
Pencegahan Diare
Pendahuluan
Diare merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan buang air besar yang encer atau cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam satu hari dan dapat mengancam keselamatan jika tidak ditangani dengan baik karena berisiko menyebabkan dehidrasi yang serius. Menurut World Health Organization, diare sering disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit dan acap kali terkait dengan sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk. Pencegahan diare menjadi kunci utama untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan lainnya. [Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi Diare
Definisi Diare Secara Umum
Secara umum, diare adalah kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan frekuensi buang air besar dalam bentuk tinja yang lebih cair atau encer daripada biasanya yang berlangsung selama 24 jam atau lebih. Diare dapat terjadi sebagai manifestasi dari infeksi, keracunan makanan, atau gangguan fungsi pencernaan lainnya. [Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi Diare dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diare didefinisikan sebagai buang air besar secara terus-menerus dengan tinja yang lembek atau cair. Kata “diare” berasal dari istilah medis yang merujuk pada frekuensi BAB yang meningkat dengan karakteristik konsistensi tinja yang berubah.
Definisi Diare Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa diare adalah kondisi di mana seseorang mengalami buang air besar cair atau longgar setidaknya tiga kali dalam satu hari yang sering diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme pada saluran pencernaan. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Menurut Astuti A. dalam jurnal Peqguruang (2025), diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan konsistensi cair lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan ini menjadi indikator masalah kesehatan masyarakat di banyak negara berkembang. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-unasman.ac.id]
-
Dalam konteks medis, diare akut didefinisikan sebagai episode diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sedangkan diare kronik berlangsung lebih dari 14 hari, dan kedua bentuk ini memerlukan pendekatan pencegahan serta manajemen yang efektif. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi lingkungan kesehatan yang dipublikasikan di Jurnal FKM UMI menyatakan bahwa diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua pada balita karena dampaknya terhadap dehidrasi dan malnutrisi, serta ini sering kali berhubungan dengan faktor sanitasi dan perilaku hidup yang kurang sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
Konsep dan Faktor Risiko Penyakit Diare
Penyakit diare timbul ketika mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, atau parasit memasuki saluran pencernaan dan menyebabkan gangguan fungsi usus yang normal. Faktor risiko utama diare meliputi sanitasi yang buruk, konsumsi air yang terkontaminasi, makanan yang tidak higienis, serta perilaku kebersihan individu yang kurang baik. [Lihat sumber Disini - who.int]
Sanitasi lingkungan yang tidak memadai dan kurangnya akses terhadap air bersih menjadi determinan utama tersebarnya penyakit diare dalam komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi sanitasi yang buruk seperti tidak adanya jamban yang layak, pembuangan tinja yang tidak higienis, serta manajemen limbah yang tidak tepat secara signifikan meningkatkan risiko kejadian diare. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Selain itu, perilaku individu seperti tidak mencuci tangan sebelum makan atau setelah dari toilet juga memperbesar peluang patogen masuk ke saluran pencernaan. Faktor sosial ekonomi, status gizi, serta pengetahuan keluarga tentang pencegahan diare turut berkontribusi terhadap risiko kemunculan penyakit ini di komunitas anak maupun dewasa. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
Hubungan Sanitasi dan Air Bersih dengan Diare
Sanitasi yang baik dan ketersediaan air bersih merupakan fondasi utama dalam pencegahan penyakit diare. Penelitian di Subulussalam menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan air bersih, fasilitas jamban sehat, serta kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare di masyarakat. Individu yang memiliki akses terhadap air bersih dan jamban sehat memiliki risiko lebih rendah untuk terkena diare dibanding mereka yang tidak memiliki akses tersebut. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]
Sanitasi yang buruk memfasilitasi penyebaran patogen melalui fecal-oral route (jalur muntah-oral), di mana kontaminasi air dan makanan merupakan jalur transmisi utama. Peningkatan fasilitas sanitasi dan peningkatan kualitas air konsumsi terbukti secara signifikan mengurangi insiden diare dalam berbagai studi epidemiologi di masyarakat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam Pencegahan Diare
