Terakhir diperbarui: 07 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 7 January). Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/psychological-safety-konsep-dan-lingkungan-sosial 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial - SumberAjar.com

Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial

Pendahuluan

Psychological safety atau keamanan psikologis merupakan konsep yang kini semakin diperbincangkan secara luas dalam penelitian psikologi organisasi dan sosial. Pada era modern di mana kolaborasi, inovasi, dan interaksi lintas disiplin menjadi kebutuhan utama, kebutuhan akan lingkungan yang mendukung keterbukaan, keberanian berbicara, dan kebebasan berekspresi semakin penting. Individu yang berada dalam lingkungan yang aman secara psikologis lebih mampu menyampaikan ide, menerima kritik, serta belajar dari kesalahan tanpa rasa takut akan konsekuensi negatif. Konsep ini berimplikasi besar tidak hanya pada sektor kerja profesional, tetapi juga pada konteks pendidikan, hubungan interpersonal, dan kesejahteraan psikologis secara umum. Ketiadaan rasa aman ini dapat menghambat komunikasi, menurunkan efektivitas kerja tim, serta berdampak buruk bagi kesejahteraan mental individu.


Definisi Psychological Safety

Definisi Psychological Safety Secara Umum

Psychological safety secara umum dipahami sebagai suatu kondisi atau persepsi yang dirasakan seseorang dalam suatu kelompok bahwa ia dapat mengambil risiko interpersonal, seperti menyampaikan pendapat, bertanya, atau mengakui kesalahan, tanpa takut terhadap ejekan, hukuman, atau dampak sosial negatif lainnya. Dalam konteks ini, individu merasa bahwa lingkungan sosial atau organisasinya menyediakan ruang aman untuk berinteraksi secara terbuka dan autentik, sehingga memungkinkan individu untuk berpartisipasi secara aktif tanpa rasa takut dinilai secara negatif. Persepsi ini bukan sekadar kepercayaan bahwa orang lain baik, tetapi keyakinan bahwa perilaku non-konformis tidak akan membawa konsekuensi sosial yang merugikan sebagai akibat dari tindakan tersebut. [Lihat sumber Disini - psychsafety.com]

Definisi Psychological Safety dalam KBBI

Karena Psychological Safety merupakan istilah yang lebih banyak dibahas dalam psikologi dan manajemen organisasi, istilah ini tidak secara eksplisit dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring. Namun, kita dapat merujuk pada pengertian gabungan dari istilah “psikologis” dan “keselamatan/keamanan” dalam KBBI yang berarti kondisi mental atau perasaan aman dari risiko yang dapat memengaruhi kondisi batin seseorang. Istilah “psikologis” dalam KBBI diartikan sebagai yang berkaitan dengan psikologi atau kejiwaan, sedangkan “aman/keamanan” diartikan sebagai bebas dari bahaya atau risiko tinggi. Kombinasi arti tersebut secara implisit dapat menggambarkan psychological safety sebagai kondisi mental aman yang mendukung keberanian untuk mengambil risiko interpersonal dalam konteks sosial atau organisasi. (Referensi: KBBI daring, psikologis / aman / keamanan)

Definisi Psychological Safety Menurut Para Ahli

  1. Edmondson (1999) menjelaskan psychological safety sebagai kepercayaan kolektif bahwa lingkungan kelompok itu aman untuk mengambil risiko interpersonal seperti berbicara, bertanya, atau mengajukan usulan tanpa takut akan konsekuensi negatif. Konsep ini banyak digunakan dalam studi mengenai efektivitas tim dan inovasi dalam organisasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Kahn (1990) menyatakan bahwa psychological safety berarti individu merasa mampu menunjukkan dirinya secara utuh tanpa rasa takut akan dampak negatif terhadap citra diri, status, atau kariernya. Pendekatan ini menekankan pentingnya kondisi emosional yang mendukung pengungkapan diri secara bebas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Maslow (1945, dalam konteks keseluruhan kebutuhan manusia) termasuk psychological safety sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia yang mendukung motivasi untuk berkembang, merasa dihargai, dan aman secara mental dalam hubungan sosial maupun lingkungan kerja. [Lihat sumber Disini - kampuspsikologi.com]

  4. Frazier et al. (2017) dalam kajian meta-analitis menemukan bahwa psychological safety berkontribusi terhadap performa tim dan keterbukaan dalam kelompok karena memberikan rasa aman untuk berbagi ide dan belajar dari kesalahan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Dimensi Psychological Safety

Psychological safety sebagai konsep sering dipandang sebagai fenomena unidimensional dalam banyak penelitian awal, artinya dianggap sebagai satu konstruksi tunggal yang mencerminkan persepsi umum terhadap keamanan interpersonal dalam kelompok. Namun, dalam praktik dan kajian empiris, aspek-aspek berikut sering diamati sebagai bagian yang membentuk psychological safety dalam suatu lingkungan:

  1. Kepercayaan interpersonal, keyakinan bahwa anggota lain tidak akan menghina atau menghukum ketika seseorang mengemukakan pendapat berbeda. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Kesediaan untuk berbagi ide, keterbukaan individu untuk menyampaikan gagasan tanpa rasa takut diremehkan. [Lihat sumber Disini - psychsafety.com]

  3. Menerima kesalahan sebagai bagian pembelajaran, lingkungan yang melihat kesalahan sebagai peluang belajar dapat meningkatkan rasa aman psikologis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Dukungan sosial dalam kelompok, adanya dukungan sosial dari rekan kerja atau anggota kelompok yang menciptakan atmosfer saling menghormati dan membantu. [Lihat sumber Disini - dinastires.org]

Dimensi-dimensi ini mencerminkan bagaimana psychological safety dapat memengaruhi dinamika kelompok secara lebih komprehensif, melampaui sekadar persepsi sederhana tentang “aman tidaknya berbicara”.


Faktor yang Mempengaruhi Psychological Safety

Berbagai penelitian empiris menyebutkan bahwa psychological safety dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari tingkat individu hingga konteks organisasi secara keseluruhan:

  1. Faktor Individu

    Termasuk karakteristik pribadi seperti rasa percaya diri, pengalaman masa lalu dalam berinteraksi sosial, dan persepsi risiko interpersonal yang dimiliki individu. Perbedaan dalam kemampuan komunikasi atau tingkat kecemasan dapat memengaruhi seberapa besar seseorang merasa aman untuk berpartisipasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

  2. Faktor Interpersonal

    Hubungan antara individu dengan rekan kerja, dukungan sosial, dan dinamika tim dapat menjadi penentu kuat rasa aman psikologis. Hubungan yang positif dan menghormati perbedaan cenderung meningkatkan psychological safety. [Lihat sumber Disini - dinastires.org]

  3. Faktor Kepemimpinan

    Gaya kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap kritik, dan memberikan ruang bagi partisipasi semua anggota dapat memperkuat psychological safety. Kepemimpinan transformasional atau suportif terbukti meningkatkan rasa aman psikologis dalam lingkungan kerja. [Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]

  4. Faktor Organisasi

    Budaya organisasi, struktur komunikasi, dan kebijakan internal yang mendukung kolaborasi serta mengakui kontribusi individu tanpa menimbulkan stigma terhadap kesalahan dapat menciptakan psychological safety. Organisasi dengan hierarki terlalu kaku cenderung menurunkan tingkat psikologis aman. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

Faktor-faktor tersebut bekerja saling terkait dalam membentuk persepsi individu terhadap keamanan psikologis di lingkungan sosial atau profesional mereka.


Psychological Safety dan Interaksi Sosial

Psychological safety memiliki peranan penting dalam interaksi sosial karena ia menentukan sejauh mana seseorang bersedia berkomunikasi, berbagi pendapat, serta terlibat dalam percakapan yang bermakna tanpa rasa takut akan kritik, penolakan, atau penghukuman sosial. Rasa aman secara psikologis dapat meningkatkan keterbukaan individu untuk berpartisipasi aktif dalam kelompok, memperkuat kualitas hubungan sosial antaranggota kelompok, serta mengurangi konflik yang timbul karena kesalahpahaman. Ketika anggota kelompok merasa bahwa pendapatnya dihargai, rasa saling menghormati berkembang, sehingga meningkatkan kohesi kelompok serta memfasilitasi kerja sama yang efektif. Hubungan interpersonal yang sehat seperti ini membawa efek positif pada produktivitas tim serta kesejahteraan emosional individu dalam konteks sosial. [Lihat sumber Disini - psychsafety.com]

Selain itu, psychological safety berperan dalam memfasilitasi social buffering, di mana dukungan sosial antaranggota kelompok membantu meredakan tekanan psikologis atau stres yang dialami oleh individu ketika berhadapan dengan situasi sosial yang menantang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Psychological Safety dan Kesejahteraan Psikologis

Keterkaitan antara psychological safety dan kesejahteraan psikologis sangat erat karena kondisi lingkungan emosional yang aman memungkinkan individu merasa dihargai, bebas dari ancaman interpersonal, serta terlibat secara penuh dalam aktivitas sosial atau tugas pekerjaan tanpa rasa takut akan stigma. Ketika individu merasakan psychological safety, risiko mengalami burnout atau kelelahan mental akibat stres berkepanjangan dapat berkurang secara signifikan karena individu merasa memiliki kontrol dan dukungan dalam menjalani aktivitasnya. [Lihat sumber Disini - ssph-journal.org]

Selain itu, psikologis aman juga terkait dengan peningkatan self-efficacy akademik maupun profesional. Penelitian menunjukkan bahwa psychological safety di kalangan mahasiswa berhubungan positif dengan keyakinan diri akademik yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar dan keterlibatan pendidikan secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]


