikator adanya masalah kesehatan lain yang mendasar, seperti gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan, penurunan kekuatan otot, hingga efek penggunaan obat-obatan tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar sepertiga lansia berusia 65 tahun atau lebih mengalami satu atau lebih kejadian jatuh setiap tahunnya, dan risiko ini meningkat seiring bertambahnya usia, terutama di atas 80 tahun. Dampak jatuh pada lansia sangat luas: mulai dari patah tulang, cedera kepala, terbatasnya mobilitas, hingga timbulnya ketakutan untuk beraktivitas kembali yang mengarah ke penurunan kemandirian. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Risiko Jatuh pada Lansia

Definisi Risiko Jatuh Secara Umum

Risiko jatuh pada lansia secara umum merujuk pada kemungkinan atau peluang terjadinya peristiwa jatuh yang dialami oleh seseorang berusia lanjut, yang disebabkan oleh adanya kombinasi faktor fisik, fisiologis, lingkungan, serta kemampuan fungsional tubuh yang menurun seiring bertambahnya usia. Jatuh sendiri secara sederhana diartikan sebagai kejadian ketika tubuh kehilangan keseimbangan dan berakhir di lantai atau permukaan yang lebih rendah tanpa disengaja. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

Definisi Risiko Jatuh dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah jatuh diartikan sebagai terlepas dan turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi. Dalam konteks kesehatan lansia, istilah ini dikaitkan dengan kejadian fisik di mana seorang lansia kehilangan posisi berdiri atau keseimbangan sehingga tubuhnya berada di permukaan yang tidak diinginkan secara tidak sengaja. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]

Definisi Risiko Jatuh Menurut Para Ahli

  1. World Health Organization (WHO) mendefinisikan fall sebagai sebuah peristiwa di mana seseorang tanpa disengaja berakhir di lantai atau permukaan yang lebih rendah, mencerminkan kejadian yang tidak diniatkan dan seringkali tidak dapat diprediksi. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

  2. Appeadu (2023) menjelaskan bahwa risiko jatuh pada lansia merupakan hasil interaksi berbagai faktor intrinsik dan ekstrinsik yang menyebabkan ketidakseimbangan postur, penurunan massa otot (sarkopenia), gangguan sensorik, serta paparan lingkungan berbahaya, sehingga kemungkinan terjadinya jatuh meningkat. [Lihat sumber Disini - journal.scientic.id]

  3. Montero-Odasso et al. (2022) menyatakan bahwa penilaian risiko jatuh mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari sejarah jatuh sebelumnya, gangguan gait dan keseimbangan, hingga gagalnya aktivitas fungsional tertentu, sehingga lansia dapat dikategorikan dalam risiko rendah, menengah, atau tinggi berdasarkan kombinasi faktor tersebut. [Lihat sumber Disini - academic.oup.com]

  4. Review literatur kesehatan masyarakat mengintegrasikan bahwa risiko jatuh pada lansia merupakan fenomena multifaktorial dengan penyebab yang meliputi faktor fisiologis (seperti penurunan fungsi otot), kondisi medis kronis, penggunaan obat-obatan, hingga kondisi lingkungan yang tidak aman. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]


Konsep Risiko Jatuh pada Lansia

Risiko jatuh pada lansia merupakan konsep multidimensional yang melibatkan banyak aspek, tidak hanya berkaitan dengan usia lanjut saja tetapi juga kondisi kesehatan umum, kemampuan motorik, dan lingkungan sekitar. Pada lansia, perubahan fisiologis akibat penuaan seperti penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan, serta penurunan fungsi sensorik merupakan faktor penting yang meningkatkan kerentanan terhadap jatuh. Penelitian mengemukakan bahwa tubuh lansia mengalami proses degeneratif yang mempengaruhi sistem muskuloskeletal dan keseimbangan, sehingga ketika terpadu dengan faktor lain seperti kondisi rumah yang licin atau pencahayaan yang buruk, risiko jatuh menjadi lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]


Faktor Intrinsik Risiko Jatuh

Faktor intrinsik adalah kondisi atau karakteristik yang berasal dari dalam diri lansia itu sendiri yang bisa meningkatkan kemungkinan jatuh. Faktor-faktor ini seringkali berhubungan dengan perubahan biologis dan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia. Beberapa faktor intrinsik utama antara lain:

