Terakhir diperbarui: 09 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 9 January). Relasi Kekuasaan: Konsep dan Dinamika Sosial. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/relasi-kekuasaan-konsep-dan-dinamika-sosial 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Relasi Kekuasaan: Konsep dan Dinamika Sosial - SumberAjar.com

Relasi Kekuasaan: Konsep dan Dinamika Sosial

Pendahuluan

Relasi kekuasaan merupakan fenomena sosial yang tak terpisahkan dari setiap aspek kehidupan masyarakat, baik dalam interaksi antarindividu, organisasi, maupun struktur besar seperti negara dan pemerintahan. Kekuasaan menjadi pusat perhatian para ilmuwan sosial karena berperan dalam memengaruhi pola interaksi, mendistribusikan sumber daya, serta membentuk struktur dan dinamika sosial. Di tengah kompleksitas masyarakat modern, relasi kekuasaan dapat muncul dalam bentuk formal lembaga negara maupun hubungan informal antara kelompok atau individu, dan sering kali berdampak langsung terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Studi akademik tentang kekuasaan berusaha menjelaskan bagaimana kekuasaan terbentuk, dipertahankan, dan dialihkan dalam tatanan sosial, serta bagaimana relasi tersebut membentuk dinamika kehidupan kolektif masyarakat. [Lihat sumber Disini - ejournal.uit-lirboyo.ac.id]


Definisi Relasi Kekuasaan

Definisi Relasi Kekuasaan Secara Umum

Relasi kekuasaan secara umum adalah hubungan antara dua pihak atau lebih dalam konteks sosial yang melibatkan kemampuan satu pihak untuk mempengaruhi atau mengendalikan tindakan pihak lain. Dalam hubungan ini sering terdapat ketidakseimbangan kemampuan, di mana satu pihak memegang dominasi atas pihak lainnya. Kekuasaan dapat muncul dalam berbagai tingkat kehidupan sosial, dari hubungan antarindividu hingga struktur kelembagaan negara, yang memengaruhi bagaimana keputusan diambil dan dijalankan dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - britannica.com]

Definisi Relasi Kekuasaan dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekuasaan adalah kemampuan, wewenang, atau hak untuk menentukan dan mempengaruhi keputusan, tindakan, dan arah kebijakan atas pihak lain. Definisi ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan sekadar pengaruh atau dominasi, tetapi juga instrumen formal yang dapat ditegakkan melalui aturan sosial dan struktur organisasi. (Sumber KBBI daring).

Definisi Relasi Kekuasaan Menurut Para Ahli

  1. Max Weber menyatakan bahwa kekuasaan adalah kemungkinan dalam suatu hubungan sosial untuk mewujudkan kemauan sendiri sekalipun mengalami perlawanan dari pihak lain. Menurut Weber, fokus relasi kekuasaan berada pada kemampuan untuk melaksanakan keputusan meskipun menghadapi resistensi. [Lihat sumber Disini - oxfordbibliographies.com]

  2. Michel Foucault memandang kekuasaan sebagai jaringan relasi sosial yang tersebar luas, bukan hanya dominasi formal. Kekuasaan menurut Foucault tidak hanya dimiliki satu pihak, tetapi muncul dari jaringan hubungan dan tindakan sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Pierre Bourdieu mengemukakan konsep kekuasaan simbolik, yaitu bentuk kekuasaan yang muncul melalui penanaman nilai dan struktur sosial yang dianggap “normal” dalam masyarakat. Kekuasaan simbolik ini bekerja secara tak sadar dan mempertahankan hierarki sosial tertentu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  4. Robert A. Dahl (dalam kajian sosiologi modern) menyatakan kekuasaan sebagai kemampuan satu pihak untuk membuat pihak lain melakukan sesuatu meskipun ada resistensi. Ini menunjukkan kekuasaan sebagai relasi yang aktif dan dinamis dalam interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - oxfordbibliographies.com]


Sumber-Sumber Kekuasaan Sosial

Sumber kekuasaan sosial merupakan landasan dari kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan mengambil keputusan dalam masyarakat. Dalam kajian sosiologi dan ilmu politik, sumber kekuasaan dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk:

