
Kebenaran Ilmiah dalam Perspektif Filsafat Sains
Pendahuluan
Dalam jagat ilmu pengetahuan, istilah “kebenaran” sering dijadikan fondasi dasar atas seluruh pengetahuan yang dihasilkan oleh proses ilmiah. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apa yang dimaksud dengan “kebenaran ilmiah”? Apakah kebenaran itu hanya sekadar kesesuaian dengan realitas, atau ada kriteria lain yang harus dipenuhi? Bagaimana teori-teori filsafat ilmu menjelaskan konsep kebenaran? Artikel ini mencoba mengurai, dari definisi, teori, sampai tantangan, bagaimana “kebenaran ilmiah” dipahami dalam perspektif filsafat sains, serta bagaimana penerapannya dalam praktik penelitian.
Definisi “Kebenaran Ilmiah”
Definisi Secara Umum
Secara umum, “kebenaran ilmiah” merujuk pada klaim pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah dan dianggap valid atau benar dalam arti sesuai dengan fakta, dapat diuji, konsisten, serta tahan terhadap kritik dan verifikasi. Pengertian ini menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar opini atau kepercayaan, melainkan pengetahuan yang dapat dibuktikan melalui prosedur sistematis. Sebagai landasan epistemologis, kebenaran ilmiah menjadi tolok ukur apakah suatu teori, hipotesis, atau temuan benar-benar dapat diterima secara rasional dan objektif.
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kebenaran” didefinisikan sebagai “keadaan yang sesungguhnya”, yaitu sesuatu yang benar-benar terjadi atau sesuai dengan hakikat semestinya. Dengan demikian, kebenaran ilmiah dapat dipahami sebagai “pengetahuan atau klaim tentang realitas” yang sesuai dengan keadaan sesungguhnya, yakni realitas empiris atau fakta objektif.
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa ahli filsafat ilmu memberikan definisi terhadap kebenaran ilmiah:
-
Menurut penulis dalam artikel “Peran Filsafat Ilmu tentang Konsep Teori Kebenaran Ilmiah”, kebenaran ilmiah adalah prinsip yang memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui proses ilmiah adalah valid, dapat diuji, dan diterima secara universal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam literatur epistemologi, disebutkan bahwa istilah “pengetahuan” hampir selalu melibatkan aspek “kebenaran”, klaim pengetahuan tanpa kebenaran tidak bisa diterima sebagai pengetahuan. [Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
-
Sebagai bagian dari filsafat ilmu, definisi ini menekankan bahwa kebenaran ilmiah bukan sekadar hasil subjektif, melainkan hasil dari proses kolektif, terbuka untuk diuji, direvisi, dan dikritik sesuai metodologi ilmiah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.uibu.ac.id]
-
Dalam kajian kontemporer, definisi kebenaran ilmiah juga dilihat sebagai konstruksi epistemik, yakni kebenaran yang dihasilkan melalui interaksi antara metode, logika, data empiris, dan konsensus komunitas ilmiah. [Lihat sumber Disini - ejournal.uncm.ac.id]
Dengan demikian, meskipun definisi bisa berbeda-beda tergantung perspektif, inti dari “kebenaran ilmiah” adalah klaim pengetahuan yang dipertegas melalui proses ilmiah, bukan sekadar asumsi, kepercayaan, atau opini.
Kriteria Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan
Dalam filsafat ilmu, ada sejumlah kriteria yang lazim digunakan untuk menilai apakah suatu klaim ilmiah bisa dianggap benar:
-
Kesesuaian dengan fakta atau realitas (fakta objektif). Suatu pernyataan dianggap benar bila sesuai dengan keadaan empiris di dunia nyata.
-
Verifikasi dan uji empiris. Klaim harus dapat diuji, diverifikasi, atau direplikasi melalui observasi, eksperimen, atau metode ilmiah lainnya.
-
Konsistensi logis. Pernyataan atau teori tidak boleh mengandung kontradiksi internal; logika penalaran harus runtut dan koheren.
-
Konsensus komunitas ilmiah. Hasil penelitian atau klaim ilmiah umumnya diterima jika telah melalui peer review, publikasi, dan diskursus kritis dalam komunitas ilmuwan.
-
Kemampuan direvisi (falsifiabilitas / keterbukaan terhadap kritik). Ilmu pengetahuan tidak dogmatis; teori atau klaim dianggap benar sementara sampai dibuktikan salah atau direvisi sesuai data baru.
Kriteria-kriteria tersebut membantu membedakan antara pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan non-ilmiah, opini, atau kepercayaan semata.
Teori-Teori Kebenaran
Dalam filsafat, ada sejumlah teori utama yang mendefinisikan apa itu “kebenaran”. Tiga yang paling sering dibahas adalah:
Teori Korespondensi (Correspondence Theory of Truth)
Teori ini menyatakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar jika sesuai (berkorespondensi) dengan fakta objektif atau realitas eksternal. Dengan kata lain, pernyataan benar jika menyatakan apa adanya, sesuai dengan fakta yang ada di dunia nyata. [Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
Menurut artikel kajian epistemologi dan filsafat ilmu, teori korespondensi adalah landasan bagi kebenaran dalam sains karena menekankan kebenaran yang “nyata” dan objektif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Teori Koherensi (Coherence Theory of Truth)
Menurut teori ini, kebenaran suatu pernyataan bergantung pada konsistensinya dengan sistem pernyataan lain yang sudah diakui benar, bukan hanya pada kesesuaian dengan realitas eksternal. Suatu proposisi dianggap benar jika secara logis koheren dengan jaringan proposisi lain dalam sebuah sistem pengetahuan. [Lihat sumber Disini - slideshare.net]
Teori koherensi sering dikaitkan dengan pendekatan rasionalistis dan idealisme, bahwa kebenaran tidak semata-mata bergantung pada data empiris, melainkan hubungan logis dan konsistensi internal dari ide-ide. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Teori Pragmatis (Pragmatic Theory of Truth)
Teori pragmatis memandang bahwa pernyataan dianggap benar apabila membawa konsekuensi praktis, manfaat, atau hasil yang dapat diterima, jika suatu klaim “berguna” dan “berfungsi dengan baik” dalam praktik, maka dianggap benar. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dalam konteks sains, teori pragmatis relevan ketika klaim ilmiah tidak hanya dinilai dari kesesuaian dengan realitas, tetapi juga dari dampak, penerapan, dan kegunaannya dalam kehidupan atau penelitian. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Beberapa literatur juga menekankan bahwa tidak ada satu teori kebenaran pun yang sempurna dalam menjelaskan seluruh aspek kebenaran, tiap teori memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. [Lihat sumber Disini - jurnal.arkainstitute.co.id]
Peran Logika dalam Pembentukan Kebenaran Ilmiah
Logika memainkan peran krusial dalam memastikan bahwa klaim dan teori ilmiah dibangun secara konsisten dan koheren. Tanpa logika, argumentasi ilmiah bisa menjadi lemah, inkonsisten, atau bahkan kontradiktif, yang pada akhirnya merusak nilai kebenaran klaim tersebut.
Dalam filsafat ilmu, penalaran logis digunakan untuk merumuskan hipotesis, membangun argumentasi, menarik kesimpulan, serta mengevaluasi konsistensi internal teori. [Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
Lebih jauh, logika memungkinkan ilmuwan atau filosof untuk membedakan antara “kebenaran secara internal” (konsistensi dan koherensi teori) dengan “kebenaran eksternal” (kesesuaian dengan realitas atau fakta empiris), dua aspek yang sering menjadi pusat perdebatan teori kebenaran.
Dengan demikian, logika menjadi fondasi metodologis dan epistemologis dalam proses ilmiah: tanpa logika, klaim ilmiah bisa rentan kesalahan, kontradiksi, atau bias, meskipun data empiris tampak mendukung.
Kebenaran Ilmiah vs Kebenaran Non-Ilmiah
Perbedaan mendasar antara kebenaran ilmiah dan non-ilmiah terletak pada metodologi dan kriteria validitas:
-
Dasar pengetahuan: Kebenaran ilmiah dibangun dari observasi empiris, eksperimen, verifikasi, dan peer review; sedangkan kebenaran non-ilmiah (misalnya kepercayaan, opini, dogma) sering kali bersandar pada asumsi, tradisi, otoritas, atau keyakinan pribadi.
-
Kemampuan diuji dan diverifikasi: Klaim ilmiah bisa diuji, direplikasi, dan dikritik; klaim non-ilmiah umumnya tidak bisa diuji secara objektif.
-
Keterbukaan terhadap revisi: Ilmu pengetahuan bersifat dinamis, teori bisa berubah jika data baru muncul. Non-ilmiah cenderung dogmatis dan sulit diubah.
-
Universalitas: Pengetahuan ilmiah berusaha mencapai universalitas, artinya hasil penelitian dapat diterima oleh masyarakat ilmiah luas. Non-ilmiah sering bersifat relatif, subjektif, atau personal.