1. Usia dan Penurunan Fisiologis

Seiring bertambahnya usia, sistem tubuh mengalami perubahan signifikan. Penurunan massa otot (sarkopenia) mengurangi kekuatan dan stabilitas tubuh, sementara perubahan pada sistem saraf dan vestibular mempengaruhi keseimbangan dan koordinasi. Hal ini menyebabkan lansia lebih sulit mempertahankan postur saat berdiri atau berjalan, sehingga meningkatkan risiko jatuh. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]

2. Gangguan Keseimbangan dan Mobilitas

Penelitian menunjukkan bahwa gangguan dalam keseimbangan dan kemampuan berjalan merupakan faktor signifikan yang berkaitan dengan kejadian jatuh. Lansia yang memiliki masalah dalam melakukan aktivitas mobilitas dasar seperti berdiri, berjalan, atau berpindah posisi memiliki peluang lebih besar untuk mengalami jatuh. [Lihat sumber Disini - journal.uwhs.ac.id]

3. Penyakit Penyerta dan Kondisi Medis

Penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, gangguan neurologis, serta gangguan kognitif merupakan faktor risiko jatuh yang umum ditemukan pada lansia. Penyakit-penyakit ini tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik tetapi juga memengaruhi stabilitas dan kemampuan adaptasi tubuh saat menghadapi perubahan keadaan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikesdhb.ac.id]

4. Gangguan Sensorik (Penglihatan dan Pendengaran)

Penurunan penglihatan dan pendengaran memengaruhi kemampuan lansia dalam mengenali bahaya lingkungan di sekitarnya. Gangguan penglihatan khususnya telah dilaporkan secara signifikan meningkatkan risiko jatuh, karena lansia kurang mampu melihat perubahan permukaan atau rintangan. [Lihat sumber Disini - journal.uwhs.ac.id]

5. Penggunaan Obat-Obatan (Polifarmasi)

Mengonsumsi banyak obat (polifarmasi) dapat menyebabkan efek samping seperti pusing, kantuk, atau gangguan keseimbangan, yang semuanya berkontribusi terhadap peningkatan risiko jatuh. Beberapa jenis obat, terutama sedatif, antihipertensi, atau obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat, ditemukan sering dikaitkan dengan jatuh pada lansia. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

6. Riwayat Jatuh Sebelumnya

Memiliki riwayat jatuh sebelumnya merupakan salah satu prediktor kuat terjadinya jatuh di masa depan. Lansia yang pernah jatuh sebelumnya memiliki kecenderungan lebih besar untuk jatuh lagi dibandingkan yang belum pernah mengalami kejadian jatuh. [Lihat sumber Disini - resident360.amboss.com]


Faktor Ekstrinsik Risiko Jatuh

Faktor ekstrinsik adalah kondisi atau bahaya yang berasal dari lingkungan eksternal yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya jatuh pada lansia. Faktor-faktor ini seringkali berkaitan dengan kondisi rumah, fasilitas umum, atau lingkungan sosial di sekitar lansia. Beberapa di antaranya:

1. Kondisi Lingkungan Rumah Tidak Aman

Lingkungan rumah yang licin, lantai tidak rata, pencahayaan yang buruk, serta tidak adanya pegangan tangan di kamar mandi atau tangga merupakan risiko utama jatuh di rumah lansia. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan seperti lantai tidak rata atau permukaan licin secara signifikan meningkatkan kejadian jatuh. [Lihat sumber Disini - ejournal2.unud.ac.id]

2. Pencahayaan yang Buruk

Pencahayaan yang kurang memadai membuat lansia sulit mengidentifikasi rintangan atau perubahan permukaan lantai sehingga lebih rentan terhadap jatuh. Hal ini terutama terjadi pada malam hari atau area rumah yang minim sinar. [Lihat sumber Disini - ejournal2.unud.ac.id]

3. Peralatan atau Furnitur yang Tidak Sesuai

Peralatan rumah yang tidak ergonomis, perabot yang terlalu tinggi atau rendah, serta adanya karpet yang mudah terlipat dapat menambah risiko terjadinya jatuh. Lansia yang tidak dapat mengatur postur tubuh dengan cepat ketika menghadapi hambatan-hambatan semacam ini berisiko lebih tinggi mengalami jatuh ulang. [Lihat sumber Disini - ggaging.com]