  1. Kekuasaan Formal dan Institusional, Ini mencakup wewenang yang diberikan oleh aturan dan struktur organisasi, seperti negara, lembaga pemerintahan, atau perusahaan. Kekuasaan formal ini biasanya didukung oleh legitimasi hukum, norma, dan struktur birokratis. [Lihat sumber Disini - britannica.com]

  2. Kekuasaan Ekonomi, Sumber kekuasaan ini berasal dari kontrol atas sumber daya ekonomi, seperti kepemilikan modal, akses terhadap pekerjaan, atau distribusi barang penting. Struktur kekuasaan ekonomi sering memengaruhi struktur sosial dan kemampuan kelompok tertentu untuk menentukan kebijakan ekonomi. [Lihat sumber Disini - oxfordbibliographies.com]

  3. Kekuasaan Sosial Budaya, Ketika nilai, norma, dan simbol dominan dalam masyarakat memberikan keunggulan kepada satu kelompok, ini menciptakan bentuk kekuasaan sosial yang bekerja melalui kebiasaan berpikir dan budaya sosial sehari-hari. Konsep Bourdieu tentang simbolik power (kekuasaan simbolik) menjelaskan bagaimana struktur sosial ini bekerja tanpa kekuatan fisik langsung. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  4. Kekuasaan Politik, Kekuasaan politik berkaitan dengan kontrol terhadap proses pembuatan kebijakan dan struktur pemerintahan. Relasi kekuasaan politik menggambarkan peran elit, partai politik, serta lembaga negara dalam mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Diskusi tentang elit politik dan relasi kekuasaan menjelaskan bagaimana kelompok kecil dapat memiliki kontrol besar terhadap keputusan publik. [Lihat sumber Disini - ejournal.uigm.ac.id]

  5. Kekuasaan Informal, Sumber kekuasaan ini muncul dari jaringan sosial, hubungan antarindividu, atau struktur komunitas yang tidak formal. Kekuasaan informal dapat terbentuk melalui patron, klien, hubungan keluarga, atau norma komunitas tertentu yang memberi status khusus kepada individu tertentu. [Lihat sumber Disini - ejournal.uigm.ac.id]


Relasi Kekuasaan dalam Struktur Sosial

Relasi kekuasaan berperan fundamental dalam pembentukan struktur sosial masyarakat. Struktur sosial sendiri merupakan pola hubungan dan keteraturan sosial yang mengatur tindakan individu dan kelompok. Relasi kekuasaan memengaruhi siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya, siapa yang mengambil keputusan strategis, serta bagaimana norma dan aturan dipatuhi.

Dalam masyarakat modern, relasi kekuasaan terwujud melalui institusi sosial, seperti negara, sistem hukum, birokrasi, dan organisasi sosial lainnya, yang secara formal dan informal menentukan bagaimana kekuasaan dibagi dan dijalankan. Pada level struktural, kelompok elit politik atau ekonomi cenderung memegang posisi dominan dalam sistem sosial. Teori elit modern menunjukkan bahwa kekuasaan cenderung terpusat pada sekelompok kecil individu atau institusi yang memiliki akses terhadap sumber daya utama, serta berpotensi mengontrol agenda sosial dan kebijakan publik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Sebagai contoh konkret, relasi kekuasaan di tingkat desa dapat dianalisis melalui studi tentang hubungan antara pemerintah desa, badan permusyawaratan desa (BPD), dan masyarakat dalam pengelolaan keuangan desa. Dalam struktur ini, kepala desa sering memiliki otoritas formal yang dominan dalam pengambilan keputusan anggaran dan pembangunan. Sementara peran BPD adalah pengawasan, partisipasi masyarakat kerap terbatas oleh akses informasi atau tingkat pemahaman yang berbeda, sehingga relasi kekuasaan menjadi tidak seimbang dan berdampak pada efektivitas pengelolaan sumber daya desa. [Lihat sumber Disini - journal.undiknas.ac.id]


Dinamika Kekuasaan dalam Interaksi Sosial

Relasi kekuasaan tidak bersifat statis; ia berkembang seiring perubahan konteks sosial, ekonomi, teknologi, dan hubungan antar kelompok dalam masyarakat. Dinamika kekuasaan mencerminkan bagaimana kekuasaan diperebutkan, dipertahankan, atau dipindahkan melalui interaksi sosial, konflik, negosiasi, dan perubahan struktur sosial itu sendiri.

