![Cakupan: Definisi, Peran, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah [PDF] - SumberAjar.com Cakupan: Definisi, Peran, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah [PDF] - SumberAjar.com](https://sumberajar.com/assest/uploads/2025/11/cakupan-definisi-peran-dan-contoh-dalam-kajian-ilmiah.webp)
Cakupan: Definisi, Peran, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah [PDF]
Pendahuluan
Dalam era akademik modern, istilah cakupan menjadi bagian penting dalam kerangka pemikiran ilmiah. Di setiap kajian penelitian, istilah ini sering muncul dalam judul, bab pembahasan, maupun kesimpulan. Bagi peneliti maupun pembaca, memahami makna kata “cakupan”, mengetahui perannya dalam kajian ilmiah, dan melihat contoh konkret penggunaannya akan memperkuat pemahaman terhadap konteks penelitian yang dilakukan. Artikel ini akan membahas secara komprehensif mengenai cakupan: mulai dari definisi secara umum, definisi menurut KBBI, serta definisi menurut para ahli; kemudian menguraikan peran cakupan dalam kajian ilmiah; dan akhirnya memberikan contoh penerapan cakupan dalam penelitian. Tujuan utama adalah memberikan referensi yang jelas bagi mahasiswa, peneliti, atau pembaca umum yang ingin memahami bagaimana cakupan berfungsi dalam penelitian akademik.
Definisi Cakupan
Definisi Cakupan secara Umum
Secara umum, istilah cakupan dapat dipahami sebagai jangkauan atau lingkup sesuatu. Misalnya, seseorang berbicara mengenai “cakupan wilayah”, “cakupan pekerjaan”, atau “cakupan penelitian”, dalam arti seberapa luas aspek yang dibahas atau diikutsertakan. Dalam konteks penelitian, cakupan mengacu pada skala, batas, atau ruang penelitian,baik dari segi konsep, variabel, populasi, waktu, maupun ruang. Dengan menggunakan istilah cakupan, peneliti menetapkan batasan yang akan dijangkau atau diperhitungkan dalam penelitiannya, sehingga pembaca dapat memahami “seberapa jauh” kajian tersebut merambah. Penetapan cakupan ini penting agar penelitian tidak berkecamuk terlalu luas tanpa fokus, dan memudahkan interpretasi hasil serta generalisasi.
Definisi Cakupan dalam KBBI
Menilik kamus resmi, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “cakupan” tercantum sebagai lembaran yang menunjukkan arti kata. Bila dicek di laman daring, “cakupan” diartikan sebagai “ruang lingkup” atau “jangkauan (sesuatu) yang dijangkau” (contoh: cakupan wilayah, cakupan perhatian). Hal ini menunjukkan bahwa secara konvensional, cakupan menekankan aspek jangkauan atau lingkup dalam pernyataan tertentu. Definisi KBBI tersebut memberi landasan bahwa dalam penelitian, cakupan mengandung konsep batasan-lingkup yang dijangkau oleh kajian.
Definisi Cakupan Menurut Para Ahli
Berikut beberapa pendapat ahli yang membahas istilah cakupan atau konsep serupa (lingkup, jangkauan) dalam penelitian:
- Mohammed Ali (namun dalam konteks penulisan penelitian internasional) menyebutkan bahwa jangkauan penelitian (scope) mencakup identifikasi variabel yang diperhitungkan, populasi, periode waktu, dan ruang lingkup penelitian.
- John W. Creswell dalam bukunya mengenai metode penelitian menyatakan bahwa researcher harus menentukan “scope of the study” yakni batasan-ruang penelitian agar hasilnya tetap fokus dan dapat dikendalikan.
- Robert K. Yin menegaskan bahwa studi kasus membutuhkan penentuan ruang lingkup yang jelas,siapa yang menjadi unit analisis, dalam kerangka waktu apa, serta lokasi mana,agar interpretasi valid.
- Dalam konteks penelitian sosial di Indonesia, penelitian oleh Soerjono Soekanto menyebutkan bahwa dalam kajian sosiologis, lingkup penelitian (yang bisa disebut cakupan) meliputi aspek kedudukan (status), fungsi sosial, situasi dan kondisi lingkungan sosial yang diteliti. Sebagai contoh: “peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status) apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya” yang menggambarkan bagaimana status dan fungsi menjadi bagian dari cakupan penelitian. [Lihat sumber Disini - jurnal.peneliti.net]
- Penelitian yang lebih baru oleh R. Fadhilah (2023) menguraikan bahwa cakupan penelitian (scope) adalah rentang waktu, populasi, objek, lokasi, dan variabel yang diteliti,penetapan tersebut perlu agar penelitian terarah. [Lihat sumber Disini - repository.uinfasbengkulu.ac.id]
Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa cakupan dalam penelitian mengandung elemen-batasan yang jelas (variabel, populasi, lokasi, periode), yang penting untuk menjaga fokus dan kredibilitas kajian.
