
Conformity: Pengertian dan Contoh
Pendahuluan
Conformity atau konformitas merupakan fenomena psikologis yang sangat relevan dalam kehidupan sosial modern. Di hampir setiap interaksi manusia, dari ruang kelas, kehidupan profesional, hingga kehidupan digital, kita seringkali berhadapan dengan tekanan untuk menyesuaikan diri. Fenomena ini bukan hanya sekadar mengikuti tren, tetapi juga mencerminkan bagaimana norma dan tekanan kelompok dapat membentuk perilaku individu. Pemahaman tentang conformity penting karena membantu menjelaskan mengapa orang bisa mengubah perilaku atau keyakinannya meskipun bertentangan dengan keinginan atau penilaiannya sendiri. Kajian ini menyusun berbagai perspektif teoretis dan penelitian empiris untuk memberikan gambaran utuh tentang conformity dalam konteks psikologi sosial modern.
Definisi Conformity
Definisi Conformity Secara Umum
Conformity secara umum dipahami sebagai perubahan perilaku, sikap, atau keyakinan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan norma, perilaku atau tekanan dari kelompok sosial tertentu. Konformitas mencakup respons terhadap tekanan sosial yang nyata maupun yang dibayangkan dari anggota kelompok lain. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]
Definisi Conformity dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konformitas dapat dijelaskan sebagai tindakan atau sikap menyesuaikan diri atau menjadi sama dengan kelompok sosial di sekitarnya sehingga dapat diterima secara sosial. [Perlu akses langsung ke KBBI daring jika ingin kutip langsung dari laman resmi KBBI saat penulisan akhir]
Definisi Conformity Menurut Para Ahli
Berikut adalah beberapa definisi conformity menurut para ahli:
-
Baron & Byrne, Konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial yang ada. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
-
David O’Sears, Konformitas terjadi ketika seseorang melakukan perilaku tertentu karena orang lain juga melakukannya. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
-
Kiesler, Konformitas mencakup perubahan perilaku atau keyakinan sebagai hasil tekanan kelompok nyata maupun yang dibayangkan. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
-
Morgan, King, dan Robinson, Konformitas adalah kecenderungan individu untuk menyesuaikan pandangan atau perilakunya agar sesuai dengan norma sosial. [Lihat sumber Disini - repository.iainsasbabel.ac.id]
Dari definisi-definisi di atas, dapat dirangkum bahwa conformity melibatkan suatu proses sosial di mana individu menyesuaikan diri terhadap tekanan atau harapan dari kelompok yang lebih besar agar diterima atau sesuai norma sosial yang berlaku.
Jenis-Jenis Conformity
Secara umum, para psikolog sosial mengklasifikasikan conformity ke beberapa jenis berdasarkan motivasi dan cara penyesuaian individu terhadap norma sosial:
1. Compliance
Compliance adalah bentuk conformity di mana seseorang menyesuaikan perilakunya secara terbuka dengan kelompok, tetapi tidak mengubah keyakinan pribadinya. Individu melakukannya terutama untuk mendapatkan persetujuan sosial atau menghindari penolakan. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]
2. Internalization
Internalization merupakan bentuk conformity yang lebih dalam, di mana individu tidak hanya menyesuaikan perilakunya secara terbuka, tetapi juga menerima norma kelompok secara pribadi sehingga terjadi perubahan sikap yang lebih permanen. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]
3. Identification
Identification terjadi ketika seseorang menyesuaikan perilaku atau keyakinan karena ingin menjadi bagian dari kelompok yang dianggap penting atau memiliki hubungan emosional yang kuat. Bagian dari keyakinan kelompok kemudian diinternalisasi oleh individu selama ia merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]
Beberapa literatur lain juga membedakan Normative Conformity yang terjadi karena ingin diterima secara sosial dan Informational Conformity yang terjadi karena individu menganggap kelompok memiliki informasi yang lebih benar atau akurat. [Lihat sumber Disini - psychology.town]
Faktor yang Mempengaruhi Conformity
Berbagai faktor internal dan eksternal turut mempengaruhi kecenderungan individu untuk berkonformasi:
1. Ukuran Kelompok
Semakin besar kelompok yang memberi tekanan sosial, semakin besar kemungkinan individu akan berperilaku sesuai dengan harapan kelompok tersebut. [Lihat sumber Disini - psychology.town]
2. Norma Sosial dan Tekanan Sosial
Norma sosial yang kuat bisa meningkatkan perilaku konformitas karena individu cenderung menyesuaikan diri untuk diterima atau diakui dalam kelompok. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
3. Kepercayaan terhadap Sumber
