Terakhir diperbarui: 15 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 15 January). Work-Life Balance: Konsep, Keseimbangan Kerja, dan Kesejahteraan Karyawan. SumberAjar. Retrieved 16 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/worklife-balance-konsep-keseimbangan-kerja-dan-kesejahteraan-karyawan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Work-Life Balance: Konsep, Keseimbangan Kerja, dan Kesejahteraan Karyawan - SumberAjar.com

Work-Life Balance: Konsep, Keseimbangan Kerja, dan Kesejahteraan Karyawan

Pendahuluan

Work-Life Balance atau keseimbangan kehidupan kerja bukan sekedar istilah populer belaka, melainkan sebuah konsep fundamental dalam manajemen sumber daya manusia yang mampu menciptakan kondisi kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga manusiawi. Di tengah dinamika dunia kerja modern, di mana tuntutan profesional dan tanggung jawab pribadi sering bersinggungan, kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kunci kesejahteraan karyawan serta efektivitas organisasi. Fenomena ini semakin mendapat perhatian serius dari akademisi dan praktisi HR karena hubungan eratnya dengan kepuasan kerja, kesehatan mental, serta kinerja individu dan organisasi secara keseluruhan ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]).


Definisi Work-Life Balance

Definisi Work-Life Balance Secara Umum

Work-Life Balance secara umum dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mengatur hubungan dan batasan antara tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi sehingga kedua domain tersebut dapat hidup secara bersamaan tanpa saling menghancurkan atau mengorbankan satu sama lain. Dalam berbagai literatur fenomena ini dipandang sebagai keseimbangan antara waktu, energi, dan komitmen yang dialokasikan untuk pekerjaan serta kehidupan pribadi, keluarga, dan aktivitas sosial lainnya ([Lihat sumber Disini - digitalpress.gaes-edu.com]).

Definisi Work-Life Balance dalam KBBI

Dalam konteks bahasa Indonesia, Work-Life Balance diterjemahkan sebagai keseimbangan kehidupan kerja yang merujuk pada situasi di mana seseorang mampu membagi waktu serta energi psikologis secara seimbang untuk menjalankan pekerjaan sekaligus memenuhi berbagai kebutuhan pribadi serta keluarga tanpa mengalami konflik peran yang signifikan. Meskipun Kamus Besar Bahasa Indonesia belum memuat istilah ini secara tersendiri, definisi ini umum digunakan dan dianggap representatif dalam literatur manajemen sumber daya manusia lokal ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]).

Definisi Work-Life Balance Menurut Para Ahli

Para ahli menawarkan berbagai perspektif yang lebih komprehensif tentang Work-Life Balance:

  1. Greenhaus, Collins & Shaw (2003) mendefinisikan Work-Life Balance sebagai tingkat di mana peran-peran dalam kerja dan kehidupan pribadi dapat saling terintegrasi secara efektif serta saling mendukung sehingga tidak menimbulkan konflik berlebihan di salah satu domain. Definisi ini menekankan integrasi peran yang seimbang dan kepuasan individu terhadap peran-peran yang dimilikinya. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  2. Kirchmeyer (2000) mengemukakan bahwa Work-Life Balance merupakan suatu kondisi di mana seseorang merasa puas dan berhasil memenuhi tanggung jawabnya baik di pekerjaan maupun di luar pekerjaan, terutama dalam konteks sumber daya pribadi seperti energi dan waktu. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  3. Clark (2000) menekankan keseimbangan kerja dan kehidupan sebagai kepuasan serta berfungsinya individu secara baik dalam pekerjaan dan kehidupan pribadinya dengan minimnya konflik antar peran. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  4. McDonald & Bradley (2005) melihat Work-Life Balance sebagai keseimbangan antara berbagai peran dalam kehidupan seseorang, termasuk pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang dicapai melalui pengaturan waktu, keterlibatan, dan kepuasan peran tersebut. ([Lihat sumber Disini - inobis.org])

