Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Verifikasi dan Falsifikasi dalam Penelitian Ilmiah. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/verifikasi-dan-falsifikasi-dalam-penelitian-ilmiah  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Verifikasi dan Falsifikasi dalam Penelitian Ilmiah - SumberAjar.com

Verifikasi dan Falsifikasi dalam Penelitian Ilmiah

Pendahuluan

Pada ranah penelitian ilmiah, penentuan apakah sebuah pernyataan, teori, atau hipotesis bisa dikategorikan sebagai “ilmiah” sangat bergantung pada bagaimana kebenaran atau kela­yanannya diuji. Dua pendekatan yang sering dibahas dalam epistemologi ilmu adalah verifikasi dan falsifikasi. Verifikasi berupaya membenarkan teori melalui konfirmasi data empiris, sedangkan falsifikasi berupaya menolak teori dengan mengeksposnya pada pengujian yang mampu menunjukkan bahwa teori tersebut salah.

Tulisan ini bertujuan menjelaskan konsep verifikasi dan falsifikasi, terutama dari perspektif sejarah dan filosofis, serta menggambarkan relevansi dan limitasinya dalam praktik penelitian ilmiah modern. Dengan memahami kedua konsep ini, peneliti dapat mengembangkan sikap kritis terhadap klaim ilmiah sekaligus metodologi penelitian yang lebih kuat dan kredibel.


Definisi Verifikasi

Definisi Verifikasi Secara Umum

Secara umum, verifikasi adalah proses pembuktian atau konfirmasi bahwa suatu klaim, hipotesis, atau teori sesuai dengan data, fakta, atau pengamatan empiris. Dalam konteks ilmu pengetahuan, verifikasi berarti mencari bukti empiris yang mendukung teori sehingga teori tersebut dianggap “benar” atau “valid.” Intinya, jika banyak observasi atau eksperimen menunjukkan bahwa prediksi teori sesuai dengan kenyataan, maka teori tersebut divalidasi.

Definisi Verifikasi dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “verifikasi” secara harfiah berarti “pemeriksaan kembali untuk memastikan kebenaran, keabsahan, atau kesesuaian suatu data, pernyataan, atau hasil.” Dari perspektif ini, verifikasi terkait dengan konfirmasi fakta atau data terhadap pernyataan yang telah diajukan, yaitu verifikasi terhadap kebenaran sebuah klaim.

Definisi Verifikasi Menurut Para Ahli

Beberapa ahli dan aliran filsafat ilmu mendefinisikan verifikasi dalam kerangka metodologis dan logis:

  • Menurut para penganut aliran verifikasiisme klasik (misalnya dalam tradisi logika-positivisme), sebuah pernyataan bermakna secara empiris jika dan hanya jika dapat diverifikasi oleh pengamatan atau pengalaman inderawi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Namun demikian, pendekatan verifikasiisme menemui banyak kritik karena sulit, bahkan mustahil, untuk membuktikan sebuah universal generalisasi secara pasti (misalnya pernyataan “semua burung bermigrasi” tidak bisa diverifikasi dengan mengamati seluruh populasi burung). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Oleh karena itu, dalam banyak literatur filsafat ilmu modern, verifikasi dianggap lemah sebagai kriteria tunggal untuk menetapkan status ilmiah suatu teori, terutama teori universal, karena verifikasi bergantung pada induksi, yang menghadapi masalah filosofis seperti “masalah induksi”. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Definisi Falsifikasi Menurut Karl Popper

Karl R. Popper, seorang filsuf ilmu abad ke-20, mengusulkan falsifikasi sebagai alternatif terhadap verifikasi, untuk mendemarkasi (menetapkan batas) antara teori ilmiah dan non-ilmiah. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dalam pandangannya, teori ilmiah harus bersifat “falsifiable”, yaitu memungkinkan diuji dengan pengamatan atau eksperimen yang bisa menunjukkan bahwa teori tersebut salah. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Falsifikasi bukan sekadar menunggu konfirmasi, melainkan aktif mencari kondisi atau data yang bisa menentang teori tersebut. Bila ada pengamatan yang bertentangan dengan prediksi teori, maka teori itu harus ditolak atau direvisi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dengan demikian, menurut Popper, kebenaran teori ilmiah bersifat sementara dan selalu terbuka terhadap revisi. Ilmu adalah usaha terus-menerus menguji teori, bukan mengumpulkan konfirmasi sebanyak mungkin. [Lihat sumber Disini - ejurnals.com]