Individu lebih cenderung berkonformasi jika percaya bahwa sumber sosialnya memiliki informasi atau wawasan yang lebih akurat dalam situasi tertentu. [Lihat sumber Disini - psychology.town]
4. Budaya dan Latar Belakang Sosial
Budaya yang menghargai harmoni sosial atau kolektivisme sering kali melihat tingkat conformity lebih tinggi dibandingkan budaya yang lebih menekankan individualisme. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Selain itu, usia, kohesi kelompok, dan tingkat pendidikan juga ditemukan mempengaruhi kecenderungan untuk konform terhadap tekanan sosial. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Teori-Teori Conformity
Beberapa pendekatan teoretis mencoba menjelaskan mengapa conformity terjadi dan bagaimana mekanismenya bekerja:
1. Social Influence Theory
Teori ini menjelaskan bahwa perubahan perilaku individu terjadi karena adanya proses penerimaan pengaruh sosial. Konformitas termasuk dalam salah satu bentuk penerimaan pengaruh sosial bersama dengan compliance dan obedience. [Lihat sumber Disini - open.ncl.ac.uk]
2. Teori Informational dan Normative Influence
Menurut teori ini, conformity dapat ditimbulkan oleh dua sumber utama:
-
Informational Influence: individu mencari informasi dan mengikuti kelompok karena menganggap kelompok memiliki pengetahuan yang lebih akurat. [Lihat sumber Disini - psychology.town]
-
Normative Influence: individu mengikuti norma kelompok untuk mendapatkan persetujuan atau menghindari penolakan sosial. [Lihat sumber Disini - psychology.town]
3. Social Identity Theory (Relevan dalam penelitian modern)
Beberapa penelitian kemudian mengaitkan conformity dengan identifikasi sosial individu terhadap kelompok tertentu di mana identifikasi ini memengaruhi sejauh mana individu berkonformasi terhadap norma kelompok. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dampak Conformity terhadap Perilaku Individu
Dampak Positif
-
Peningkatan Harmoni Sosial: Conformity dapat membantu menciptakan keteraturan dan stabilitas dalam interaksi sosial karena individu cenderung mengikuti aturan dan norma yang berlaku. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Pembelajaran Sosial: Dalam situasi di mana individu tidak yakin harus berbuat apa, mengikuti mayoritas dapat membantu pengambilan keputusan yang adaptif. [Lihat sumber Disini - psychology.town]
Dampak Negatif
-
Pengurangan Kreativitas dan Independen: Individu yang terlalu konform dapat kehilangan kemampuan berpikir kritis atau inovatif karena cenderung mengikuti pendapat mayoritas. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Penguatan Perilaku Negatif: Dalam beberapa kasus, conformity dapat menyebabkan individu ikut melakukan hal yang merugikan, misalnya menyontek karena tekanan teman sebaya atau keterlibatan dalam perilaku berisiko seperti judi online akibat norma kelompok tertentu. [Lihat sumber Disini - jurnal.penerbitwidina.com]
Contoh Conformity dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh 1: Perilaku di Sekolah
Siswa mungkin menyesuaikan gaya berpakaian agar sesuai dengan mayoritas teman sebayanya untuk mendapatkan penerimaan sosial dan menghindari ejekan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Contoh 2: Konformitas Konsumtif
Penelitian di Balikpapan menunjukkan bahwa remaja perempuan yang terpapar standar sosial tertentu memiliki hubungan antara konformitas normatif dan perilaku konsumtif terhadap barang branded. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
Contoh 3: Konformitas dalam Situasi Ambigu
Dalam eksperimen klasik Asch, banyak orang memilih jawaban yang salah dalam penilaian garis karena tekanan mayoritas, meskipun mereka tahu jawabannya benar. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Contoh 4: Tekanan Teman Sebaya
Remaja sering mengikuti perilaku teman sebaya, baik positif maupun negatif, karena keinginan diterima dalam kelompok sosial mereka. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Kesimpulan
Conformity adalah fenomena psikologi sosial yang kompleks dan sangat relevan dalam kehidupan manusia. Ia melibatkan penyesuaian perilaku, sikap, atau keyakinan individu terhadap tekanan sosial nyata maupun imajiner dari kelompok. Conformity bukan sekadar perilaku pasif mengikuti mayoritas, tetapi memiliki mekanisme psikologis yang berkaitan dengan kebutuhan untuk diterima, rasa percaya terhadap pengetahuan kelompok, serta tekanan normatif. Dampaknya dapat bersifat positif seperti membantu keteraturan sosial, namun juga negatif jika mendorong perilaku yang bertentangan dengan nilai atau penilaian individu. Dengan memahami jenis, faktor, dan mekanisme conformity, individu dan masyarakat dapat lebih sadar dalam mengelola pengaruh sosial agar tidak merugikan perkembangan pribadi dan sosial.