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan dengan sabun setelah dari toilet dan sebelum makan, penggunaan air bersih untuk konsumsi dan memasak, serta pengelolaan limbah rumah tangga yang baik terbukti berhubungan signifikan dengan rendahnya kejadian diare pada anak dan orang dewasa. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Literatur review dari beberapa jurnal di Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak menerapkan PHBS memiliki risiko lebih tinggi mengalami episode diare dibanding anak yang rutin melakukan kebiasaan hidup sehat tersebut. PHBS juga mencakup praktik aman dalam penyimpanan makanan dan penggunaan fasilitas sanitasi dasar. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Penerapan PHBS tidak hanya melindungi individu, tetapi juga memberikan efek protektif di tingkat komunitas karena dapat mengurangi penyebaran patogen melalui perilaku pencegahan yang konsisten. Program penyuluhan berkaitan dengan PHBS telah dibuktikan mampu menurunkan kejadian diare ketika dilaksanakan secara komprehensif di sekolah atau komunitas. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Peran Edukasi Kesehatan dalam Pencegahan Diare
Edukasi kesehatan merupakan komponen penting dalam strategi pencegahan diare. Dengan kampanye edukasi yang terarah, masyarakat dapat memahami pentingnya sanitasi, akses air bersih, serta praktik kebersihan pribadi untuk meminimalkan risiko infeksi. Studi literatur menunjukkan bahwa penyuluhan yang melibatkan partisipasi aktif komunitas dan menggunakan media visual serta praktik langsung memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan dan mengubah perilaku masyarakat terhadap pencegahan diare. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Edukasi yang berfokus pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu dengan balita, serta anak sekolah dasar merupakan pendekatan efektif untuk mengintegrasikan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan institusi pendidikan dan fasilitas layanan kesehatan primer memperluas jangkauan informasi sehingga pencegahan diare dapat dilakukan secara berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Deteksi Dini dan Penanganan Awal Diare
Deteksi dini terhadap diare sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi dan malnutrisi. Orang tua dan tenaga kesehatan perlu mengenali tanda-tanda awal diare seperti peningkatan frekuensi buang air besar dan konsistensi cair pada tinja. Ketika gejala pertama muncul, upaya seperti peningkatan asupan cairan, pemberian oralit sesuai rekomendasi, serta pemantauan tanda-tanda dehidrasi harus segera dilakukan untuk mencegah kondisi yang lebih serius. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Selain itu, pendidikan yang baik mengenai manajemen diare di rumah dapat mengurangi beban kunjungan fasilitas kesehatan dan menurunkan angka komplikasi. Pemberian informasi tentang tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis merupakan bagian dari deteksi dini yang efektif. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
Upaya Pencegahan Diare Berbasis Masyarakat
Upaya pencegahan diare yang efektif harus melibatkan strategi berbasis komunitas, seperti pembangunan fasilitas sanitasi dasar (jamban sehat), penyediaan akses air minum yang layak dan aman, serta penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat secara teratur. Partisipasi masyarakat dalam program kesehatan, seperti program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan memperkecil peluang transmisi patogen penyebab diare. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]
Kolaborasi antar sektor, termasuk pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, sekolah, lembaga masyarakat, dan organisasi non-pemerintah, juga dapat memperluas cakupan pencegahan lewat pembangunan infrastruktur, kampanye kesehatan, serta pemantauan kejadian diare secara berkala. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Kesimpulan
Pencegahan diare membutuhkan pendekatan yang komprehensif yang melibatkan pemahaman tentang definisi dan konsep dasar diare, identifikasi faktor risiko, serta implementasi strategi pencegahan yang efektif. Sanitasi yang baik dan akses terhadap air bersih terbukti merupakan dasar dalam mengurangi kejadian diare. Perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan dengan sabun dan penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari, memainkan peran penting dalam menekan angka kejadian. Edukasi kesehatan yang tepat dapat memperkuat penerapan perilaku ini dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan. Deteksi dini serta keterlibatan komunitas dalam pencegahan juga merupakan strategi utama yang membantu mengurangi dampak penyakit diare dalam masyarakat. Implementasi upaya pencegahan berbasis masyarakat secara terpadu berpotensi memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat secara umum dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat diare di Indonesia.