Peran Cakupan dalam Kajian Ilmiah
Menentukan Batasan Penelitian
Salah satu fungsi utama cakupan dalam kajian ilmiah adalah membantu peneliti menentukan batasan (scope and limitation) penelitian. Dengan menetapkan cakupan, peneliti menyatakan dengan jelas aspek mana yang akan dicakup dan mana yang tidak, misalnya: populasi yang diteliti hanya guru SD Kota X dalam periode 2023–2024, variabel yang dianalisis hanya kualitas pembelajaran dan teknologi edukasi. Penetapan ini memberi keuntungan sebagai berikut:
- Memastikan penelitian tetap terkendali, sehingga hasil interpretasi lebih spesifik dan tidak melebar ke area yang tidak relevan.
- Memberi arah kepada pembaca untuk memahami konteks hasil penelitian: lingkup mana yang telah dijangkau, sehingga ketika membandingkan dengan penelitian lain pembaca tahu batasnya.
- Mempermudah replikasi atau perbandingan penelitian mendatang karena cakupan sudah dijelaskan secara eksplisit.
Sebagai contoh empiris, penelitian oleh Ariyanti (2024) mengemukakan bahwa “Peran merupakan suatu yang menjadi pemegang yang sangat utama dalam ketercapaian segala sesuatu …” dan peneliti menetapkan cakupan penelitian terhadap “peran orang tua dalam pembentukan karakter siswa di sekolah menengah atas wilayah Ambon tahun 2023”. Dengan cakupan tersebut pembaca langsung tahu siapa objek, di mana, dan kapan. [Lihat sumber Disini - repository.iainambon.ac.id]
Memfokuskan Variabel dan Objek Studi
Cakupan membantu dalam pemilihan variabel dan objek studi yang akan dianalisis secara ilmiah. Dalam sebuah kajian ilmiah, tanpa batasan yang jelas dari cakupan, bisa muncul masalah seperti:
- Variabel yang terlalu banyak sehingga penelitian menjadi tidak konsisten.
- Objek yang terlalu luas (misalnya seluruh sekolah di Indonesia) sehingga sulit untuk generalisasi atau analisis mendalam.
- Waktu atau lokasi yang tidak dibatasi sehingga data menjadi heterogen dan sulit dibandingkan.
Dengan menentukan cakupan yang tepat, peneliti dapat fokus pada variabel-utama, objek yang mewakili, periode waktu yang relevan, dan lokasi yang logis. Ini mendukung kaidah ilmiah seperti kejelasan, sistematis, dan validitas data.
Meningkatkan Kredibilitas dan Keterbacaan Penelitian
Ketika cakupan disusun dengan baik dan dijelaskan dalam bagian metodologi atau pendahuluan penelitian, maka:
- Peneliti menunjukkan kesungguhan dalam desain penelitian: pembaca tahu bahwa penelitian bukan “termasuk semua” tetapi fokus pada aspek tertentu.
- Keterbacaan penelitian meningkat,pembaca tahu siapa yang dipelajari, kapan, di mana, dan dalam kondisi bagaimana, sehingga interpretasi lebih mudah.
- Hasil penelitian bisa dibandingkan atau diintegrasikan dengan studi lain yang cakupannya serupa atau berbeda dengan jelas, ini memperkuat kontribusi penelitian terhadap pengetahuan ilmiah.
Contoh: Dalam penelitian oleh Lantaeda (2017) disebut bahwa pengertian peran menurut Soekanto yaitu aspek dinamis kedudukan (status) apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai kedudukannya. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id] Cakupan dalam penelitian ini meliputi aspek status/kedudukan dan perilaku individu dalam masyarakat, jadi cakupan disini membatasi objek sosial tertentu.
Memfasilitasi Generalisasi dan Implikasi Penelitian
Dengan cakupan yang terdefinisi jelas, peneliti dapat mengkomunikasikan sejauh mana temuan penelitian dapat digeneralisasi atau diaplikasikan dalam konteks yang lebih luas. Misalnya jika sebuah penelitian hanya mencakup guru SMA di satu kabupaten, maka implikasi hasilnya hanya relevan untuk wilayah tersebut dan belum tentu berlaku untuk provinsi lain. Dengan demikian:
- Pembaca tahu batas pengalihan hasil (transferabilitas) penelitian.