Perbedaan Verifikasi dan Falsifikasi

  • Arah penilaian teori: Verifikasi berfokus pada konfirmasi, mencoba membuktikan bahwa teori sesuai dengan fakta/data. Falsifikasi berfokus pada penyangkalan, mencari bukti untuk membuktikan teori salah.

  • Hubungan dengan universalitas: Verifikasi kesulitan membuktikan pernyataan universal karena mustahil mengobservasi seluruh anggota populasi. Falsifikasi cukup dengan satu contoh kontrafakta untuk menyangkal sebuah teori universal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Implikasi terhadap status ilmiah: Dalam verifikasiisme, teori mendapat dukungan saat banyak data sesuai, tapi itu tidak menjamin teori benar secara mutlak. Dalam falsifikasiisme, teori dianggap ilmiah jika bisa diuji dan berpotensi ditolak; teori yang sudah bertahan setelah pengujian berkali-kali dianggap lebih kuat, meski tetap sementara. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Sikap terhadap teori: Verifikasi sering menghasilkan konfirmasi bias, peneliti cenderung mencari data yang mendukung teori. Falsifikasi mendorong sikap kritis: teori harus siap diuji secara keras, dan jika gagal, harus dibuang atau diperbaiki.


Peran Falsifikasi dalam Metode Ilmiah Modern

Pendekatan falsifikasi, sebagaimana diusulkan Popper, memainkan peran besar dalam membentuk cara pandang ilmuwan modern terhadap teori dan penelitian:

  • Memberi kriteria demarkasi antara ilmu (science) dan non-ilmu (metafisika, ideologi, dogma). Teori yang tidak bisa diuji atau tidak bisa difalsifikasi, misalnya teori yang terlalu fleksibel atau penjelasan “ad hoc”, dianggap non-ilmiah. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Mendorong hipothetico-deduktif model: pengembangan teori mengikuti deduksi yang menghasilkan prediksi ➝ kemudian diuji melalui observasi/eksperimen ➝ bisa dipertahankan atau ditolak. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Menegaskan bahwa ilmu pengetahuan bersifat sementara dan berkembang, teori-teori bisa diganti ketika muncul teori baru yang lebih baik dan lebih mampu menjelaskan data secara konsisten. [Lihat sumber Disini - ejurnals.com]

  • Membantu mencegah dogma ilmiah, karena ilmuwan tetap diingatkan bahwa teori tidak pernah mutlak benar, selalu terbuka terhadap revisi bila ada bukti yang menentang. [Lihat sumber Disini - aau.at]


Kritik terhadap Pendekatan Falsifikasionisme

Namun, meskipun falsifikasi banyak dipuji, falsifikasionisme, atau penerapan ketat prinsip falsifikasi, juga mendapat kritik:

  • Beberapa kritik menyebut bahwa banyak teori ilmiah tetap digunakan meskipun telah mengalami “anomali” atau data yang menentang, karena teori tersebut dianggap masih berguna dan tidak ada alternatif yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa dalam praktik, falsifikasi metodologis tidak selalu secara otomatis menyebabkan penolakan teori. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Ada juga argumen bahwa teori kadang diuji melalui banyak “hipotesis tambahan” (auxiliary hypotheses), sehingga jika ada prediksi gagal, peneliti bisa menyalahkan asumsi tambahan, bukan teori utama, ini membuat teori “kebal” terhadap falsifikasi (“ad-hoc immunization”). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Dalam beberapa bidang ilmu (misalnya ilmu sosial, humaniora, hukum, atau teologi), falsifikasi sulit diterapkan secara ketat karena fenomena yang diteliti kompleks, kontekstual, atau tidak bisa diuji dengan eksperimental secara sederhana. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]