Psychological Safety dalam Lingkungan Akademik dan Kerja

Lingkungan Akademik

Dalam konteks pendidikan, psychological safety menjadi faktor penting yang memengaruhi keterlibatan mahasiswa dalam diskusi kelas, kualitas interaksi dengan teman sekelas dan dosen, serta keberanian menyampaikan pendapat atau bertanya. Mahasiswa yang merasa aman secara psikologis lebih cenderung untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, mencoba pendekatan pembelajaran yang lebih menantang, serta menerima umpan balik pembelajaran dengan sikap terbuka. Penelitian menunjukkan hubungan positif antara psychological safety dan keyakinan diri akademik mahasiswa, yang pada akhirnya dapat mendorong peningkatan prestasi akademik. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]

Lingkungan Kerja

Di lingkungan kerja, psychological safety berdampak langsung terhadap inovasi, kreativitas, dan keterlibatan karyawan. Organisasi yang menciptakan atmosphere yang aman secara psikologis memberikan ruang bagi karyawan untuk menyampaikan ide tanpa rasa takut terhadap konsekuensi negatif, sehingga meningkatkan potensi inovatif serta kolaborasi antar tim. Ketika karyawan tidak terhambat oleh rasa takut akan salah atau penolakan, mereka lebih siap berpartisipasi dalam proses pembelajaran organisasi dan pengambilan keputusan yang lebih efektif. [Lihat sumber Disini - dinastires.org]

Selain itu, psychological safety juga berperan dalam memperkuat keterlibatan kerja (work engagement), yang dapat meningkatkan komitmen serta loyalitas karyawan terhadap organisasi, serta menurunkan turnover. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]


Kesimpulan

Psychological safety merupakan konsep penting yang mencerminkan persepsi individu terhadap kemampuan untuk mengambil risiko interpersonal dalam lingkungan sosial tanpa rasa takut akan konsekuensi negatif. Konsep ini memiliki dasar teoretis kuat yang dikembangkan oleh para ahli seperti Edmondson dan Kahn, serta terbukti relevan dalam berbagai konteks seperti akademik, organisasi, sekaligus kesejahteraan psikologis individu. Faktor-faktor yang memengaruhi psychological safety bekerja pada tingkat individu, interpersonal, kepemimpinan, dan organisasi secara keseluruhan. Psychological safety tidak hanya meningkatkan kualitas interaksi sosial dan dinamika kelompok, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan mental, kreativitas, keterlibatan, dan kinerja individu dalam konteks profesional maupun pendidikan. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi psychological safety harus menjadi prioritas dalam setiap lingkungan sosial, organisasi, dan pendidikan yang ingin meningkatkan kualitas kolaborasi, inovasi, dan kesejahteraan penghuninya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Psychological safety adalah kondisi psikologis di mana individu merasa aman untuk menyampaikan pendapat, bertanya, mengemukakan ide, dan mengakui kesalahan tanpa takut akan hukuman, penilaian negatif, atau konsekuensi sosial.

Psychological safety penting karena membantu menciptakan interaksi sosial yang terbuka, saling menghargai, dan bebas dari rasa takut. Lingkungan yang aman secara psikologis mendorong komunikasi efektif, kepercayaan interpersonal, serta kerja sama yang sehat.

Psychological safety dipengaruhi oleh faktor individu seperti kepercayaan diri, faktor interpersonal seperti dukungan sosial, gaya kepemimpinan yang inklusif, serta budaya organisasi atau lingkungan yang menghargai keterbukaan dan perbedaan pendapat.

Psychological safety berhubungan erat dengan kesejahteraan psikologis karena lingkungan yang aman secara mental dapat mengurangi stres, kecemasan, dan kelelahan emosional, serta meningkatkan rasa percaya diri, keterlibatan, dan kepuasan individu.

Dalam lingkungan akademik, psychological safety mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapat tanpa takut disalahkan, sehingga meningkatkan partisipasi belajar, kepercayaan diri akademik, dan kualitas pembelajaran.

Psychological safety di tempat kerja diterapkan melalui kepemimpinan yang terbuka, komunikasi dua arah, penghargaan terhadap ide karyawan, serta budaya yang memandang kesalahan sebagai proses belajar, bukan sebagai sesuatu yang harus dihukum.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Psychological Flexibility: Konsep dan Kesejahteraan Psychological Well-Being: Konsep dan Indikator SPK Penentuan Stok Aman Gudang Psychological Empowerment Psychological Capital: Komponen dan Manfaatnya Food Safety Awareness Safety Culture dalam Rumah Sakit Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien: Konsep, Determinan, dan Pencegahan Psychological Readiness: Konsep dan Implikasi Keamanan Pasien di Ruang Perawatan Identifikasi Pasien yang Tepat Konsep Fungsi Psikologis Sehat Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien Digital Literacy: Definisi, Tingkatan, dan Contohnya Keamanan Terapi Farmakologis: Konsep, Prinsip, dan Implementasi Farmakovigilans: Konsep, Pelaporan Efek Samping, dan Keselamatan Pengelolaan Stres Pasien Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna