
Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya
Pendahuluan
Kebenaran ilmiah memegang peranan mendasar dalam dunia ilmu pengetahuan dan penelitian. Tanpa pengertian yang jelas mengenai apa yang disebut “kebenaran ilmiah”, maka proses penelitian, verifikasi, dan pengembangan ilmu menjadi rentan terhadap kesalahan, bias, atau penerimaan yang kurang kritis. Di era informasi yang cepat ini,dengan munculnya data besar, publikasi daring, dan berbagai klaim ilmiah yang tersebar,pembahasan mengenai kebenaran ilmiah menjadi semakin relevan. Artikel ini akan membahas secara rinci pengertian kebenaran ilmiah, termasuk definisinya secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan menurut para ahli. Selanjutnya kita akan menelusuri jenis-jenis kebenaran ilmiah, serta kriteria yang digunakan untuk menilai bahwa suatu pengetahuan atau pernyataan dapat disebut “kebenaran ilmiah”. Harapannya pembaca dapat memperoleh pemahaman yang lebih sistematis tentang bagaimana ilmu pengetahuan beroperasi, serta bagaimana menilai klaim-kebenaran dalam konteks ilmiah dengan lebih kritis.
Definisi Kebenaran Ilmiah
Definisi Kebenaran Ilmiah Secara Umum
Secara umum, “kebenaran” dapat diartikan sebagai keadaan atau kondisi suatu pernyataan, gagasan, atau keyakinan yang sesuai dengan kenyataan atau fakta yang ada. Dalam konteks ilmiah, pengertian ini diperluas dengan syarat-syarat khas ilmu pengetahuan: pengetahuan yang dihasilkan melalui proses sistematis, dapat diuji, dan bersifat publik. Sebagai contoh, sebuah artikel penelitian menyatakan bahwa “air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah” karena pengamatan dan mekanisme fisik yang dapat diuji. Dalam pengertian seperti ini, kebenaran ilmiah adalah pengetahuan yang bukan sekadar keyakinan pribadi atau tradisi, melainkan telah melalui tahapan verifikasi, validasi, dan pembuktian ilmiah.
Lebih spesifik, sebuah penelitian menyebutkan bahwa “kebenaran ilmiah adalah konsep yang melekat pada pengetahuan ilmiah yang dibangun, diuji, dan dipertahankan dalam komunitas penelitian”. [Lihat sumber Disini - journal.unigha.ac.id]
Dengan demikian, secara umum kita bisa menyatakan: kebenaran ilmiah adalah kondisi atau status di mana suatu pernyataan atau teori ilmiah mempunyai kesesuaian dengan fakta empiris, dihasilkan melalui metode ilmiah, dan diterima atau bisa diverifikasi oleh komunitas ilmiah.
Definisi Kebenaran Ilmiah dalam KBBI
Meskipun KBBI tidak secara spesifik merumuskan frasa “kebenaran ilmiah”, tetapi kita dapat melihat arti “ilmiah” dalam KBBI sebagai landasan penting. Menurut KBBI daring, kata ilmiah berarti “bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan: penerbitan majalah ilmiah berkembang dengan pesat”. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Dari sini, jika dikombinasikan dengan makna “kebenaran” (yang dalam KBBI berarti “benar‐benar ada; sesuai kenyataan”), maka secara terminologis kebenaran ilmiah dapat dipahami sebagai “kebenaran yang bersifat ilmiah, yaitu kebenaran yang diperoleh, diuji, atau diterapkan menurut kaidah ilmu pengetahuan”.
Definisi Kebenaran Ilmiah Menurut Para Ahli
Para ahli dalam filsafat ilmu dan epistemologi telah merumuskan definisi kebenaran ilmiah dari berbagai perspektif. Berikut beberapa di antaranya:
- Menurut Hayati, kebenaran ilmiah adalah “suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan”. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
- Menurut Siregar (2023) dalam artikel “Kriteria Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif …”, kebenaran ilmiah diangkat sebagai bagian dari filsafat ilmu yang memperhatikan aspek teori kebenaran (korespondensi, koherensi, pragmatis) dan menekankan bahwa penilaian kebenaran dalam konteks ilmiah tidak hanya soal korespondensi dengan fakta, namun juga konsistensi internal dan manfaat praktis. [Lihat sumber Disini - ejournal.unia.ac.id]
- Menurut Farida (2024) dalam penelitian “Kebenaran Ilmiah dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, kebenaran ilmiah dikaitkan dengan ilmu pengetahuan yang merupakan aktualisasi kebenaran ilmiah dan memiliki karakteristik normatif: pembenaran dasar, sistematis, dan intersubjektif. [Lihat sumber Disini - ejurnal.uibu.ac.id]
- Menurut Nugrah, Pilbahri, & Ardimen (2023) dalam “Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif Islam”, definisi kebenaran ilmiah meliputi: “kebenaran yang melekat pada pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah, ditandai oleh sifat rasional-logis, empiris, dan pragmatis”. [Lihat sumber Disini - jurnal.unissula.ac.id]
Dengan demikian, definisi menurut ahli dapat dirangkum bahwa kebenaran ilmiah adalah: pengetahuan yang memenuhi kaidah keilmuan (metode, verifikasi, objektivitas), mempunyai dasar empiris atau logis, dan secara konsensual diterima dalam komunitas ilmiah.
Jenis-Jenis Kebenaran Ilmiah
Dalam kajian filsafat ilmu, jenis kebenaran ilmiah dibedakan berdasarkan aspek ontologis, epistemologis, dan semantis. Berikut penjelasan secara terperinci:
1. Kebenaran Epistemologis
Kebenaran epistemologis berkaitan dengan aspek pengetahuan manusia, bagaimana manusia dapat mengetahui, dan bagaimana pengetahuan itu valid atau benar. Sebagai contoh, jika seorang peneliti memperoleh data yang sesuai dan melalui analisis yang tepat sehingga menghasilkan kesimpulan yang sahih, maka kesimpulan tersebut memperoleh status “kebenaran epistemologis”. Menurut Nugrah dkk., jenis ini adalah salah satu bagian dari kebenaran ilmiah. [Lihat sumber Disini - jurnal.unissula.ac.id]
2. Kebenaran Ontologis
Kebenaran ontologis berhubungan dengan sifat dasar realitas yang menjadi objek pengetahuan, yakni, apakah ada suatu entitas atau fenomena sebagaimana dipahami dalam teori ilmiah. Kebenaran ontologis berarti bahwa teori atau pernyataan ilmiah mencerminkan “apa adanya” dari objek realitas. Sebagai contoh dalam fisika: teori bahwa partikel subatomik memiliki sifat tertentu, maka jika realitas fisik memang demikian, maka pernyataan teori tersebut mempunyai unsur kebenaran ontologis. Menurut Nugrah dkk., jenis ini juga disebut dalam konteks kebenaran ilmiah. [Lihat sumber Disini - jurnal.unissula.ac.id]
3. Kebenaran Semantis
Kebenaran semantis berkaitan dengan pernyataan atau proposisi ilmiah,arti, makna, dan hubungan simbolik atau bahasa yang digunakan untuk menggambarkan realitas. Kebenaran semantis menunjukkan bahwa pernyataan ilmiah menggunakan bahasa yang tepat, koheren, dan konsisten dengan sistem simbol ilmu. Sebagai contoh, ketika seorang ilmuwan menyatakan “asam klorida bersifat korosif”, maka pernyataan ini harus memakai istilah yang benar dan makna yang konsisten dengan konsep kimia. Jenis ini juga tercantum dalam kajian Nugrah dkk. sebagai bagian dari kebenaran ilmiah. [Lihat sumber Disini - jurnal.unissula.ac.id]
4. Kebenaran Praktis / Pragmatis
Meski tidak selalu dipisahkan secara eksplisit dalam tiap penelitian Indonesia, tetapi banyak literatur menyebut bahwa suatu kebenaran ilmiah juga dapat dilihat dari manfaat praktisnya (pragmatik). Misalnya, sebuah teori ilmiah dikatakan “benar” jika dapat diterapkan dan memberikan dampak positif dalam praktik ilmiah atau teknologi. Contoh: teori tentang vaksin yang kemudian dipakai dan terbukti mengurangi penyakit. Farida menyebut bahwa dalam perkembangan ilmu pengetahuan, jenis kebenaran yang diakui meliputi korespondensi, koherensi, pragmatis. [Lihat sumber Disini - ejurnal.uibu.ac.id]
Skema Ringkas Jenis Kebenaran Ilmiah
- Kebenaran Epistemologis: terkait bagaimana pengetahuan diperoleh dan validitasnya
- Kebenaran Ontologis: terkait dengan keberadaan dan sifat objek realitas yang dipelajari
- Kebenaran Semantis: terkait dengan makna, istilah, bahasa dan proposisi teori
- Kebenaran Pragmatis (opsional): terkait dengan penerapan dan manfaat praktis teori
Kriteria Kebenaran Ilmiah
Agar suatu pernyataan atau teori dapat dikatakan sebagai “kebenaran ilmiah”, dibutuhkan kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Berikut adalah kriteria utama yang sering dikutip dalam literatur Indonesia.
Objektivitas
Salah satu syarat utama adalah bahwa pengetahuan ilmiah harus bersifat objektif, artinya tidak dibebani oleh subjektivitas individu atau kelompok, tetapi mengacu pada fakta atau realitas yang dapat diuji dan diverifikasi oleh pihak lain. Sebagai contoh, dalam Artikel “Dasar Pengetahuan dan Kriteria Kebenaran” disebut bahwa kriteria kebenaran dalam ilmu pengetahuan yaitu harus bersifat objektif, dimana kebenaran dari suatu ilmu atau pengetahuan harus merujuk pada hal yang benar-benar terjadi atau kenyataan. [Lihat sumber Disini - journal.mandiracendikia.com]
Verifikasi dan Pengujian Empiris
Kebenaran ilmiah harus dapat diuji melalui observasi atau eksperimen yang sistematis, artinya teori tidak boleh hanya bersandar pada dugaan, opini semata, atau tradisi yang tak terverifikasi. Sebagai contoh, artikel “Kebenaran Ilmiah dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan” menegaskan bahwa kebenaran ilmiah dapat digunakan untuk membuktikan teori-teori yang sudah ada melalui penerapan metode ilmiah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.uibu.ac.id]
Konsistensi Internal (Koherensi)
Teori atau pernyataan ilmiah harus memiliki konsistensi logika internal, artinya tidak mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri atau dengan teori-teori lain yang sudah diterima. Sebagai contoh, dalam kajian kriteria disebut bahwa teori koherensi merupakan salah satu teori kebenaran yang mendasari kriteria kebenaran ilmiah. [Lihat sumber Disini - ejournal.unia.ac.id]
Korespondensi dengan Realitas
Pernyataan ilmiah dianggap benar apabila sesuai dengan fakta atau realitas yang ada di dunia, ini adalah teori korespondensi. Sebagai contoh: “Suhu es 0°C pada tekanan 1 atm” adalah benar karena sesuai dengan kenyataan fisik. Beberapa penelitian menyebut bahwa kebenaran ilmiah ialah kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. [Lihat sumber Disini - journal.unigha.ac.id]
Manfaat Praktis (Pragmatisme)
Kriteria lainnya adalah bahwa suatu teori atau pernyataan ilmiah dianggap benar jika ia memiliki manfaat praktis atau relevansi nyata bagi kehidupan atau bidang ilmu tertentu. Menurut Nugrah dkk., kriteria kebenaran ilmiah termasuk teori korespondensi, konsistensi, pragmatisme, dan religius. [Lihat sumber Disini - jurnal.unissula.ac.id]
Intersubjektivitas dan Kesepakatan Ilmiah
Dalam komunitas ilmiah, suatu temuan atau teori memperoleh status kebenaran ilmiah ketika diuji, dikritik, direplikasi, dan disepakati oleh lebih dari satu pihak. Sebagai contoh dalam penelitian “Kriteria Kebenaran Ilmu Pendidikan dan Perkembangan”, disebut bahwa kriteria kebenaran dalam ilmu pendidikan adalah gabungan dari berbagai pendekatan (korespondensi, koherensi, pragmatisme) dan terkait dengan kesepakatan bersama para ilmuwan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uisu.ac.id]
Kontingensi dan Dinamika Ilmu
Penting untuk dicatat bahwa dalam ilmu pengetahuan, kriteria kebenaran ilmiah tidak selalu bersifat mutlak dan statis, ilmu berkembang, teori lama bisa digantikan oleh teori baru yang lebih mencerminkan realitas dengan lebih baik. Sebagai contoh, Farida menyebut bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis; hal yang dianggap benar sebelumnya belum tentu dianggap benar dengan metode dan bukti baru. [Lihat sumber Disini - ejurnal.uibu.ac.id]
Implikasi dan Catatan Tentang Kebenaran Ilmiah
- Karena ilmu pengetahuan bersifat dinamis, maka kebenaran ilmiah selalu terbuka terhadap revisi. Artinya, ilmu tidak menjamin kepastian absolut, namun legitimasi yang makin kuat melalui proses verifikasi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Pentingnya metode ilmiah: Tanpa prosedur yang sistematis, uji empiris, dan publikasi yang terbuka, maka pernyataan sulit dikatakan sebagai kebenaran ilmiah.
- Objektivitas tidak berarti tanpa subjektivitas sama sekali, tetapi bilamana proses penelitian berusaha meminimalkan bias, menegakkan transparansi dan keterulangan (replicability).
- Pendekatan filsafat ilmu menunjukkan bahwa teori kebenaran (korespondensi, koherensi, pragmatis) adalah kerangka untuk menilai kebenaran ilmiah, penting bagi peneliti untuk memahami teori-teori tersebut agar mampu mengevaluasi klaim secara lebih bijaksana.
- Dalam era informasi dan “hoaks ilmiah”, pemahaman kriteria kebenaran ilmiah memberi kemampuan kritis untuk memilah mana yang benar secara ilmiah dan mana yang hanya klaim tanpa dasar kuat.
Kesimpulan
Sebagai rangkuman, kebenaran ilmiah adalah suatu kondisi di mana pernyataan atau teori ilmiah memenuhi syarat-syarat metode ilmiah: objektif, dapat diuji secara empiris, konsisten internal, sesuai realitas, dan memiliki pengakuan dari komunitas ilmiah. Definisi dapat dilihat secara umum, secara terminologis melalui KBBI, dan secara mendalam melalui pendapat para ahli dalam filsafat ilmu. Jenis-jenis kebenaran ilmiah meliputi epistemologis, ontologis, semantis, serta secara turunannya pragmatis, yang semuanya saling berhubungan dalam kerangka ilmu. Kriteria-kriteria kebenaran ilmiah memberi tolok ukur bagi penilaian apakah suatu klaim layak diterima sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah.
Memahami konsep ini penting bagi siapa pun yang berkecimpung dalam penelitian, pendidikan, atau pun publikasi ilmu pengetahuan, karena tanpa kerangka yang jelas, proses evaluasi dan penerapan ilmu bisa berjalan tanpa arah atau bahkan menyesatkan.