- Peneliti dapat merekomendasikan penelitian lanjutan yang memperluas cakupan (populasi yang lebih besar, daerah yang berbeda, periode waktu yang lebih panjang) untuk menguji generalisasi.
- Editor atau reviewer jurnal akan mengevaluasi apakah cakupan penelitian terlalu sempit atau sudah memadai untuk klaim penelitian.
Contoh Cakupan dalam Berbagai Jenis Kajian Ilmiah
Untuk memperjelas, berikut beberapa contoh penerapan cakupan dalam penelitian ilmiah:
- Penelitian kualitatif tentang “peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri Kota X tahun 2022–2023”. Cakupannya: objek = kepala sekolah di SD Negeri Kota X, periode = tahun 2022–2023, variabel = peran dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
- Penelitian kuantitatif tentang “pengaruh penggunaan media digital terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IX di Kabupaten Y semester I tahun ajaran 2024/2025”. Cakupannya: objek = siswa kelas IX di Kabupaten Y, periode = semester I tahun ajaran 2024/2025, variabel = penggunaan media digital vs hasil belajar IPA.
- Studi literatur tentang “kajian sistematis penelitian publikasi jurnal nasional S1–S2 bidang ekonomi Indonesia periode 2019–2024”. Cakupannya: publikasi jurnal nasional (jenis objek), bidang ekonomi (tema), periode 2019–2024.
Dengan demikian, cakupan berfungsi sebagai elemen struktural penting dalam kajian ilmiah agar desain penelitian menjadi jelas, hasilnya dapat dipahami, dan kontribusinya terukur.
Contoh Cakupan dalam Kajian Ilmiah
Untuk memberikan gambaran konkret, berikut dua (2) contoh penelitian dari jurnal Indonesia yang menerapkan cakupan secara eksplisit:
Contoh 1
Penelitian: “Peran Badan Permusyawaratan Desa Talawe Kecamatan Watang Sidenreng Kabupaten Sidenreng Rappang” oleh Haeruddin Syarifuddin, Abdul Jabbar dan Muhammad Iqbal (2021), meskipun bukan secara eksplisit menggunakan kata “cakupan”, desain penelitian menyiratkan cakupan: objek = BPD Desa Talawe Kecamatan Watang, Kabupaten Sidenreng Rappang; periode = masa pandemi Covid-19; variabel = peran BPD dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
Contoh 2
Penelitian: “Peran Pemerintah Daerah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Masa Pandemi Covid‑19 (Studi Pada Kantor Camat Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan)” (2022), cakupannya mencakup objek (Pemerintah Daerah pada Kantor Camat Tinanggea), periode (masa pandemi Covid-19), lokasi (Kabupaten Konawe Selatan). [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
Dari kedua contoh tersebut kita bisa menguraikan unsur-cakupan:
- objek penelitian (siapa yang diteliti)
- lokasi penelitian (di mana)
- periode waktu penelitian (kapan)
- variabel atau aspek yang dikaji (apa yang dilihat)
Ketika Anda menyusun penelitian atau menulis bagian metodologi, pastikan unsur-unsur cakupan tersebut dijelaskan secara eksplisit agar pembaca jelas konteks, dan peer reviewer atau pembimbing bisa mengevaluasi kesesuaian dan relevansi desain.
Kesimpulan
Cakupan merupakan elemen krusial dalam setiap kajian ilmiah. Secara umum, cakupan mengacu pada lingkup atau jangkauan sesuatu; menurut KBBI, cakupan berarti ruang lingkup atau jangkauan yang dijangkau. Dalam kajian ilmiah, cakupan membantu peneliti menetapkan batasan yang jelas,meliputi objek, variabel, lokasi, periode,yang sangat penting untuk fokus penelitian, kredibilitas hasil, keterbacaan penelitian, dan validitas generalisasi. Berbagai penelitian di Indonesia telah menunjukkan bahwa desain penelitian yang mencantumkan cakupan secara eksplisit cenderung lebih mudah dipahami dan dinilai layak secara metodologis. Oleh karena itu, bagi mahasiswa, peneliti, atau praktisi akademik penting untuk memperhatikan dan merumuskan cakupan secara seksama dalam setiap kajian. Dengan demikian, penelitian akan memiliki arah yang jelas, kontribusi yang terukur, dan hasil yang dapat dijadikan landasan untuk penelitian lanjutan.