Dengan demikian, Work-Life Balance bukan hanya soal waktu, tetapi juga tentang kualitas keterlibatan dan kepuasan seseorang dalam berbagai perannya dalam kehidupan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Dimensi Work-Life Balance

Work-Life Balance merupakan konsep multidimensional yang mencakup berbagai aspek kehidupan individu. Setidaknya ada beberapa dimensi penting yang sering dibahas dalam literatur:

  1. Work Interference with Personal Life (WIPL), Dimensi ini mengukur sejauh mana tuntutan pekerjaan mengganggu kehidupan pribadi seseorang. Ketika pekerjaan terlalu dominan, individu sulit menemukan ruang untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau keluarga. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unmer.ac.id])

  2. Personal Life Interference with Work (PLIW), Kebalikan dari WIPL, PLIW menggambarkan sejauh mana kehidupan pribadi atau masalah di luar pekerjaan memengaruhi kinerja atau komitmen dalam pekerjaan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unmer.ac.id])

  3. Work Enhancement of Personal Life (WEPL), Dimensi ini menunjukkan bagaimana pengalaman dan peran dalam pekerjaan dapat memperkaya kehidupan pribadi melalui keterampilan, sumber daya, atau pengalaman baru yang bermanfaat. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unmer.ac.id])

  4. Personal Life Enhancement of Work (PLEW), Dimensi ini mengukur sejauh mana kehidupan pribadi seseorang mendukung dan memperkuat efektivitas kerja, seperti ketika kehidupan keluarga memberi energi positif untuk performa di tempat kerja. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unmer.ac.id])

Secara keseluruhan, pengukuran dimensi-dimensi tersebut membantu organisasi memahami konflik dan harmonisasi antara peran kerja dan peran pribadi, yang pada akhirnya bisa digunakan untuk merancang kebijakan work-life balance yang lebih tepat. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Faktor yang Mempengaruhi Work-Life Balance

Beberapa faktor baik dari sisi individu maupun organisasi sangat menentukan kemampuan seseorang mencapai Work-Life Balance:

  1. Faktor Individu:

    • Karakteristik Pribadi, seperti self-efficacy, sikap terhadap pekerjaan dan kehidupan, serta kemampuan mengatur waktu. ([Lihat sumber Disini - inobis.org])

    • Demografi, termasuk usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan tanggung jawab keluarga. Variabel demografis ini menunjukkan bahwa individu dengan tanggung jawab keluarga sering menghadapi tantangan tambahan dalam menjaga keseimbangan. ([Lihat sumber Disini - proceedings.unnes.ac.id])

  2. Faktor Organisasi:

  3. Faktor Sosial:


Work-Life Balance dan Kesejahteraan Karyawan

Kesejahteraan karyawan merupakan hasil langsung dari tercapainya Work-Life Balance yang baik. Penelitian empiris menunjukkan bahwa Work-Life Balance berpengaruh positif terhadap kesejahteraan individu, termasuk aspek fisik, mental, dan emosional. Ketika karyawan mampu menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan pribadi, tingkat stres cenderung lebih rendah, kepuasan hidup meningkat, dan kondisi kesehatan mental membaik. Studi pada konteks Indonesia menunjukkan bahwa Work-Life Balance memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan karyawan serta mengurangi tekanan pekerjaan yang berlebihan, meskipun beberapa hubungan ini memiliki variasi statistik tergantung pada konteks industri dan metodologi penelitian ([Lihat sumber Disini - ejournal.unibabwi.ac.id]).