  • Kritik filosofis bahwa falsifikasi tidak bisa menjamin bahwa teori yang bertahan benar, hanya menunjukkan bahwa teori tersebut belum terbukti salah; artinya, falsifikasi memberi status “sementara kuat”, bukan kebenaran mutlak. [Lihat sumber Disini - aau.at]


Relevansi Verifikasi/Falsifikasi dalam Penelitian Saat Ini

Dalam konteks penelitian modern, baik di bidang sains alam, sosial, maupun humaniora, prinsip verifikasi dan falsifikasi tetap relevan, meskipun dalam bentuk yang telah mengalami modifikasi:

  • Prinsip falsifikasi mendorong peneliti agar membuat hipotesis yang jelas dan dapat diuji, bukan sekadar teori abstrak tanpa prediksi empiris. Ini penting terutama saat penelitian kuantitatif atau eksperimental.

  • Differensiasi antara teori ilmiah dan non-ilmiah membantu menjaga integritas ilmiah, mencegah klaim pseudoscience atau dogma tanpa dasar empiris.

  • Dalam penelitian kualitatif atau interdisipliner, meskipun falsifikasi sulit diterapkan secara “keras”, semangat kritis dan keterbukaan terhadap revisi teori tetap penting, yaitu mempertahankan sikap ilmiah, bukan dogmatis.

  • Prinsip ini juga relevan dalam konteks literasi sains, kebijakan publik, dan pendidikan, di mana klaim tentang fakta, data, atau teori harus selalu diuji, dikritik, dan dibuktikan secara terbuka dan transparan.


Contoh Penerapan dalam Kajian Ilmiah

Misalnya, dalam penelitian empiris di ilmu sosial: seorang peneliti mengusulkan hipotesis bahwa “penggunaan media sosial secara intensif meningkatkan risiko stres remaja.” Berdasar prinsip falsifikasi, peneliti harus merumuskan prediksi empiris: misalnya, remaja yang menggunakan media sosial > 4 jam per hari akan menunjukkan skor stres lebih tinggi pada kuesioner stres. Kemudian, peneliti mengumpulkan data dan menganalisis, jika data menunjukkan tidak ada perbedaan stres antara pengguna berat dan ringan, maka hipotesis harus ditolak atau direvisi.

Contoh di sains alam: teori bahwa “semua logam mengembang ketika dipanaskan.” Berdasarkan falsifikasi, cukup ditemukan satu logam yang tidak menunjukkan ekspansi ketika dipanaskan untuk menyangkal teori itu. Ini menunjukkan kekuatan falsifikasi dalam menolak universal generalisasi.

Di sisi lain, dalam bidang hukum atau studi agama, seperti dalam kajian terhadap ide Prophetic Law, ada penelitian yang mencoba menerapkan kriteria falsifikasi untuk menilai apakah konsep hukum berbasis nilai agama bisa dianggap “ilmiah” atau “sains sosial.” [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]


Kesimpulan

Secara ringkas: verifikasi dan falsifikasi mewakili dua pendekatan berbeda dalam penentuan kebenaran atau keilmiahan suatu teori. Verifikasi berusaha membenarkan dengan konfirmasi fakta, tetapi secara filosofis lemah, terutama bagi teori universal, karena bergantung pada induksi dan tidak bisa memberi kepastian mutlak. Falsifikasi, seperti yang dikemukakan Karl Popper, menawarkan kriteria yang lebih ketat dan kritis: teori dianggap ilmiah jika bisa diuji dan bisa dibuktikan salah, serta dianggap sementara meskipun belum terbukti salah. Pendekatan falsifikasi mendasari metode ilmiah modern, mendorong sikap kritis, keterbukaan terhadap revisi teori, dan menjaga integritas ilmiah.