Dalam interaksi sosial sehari-hari, kekuasaan dapat muncul melalui komunikasi, negosiasi peran, atau interaksi simbolik antara individu dan kelompok. Misalnya, dalam hubungan kerja, kekuasaan dapat terlihat pada pengaturan tugas, evaluasi kinerja, atau pengambilan keputusan oleh atasan terhadap bawahan. Studi sosiologis menunjukkan bahwa power relations juga dapat direfleksikan melalui bahasa, norma perilaku, serta pengakuan status yang diterima oleh anggota kelompok tertentu. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

Dinamika kekuasaan juga dibentuk oleh perubahan budaya, pergeseran nilai sosial, serta konflik kepentingan dalam masyarakat. Ketika kelompok subordinat menuntut akses dan keterlibatan lebih besar dalam proses pengambilan keputusan, relasi kekuasaan menjadi arena sekaligus proses sosial yang terus berubah. Hal ini menunjukkan bahwa relasi kekuasaan tidak hanya melibatkan dominasi, tetapi juga bisa melibatkan negosiasi, resistensi, dan transformasi sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.uit-lirboyo.ac.id]


Kekuasaan dan Ketimpangan Sosial

Hubungan antara kekuasaan dan ketimpangan sosial merupakan fokus utama banyak penelitian sosiologi kontemporer. Ketimpangan sosial muncul ketika distribusi sumber daya, akses terhadap peluang, dan pengaruh terhadap keputusan sosial tidak merata di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Kekuasaan sering menjadi instrumen utama yang memperkuat atau mengurangi ketimpangan ini.

Sebagai contoh, dinamika kekuasaan politik sering memengaruhi distribusi kebijakan publik, akses pendidikan, dan kesempatan kerja. Ketika kelompok tertentu memiliki dominasi politik dan ekonomi, mereka cenderung dapat mengarahkan kebijakan yang memperkuat posisi mereka, sementara kelompok marginal mengalami keterbatasan akses terhadap sumber daya penting. Hal ini menciptakan pola ketidaksetaraan yang berkelanjutan dalam struktur masyarakat. Studi empiris menunjukkan bahwa ketimpangan sosial dan relasi kekuasaan politik saling terkait dan membentuk pola ketidakadilan dalam sistem sosial modern. [Lihat sumber Disini - coursework.uma.ac.id]

Selain itu, ketimpangan sosial juga dapat muncul melalui kekuasaan simbolik yang tersembunyi di dalam budaya dan norma sosial. Ketika kelompok dominan mampu mempengaruhi persepsi, interpretasi, dan penilaian terhadap norma sosial, kekuasaan tersebut secara tidak langsung mempertahankan struktur hierarki sosial yang tidak merata. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Relasi Kekuasaan dalam Kehidupan Masyarakat

Relasi kekuasaan memainkan peran penting dalam hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Dalam keluarga, relasi kekuasaan mencerminkan pola struktur patriarki, peran dominan orang tua terhadap anak, atau dinamika keputusan keluarga. Dalam organisasi, relasi kekuasaan terlihat jelas dalam hierarki jabatan, pembagian tugas, serta sistem evaluasi dan penghargaan.