Selain itu, Work-Life Balance juga memberi dampak langsung pada kesehatan fisik karena individu yang memiliki keseimbangan waktu untuk istirahat dan aktivitas non-kerja cenderung lebih sehat secara fisik, suatu aspek penting dari kesejahteraan total. ([Lihat sumber Disini - scirp.org])


Dampak Work-Life Balance terhadap Kinerja

Work-Life Balance memiliki kaitan yang kuat dengan kinerja karyawan. Rangkaian penelitian empiris, termasuk riset terbaru di Indonesia, menunjukkan bahwa Work-Life Balance dapat memengaruhi kinerja karyawan secara positif:

  • Karyawan dengan work-life balance yang baik menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi dan keterlibatan kerja yang lebih baik. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  • Work-Life Balance yang buruk sering dikaitkan dengan tingkat stres kerja yang tinggi, burnout, dan penurunan efektivitas kerja, yang secara tidak langsung dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  • Beberapa studi juga menunjukkan bahwa variabel moderator seperti kesehatan mental dapat memperkuat hubungan antara Work-Life Balance dan kinerja, sehingga karyawan tidak hanya bekerja lebih baik tapi juga lebih sehat secara psikologis ketika keseimbangan tersebut terjaga. ([Lihat sumber Disini - jerkin.org])

Dengan demikian, Work-Life Balance bukan hanya kewajiban moral perusahaan terhadap karyawannya, tetapi juga investasi strategis dalam meningkatkan performa organisasi secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Strategi Meningkatkan Work-Life Balance

Organisasi modern saat ini menerapkan berbagai strategi untuk membantu karyawan mencapai Work-Life Balance yang efektif dalam lingkungan kerja yang kompetitif:

  1. Jam Kerja Fleksibel & Opsi Remote Work

    Menyediakan fleksibilitas jam kerja serta pilihan kerja jarak jauh membantu karyawan mengelola waktu antara tuntutan profesional dan kebutuhan pribadi. Kebijakan seperti flextime dan telecommuting telah terbukti meningkatkan persepsi keseimbangan dan mengurangi konflik antar peran. ([Lihat sumber Disini - reports.weforum.org])

  2. Program Dukungan Keluarga

    Mentoring, layanan konseling psikologis, dan program dukungan keluarga lainnya membantu mengurangi tekanan luar kerja dan memberi ruang bagi karyawan untuk menyesuaikan tanggung jawab pekerjaan dengan kehidupan pribadi. ([Lihat sumber Disini - proceedings.unnes.ac.id])

  3. Desain Pekerjaan yang Rasional

    Mengatur beban kerja secara adil dan memberikan kontrol yang lebih besar atas pekerjaan membantu mengurangi beban psikologis karyawan, sehingga Work-Life Balance menjadi lebih mudah dicapai. ([Lihat sumber Disini - proceedings.unnes.ac.id])

  4. Kultur Organisasi yang Mendukung

    Menciptakan budaya kerja yang menghargai kesejahteraan karyawan, termasuk penghargaan bagi pencapaian di luar kerja dan tidak hanya kinerja kerja, meningkatkan loyalitas, retensi, serta komitmen karyawan terhadap perusahaan. ([Lihat sumber Disini - proceedings.unnes.ac.id])


Kesimpulan

Work-Life Balance adalah konsep penting yang menghubungkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi secara harmonis, memengaruhi kesejahteraan individu dan efektivitas organisasi. Secara definisi, Work-Life Balance mencakup kemampuan individu untuk mengelola waktu, energi, dan keterlibatan peran dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi secara berimbang. Dimensi seperti interferensi pekerjaan terhadap kehidupan pribadi atau sebaliknya, serta aspek potensi saling memperkaya antara kerja dan kehidupan pribadi, menjadi indikator penting dalam menilai keseimbangan ini. Faktor-faktor individu, organisasi, dan sosial turut menentukan pencapaian Work-Life Balance.

Hasil literatur menunjukkan bahwa Work-Life Balance unggul dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan, mulai dari mengurangi stres hingga peningkatan kesehatan mental dan fisik, serta berdampak positif terhadap kinerja yang lebih produktif. Strategi yang efektif meliputi kebijakan jam kerja fleksibel, dukungan keluarga, desain pekerjaan yang baik, dan budaya organisasi yang mendukung keseimbangan. Sebagai kesimpulan, perusahaan yang serius menanamkan Work-Life Balance dalam praktik HR-nya tidak hanya memperbaiki kualitas hidup karyawannya tetapi juga meningkatkan kinerja jangka panjang organisasi secara substansial.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Work-Life Balance adalah kondisi di mana individu mampu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial secara proporsional sehingga tidak menimbulkan konflik peran dan mampu meningkatkan kesejahteraan serta kepuasan hidup.