4. Kurangnya Dukungan Sosial dan Peran Keluarga

Lingkungan sosial yang kurang mendukung, seperti tidak adanya keluarga atau caregiver yang memonitor aktivitas harian, dapat meningkatkan risiko jatuh. Peran keluarga sebagai edukator, motivator, dan fasilitator dapat membantu mengurangi risiko jatuh dengan membantu dalam penggunaan alat bantu, pengawasan, dan pengaturan lingkungan aman. [Lihat sumber Disini - spikesnas.khkediri.ac.id]


Dampak Jatuh terhadap Kesehatan Lansia

Jatuh dapat memberikan beragam dampak yang luas terhadap kesehatan fisik dan psikososial lansia. Dampak fisik yang paling sering terjadi termasuk cedera serius seperti patah tulang (terutama pada pinggul), cedera kepala, memar parah, serta meningkatnya kebutuhan akan perawatan medis lanjutan. Cedera semacam itu tidak hanya mengurangi kemampuan mobilitas tetapi juga dapat memperpanjang masa pemulihan dan meningkatkan ketergantungan pada orang lain. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Lebih dari itu, jatuh juga berdampak secara psikososial. Beberapa lansia mengalami post-fall syndrome, yaitu ketakutan untuk beraktivitas kembali setelah jatuh, yang dapat menurunkan aktivitas fisik, mempercepat penurunan fungsi tubuh, dan bahkan menyebabkan isolasi sosial. Akibatnya, kualitas hidup lansia menurun secara signifikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Penilaian Risiko Jatuh dalam Keperawatan

Penilaian risiko jatuh merupakan salah satu langkah penting dalam praktik keperawatan untuk mengidentifikasi individu lansia yang berisiko tinggi mengalami jatuh sehingga intervensi pencegahan tepat waktu dapat dilakukan. Beberapa metode penilaian umum yang digunakan antara lain:

Skala Morse Fall Scale (MFS)

MFS adalah salah satu instrumen yang sering digunakan untuk menilai risiko jatuh pasien dengan memperhatikan beberapa indikator seperti riwayat jatuh sebelumnya, kondisi berjalan, dan status mental. Instrumen ini membantu perawat menentukan kebutuhan intervensi lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - aisyah.journalpress.id]

Assessment Functional and Gait Measures

Penilaian kemampuan fungsional gait dan mobilitas, termasuk tes keseimbangan, berjalan, serta aktivitas harian lainnya, membantu mengetahui sejauh mana kemampuan fisik lansia dalam mempertahankan keseimbangan dan mobilitas. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

Penilaian sering kali dipadukan dengan observasi lingkungan dan sejarah medis, sehingga perawat dapat mengembangkan rencana pencegahan yang komprehensif berdasarkan temuan unik pada setiap klien.


Upaya Pencegahan Risiko Jatuh pada Lansia

Pencegahan risiko jatuh pada lansia melibatkan pendekatan multifaset yang mencakup modifikasi lingkungan, intervensi medis, serta edukasi kepada lansia dan keluarga. Berikut adalah beberapa strategi efektif:

1. Latihan Fisik dan Program Keseimbangan

Program latihan yang fokus pada penguatan otot dan peningkatan keseimbangan terbukti membantu mengurangi risiko jatuh secara signifikan. Latihan seperti Otago Exercise Program ataupun latihan postur lainnya dapat meningkatkan stabilitas tubuh dan mengurangi kecenderungan terjatuh. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

2. Edukasi tentang Pencegahan Jatuh

Edukasi kesehatan yang diberikan kepada lansia dan keluarganya mengenai faktor risiko jatuh dan tindakan pencegahan dapat menurunkan skor risiko jatuh, termasuk pengetahuan tentang bagaimana menata lingkungan rumah yang aman. Edukasi ini dapat berupa penyuluhan, ceramah, serta materi poster atau booklet yang jelas dan praktis. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]

3. Modifikasi Lingkungan Rumah

Memastikan rumah memiliki pegangan tangan di area kamar mandi dan tangga, permukaan tidak licin, serta pencahayaan yang baik secara substansial mengurangi risiko jatuh. Penghapusan karpet yang mudah terlipat serta penataan furnitur yang ergonomis juga sangat membantu. [Lihat sumber Disini - ejournal2.unud.ac.id]

4. Dukungan Keluarga dan Caregiver

Peran keluarga sebagai motivator, edukator, dan fasilitator sangat penting dalam memastikan lansia mengikuti rekomendasi pencegahan jatuh, termasuk mengingat penggunaan alat bantu berjalan, serta menjaga kualitas komunikasi antara lansia dan tim kesehatan. [Lihat sumber Disini - spikesnas.khkediri.ac.id]

5. Pemeriksaan Medis Rutin

Pemeriksaan kesehatan berkala untuk mengelola penyakit kronis, mengevaluasi obat-obatan yang digunakan, serta rekomendasi nutrisi yang tepat membantu menekan risiko jatuh yang disebabkan oleh kondisi medis internal. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Kesimpulan

Resiko jatuh pada lansia merupakan masalah kesehatan yang kompleks dan multidimensional yang melibatkan interaksi antara kondisi fisiologis internal lansia dan faktor lingkungan eksternal. Faktor intrinsik seperti penurunan keseimbangan, gangguan sensorik, penyakit kronis, serta penggunaan obat-obatan tertentu memperbesar peluang jatuh, sementara kondisi rumah yang tidak aman dan kurangnya dukungan sosial merupakan faktor ekstrinsik yang memicu terjadinya jatuh. Dampak dari kejadian jatuh pada lansia sangat luas, mencakup cedera fisik hingga gangguan psikososial. Oleh karena itu, penilaian risiko jatuh dalam praktik keperawatan adalah langkah kritis untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi dan merancang intervensi preventif. Upaya pencegahan yang terintegrasi mencakup latihan fisik, modifikasi lingkungan, edukasi kepada lansia dan keluarga, serta pengelolaan kondisi medis secara menyeluruh. Dengan pendekatan holistik ini, risiko jatuh dapat dikurangi dan kualitas hidup lansia dapat dipertahankan pada tingkat optimal.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Risiko jatuh pada lansia adalah kondisi meningkatnya kemungkinan terjadinya kejadian jatuh pada individu usia lanjut akibat penurunan fungsi fisik, gangguan keseimbangan, penyakit penyerta, penggunaan obat-obatan, serta faktor lingkungan yang tidak aman.

Faktor risiko jatuh pada lansia terbagi menjadi faktor intrinsik seperti usia lanjut, gangguan keseimbangan, penyakit kronis, gangguan penglihatan, dan penggunaan obat-obatan, serta faktor ekstrinsik seperti pencahayaan buruk, lantai licin, tata ruang rumah yang tidak aman, dan kurangnya dukungan keluarga.

Lansia lebih rentan mengalami jatuh karena adanya perubahan fisiologis akibat proses penuaan, seperti penurunan kekuatan otot, refleks yang melambat, gangguan keseimbangan, serta penurunan fungsi sensorik yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam mempertahankan postur.

Dampak jatuh pada lansia meliputi cedera fisik seperti patah tulang dan cedera kepala, penurunan mobilitas, peningkatan ketergantungan, serta dampak psikologis berupa ketakutan jatuh kembali yang dapat menurunkan kualitas hidup.

Penilaian risiko jatuh pada lansia dalam keperawatan dilakukan melalui pengkajian riwayat jatuh, kemampuan mobilitas, kondisi keseimbangan, status kognitif, penggunaan obat-obatan, serta observasi lingkungan menggunakan instrumen seperti Morse Fall Scale.

Upaya pencegahan risiko jatuh pada lansia meliputi latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan dan keseimbangan, modifikasi lingkungan rumah agar lebih aman, edukasi kesehatan, pemantauan penggunaan obat, pemeriksaan kesehatan rutin, serta dukungan aktif dari keluarga dan caregiver.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Risiko Jatuh pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan Aktivitas Fisik Lansia Aktivitas Fisik Lansia Kualitas Hidup Lansia Kualitas Hidup Lansia Kesehatan Lansia Kesehatan Lansia Gangguan Mobilitas Fisik Lansia: Konsep, Determinan, dan Dampak Gangguan Mobilitas Fisik Lansia: Konsep, Determinan, dan Dampak Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Penyakit Degeneratif pada Lansia Penyakit Degeneratif pada Lansia Hydration Level pada Lansia Hydration Level pada Lansia Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Risiko Interaksi Obat pada Lansia Risiko Interaksi Obat pada Lansia Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor  Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Definisi dan Implementasi Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Definisi dan Implementasi Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…