-
Konsistensi dan logika: Kebenaran ilmiah menekankan logika, konsistensi, dan koherensi teori dengan data/observasi. Non-ilmiah bisa mengabaikan logika atau inkonsisten.
Karena perbedaan-perbedaan ini, kebenaran ilmiah umumnya dianggap lebih dapat dipertanggungjawabkan secara objektif dibanding kebenaran non-ilmiah.
Tantangan dalam Menentukan Kebenaran Sains
Meskipun kriteria dan teori kebenaran telah dikembangkan dengan matang, dalam praktik menentukan kebenaran di sains tidak selalu mudah. Beberapa tantangannya antara lain:
-
Ketergantungan pada data empiris dan keterbatasan observasi: Kadang fakta yang tersedia terbatas, atau observasi sulit dilakukan, sehingga klaim ilmiah bisa keliru atau tidak lengkap.
-
Paradigma dan bias teoritis: Peneliti membawa teori, asumsi, dan paradigma tertentu, ini bisa mempengaruhi interpretasi data, sehingga “kebenaran” bisa berbeda tergantung pendekatan.
-
Kompleksitas realitas dan ketidakpastian: Banyak fenomena ilmiah sangat kompleks, sehingga sulit menentukan kebenaran tunggal; dalam beberapa kasus, teori bersaing, dan tidak mudah memutuskan mana yang benar.
-
Perkembangan ilmu dan revisi teori: Ilmu tidak statis; teori yang dulu dianggap benar bisa digantikan teori baru ketika bukti baru muncul, ini menunjukkan bahwa “kebenaran” dalam ilmu bersifat provisional, bukan absolut.
-
Isu filosofis dan metafisik: Dalam beberapa bidang (misalnya fisika kuantum, metafisika, etika, teori sosial), kebenaran mungkin tidak hanya soal fakta empiris, sehingga teori kebenaran klasik (korespondensi, koherensi, pragmatis) bisa kurang memadai.
Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa di era digital, dengan banyak informasi, disinformasi, bias algoritmik, tantangan menentukan kebenaran ilmiah semakin kompleks. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Contoh Penerapan Kebenaran Ilmiah dalam Penelitian
Sebagai contoh penerapan, penelitian-penelitian empiris, misalnya dalam ilmu alam, sosial, kesehatan, menggunakan metode ilmiah: observasi, eksperimen, pengumpulan data, analisis, verifikasi, peer review, semua itu mencerminkan penerapan prinsip kebenaran ilmiah.
Misalnya, dalam penelitian sosial media dan disinformasi di era digital, salah satu kajian membandingkan teori kebenaran (korespondensi, koherensi, pragmatis) untuk mengevaluasi validitas pengetahuan yang beredar. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada satu teori pun yang cukup untuk mengevaluasi semua jenis klaim; mereka perlu dikombinasikan dalam pendekatan integratif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, penelitian ilmiah aktual memakai kriteria, fakta, verifikasi, konsistensi, utilitas, untuk memvalidasi klaim, dan teori-teori filosofi kebenaran membantu memberi landasan epistemologis bagi proses tersebut.
Kesimpulan
Kebenaran ilmiah, dalam perspektif filsafat sains, bukan sekadar “apa yang benar menurut seseorang”, melainkan klaim pengetahuan yang diuji, divalidasi, dan bisa dipertanggungjawabkan secara rasional dan objektif. Melalui teori-teori seperti korespondensi, koherensi, dan pragmatisme, filsafat ilmu memberikan kerangka untuk menilai bagaimana klaim dianggap benar. Logika dan metode ilmiah menjadi fondasi penting agar pengetahuan bisa dipercaya.
Namun, menentukan kebenaran dalam sains bukan tanpa tantangan: keterbatasan data, bias paradigma, kompleksitas realitas, serta dinamika revisi teori, semuanya membuat proses verifikasi terus berjalan, bukan sekali jadi. Dalam praktik penelitian, penerapan prinsip kebenaran ilmiah membutuhkan kombinasi pemeriksaan empiris, konsistensi logis, dan juga relevansi praktis, sering kali menggunakan pendekatan integratif agar hasil penelitian dapat diterima dan bermanfaat.
Dengan demikian, pemahaman tentang kebenaran ilmiah tidak sestatik dogma, melainkan sebuah perjalanan epistemologis: selalu dikritisi, diuji, direvisi, sejalan dengan perkembangan ilmu dan realitas.