Work-Life Balance penting karena berpengaruh langsung terhadap kesehatan mental, tingkat stres, kepuasan kerja, serta kesejahteraan karyawan. Karyawan dengan keseimbangan kerja dan kehidupan yang baik cenderung lebih produktif, loyal, dan memiliki kinerja yang optimal.

Dimensi utama Work-Life Balance meliputi gangguan pekerjaan terhadap kehidupan pribadi, gangguan kehidupan pribadi terhadap pekerjaan, serta kemampuan pekerjaan dan kehidupan pribadi untuk saling mendukung dan memperkaya satu sama lain.

Work-Life Balance dipengaruhi oleh faktor individu seperti kemampuan manajemen waktu dan kondisi keluarga, faktor organisasi seperti beban kerja dan fleksibilitas kerja, serta faktor sosial berupa dukungan lingkungan dan budaya kerja.

Work-Life Balance yang baik berdampak positif terhadap kinerja karyawan melalui peningkatan produktivitas, motivasi kerja, keterlibatan organisasi, serta penurunan risiko burnout dan stres kerja.

Strategi meningkatkan Work-Life Balance meliputi penerapan jam kerja fleksibel, kebijakan kerja jarak jauh, pengelolaan beban kerja yang wajar, dukungan kesehatan mental, serta penciptaan budaya organisasi yang menghargai keseimbangan kehidupan kerja.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Work-Life Balance: Konsep dan Kesehatan Mental Work-Life Balance: Konsep dan Kesehatan Mental Work Engagement: Definisi, Ciri, dan Cara Meningkatkannya Work Engagement: Definisi, Ciri, dan Cara Meningkatkannya Quarter Life Crisis: Konsep dan Dinamika Psikologis Quarter Life Crisis: Konsep dan Dinamika Psikologis Konsep Keseimbangan Emosi Konsep Keseimbangan Emosi Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Lingkungan Kerja Fisik: Konsep, Kondisi Kerja, dan Produktivitas Lingkungan Kerja Fisik: Konsep, Kondisi Kerja, dan Produktivitas Stress Kerja: Faktor dan Penanggulangannya Stress Kerja: Faktor dan Penanggulangannya Kesejahteraan Subjektif: Konsep dan Pengukuran Kesejahteraan Subjektif: Konsep dan Pengukuran SDLC: Pengertian, Tahapan, dan Contoh SDLC: Pengertian, Tahapan, dan Contoh Konsep Kesejahteraan Psikologis Konsep Kesejahteraan Psikologis Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Cairan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Cairan Sistem Informasi Monitoring Karyawan WFH Sistem Informasi Monitoring Karyawan WFH Lingkungan Kerja Non-Fisik: Konsep, Hubungan Sosial, dan Kenyamanan Kerja Lingkungan Kerja Non-Fisik: Konsep, Hubungan Sosial, dan Kenyamanan Kerja Produktivitas Kerja: Konsep, Pengukuran Output, dan Efisiensi Produktivitas Kerja: Konsep, Pengukuran Output, dan Efisiensi Budaya Kerja Modern: Konsep dan Perubahan Nilai Budaya Kerja Modern: Konsep dan Perubahan Nilai Kepuasan Kerja: Konsep, Faktor Psikologis, dan Implikasi Organisasi Kepuasan Kerja: Konsep, Faktor Psikologis, dan Implikasi Organisasi Konsep Kesejahteraan Subjektif Mahasiswa Konsep Kesejahteraan Subjektif Mahasiswa Risiko Jatuh pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia Turnover Intention: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Organisasi Turnover Intention: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Organisasi Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya Siklus Pengembangan Sistem Informasi: Tahapan, Metode, dan Contohnya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…