Meski begitu, falsifikasionisme juga bukan tanpa kritik, dalam praktik ilmiah banyak teori tetap dipertahankan meskipun ada data yang bertentangan; serta dalam ilmu sosial/humaniora, penerapan falsifikasi kadang sulit. Oleh karena itu, dalam penelitian modern, penting bagi peneliti menggunakan kombinasi prinsip: membuat hipotesis yang jelas, mampu diuji, tetapi juga bersikap reflektif terhadap kompleksitas realitas.

Dengan memahami verifikasi dan falsifikasi secara mendalam seperti ini, peneliti bisa merancang penelitian yang lebih kredibel, kritis, dan ilmiah, bukan hanya sekadar konfirmasi, tapi juga berani menguji, menolak, atau merevisi teori jika diperlukan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Verifikasi adalah proses pembuktian atau konfirmasi bahwa suatu teori atau hipotesis sesuai dengan data empiris. Dalam penelitian ilmiah, verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa klaim ilmiah memiliki dukungan bukti yang konsisten.

Menurut Karl Popper, falsifikasi adalah prinsip bahwa teori ilmiah harus dapat diuji dan berpotensi dibuktikan salah. Teori dianggap ilmiah jika memberikan prediksi yang dapat diuji melalui observasi atau eksperimen dan dapat ditolak bila prediksi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Verifikasi berfokus pada pencarian bukti yang mendukung teori, sementara falsifikasi mencari bukti yang dapat menyangkal teori. Verifikasi memperkuat klaim, sedangkan falsifikasi menguji batas ketahanan teori terhadap data empiris yang berlawanan.

Falsifikasi penting karena memberikan kriteria yang jelas untuk membedakan ilmu dan non-ilmu. Pendekatan ini mendorong pengujian teori secara kritis dan memastikan bahwa teori ilmiah tetap terbuka terhadap koreksi dan penyempurnaan berdasarkan bukti baru.

Contoh verifikasi adalah penelitian yang mengumpulkan data untuk memastikan prediksi teori sesuai dengan hasil observasi. Contoh falsifikasi adalah ketika sebuah teori diuji melalui eksperimen yang dirancang khusus untuk mencari bukti yang dapat menunjukkan bahwa teori tersebut salah.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Prinsip Falsifikasi dalam Ilmu Pengetahuan Modern Prinsip Falsifikasi dalam Ilmu Pengetahuan Modern Falsifikasi Karl Popper: Prinsip dan Penerapan Falsifikasi Karl Popper: Prinsip dan Penerapan Verifikasi: Definisi dan Contoh dalam Riset Verifikasi: Definisi dan Contoh dalam Riset Prinsip Validasi Pengetahuan Ilmiah Prinsip Validasi Pengetahuan Ilmiah Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Etika Pengetahuan: Pengertian dan Aplikasinya Etika Pengetahuan: Pengertian dan Aplikasinya Sistem Web Penerimaan Mahasiswa Baru Sistem Web Penerimaan Mahasiswa Baru Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya Prinsip Rasionalitas Ilmiah dalam Penalaran Akademik Prinsip Rasionalitas Ilmiah dalam Penalaran Akademik Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif Filsafat Sains Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif Filsafat Sains Kendala Administrasi BPJS Kendala Administrasi BPJS Nilai Ilmiah: Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya Nilai Ilmiah: Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Etika Penelitian: Prinsip, Tujuan, dan Contoh Penerapannya Etika Penelitian: Prinsip, Tujuan, dan Contoh Penerapannya Aksiologi Ilmu: Nilai dan Etika dalam Riset Aksiologi Ilmu: Nilai dan Etika dalam Riset Fakta Ilmiah: Pengertian dan Perbedaannya dengan Opini Fakta Ilmiah: Pengertian dan Perbedaannya dengan Opini Prinsip Etika Akademik dalam Penulisan Ilmiah Prinsip Etika Akademik dalam Penulisan Ilmiah Teori dan Fakta: Hubungan dalam Proses Ilmiah Teori dan Fakta: Hubungan dalam Proses Ilmiah Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…