Di tingkat komunitas, relasi kekuasaan dapat muncul dalam mekanisme partisipasi dalam kegiatan komunitas, pengambilan keputusan bersama, atau pengelolaan sumber daya bersama seperti tanah atau modal sosial. Misalnya, dalam konteks pemilihan umum, relasi kekuasaan elit politik dan kemampuan mereka untuk memobilisasi sumber daya politik dan ekonomi sangat menentukan arah kebijakan nasional. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan dapat beroperasi melalui mekanisme formal demokratik sekaligus struktur informal yang mempengaruhi perilaku pemilih dan pembentukan opini publik. [Lihat sumber Disini - ojs.cahayamandalika.com]

Relasi kekuasaan juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari seperti hubungan pemasok, konsumen, guru, murid, atau organisasi kemasyarakatan. Setiap hubungan ini melibatkan bentuk pengaruh dan kontrol yang berbeda, tetapi selalu terikat pada struktur sosial yang lebih luas serta norma yang mengatur interaksi antarindividu dan kelompok. [Lihat sumber Disini - britannica.com]


Kesimpulan

Relasi kekuasaan merupakan fenomena sosial yang kompleks, dinamis, dan mendasar dalam tatanan masyarakat. Secara konseptual, kekuasaan bukan hanya kemampuan untuk mengendalikan orang lain, tetapi sebuah jaringan hubungan sosial yang mempengaruhi struktur, aktivitas, dan interaksi sosial dalam berbagai konteks. Dimensi kekuasaan mencakup sumber formal, ekonomi, sosial, politik, dan simbolik yang memengaruhi bentuk struktur sosial dan ketimpangan dalam masyarakat. Dinamika kekuasaan ditandai oleh perubahan hubungan sosial, konflik, negosiasi, serta evolusi struktur sosial itu sendiri. Kekuasaan dan ketimpangan sosial saling terkait secara erat, karena distribusi kekuasaan menjadi faktor penting dalam pembentukan ketidaksetaraan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, relasi kekuasaan memainkan peran penting dalam mengatur interaksi sosial, pembagian sumber daya, serta proses pengambilan keputusan dalam hampir setiap aspek kehidupan masyarakat. Secara keseluruhan, pemahaman tentang relasi kekuasaan tidak hanya membantu menjelaskan struktur sosial yang ada, tetapi juga memberikan wawasan tentang bagaimana perubahan sosial dapat terjadi melalui negosiasi, partisipasi, dan transformasi relasi kekuasaan itu sendiri.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Relasi kekuasaan adalah hubungan sosial antara individu atau kelompok yang melibatkan kemampuan satu pihak untuk memengaruhi, mengendalikan, atau menentukan tindakan dan keputusan pihak lain dalam struktur sosial masyarakat.

Sumber-sumber kekuasaan dalam masyarakat meliputi kekuasaan formal dan institusional, kekuasaan ekonomi, kekuasaan politik, kekuasaan sosial budaya, serta kekuasaan simbolik yang bekerja melalui norma dan nilai sosial.

Relasi kekuasaan terbentuk melalui interaksi sosial yang berulang, pembagian peran sosial, legitimasi norma dan hukum, serta dominasi kelompok tertentu dalam penguasaan sumber daya dan pengambilan keputusan.

Kekuasaan berperan penting dalam menciptakan dan mempertahankan ketimpangan sosial karena pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar cenderung mengontrol distribusi sumber daya, akses peluang, dan kebijakan sosial.

Relasi kekuasaan bersifat dinamis karena dipengaruhi oleh perubahan sosial, konflik kepentingan, negosiasi antarindividu atau kelompok, serta perkembangan budaya, ekonomi, dan teknologi dalam masyarakat.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kekuasaan Sosial: Konsep dan Sumber Legitimasi Dominasi Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Relasi Sosial: Fungsi dan Faktor Hegemoni: Pengertian, Karakteristik, dan Contoh dalam Kajian Sosial Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Teori Relativitas Sosial dalam Kajian Ilmiah ERD (Entity Relationship Diagram) Metode Analisis Wacana: Prinsip dan Langkah Kualitas Relasi Sosial: Konsep dan Determinan Otoritas Sosial: Konsep dan Penerimaan Masyarakat Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Paradigma Kritis: Prinsip dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Stratifikasi Sosial: Konsep dan Bentuk Pelapisan Sosial Paradigma Transformatif dalam Dunia Ilmiah Ontologi Sosial: Pengertian dan Relevansinya dalam Penelitian Class Diagram: Konsep dan Aplikasi
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna